-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Aku memilih menjadi jalan
yang tak lagi kau lewati,
meski diam-diam masih mengingat
jejak langkah yang pernah singgah.
Ada beberapa kata
yang terlanjur jatuh ke dasar dada,
mengendap seperti hujan
yang lupa cara menguap.
Waktu berjalan,
namun tidak semua luka
ikut bersedia pergi.
Aku pernah menjadi pohon
yang rela menahan banyak angin,
menyimpan gugurnya daunnya sendiri
agar langitmu tetap tenang.
Namun aneh,
ketika satu kali saja
aku tak mampu menjadi teduh,
aku seolah menjelma musim kemarau
yang disalahkan atas merebut kembali tanah.
Padahal di sekitarmu
masih banyak arah,
banyak tangan,
banyak pelabuhan.
Tapi entah kenapa,
aku sering merasa
kau hanya datang
saat perahuku masih mampu memuat beban.
Lalu aku melihatmu
bersinar di tempat lain.
Tawamu berhamburan
seperti burung-burung yang pulang senja,
hinggap di bahu orang lain,
membuat langit ramai mereka.
Sedangkan aku
hanya duduk di tepi waktu,
mengumpulkan keheningan
yang jatuh satu per satu.
Tak ada yang benar-benar patah.
Hanya ada hati
yang perlahan belajar
bahwa tidak semua kedekatan
dilahirkan oleh rasa rindu.
Dan tidak semua yang sering kembali
datang karena ingin tinggal.
Yang paling menyakitkan
bukanlah saat kau menjauh.
Melainkan ketika kau datang
dengan senyuman yang sama,
dengan suara yang sama,
sementara aku harus berpura-pura
bahwa tak pernah ada badai
yang kau tinggalkan di dalam dada.
Maka aku memilih pergi.
Bukan karena rasa telah habis,
melainkan karena ada bunga
yang terlalu lama menunggu matahari,
hingga akhirnya mengerti:
tak semua cahaya
ditakdirkan jatuh untuknya.
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

