-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Februari kala itu,
langit seolah lupa cara berbaik hati.
Hari-harinya jatuh satu per satu di kakiku,
pecah seperti kaca yang tak mungkin disusun kembali.
Aku memungut serpihannya dengan tangan telanjang, hingga luka dan aku tak lagi bisa dibedakan.
Kehilangan datang tanpa wajah,
tanpa suara,
hanya meninggalkan ruang-ruang kosong
yang tiba-tiba terasa begitu luas di dada.
Aku pernah percaya pada arah yang ditunjukkan,
namun jalan itu membawaku
ke lorong yang penuh jebakan.
Sejak saat itu aku mengerti,
tidak semua cahaya adalah penuntun,
sebagian hanya api yang pandai menyamar.
Lalu seseorang dari masa lalu
menghapus jejaknya sendiri
di atas kenangan yang pernah kami jaga.
Dan aku belajar,
bahwa ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan:
menyaksikan makna diperlakukan
seolah tak pernah berharga.
Aku tetap berjalan.
Membawa niat yang utuh,
menempuh jarak yang hampir selesai.
Namun sebelum sempat sampai,
saya dihentikan dengan beberapa kata sederhana.
Dan anehnya,
terkadang yang meruntuhkan seseorang
bukan bentakan,
bukan amarah,
melainkan perasaan bahwa kehadirannya
tak pernah benar-benar dinantikan.
Malam-malam Februari lalu menjadi lebih panjang.
Aku duduk bersama sunyi
yang terus bertambah berat.
Seolah semesta sedang mengujiku
dengan cara yang paling pelan,
agar setiap luka dapat dirasakan sepenuhnya.
Februari,
kau turun hujan yang tak kunjung reda.
Adalah laut yang terus mengirimkan ombak
ke pantai yang sudah lelah bertahan.
Aku kehilangan banyak hal di dalam dirimu.
Kepercayaan.
Ketenteraman.
Sebagian dari diriku sendiri.
Namun yang paling menyakitkan,
aku kehilangan cara untuk percaya
bahwa esok akan baik-baik saja.
Dan ketika bulan itu akhirnya pergi,
ia meninggalkan aku
seperti rumah yang baru saja dilanda badai—
berantakan, sepi,
dan penuh puing yang belum sempat dibereskan.
Tetapi di antara menyukainya,
masih ada satu hal yang bernapas:
sebuah hati yang remuk,
namun menolak mati.
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

