/story/215640/februari-yang-kehabisan-cahaya/
Februari yang kehabisan cahaya | Penana
arrow_back
Februari yang kehabisan cahaya
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
PG
Februari yang kehabisan cahaya
lthfh20
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

Februari kala itu,
langit seolah lupa cara berbaik hati.

Hari-harinya jatuh satu per satu di kakiku,
pecah seperti kaca yang tak mungkin disusun kembali.
Aku memungut serpihannya dengan tangan telanjang, hingga luka dan aku tak lagi bisa dibedakan.

Kehilangan datang tanpa wajah,
tanpa suara,
hanya meninggalkan ruang-ruang kosong
yang tiba-tiba terasa begitu luas di dada.

Aku pernah percaya pada arah yang ditunjukkan,
namun jalan itu membawaku
ke lorong yang penuh jebakan.
Sejak saat itu aku mengerti,
tidak semua cahaya adalah penuntun,
sebagian hanya api yang pandai menyamar.

Lalu seseorang dari masa lalu
menghapus jejaknya sendiri
di atas kenangan yang pernah kami jaga.
Dan aku belajar,
bahwa ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan:
menyaksikan makna diperlakukan
seolah tak pernah berharga.

Aku tetap berjalan.
Membawa niat yang utuh,
menempuh jarak yang hampir selesai.
Namun sebelum sempat sampai,
saya dihentikan dengan beberapa kata sederhana.

Dan anehnya,
terkadang yang meruntuhkan seseorang
bukan bentakan,
bukan amarah,
melainkan perasaan bahwa kehadirannya
tak pernah benar-benar dinantikan.

Malam-malam Februari lalu menjadi lebih panjang.
Aku duduk bersama sunyi
yang terus bertambah berat.
Seolah semesta sedang mengujiku
dengan cara yang paling pelan,
agar setiap luka dapat dirasakan sepenuhnya.

Februari,
kau turun hujan yang tak kunjung reda.
Adalah laut yang terus mengirimkan ombak
ke pantai yang sudah lelah bertahan.

Aku kehilangan banyak hal di dalam dirimu.
Kepercayaan.
Ketenteraman.
Sebagian dari diriku sendiri.

Namun yang paling menyakitkan,
aku kehilangan cara untuk percaya
bahwa esok akan baik-baik saja.

Dan ketika bulan itu akhirnya pergi,
ia meninggalkan aku
seperti rumah yang baru saja dilanda badai—
berantakan, sepi,
dan penuh puing yang belum sempat dibereskan.

Tetapi di antara menyukainya,
masih ada satu hal yang bernapas:

sebuah hati yang remuk,
namun menolak mati.

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 1 minute
toc Table of Contents
No tags yet.
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.