-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Aku jatuh,
pelan-pelan,
seperti daun yang tidak tahu
ke mana angin ming.
Kau selalu ada
mengajak bertemu,
dibaca di malam yang sepi,
seolah aku adalah satu-satunya
yang kau cari.
Tapi aku tahu,
di luar pintu yang kau ketuk untukku,
ada banyak pintu lain
yang juga kau sisakan ruang.
Banyak nama.
Banyak perhatian yang dibagi
seperti hujan
sentuh semua tanah,
tanpa memilih mana yang lebih haus.
Lalu tanpa sengaja,
mataku penangkapan layarmu —
hanya beredar dengan 1 kontak.
Satu.
Dan aku berdoa kecil-kecilan:
biarlah itu aku,
biarlah itu aku,
biarlah itu aku.
Tapi mulutku tahu
apa yang hati belum mau akui —
mungkin ada nama lain
yang lebih dulu
kau simpan di tempat
yang bahkan tak pernah kau tunjukkan padaku.
Jadi aku tanya dalam diam:
Kalau memang aku bukan tujuan,
kenapa selalu kau mendekatkan jaraknya?
Kalau memang ada yang lain,
kenapa matamu selalu mencari
arahku?
Aku bukan pintu cadangan.
Aku bukan pilihan kedua
yang kau buka
kalau yang pertama sedang terkunci.
Tapi malam ini,
Aku masih menunggu teleponmu.
Dan itu
yang paling menyakitkan.
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

