"Aku tahu Hadi lelah," ucap Sinta perlahan, suaranya meluncur membelah keheningan kamar yang remang-remang.
78Please respect copyright.PENANAfGe49VMsml
Dia masih duduk di tepi ranjang besar apartemen kami, membiarkan kaki mulusnya yang tanpa alas menjuntai santai menyentuh lantai. Rok span satin merah tuanya bergeser halus seiring dengan posisi tubuh atasnya yang sedikit condong, mengunci tatapan dingin ke arah Dewi yang meringkuk di balik selimut putih tebal. Lampu tidur berbentuk kotak di dekat mereka memancarkan pendar kuning lembut, membingkai ketegangan dramatis di antara kedua saudara kandung itu.
78Please respect copyright.PENANALImaMNOmi2
"Dan aku tahu aku membuat kalian berdua kelelahan," sambungnya lagi, nadanya terdengar begitu tenang namun sarat akan manipulasi psikologis.
78Please respect copyright.PENANAZ8AT2Qei0y
Dia sedikit menundukkan wajah tirusnya, membiarkan helaian rambut hitam lebatnya jatuh membingkai leher mulusnya. Blus katun hitam ketat berpotongan dada rendah yang dikenakannya menonjolkan bentuk sepasang payudaranya yang luar biasa besar dan padat, menyembul penuh seolah menuntut dominasi total atas duniaku yang sedang retak di luar sana.
78Please respect copyright.PENANAxD3PfxsWsW
Dewi mendengarkan setiap patah kata dalam diam, kelopak matanya yang buta terpejam rapat menahan gejolak emosi. Air mata yang hangat kembali merembas keluar, berkilau lembap melewati pipinya yang tirus seiring dengan napasnya di balik piyama satin merah muda yang naik turun tidak beraturan.
78Please respect copyright.PENANAj1hvHhOSqG
"Tapi aku perlahan menjadi kuat dan menjadi lebih baik," ucap Dewi dengan suara yang serak dan bergetar menahan tangis. "Dokter juga mengatakan... aku bisa memulihkan penglihatanku," lanjutnya lagi, mencoba menegakkan sisa pertahanan batinnya dari dalam kegelapan dunianya.
78Please respect copyright.PENANAyA83FpHMsx
Mendengar kalimat adiknya, sebersit reaksi dingin melintas di wajah Sinta. Dia menggeser posisi berdirinya, melangkah perlahan mengitari tepi kasur dengan gerakan yang teramat lembut.
78Please respect copyright.PENANApXPRBGUUMG
Sementara itu, di dalam bar yang remang-remang, Raka menatapku dengan saksama sembari memosisikan tubuh katun hitamnya condong ke depan.
78Please respect copyright.PENANA1ztY567kkQ
"Melihat laporan, tampaknya semua berjalan lancar," ucapnya dengan nada bariton yang menenangkan, menunjuk ke arah gelas kaca kecil kami. "Tentu saja kamu tidak perlu sangat khawatir. Masalah yang ada di pernikahanmu akan berjalan lancar."
78Please respect copyright.PENANADLSMSKfkMA
Sentuhan es batu yang bergetar halus menimbulkan bunyi gemerincing nyaring saat aku menggerakkan tangan kananku yang dibalut kemeja katun putih rapi, menjepit gelas kecil berisi cairan keras di hadapanku. Semburat gundah tercetak pekat di raut mukaku yang tirus.
78Please respect copyright.PENANAJk31Q18q5N
"Berhubungan seks dalam kehidupan pernikahan masih sangat penting," timpal Raka dengan nada santai seolah ingin membedah inti dari pelarian duniaku selama ini.
78Please respect copyright.PENANAWDMwxL3Bqy
Dia mengangkat satu jari telunjuknya ke udara, menatapku dari balik keremangan lampu bar dengan seulas senyuman tipis yang sarat akan pengalaman dewasa.
78Please respect copyright.PENANAqgT2hIC5Wz
"Kamu tetap tidak menikmati saat ini seperti yang kulakukan," lanjutnya lagi menggoda.
78Please respect copyright.PENANAdvXc0eoW2B
Aku menunduk lesu, mengusap simpul dasi hitamku yang longgar seiring dengan rasa sesak yang kembali menghantam dada.
