Kenangan yang basah
880Please respect copyright.PENANA1pKLkezMxj
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti halaman Pondok Pesantren Al-Fatah seperti selimut putih yang lembut dan dingin. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, cahayanya keemasan dan belum menyengat, menyinari pepohonan mangga dan jambu di pinggir halaman. Aku melangkah masuk melalui gerbang belakang yang jarang digunakan, pintu kayu tua yang sudah agak reyot. Gamis hitam panjang yang kukenakan terasa lebih berat dari biasanya. Kain katun tebal itu menempel erat di kulitku yang masih sensitif, seolah setiap serat kain mengingatkan aku pada apa yang terjadi semalam. Setiap langkah membuat pahaku bergesekan pelan, gesekan yang halus namun langsung membangkitkan sensasi nyeri manis yang menusuk di antara kedua selangkanganku. Rasa lengket yang masih tersisa di celana dalamku membuat pipiku terasa panas membara.
880Please respect copyright.PENANAw2Z4XpBf7O
Reza baru saja menurunkanku beberapa menit lalu di dekat pintu belakang. Mobilnya yang hitam sudah menghilang di tikungan jalan desa. Sebelum pergi, dia sempat memegang tanganku erat-erat, jari-jarinya yang kasar tapi hangat membelai punggung tanganku. Dia menarikku mendekat, mencium keningku dengan lembut dan lama, napasnya yang hangat menyapu kulitku. “Aku sayang kamu, Nayla. Jangan lupa itu,” bisiknya serak sebelum mobilnya melaju pelan. Kata-kata itu masih bergema di telingaku seperti doa yang terlarang, seperti bisikan setan yang manis.
880Please respect copyright.PENANAxfRHP8TVmD
Aku berjalan menuju asrama blok C dengan kepala tertunduk dalam, tangan kananku memegang tas kecil seolah itu bisa menyembunyikan rasa bersalah yang membuncah di dada. Tubuhku terasa lelah luar biasa. Pinggulku agak kaku, ada denyutan halus yang terus-menerus di bagian bawah perutku, seolah rahimku masih mengingat setiap hujaman Reza. Setiap kali kain gamis bergesekan dengan kulit paha dalamku yang halus, ingatan semalam langsung menyergap seperti gelombang panas yang membakar.
880Please respect copyright.PENANAA1t27dAMvc
“Ya Allah… ampuni hambamu yang lemah ini,” gumamku berulang kali sambil menahan air mata yang menggenang di pelupuk. Aku ustadzah. Aku yang biasa mengajarkan akhlak, tauhid, dan menjaga kehormatan kepada ratusan santriwati. Aku yang selalu menjadi teladan dengan gamis panjang, kerudung rapi, dan suara lembut saat mengaji. Tapi malam tadi, di sebuah kamar hotel sederhana di pinggir kota, aku telah menyerahkan segalanya — keperawananku yang dijaga bertahun-tahun, harga diriku sebagai wanita Muslimah, dan kehormatanku sebagai pengasuh — kepada Reza, lelaki yang bukan muhrimku.
880Please respect copyright.PENANABuV9m6fyoN
Aku berusaha berjalan normal, tapi sulit sekali. Langkahku lebih pelan, pinggulku bergoyang sedikit lebih lebar dari biasanya karena rasa nyeri yang manis di memekku. Beberapa santriwati kelas 2 dan 3 yang sudah bangun pagi dan sedang menyapu halaman melirikku dengan tatapan aneh. Aku bisa merasakan pandangan mereka.
880Please respect copyright.PENANAzHKwssr1Kf
“Ustadzah Nayla kok jalannya pelan sekali hari ini? Kayak orang kesakitan,” bisik salah seorang santri kelas 3 kepada temannya sambil menyenggol lengan. Aku pura-pura tidak mendengar, mempercepat langkah meski setiap gerakan membuat cairan lengket di celana dalamku semakin terasa. Akhirnya aku sampai di kamar pengasuh di ujung koridor blok C.
880Please respect copyright.PENANAKOA8nsE4Zs
Begitu pintu kayu kamar tertutup di belakangku, aku langsung ambruk duduk di tepi kasur single dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi punggungku. Tangan kananku tanpa sadar menyentuh perutku dari luar gamis, lalu turun lebih rendah, menekan pelan di atas kain di area kemaluan. Rasa nyeri yang manis itu masih ada, begitu nyata. Memekku masih terasa bengkak, bibirnya sensitif, dan lubang kecilnya masih sedikit terbuka, meninggalkan sensasi kosong yang aneh. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa sakit.
