/story/215632/catatan-yang-tak-pernah-selesai/toc
Catatan yang tak pernah selesai | Penana
arrow_back
Catatan yang tak pernah selesai
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Catatan yang tak pernah selesai
lthfh20
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

Catatan yang Tak Pernah Selesai

Barangkali aku adalah seseorang
yang terlalu lama berdiri di tepi waktu,

melihat daun-daun gugur
lalu bertanya dalam diam,

mengapa segala sesuatu yang indah
selalu pandai menjadi kenangan.

Saya mengumpulkan banyak hal
yang tak bisa kusimpan.

Suara tawa,
langit selepas hujan,
percakapan yang terpotong senja,
dan nama-nama yang perlahan
belajar menjauh dari kehidupan.

Sementara waktu,

tetap berjalan tanpa memilik.

Aku pernah marah pada dunia,
karena merasa suaraku hanyalah gema
yang kembali kepada diriku sendiri.

Aku pernah lelah menjadi kuat,
namun tak tahu kepada siapa
harus meletakkan letih.

Maka aku menyimpannya diam-diam,

di antara foto-foto yang kusukai,
di sela puisi yang tak selesai kutulis,
di balik senyuman yang terlihat biasa saja.

Dan kini aku mengerti,

barangkali hidup bukan tentang memiliki.

Sebab bahkan senja
yang setiap hari datang mengunjungiku,

tak pernah benar-benar hidup.

Mungkin tugas kita hanya mencintai.

Mencintai orang-orang yang singgah,
mencintai musim yang lewat,
mencintai hari-hari yang rapuh,

sebelum semuanya berubah menjadi

"pernah."

Dan jika suatu hari aku hilang dari masa ini,

aku ingin dikenang sebagai seseorang

yang pernah berusaha mengabadikan dunia,

karena terlalu takut melupakannya.


Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 1 minute
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.