78Please respect copyright.PENANAHAyBBLX1zK
"Itu tidak ada gunanya, yang bisa kulakukan hanyalah menahannya," gumamku dengan suara serak yang teramat lirih.
78Please respect copyright.PENANA77cm0XqwTm
Aku mengangkat gelas berisi alkohol itu ke bibir, menumpahkan cairan keras tersebut ke dalam tenggorokan dengan satu tegukan kasar, mencoba menenggelamkan keliaran delusi erotis yang kian menyimpang di kepala.
78Please respect copyright.PENANAeiWTsZQazn
Di dalam kamar tidur utama yang sunyi, Dewi tiba-tiba berteriak histeris, memotong kalimat saudara perempuannya dengan kekuatan penuh.
78Please respect copyright.PENANAegB3kOfGTZ
"Setelah semuanya beres, tidak akan ada masalah! Kami tetap akan mempunyai anak!" pekik Dewi dengan raut wajah yang memerah pekat menahan tangis, meluapkan seluruh gejolak psikologisnya demi mempertahankan kebahagiaan rumah tangga kami.
78Please respect copyright.PENANA0TutmOfaoU
Sinta hanya bisa tertegun mendengar jeritan tersebut. Dia memaku pandangannya pada wajah Dewi dengan tatapan mata yang menyipit dingin, menyembunyikan keterkejutan yang sempat melintas di benaknya sejenak.
78Please respect copyright.PENANA5KUBauFZ4M
"Apa kamu tahu jika Hadi merasa seperti itu?" tanya Sinta dengan nada suara yang teramat datar dan tajam.
78Please respect copyright.PENANAZln6Wee7Hu
Dia menegakkan tubuh tegapnya secara anggun, meliukkan pinggulnya yang lebar di bawah ketatnya balutan rok span satin merah tua yang berkilau mewah. Blus katun hitam ketatnya ditarik kencang seiring dengan gerak tubuhnya yang condong ke depan, menyingkap belahan dadanya yang luar biasa montok dan padat tepat di hadapan wajah adiknya yang buta.
78Please respect copyright.PENANA61hWEqYLt6
"Tidakkah kamu memikirkan tentang itu? Apa yang kamu percayai dan inginkan akan menjadi kejam untuk dipaksakan padanya?" tanyanya lagi, memosisikan tangannya mencengkeram erat tepi ranjang dengan gerakan yang sangat sensual. "Pikirkan tentang itu lagi, Dewi."
78Please respect copyright.PENANAmgSY31K951
Dia melangkah setapak maju, merapatkan tubuh seksinya ke sisi kasur seolah ingin menegaskan keunggulan bentuk fisiknya yang matang.
78Please respect copyright.PENANAwWhFgA0pz6
"Aku bisa merawatmu secara langsung," ucap Sinta dengan seulas senyuman manis yang teramat dingin di bibir kemerahannya. "Tapi dia menjaga dirinya sendiri dulu."
78Please respect copyright.PENANAyBqgGLTHqs
"Tidak..." bisik Dewi terbata-bata dengan tubuh piyama merah muda yang gemetar hebat menerima hantaman mental yang bertubi-tubi. "Jangan hanya mengatakan hal seperti itu dengan santai!" teriak Dewi lagi sembari terisak pelan, menyembunyikan wajah tirusnya di balik telapak tangan kecilnya yang licin oleh air mata. "Kakak... aku sangat mencintai Hadi," rintihnya dengan kepedihan psikologis yang teramat dalam, meratapi dunianya yang kian runtuh di bawah bayang-bayang manipulasi terselubung.
78Please respect copyright.PENANAAHj4hJmTLa
Kembali di depan konter bar yang sunyi, suara ketukan pelan terdengar saat aku meletakkan gelas kosongku di atas kayu krem. Pandanganku lurus menatap botol-botol alkohol, namun jiwaku sepenuhnya telah melayang kembali pada kenyataan kelam yang selalu kusangkal.
78Please respect copyright.PENANAo1AOIQloyg
Meskipun aku mencintainya... Sebuah kalimat batin menjerit keras di dalam pikiran rahasia duniaku seiring dengan detak jantung yang kian berpacu gila. Tapi aku baru saja bermimpi di malam hari.
