Pengantaran ke Pondok Pesantren
1027Please respect copyright.PENANA0rTeLYQc5S
Pagi itu udara masih membawa sisa dingin malam, kabut tipis membuat sawah-sawah di pinggiran kecamatan. Matahari baru muncul separuh lingkaran di ufuk timur, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan merah muda yang lembut. Aku menyetir Avanza hitamku pelan-pelan melewati jalan desa yang mulai ramai. Ban mobil berderit pelan di atas aspal yang masih basah bekas hujan semalam. Di kursi belakang, Rina duduk diam, tubuh kecilnya tenggelam di antara dua tas ransel besar dan satu koper sedang. Usianya baru 13 tahun, tapi hari ini dia resmi menjadi santriwati di Pondok Pesantren Al-Fatah.
1027Please respect copyright.PENANASyJ3TXhTMf
“Mas… aku deg-degan banget,” bisik Rina. Suaranya kecil, hampir hilang ditelan deru mesin dan angin yang masuk melalui celah jendela.
1027Please respect copyright.PENANAYZYqPn3ha5
Aku melirik ke spion tengah, tersenyum tenang meski hatiku sendiri tidak sepenuhnya tenang. "Biasa aja, Rin. Ini kesempatan bagus buat kamu. Katanya Kamu kan mau hafal Al-Qur'an dengan serius."
1027Please respect copyright.PENANAfCkNbGRbe1
Rina hanya mengangguk pelan, tangannya menggenggam tali ransel hingga buku jarinya memutih. Ini pertama kalinya adik bungsu kami jauh dari rumah untuk waktu yang lama. Aku ingat betul bagaimana ibu menangis semalaman saat memberi pesan-pesan panjang. Sekarang tinggal aku yang mengantar.
1027Please respect copyright.PENANAHKob3UsvKw
Pondok Pesantren Al-Fatah terletak di ujung kecamatan, dikelilingi hamparan sawah hijau dan barisan pohon bambu yang tinggi. Pagar tembok tinggi dicat hijau tua yang mengelilingi kompleks seluas hampir lima hektar. Dari penampakan tersebut sudah terlihat kubah masjid kecil berwarna hijau dan emas, serta deretan gedung bertingkat dengan atap genteng merah yang klasik.
1027Please respect copyright.PENANAS46D3hITZz
Semakin mendekati gerbang utama, suasana berubah drastis. Ratusan orang tua dan calon santri berlalu-lalang. Parkir lapangan tanah sudah penuh setengah. Beberapa santri putri senior sudah berpakaian lengkap: gamis panjang biru tua atau abu-abu muda, kerudung segi empat yang rapi menutup dada, kaos kaki hitam, dan sepatu hitam polos. Suara anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu memeluk anaknya sambil menangis haru, bercampur dengan lantunan ayat suci yang mengalun dari pengerasan suara masjid.
1027Please respect copyright.PENANA2lOwvXsR8C
Aku memarkir mobil di sudut lapangan yang masih agak longgar. Begitu pintu terbuka, aroma khas pesantren langsung menyergap hidungku: tanah basah yang baru diguyur hujan, asap kayu bakar dari dapur umum yang mengepul pelan, bau parfum yang biasa dipakai santri, dan sedikit wangi bunga dari pohon-pohon di halaman.
1027Please respect copyright.PENANAOv2nFcbujT
“Mas, ayo cepat,” Rina menarik dengan nyaman.
1027Please respect copyright.PENANAFkEYnFmg8r
Kami berjalan menuju area penerimaan santri baru. Meja meja panjang dari kayu jati ditutup kain hijau tua, berderet rapi. Beberapa ustadz dan ustadzah duduk di belakangnya sambil memeriksa berkas dengan cermat. Antrian sudah cukup panjang. Aku berdiri di belakang sepasang suami-istri yang anaknya juga baru masuk.
1027Please respect copyright.PENANAk510YKs3Tn
Sambil menunggu, mataku tanpa sengaja menyapu sekeliling. Banyak santri putri yang sudah lebih dulu masuk berjalan beriringan menuju asrama. Gamisnya longgar sesuai aturan, namun angin pagi yang masih kencang terkadang membuat kain tipis menempel di tubuh. Lekuk pinggul remaja, garis dada yang masih tumbuh, dan bentuk bahu yang ramping terkadang terlihat samar sebelum kain kembali longgar. Aku cepat mengalihkan pandangan, merasa tidak nyaman dengan diri sendiri.
1027Please respect copyright.PENANAol2urlHKe4
Giliran kami tiba setelah hampir dua puluh menit.
1027Please respect copyright.PENANAaeOR9kd8HH
“Nama calon santri?” tanya ustadz paruh baya dengan suara tegas tapi ramah.
