570Please respect copyright.PENANAUSmT3ICK7s
Aku, Reza, berusia 25 tahun, sudah bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Tiga tahun lalu, Papa meninggal karena serangan jantung. Sejak saat itu, hanya aku dan Mama yang tinggal di rumah kami yang cukup besar di pinggiran kota.
570Please respect copyright.PENANAhlqKCerT1R
Mama bernama Lina, 42 tahun. Meski sudah tidak muda lagi, penampilannya masih sangat menarik. Tubuhnya tetap padat, kulitnya putih mulus, dan senyumnya selalu hangat. Setelah Papa tiada, Mama memilih untuk tidak bekerja lagi dan fokus mengurus rumah serta aku. Awalnya aku merasa biasa saja—dia tetap ibuku yang penuh kasih sayang.
570Please respect copyright.PENANA5cm9OHRNXz
Tapi lambat laun, aku mulai merasakan ada yang berbeda.
570Please respect copyright.PENANAEjDYaS7hdU
Malam itu, seperti biasa, aku pulang sekitar jam sembilan malam. Badan pegal, kepala pusing karena meeting seharian. Begitu membuka pintu, aroma masakan langsung menyambut. Mama sudah menunggu di ruang makan dengan meja sudah tertata rapi.
570Please respect copyright.PENANAmtKstetQgV
"Reza pulang... Cepat mandi dulu sayang, Mama sudah siapkan air hangat di kamar mandi. Makan malamnya sebentar lagi siap," katanya sambil tersenyum lembut. Dia memakai daster rumah berwarna krem yang sedikit ketat di bagian dada dan pinggul.
Aku mengangguk lelah. "Makasih Ma."
570Please respect copyright.PENANA4qKvFW5W2v
Di kamar mandi, air hangat sudah mengalir. Handuk bersih terlipat rapi. Aku mandi cepat, lalu keluar dengan handuk melilit pinggang. Mama sudah ada di kamar tidurku, sedang merapikan baju kerja yang aku lempar sembarangan tadi pagi.
570Please respect copyright.PENANAKnkLQqG3eX
"Lihat ini, bajunya berantakan terus. Mama cuciin ya besok," katanya sambil mengambil baju kotor ke keranjang. Matanya melirik sekilas ke dada telanjangku yang masih basah, tapi cepat dialihkan.
570Please respect copyright.PENANAe8VUqIKVsr
"Makasih Ma. Mama selalu repot ngurusin aku," balasku sambil duduk di tepi kasur.
570Please respect copyright.PENANApoFqsBw0ic
Mama mendekat, duduk di sampingku. Tangannya yang lembut menyentuh bahuku, lalu mengusap pelan ke punggung. "Kamu kan anak Mama satu-satunya. Setelah Papa pergi, Mama cuma punya kamu. Mama senang bisa merawat kamu... seperti dulu waktu kamu kecil."
570Please respect copyright.PENANAbcD2G86FcN
Sentuhannya terasa agak lama. Jari-jarinya menyusuri otot bahuku yang tegang karena capek kerja. Aku merasa nyaman, tapi ada sedikit getar aneh yang muncul di dada.
570Please respect copyright.PENANACKevu4Ywe8
"Mama, aku sudah besar kok. Nggak usah terlalu repot," kataku pelan.
570Please respect copyright.PENANAvewpXfNXGn
Mama tersenyum, matanya menatapku dalam. "Biarpun sudah besar, kamu tetap anak Mama. Mama ingin kamu merasa nyaman pulang ke rumah. Mau Mama pijitin bahunya dulu sebelum makan?"
570Please respect copyright.PENANAYpJ9gYUnpO
Tanpa menunggu jawaban, Mama sudah berpindah ke belakangku. Kedua tangannya menekan bahu dan punggungku dengan lembut tapi pasti. Aromanya yang wangi sabun mandi dan sedikit bedak bayi menyelimuti aku. Pijatan itu sangat enak, membuat aku mendesah pelan.
570Please respect copyright.PENANA2HozMC3s1B
" Enak ya, Nak?" tanyanya lembut di telingaku. Nafasnya hangat menyapu leherku.
"Iya Ma... enak sekali."
570Please respect copyright.PENANAeOFh1UXadf
Malam itu, setelah makan malam, Mama lagi-lagi ikut ke kamarku. Dia membantuku menyusun dokumen kerja yang berserakan di meja, lalu mengambilkan segelas susu hangat seperti biasa.
570Please respect copyright.PENANAPtsOrvtArv
"Minum dulu susunya biar tidur nyenyak," katanya sambil mengelus rambutku pelan. Gerakannya penuh kasih sayang, tapi entah kenapa terasa lebih intim dari biasanya.
570Please respect copyright.PENANABkiv8C75gL
Aku berbaring di kasur. Mama duduk di pinggir tempat tidur, tangannya masih mengelus lengan dan dada atas ku dengan gerakan pelan, seolah sedang menenangkan anak kecil yang akan tidur. Matanya penuh perhatian.
570Please respect copyright.PENANA5OggijpB0l
"Tidur ya sayang. Besok Mama siapkan sarapan favoritmu. Mama akan selalu ada buat kamu... apa pun yang kamu butuhkan."
570Please respect copyright.PENANASxwkPGfNwY
Saat dia bangkit hendak keluar kamar, aku sempat melihat punggungnya yang ramping dan pinggulnya yang bergoyang pelan di balik daster tipis. Ada sesuatu yang berdesir di pikiranku—sesuatu yang seharusnya tidak boleh terpikirkan.