78Please respect copyright.PENANAj6HI7RarAR
Kilasan ingatan erotis yang brutal mendadak berputar kembali di dalam kesadaranku. Bayangan tentang bagaimana aku menumpahkan seluruh gairah bersama seorang wanita seksi tanpa sehelai benang pun di atas ranjang yang sama kembali menyeruak. Tubuhnya yang polos, kulitnya yang mulus berpeluh di bawah temaram lampu, dan bagaimana aku meremas sepasang payudaranya yang luar biasa besar dan bundar dengan puting kemerahan yang mengeras sensitif.
78Please respect copyright.PENANAw0tEjDmupV
Dan seseorang yang kuimpikan bukan istriku.
78Please respect copyright.PENANAietqLTrr40
Gagasan mengerikan itu seketika mengirimkan sengatan panas menuju bawah perutku. Di balik celana formal kantor, kejantannanku mendadak menegang sempurna, mengeras dengan sangat kaku menciptakan tonjolan yang luar biasa kencang di antara kedua paha mulusku.
78Please respect copyright.PENANAtKd8fkwoS4
Itu adalah Sinta, itu memikatku.
78Please respect copyright.PENANArSo9nTXXzL
Napas bersintal-sengal keluar dari sela bibirku seiring dengan wajahku yang merona merah pekat menahan syahwat yang salah alamat ini. Aku mencengkeram erat pinggiran meja bar untuk menahan gejolak rahasia yang tak pantas ini.
78Please respect copyright.PENANAnAd2MRhDsQ
Bagaimana bisa aku mengatakan seperti ini pada temanku...
78Please respect copyright.PENANAu7htqgLLwj
Aku menghela napas panjang yang sangat berat, memutar posisi dudukku untuk segera mengakhiri malam yang menyiksa ini sebelum duniaku benar-benar hancur berkeping-keping.
78Please respect copyright.PENANA4KlQ49nYtc
"Raka, aku akan pergi," kataku sembari bangkit berdiri dari kursi bar, meraih jaket katun cokelat mudaku dengan gerakan yang tergesa-gesa untuk menyembunyikan ketegangan di celanaku.
78Please respect copyright.PENANA5aprbp4DFY
Rekan kerjaku mendongak menatapku dengan raut wajah kebingungan, menurunkan cangkir minumannya perlahan di atas meja kayu.
78Please respect copyright.PENANAQNQiDyNu6U
"Sudah mau pergi?" tanyanya menyipitkan mata melihat sikapku yang mendadak panik di tengah keheningan malam dewasa yang kian mencekam ini.
78Please respect copyright.PENANAFxbbuE47Dk
Aku melangkah perlahan menjauh dari konter meja bar, menyampirkan jaket cokelat muda tebal di lengan kananku dengan gerakan yang terasa amat berat. Langkah kakiku menyeret lesu di atas lantai, membiarkan kehangatan alkohol tadi mengalir canggung di dalam tubuhku yang berbalut kemeja katun putih kantor yang kini terasa semakin menyesakkan.
78Please respect copyright.PENANAJ4yRqXi32q
Raka mengembuskan napas panjang, menatap punggung kemeja putihku yang perlahan menjauh menuju pintu keluar. Matanya menyipit redup di bawah temaram lampu bar yang benderang, dipenuhi keprihatinan seorang sahabat atas pelarian duniaku malam ini. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang kabar apa pun pada situasi Dewi, namun kalimat tanya itu hanya mampu tertahan di dalam benaknya seiring dengan langkah kakiku yang akhirnya benar-benar menerobos kegelapan malam yang dingin.
78Please respect copyright.PENANAwIeGtZ8DIP
Di luar sana, menara-menara apartemen mewah menjulang tinggi membelah cakrawala malam. Ratusan jendela kaca dari gedung pencakar langit itu memancarkan pendar cahaya kekuningan yang benderang, menjadi saksi bisu atas keheningan kota yang menyimpan riak malapetaka terselubung.