880Please respect copyright.PENANAeJYPH6xytS
Flashback malam itu…
880Please respect copyright.PENANAVMDIB0BN3t
Hujan deras mengguyur atap hotel tanpa henti sejak sore. Suara petir sesekali menggelegar keras, membuat jendela kaca bergetar. Aku duduk tegang di salah satu kasur single yang sudah agak reyot, selimut tipis menutupi tubuh sampai dada. Hanya lampu meja kecil yang menyala redup, menciptakan suasana temaram yang intim dan menakutkan sekaligus. Reza mendekat perlahan dari kamar mandi, hanya memakai kaos oblong hitam dan celana pendek. Bau sabun mandi dan aftershave-nya langsung memenuhi ruangan.
880Please respect copyright.PENANAA2qZLlHfZQ
Awalnya aku kaku seperti patung es. Tangan-ku mencengkeram selimut sampai buku jari memutih. Tapi kehangatan tubuhnya saat dia duduk di sampingku, aroma maskulin yang kuat, dan detak jantungnya yang stabil perlahan melemahkan pertahananku yang rapuh. Saat bibirnya menyentuh bibirku untuk pertama kali, dunia rasanya berhenti berputar. Ciumannya lembut pada awal, lidahnya menyusup pelan, menari dengan lidahku yang polos dan tak berpengalaman. Aku gemetar hebat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Napasku tersengal di antara ciuman demi ciuman yang semakin dalam.
880Please respect copyright.PENANAX4it9YMUCL
“Mas… aku takut…” bisikku saat tangan besar dan hangatnya mulai meraba payudaraku yang besar dan kencang dari luar gamis hitam.
880Please respect copyright.PENANA0GfBtKbaeK
Tapi Reza tidak berhenti. Dia meremas dada kiriku dengan lembut tapi penuh nafsu yang terkontrol, ibu jarinya menyapu putingku yang sudah mengeras. Sensasi itu benar-benar baru dan membingungkan. Putingku mengeras seketika, terasa nyeri tapi enak luar biasa, seperti aliran listrik kecil yang menjalar ke perut bawahku. Aku tidak bisa menahan desahan pertama yang keluar dari mulutku, suara kecil yang malu-malu.
880Please respect copyright.PENANAjhrb8jKKEr
“Ahh… Mas…”
880Please respect copyright.PENANAROOXZaFfya
Reza semakin berani. Dia mengangkat gamisku perlahan hingga perut putih halusku terbuka, lalu terus naik hingga payudaraku yang montok terbebas. Tangan panasnya menyusuri kulitku yang halus, meremas, memijat, dan menarik putingku pelan. Lalu tangannya turun ke paha dalam yang sudah gemetar. Saat jarinya menyentuh memekku dari luar celana dalam yang sudah basah kuyup, tubuhku mengejang keras, pinggulku terangkat sedikit tanpa sadar.
880Please respect copyright.PENANAHY1vO6awIh
“Basah sekali Sayang… kamu sudah siap ya?” bisiknya serak di telingaku, napasnya panas menyapu daun telingaku.
880Please respect copyright.PENANAhHqcAppBVU
Aku malu setengah mati, wajahku panas seperti terbakar. Tapi tubuhku berkhianat total. Celana dalamku sudah banjir, cairan beningku merembes hingga ke paha. Saat Reza menarik celana dalamku ke bawah dengan perlahan, angin AC yang dingin langsung menyentuh bibir memekku yang sudah membengkak, merah muda, dan licin mengkilap. Aku menutup mata kuat-kuat. Lalu dia naik ke atas tubuhku, posisi missionary klasik. Aku merasakan kepala miliknya yang besar, panas membara, dan sangat keras menekan pintu masukku yang sempit.
880Please respect copyright.PENANAi55EAN4wPQ
“Mas… pelan-pelan ya… aku belum pernah sama sekali…” pintaku sambil gemetar, air mata sudah mengalir di sudut mata.
880Please respect copyright.PENANAmEuVLr5p41
Reza menciumku dalam-dalam, lidahnya menyelimuti lidahku sambil mendorong pinggulnya perlahan. Rasa sakit yang tajam dan panas menusuk saat selaput daraku robek untuk pertama kali. Aku mencengkeram punggungnya kuat-kuat dengan kuku, air mata mengalir deras di pipiku. “Sakit… Mas… ahh!”
880Please respect copyright.PENANAn0Q0h1jThO
“Tahan sebentar Sayang… nanti enak sekali, insyaAllah,” bisiknya menenangkan sambil menciumi leherku.