1027Please respect copyright.PENANAVu5xiP217v
“Rina Putri Wijaya, Pak,” jawabku sambil menyerahkan peta berkas lengkap beserta fotokopi KTP orang tua dan surat keterangan sehat.
1027Please respect copyright.PENANAcjj0x2f0Pp
Ustadz itu mengangguk, mengecek daftar panjang di depannya. "Kelas persiapan tahfidz ya. Silakan tunggu di bangku panjang bawah pohon mangga sana. Nanti dipanggil untuk pengecekan dan Pembagian kamar."
1027Please respect copyright.PENANAitGi3WM0KJ
Kami duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon mangga yang rindang. Daun-daunnya yang lebar bergoyang pelan ditiup angin sepoi-sepoi. Cahaya matahari yang menyusup di antara daun membuat bayangan bergaris-garis di tanah. Dari kelihatannya terdengar irama khas santri membaca kitab kuning—suara keras, berirama naik turun, penuh semangat dan disiplin.
1027Please respect copyright.PENANABS6L4vnpp6
Sepuluh menit kemudian, seorang panitia perempuan memanggil nama Rina. Kami mendekat ke meja khusus santri putri. Di belakang meja duduk tiga orang ustadzah. Pandanganku langsung tertuju pada yang di tengah.
1027Please respect copyright.PENANAWzUsxLHZ2h
Ustadzah Nayla.
1027Please respect copyright.PENANA9wtaHNEmvg
Dia berusia sekitar 24 atau 25 tahun. Kulitnya putih bersih seperti susu, wajah oval dengan pipi chubby yang membuatnya terlihat manis dan mudah tersenyum. Matanya yang tertutup kacamata bulat tipis berbingkai hitam, memberi kesan cerdas sekaligus menggemaskan. Kerudung segi empat krem muda menutupi rambutnya dengan sempurna, dijepit rapi di bawah dagu. Gamis hitam polosnya panjang sampai mata kaki, longgar, namun tetap tidak mampu sepenuhnya menyembunyikan proporsi tubuhnya.
1027Please respect copyright.PENANAceNWqpa4VB
Saat dia berdiri sebentar untuk mengambil peta dari rak belakang, angin meniup kain gamisnya. Sesaat terlihat jelas lekuk pinggang yang ramping, dada yang penuh dan montok meski tertutup rapat, serta garis pinggul yang proporsional. Name tag kecil di dada kirinya bertuliskan “Ustadzah Nayla S.Pd”.
1027Please respect copyright.PENANAc4swG0tKhd
“Rina Putri Wijaya?” tanyanya dengan suara lembut tapi jelas, nada khas guru yang terbiasa mengajar anak-anak.
1027Please respect copyright.PENANAwQksqdfRSW
“Iya, ustadzah” jawab Rina pelan, suaranya gemetar.
1027Please respect copyright.PENANAWYrd7pOjRF
Aku berdiri tegak di samping adikku, berusaha bermimpi biasa. Tapi sulit. Gerakan Ustadzah Nayla sangat anggun saat membalik halaman berkas. Bibirnya yang tipis dan merah alami terkadang melengkung kecil saat menjelaskan. Aroma parfum yang segar dan sedikit wangi vanilla samar tercium saat angin berhembus ke arahku.
1027Please respect copyright.PENANAfJnVjsHceh
“Untuk santri baru, besok pagi mulai masa taaruf selama tiga hari penuh,” jelasnya sambil menatap Rina dengan sabar. “Kalian akan belajar tata tertib pondok, jadwal ibadah, adab kepada ustadzah, dan pembagian kelompok pengajian. Ada pertanyaan?”
1027Please respect copyright.PENANA0R1WZ6yqtw
Sesekali melirik ke arahku sekilas, menyampaikan yang tenang dan sopan.
1027Please respect copyright.PENANAkUuxOp77PU
Aku memberanikan diri, "Maaf ustadzah, asrama putri di mana ya? Bolehkah saya lihat dulu lokasinya?"
1027Please respect copyright.PENANALljXVbQNq5
Ustadzah Nayla memikirkan saya. Mata yang di balik kacamata sedikit melebar, ada kejutan kecil. “Asrama putri terpisah ketat dengan area putra, Mas. Tidak boleh masuk sembarangan. Tapi karena hari pertama, orang tua yang mengantar sampai gerbang asrama saja.”
1027Please respect copyright.PENANAnZ3cuUBwvD
Suara dia halus, tapi ada otoritas yang jelas. Aku mengangguk paham.
1027Please respect copyright.PENANAE0HQ7Dcw4b
Proses administrasi berlangsung hampir 50 menit. Selama itu aku diam-diam memperhatikannya. Cara dia berbicara dengan ibu-ibu yang bertanya panjang lebar sangat sabar. Saat kerudungnya tertiup angin, tangan yang halus dan jari-jari lentik langsung membenarkannya dengan gerakan elegan. Tidak ada cincin di penjepit. Kulit tangan terlihat lembut.