78Please respect copyright.PENANAkvBXp67idm
Apakah aku harus segera pulang? Pertanyaan penyesalan itu terus bergaung di dalam batin psikologisku saat aku melangkah memasuki lobi apartemen kami. Lift membawaku naik memotong sunyinya malam, mengantarkan tubuh keletihanku kembali ke garis kenyataan yang tak bisa kuhindari.
78Please respect copyright.PENANA17w1ptlbMi
Langkah kakiku yang tanpa alas terdengar sangat halus bergesek dengan lantai koridor apartemen yang remang-remang. Suasana ruang tengah tampak sunyi gulita seolah tidak terjadi badai emosional apa pun di antara kedua wanita di rumah ini beberapa saat lalu. Aku membatin perlahan bahwa tidak masalah, aku akan menebusnya saat kami mengobrol nanti, sembari menggeser pintu kayu kamar tidur utama.
78Please respect copyright.PENANAmpbIQhn0fb
Di dalam kamar yang diselimuti kegelapan yang pekat, sesosok tubuh ramping tampak sedang berbaring menyamping di tengah ranjang besar, meringkuk di balik selimut putih tebal yang berkerut.
78Please respect copyright.PENANA83ptE7LCi2
Aku mengembuskan napas panjang yang tertahan, lalu melangkah perlahan mendekati tepi kasur. Dengan gerakan yang lemas, aku mendudukkan seluruh beban tubuhku di sisi ranjang, membiarkan kain celana kerja hitamku bergesek halus dengan seprai kasur yang empuk. Tanganku terangkat ke leher, mulai meraba dan menarik simpul dasi hitamku dengan perlahan seiring dengan deru napas yang masih tersengal-sengal menahan lelah.
78Please respect copyright.PENANAaOr0w84bMA
"Kamu kembali..." sebuah suara lirih mendadak memecah keheningan kamar yang sunyi.
78Please respect copyright.PENANAcTs3WYOhzW
Aku tersentak kaget dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi ketegangan pekat. Kepalaku menoleh dengan cepat ke arah asal suara, menatap wajah tirus Dewi yang membayang samar di balik kegelapan.
78Please respect copyright.PENANAHz3l0VvQyu
"Maaf, apa aku membangunkanmu?" tanyaku lembut sembari sedikit memiringkan wajah ke depan.
78Please respect copyright.PENANAQjOVC8Ox5l
"Tidak... aku tidak tidur," sahut Dewi dengan suara yang serak dan bergetar rendah.
78Please respect copyright.PENANApomZ9oEGR2
Suara gesekan kain seprai terdengar lembut saat Dewi mulai menggerakkan tubuh rampingnya di atas kasur, merayap perlahan keluar dari dalam selimut tebal. Piyama satin tipis berwarna merah muda lembut yang dikenakannya tampak melekat longgar, memperlihatkan siluet punggung dan bahunya yang mulus saat dia memosisikan tubuhnya berlutut di atas kasur menghadap ke arah punggung tegapku.
78Please respect copyright.PENANAyct2Wz3rs9
"Maaf aku pulang terlambat," gumamku lirih sembari menundukkan kepala kembali, meratapi rasa bersalah yang kian menyiksa di dalam dada. "Aku pergi keluar mengobrol dengan temanku..." lanjutku membuat alasan demi menutupi keliaran fantasi erotis yang sempat mengoyak fokus duniaku di bar tadi.
78Please respect copyright.PENANABXQyWW2m8v
Aku memutarkan posisi dudukku perlahan, bersiap untuk menurunkan kaki ke lantai.
78Please respect copyright.PENANAbfMZ45ODf0
"Aku akan pergi mandi," ucapku lembut sembari memosisikan tubuhku untuk bangkit berdiri.
78Please respect copyright.PENANAOlnfAqWV7A
Namun, sebelum aku sempat melangkah mundur, sebuah tangan kecil yang ramping tiba-tiba menjulur dari arah belakang. Jemari lentik Dewi bergerak maju, mendarat di atas permukaan kemeja putihku, lalu dengan gerakan yang sangat erat dia melingkarkan kedua lengan piyama merah mudanya ke sekeliling leher dan dadaku dari arah belakang.