880Please respect copyright.PENANAXSZNvClbTN
Dan benar. Setelah rasa sakit awal mereda perlahan setelah beberapa menit, gelombang kenikmatan yang belum pernah kurasakan seumur hidup datang menghantam seperti tsunami. Setiap hujaman Reza yang pelan tapi dalam membuat dinding memekku teregang penuh, setiap inci miliknya yang tebal dan berurat menggesek titik sensitif di dalam sana. Kakiku mengejang, jari kaki melengkung, pandanganku berkunang-kunang.
880Please respect copyright.PENANAq5JV4KDq8u
“Ahh… uhhh… Mas… enak… Ya Allah… enak banget… lebih dalam Mas… ahh! Pelan tapi dalam… ya seperti itu!”
880Please respect copyright.PENANAfchLOTss0H
Payudaraku yang besar dan kenyal bergoyang liar mengikuti irama hujamannya yang semakin cepat. Reza meremasnya kuat dengan kedua tangan, mulutnya menyedot puting kiriku bergantian. Aku mencapai klimaks pertama — orgasme yang begitu kuat hingga seluruh tubuhku kejang hebat, memekku berdenyut-denyut mengeluarkan cairan hangat deras yang menyembur kecil, dan aku menjerit kecil ke bahunya sambil menggigit.
880Please respect copyright.PENANAOyH5coeHoN
Kami melakukannya dua kali malam itu. Yang kedua jauh lebih liar dan panjang. Reza membalik tubuhku dengan mudah, memposisikanku menungging seperti binatang. Bantal diletakkan di bawah perutku agar pinggulku terangkat tinggi. Dia memegang pinggulku yang lebar dan montok erat-erat, lalu menghujam dari belakang dengan kuat. Setiap benturan panggulnya ke bokongku yang bulat menghasilkan suara “plak plak plak” yang memalukan namun membuatku semakin basah dan gila.
880Please respect copyright.PENANAxgqzT0JXOv
“Ahh… Mas Reza… enak… genjot aku… ahh uhhh… lebih cepat Mas! Lebih keras… ya Allah… aku milikmu sekarang!”
880Please respect copyright.PENANAzfSkq8K92M
Aku menjerit ke bantal saat orgasme kedua datang, lebih kuat dan lama dari sebelumnya. Memekku menyedot milik Reza kuat-kuat, cairanku mengalir deras ke paha. Reza mengerang panjang, tubuhnya mengejang, lalu menyemburkan cairannya yang panas dan banyak sekali di dalam rahimku yang belum pernah disentuh siapa pun. Kami ambruk bersama, tubuh basah keringat saling berpelukan, napas tersengal.
880Please respect copyright.PENANAcanjd77aQn
Kembali ke pagi di pondok…
880Please respect copyright.PENANAXxJLogpJQl
Aku terduduk lemas di kasur pengasuh, tubuh gemetar mengingat semuanya. Kenangan itu membuat memekku berdenyut lagi dengan kuat. Tanpa sadar, ia menekan gamis di area kemaluan, menggosoknya perlahan. Cairan hangat keluar lagi, membasahi lapisan dalamku semakin parah hingga terasa dingin dan lengket di kulit.
880Please respect copyright.PENANA6LG5XrZ3QO
pagi Sepanjang hingga siang, aku kesulitan fokus total. Saat mengawasi santri belajar mengaji di ruang kelas, suaraku terbata-bata, sering salah bacaan. Saat melihat Rina, santri kesayanganku yang polos, rasa bersalah dan rindu bercampur aduk di dada. Rina mendekat dengan wajah polosnya dan bertanya, "Ustadzah Nayla kenapa hari ini? Mukanya merah terus dan berputar perlahan sekali. Sakit ya, Ustadzah?"
880Please respect copyright.PENANAIIwDEWrvIv
Aku hanya tersenyum paksa, memegang meja agar tak goyah. “Ustadzah cuma kurang tidur, Nak. Semalam urusan keluarga sampai larut. Sudah, lanjut belajar ya.”
880Please respect copyright.PENANA8lMCGcj5XK
Sore harinya, saat duduk sendirian di teras asrama yang sepi, lamunan datang lagi dengan sangat kuat dan tak terbendung. Aku membayangkan Reza memelukku dari belakang seperti malam tadi, mengangkat gamisku hingga pinggang, lalu memasukkan miliknya yang sudah keras dan besar ke dalam memekku yang basah sambil meremas payudaraku dari samping. Jari-jarinya memilin putingku.
880Please respect copyright.PENANAcbUwrKtC1d
“Ahh… Mas… enak… genjot aku lagi… ahh! Lebih dalam, Mas… isi aku penuh!”
880Please respect copyright.PENANAQ6hUzipJnF
Tanpa sadar, kakiku sedikit terbuka di bawah gamis. Tanganku menekan gamis kuat-kuat di pangkal paha, menggosok klitorisku dari luar kain. Memekku berdenyut hebat. Cairan bening keluar lagi, membuat celana dalamku basah kuyup hingga ke bokong.