1027Please respect copyright.PENANAnc9QEgJ2Xe
Setelah selesai, kami diantar menuju area asrama putri. Ustadzah Nayla berjalan di depan bersama dua panitia lain. Aku berjalan di belakang Rina sambil membawa koper yang lumayan berat. Pandanganku kadang jatuh ke punggung Ustadzah Nayla. Gamis hitamnya yang longgar ikut bergerak mengikuti langkahnya. Saat dia melangkah, pinggulnya bergoyang pelan dengan irama alami. Kain kadang menempel di punggung dan pinggangnya karena gerakan, menampilkan lekuk tubuh yang indah dan terawat.
1027Please respect copyright.PENANAt7In3DutNc
Perjalanan melewati halaman luas berumput hijau, pohon jambu yang sedang berbuah, dan deretan gedung asrama bertingkat dua bercat putih kusam. Suara lantunan ngaji terdengar dari berbagai arah—campuran suara anak kecil dan remaja yang sedang belajar.
1027Please respect copyright.PENANACbFUsaw7tA
Kami tiba di depan gedung blok C.
1027Please respect copyright.PENANANNSDLP8l4H
“Ini asrama putri blok C,” kata Ustadzah Nayla sambil berbalik menghadap kami. Senyum kecilnya membuat pipinya semakin chubby. “Rina akan ditempatkan di kamar nomor 12, lantai satu. Saya sendiri yang menjadi pengasuh utama blok ini.”
1027Please respect copyright.PENANA2CppzafUK7
Jantungku berdegup lebih kencang. Pengasuh blok adikku.
1027Please respect copyright.PENANAhwDkKLLppM
“Kalau ada apa-apa dengan adiknya, langsung hubungi saya saja,” lanjutnya. Dia mengeluarkan secarik kertas kecil, menulis nomor HP-nya dengan tulisan rapi, lalu menyerahkannya padaku.
1027Please respect copyright.PENANApALe5GCi3i
Jari kami menyentuh sebentar. Kulitnya halus, sedikit dingin, dan lembut sekali. “Terima kasih banyak, ustadzah Nayla,” kataku sambil menatap matanya lebih lama dari yang seharusnya.
1027Please respect copyright.PENANAUrOF6rIKS7
Dia mengangguk sopan, tapi ada sedikit rona merah samar di pipinya. “Sama-sama, Mas.Semoga adiknya cepat beta di sini.”
1027Please respect copyright.PENANAqkTPvUarzy
Mata kami bertemu agak lama. Ada sesuatu yang bergetar di udara—ketertarikan kecil yang muncul begitu saja, tak terduga. Ustadzah Nayla cepat menyiapkan muka, menyiapkan kerudungnya.
1027Please respect copyright.PENANAe3QyFXTrrG
Aku mengantar Rina masuk ke kamar. Ruangan sederhana: dua kasur susun besi, dua lemari kecil, meja belajar bersama, dan jendela menghadap halaman. Bau cat baru dan sabun masih tercium. Dua santri lain sudah ada di dalam, saling berkenalan dengan suara pelan dan malu-malu.
1027Please respect copyright.PENANAqQQUbutync
Setelah lama memeluk Rina, memberi pesan-pesan, dan berfoto sebentar, aku keluar. Di gerbang blok, Ustadzah Nayla masih berdiri mengawasi.
1027Please respect copyright.PENANAWOknUTzPwU
“Sudah selesai, Mas?” tanyanya ramah, suaranya lembut.
1027Please respect copyright.PENANAaeD5DScVPZ
“Iya, ustadzah. Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini.”
1027Please respect copyright.PENANAusPCcWe82y
Dia tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan pulangnya ya.Semoga selamat sampai rumah.”
1027Please respect copyright.PENANAYkWzT0bYEX
Saat aku berbalik, aku melirik sekali lagi. Ustadzah Nayla sedang membenarkan gamisnya yang sedikit tersingkap karena angin. Kain hitam itu menempel sempurna di tubuhnya pada saat itu—memperlihatkan lekuk dada yang montok, pinggang ramping, dan garis pinggul yang jelas. Aku menggeleng pelan, berusaha mengusir bayangan yang mulai nakal.
1027Please respect copyright.PENANAz0C40KjfYE
“Ini cuma ustadzah pengasuh adikku,” gumamku dalam hati berkali-kali.
1027Please respect copyright.PENANA3dM5skZNDy
Tapi sepanjang perjalanan pulang, yang ada di benakku hanya suara lembutnya, senyum manis di balik kacamata bulat, sentuhan jari yang halus, dan lekuk tubuh yang samar-samar di balik gamis hitam panjang itu.
1027Please respect copyright.PENANA6UGG9cYTQD
1027Please respect copyright.PENANAip7nwB6jjc