78Please respect copyright.PENANALJAOO6E6T4
Dewi mengecap napas pelan seraya mendekap punggungku dengan erat, membiarkan hawa panas dari tubuhnya menyalurkan kehangatan yang langsung mengunci pergerakanku. Sepasang payudaranya yang bulat dan padat di balik piyama satin merah muda menekan pasrah ke punggung kemeja putihku seiring dengan helai rambut hitam pendeknya yang menyapu tengkuk leherku yang sensitif.
78Please respect copyright.PENANAgbsuuqtxNp
"Sayang? Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya lirih, napasnya yang hangat berembus pendek menerpa permukaan kulit leherku.
78Please respect copyright.PENANAo6vcaOVsFj
Jemari tangannya yang mungil kini bergerak merayap turun ke depan dadaku, mulai meraba dan mengusap perlahan kancing kemeja putihku dengan ritme yang teratur, mencoba mencari kepastian di tengah kegelapan dunianya yang sunyi.
78Please respect copyright.PENANAcNOEkQfybh
"Sayang..." bisiknya lagi dengan nada menuntut yang teramat manja sekaligus rapuh.
78Please respect copyright.PENANAjS4QYO5Yij
Mendengar bisikan manis itu, detak jantungku mendadak berpacu gila seketika. Konflik batin psikologis antara rasa bersalah pada istriku yang malang dan sisa gairah kotor terhadap kakak iparku berkecamuk hebat mengoyak isi kepalaku.
78Please respect copyright.PENANAQeHajTAzih
"Aku... menunggumu..." gumam Dewi lagi sembari mengeratkan pelukan lengannya di pinggangku.
78Please respect copyright.PENANA22SWAjbmJC
Suara gesekan kain terdengar tipis saat jemari tangan Dewi yang lembut mendadak bergerak semakin berani ke arah bawah. Dia membuka paksa beberapa kancing kemeja putihku, membiarkan kain katun itu merosot melonggar menyingkapkan kulit perut dan dada tegapku ke udara kamar yang dingin. Tangannya terus merayap turun melintasi pusar, menyelinap masuk ke dalam celana panjang kerja hitamku tanpa sekat sehelai benang pun.
78Please respect copyright.PENANAPgiRFjoOZO
"Aku ingin..." bisik Dewi dengan suara yang sengaja dibuat mendesah pelan.
78Please respect copyright.PENANA07VxRR3MHB
Telapak tangan kecilnya yang hangat langsung mendarat tepat di atas pangkal pahaku, meraba dan mencengkeram erat penisku yang di balik celana dalam katun tipis mendadak menegang sempurna dan mengeras dengan sangat cepat menerima stimulasi instan dari istriku sendiri. Dia mulai menggerakkan jemarinya, meremas gundukan kaku tersebut dengan dinamika gerakan yang sangat saksama, memicu desiran panas yang membakar langsung dari perut bagian bawahku.
78Please respect copyright.PENANAj0u8v2aVrs
Wajahku merona merah pekat seiring dengan napas yang mulai tersengal-sengal tidak beraturan.
78Please respect copyright.PENANAJYCTMTFlvW
"Sayang..." panggil Dewi lirih seiring dengan cengkeramannya yang kian memadat memeras kepenuhan ukuran penisku di dalam selangkangan.
78Please respect copyright.PENANAOQ42eIdZqf
Aroma tubuhnya yang khas bercampur wangi sabun mandi memenuhi indra penciuman, menghancurkan sisa-sisa logika moralitas yang sedari tadi kubangun setebal mungkin di dalam dada.
78Please respect copyright.PENANA5vpWvf3Tb9
"Tunggu aku selesai mandi... oh??" pekikku terbata-bata dengan nada suara yang bergetar keras seiring dengan tubuhku yang tak lagi mampu menolak.
78Please respect copyright.PENANAU0vlcLRIS8
Dewi tidak membiarkanku bergerak menjauh. Dengan satu sentakan tangan kecilnya yang penuh perasaan, dia menarik paksa tubuh tegapku mundur ke belakang hingga keseimbanganku runtuh, membuat kami berdua jatuh telentang bersama-sama di atas kasur yang empuk dalam pelukan keintiman malam yang kian pekat dan tak terbendung lagi.78Please respect copyright.PENANAeHLLwdIERP