880Please respect copyright.PENANAo0bmPvdhyx
“Ustadzah Nayla!!”
880Please respect copyright.PENANA1xNSyLddPw
Suara Ustadzah Lina yang keras dan tegas membuat tersentak keras hingga hampir terjatuh dari kursi kayu. Jantungku berdegup kencang.
880Please respect copyright.PENANAgoefBoLQDK
“Iya ustadzah?” jawabku panik, wajahku pasti sudah merah padam seperti tomat.
880Please respect copyright.PENANAd82f6m8B7M
Ustadzah Lina dan Ustadzah Sarah berdiri di depanku dengan alis terangkat tinggi, curiga. Ustadzah Lina mendekat, mengedipkan matanya. "Kamu melamun dari tadi, Nayla. Saya panggil tiga kali. Mukamu merah banget, nafasnya cepat, dan… ya Allah, kamu berkeringat di sore yang dingin begini? Kamu demam? Atau ada apa?"
880Please respect copyright.PENANAZN13lGHjdj
Ustadzah Sarah ikut mendekat, suaranya lebih lembut tapi penuh selidik. "Jalannya juga aneh sejak pagi. Pinggulnya digoyang-goyang pelan. Kemarin kamu bilang urusan keluarga sampai malam. Benar-benar urusan keluarga, Nayla? Kamu kelihatannya… berbeda."
880Please respect copyright.PENANAhftsoXypoA
Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku kering seperti pasir. Air mata menggenang lagi di mata. Penyesalan datang seperti banjir bandang yang menyiksa, namun kenikmatan semalam tetap membakar tubuhku seperti api neraka yang manis.
880Please respect copyright.PENANASHH6hQqQ06
“Aku… aku baik-baik saja, ustadzah Hanya capek dan kurang istirahat,” jawabku lemah, suara hampir hilang.
880Please respect copyright.PENANA46wjfFr8hu
Mereka berdua saling pandang dengan mengemukakan yang jelas tidak percaya. Ustadzah Lina menghela nafas panjang dan dalam. "Kamu hati-hati ya Nayla. Kami khawatir sama kamu. Sampai ada yang tidak-tidak. Pondok ini tempat menjaga iman, bukan sebaliknya."
880Please respect copyright.PENANAxV7BkAjG5W
Begitu mereka pergi menuju ruang guru, aku buru-buru masuk ke kamar, mengunci pintu dua kali, lalu ambruk di kasur. Dengan tangan gemetar, aku mengangkat gamis hitamku sampai pinggang, menarik celana dalamku yang sudah basah kuyup ke bawah hingga lutut. Memekku terpapar udara, masih bengkak, bibir merah mengkilap, dan lubangnya sedikit terbuka mengeluarkan cairan bening.
880Please respect copyright.PENANAOjXO64aODJ
Masih basah. Masih berdenyut. Masih menginginkan Reza.
880Please respect copyright.PENANAnA2EXEonyJ
Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan malam itu kembali membanjiri pikiranku. Jari-jariku bergerak pelan mengusap klitorisku yang sensitif dan bengkak, lalu menyelip masuk ke dalam lubang yang masih longgar karena semalam. Aku membayangkan lidah Reza di sana, bertanya, lalu miliknya yang tebal menghujam tanpa ampun.
880Please respect copyright.PENANA04xX6zsBsV
Aku tahu ini dosa besar yang mungkin tak terampuni.
Aku tahu aku seharusnya bertaubat, mandi wajib, dan menjauhi Reza selamanya.
880Please respect copyright.PENANA5hhW0AHVxP
Tapi tubuhku sudah ketagihan. Malam ini, saat asrama sunyi dan lampu dimatikan, aku sudah tahu aku akan kembali melakukannya — meraba tubuhku sendiri dengan pembohong sambil membayangkan Reza menghujamku tanpa henti, menyemburkan cairannya di dalam rahimku lagi.
880Please respect copyright.PENANAOCuggbUJjE
Karena meski penuh penyesalan yang menyiksa jiwa, kenikmatan yang diberikan Reza semalam telah membakar segalanya… termasuk imanku yang dulu kukura teguh seperti gunung.
880Please respect copyright.PENANAduYpbMUeTU
Dan aku takut… aku tidak ingin berhenti.
880Please respect copyright.PENANA0nxB3CeIgP
Cerita lengkapnya ada disini
https://lynk.id/silviylstory
https://victie.com/novels/pacarku-seorang-ustadzah880Please respect copyright.PENANANYbSm8ihO6


