/story/215381/satu-dari-sekian/toc
Satu dari Sekian | Penana
arrow_back
Satu dari Sekian
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Satu dari Sekian
lthfh20
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

Aku jatuh,

pelan-pelan,

seperti daun yang tidak tahu

ke mana angin ming.


Kau selalu ada 

mengajak bertemu,

dibaca di malam yang sepi,

seolah aku adalah satu-satunya

yang kau cari.


Tapi aku tahu,

di luar pintu yang kau ketuk untukku,

ada banyak pintu lain

yang juga kau sisakan ruang.


Banyak nama.

Banyak perhatian yang dibagi

seperti hujan 

sentuh semua tanah,

tanpa memilih mana yang lebih haus.


Lalu tanpa sengaja,

mataku penangkapan layarmu —

hanya beredar dengan 1 kontak.

Satu.


Dan aku berdoa kecil-kecilan:

biarlah itu aku,

biarlah itu aku,

biarlah itu aku.


Tapi mulutku tahu

apa yang hati belum mau akui —


mungkin ada nama lain

yang lebih dulu

kau simpan di tempat

yang bahkan tak pernah kau tunjukkan padaku.


Jadi aku tanya dalam diam:

Kalau memang aku bukan tujuan,

kenapa selalu kau mendekatkan jaraknya?


Kalau memang ada yang lain,

kenapa matamu selalu mencari

arahku?


Aku bukan pintu cadangan.

Aku bukan pilihan kedua

yang kau buka

kalau yang pertama sedang terkunci.


Tapi malam ini,

Aku masih menunggu teleponmu.


Dan itu

yang paling menyakitkan.

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time:
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.