570Please respect copyright.PENANAd1PyjJlQrL
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
570Please respect copyright.PENANAIhaw6ceXCB
Aku sudah hampir tertidur ketika pintu kamar tidurku berderit pelan. Cahaya samar dari lampu koridor menyusup masuk. Aku membuka mata setengah, mengira mungkin angin atau khayalanku saja.
570Please respect copyright.PENANAjFX5MWVrMb
"Reza... kamu belum tidur kan, Nak?"
Suara Mama. Lembut, hampir ragu.
570Please respect copyright.PENANAVZ7jC8UYls
Aku menoleh. Mama berdiri di ambang pintu, masih memakai daster krem tipis yang sama. Rambutnya terurai, wajahnya terlihat sedikit gelisah tapi ada senyum kecil di bibirnya. Tangan kanannya memegang bantal kecil dan selimut tipis.
570Please respect copyright.PENANA9kLYTgaGHk
"Ma? Ada apa? Jam segini kok belum tidur?" tanyaku sambil bangun sedikit, bersandar di kepala kasur.
570Please respect copyright.PENANAMbOLuxuw6r
Mama mendekat perlahan, langkahnya pelan seperti takut mengganggu. "Mama... nggak bisa tidur, Nak. Sendirian di kamar besar itu rasanya dingin dan sepi sekali. Dulu kan biasa tidur sama Papa... sekarang kosong."
570Please respect copyright.PENANADAhi3Ir41k
Dia berhenti di samping kasur, matanya menatapku penuh harap. "Boleh Mama tidur bareng di sini malam ini? Cuma tidur aja kok. Mama janji nggak ganggu. Mama cuma butuh deketan sama kamu... biar hatinya tenang."
570Please respect copyright.PENANAbjfBtu4wMw
Aku terdiam sejenak. Hati kecilku bilang ini aneh, tapi melihat wajah Mama yang sendu dan tubuhnya yang sedikit gemetar karena dingin AC, aku tak tega menolak.
570Please respect copyright.PENANA3VGcUxVZTQ
"...Boleh, Ma. Kasur ini cukup lebar kok."
570Please respect copyright.PENANAoeinyxZYwA
Mama tersenyum lega. "Makasih sayang." Dia langsung naik ke kasur, meletakkan bantalnya di sebelahku, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Aroma sabun mandi dan bedaknya langsung tercium lagi, lebih kuat sekarang karena dekat.
570Please respect copyright.PENANAbNaYlsF1HI
Kami berbaring berdampingan. Awalnya ada jarak sekitar 20 cm di antara kami. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya redup dari lampu tidur kecil di meja samping.
570Please respect copyright.PENANA0s3BWZjviE
Beberapa menit berlalu dalam diam. Lalu aku merasakan gerakan pelan. Mama bergeser mendekat. Tangannya menyentuh lengan ku dengan ragu, lalu naik ke dada.
570Please respect copyright.PENANAtWpxXtdjd1
"Reza... boleh Mama peluk sedikit? Seperti dulu waktu kamu kecil dan takut gelap," bisiknya hampir tak terdengar.
570Please respect copyright.PENANAwOEunABXb2
Tanpa menunggu jawaban panjang, Mama mendekatkan tubuhnya. Payudaranya yang lembut dan besar menempel pelan di lengan ku. Kakinya menyelinap di antara kakiku dengan gerakan alami. Nafasnya hangat menyapu leherku.
570Please respect copyright.PENANAPTUFbusAs4
Aku merasa tubuhku menegang. Jantungku berdetak lebih cepat. Bau tubuh Mama yang wangi dan kehangatan kulitnya membuat darahku berdesir aneh.
570Please respect copyright.PENANAPDEBVASmMz
"Mama... nyaman?" tanyaku dengan suara agak serak.
570Please respect copyright.PENANA3vbo2efBOx
" Sangat nyaman, Nak," jawabnya sambil semakin merapat. Tangannya kini melingkar di pinggangku, mengelus punggungku pelan-pelan. Gerakan mengelus itu sama seperti tadi saat memijat, tapi kali ini lebih intim karena kami berbaring.
570Please respect copyright.PENANAR903P7wHX1
" Kamu sudah besar sekali sekarang... badanmu hangat dan kokoh," gumam Mama di dadaku. Jarinya menyusuri garis otot perutku di atas kaos tipis yang aku pakai tidur.
570Please respect copyright.PENANAiAy2i666Xk
"Mama senang banget bisa deket gini sama kamu. Rasanya seperti... punya pelindung lagi di rumah ini."
570Please respect copyright.PENANAzMVTT57Yy2
Aku menelan ludah. Kejantanan ku mulai bereaksi tanpa bisa dikendalikan, mengeras pelan karena tekanan tubuh Mama yang menempel. Aku berusaha menggeser pinggul sedikit supaya tidak terlalu kentara, tapi Mama malah semakin merapat, seolah tak mau ada jarak.
570Please respect copyright.PENANASipY0gzKIv
Tangan Mama turun ke pinggulku, mengusap pelan di atas celana pendekku. "Kamu tegang ya? Kerja hari ini capek banget pasti. Besok Mama pijitin lagi lebih lama ya... biar anak Mama rileks total."
570Please respect copyright.PENANAWjYdfxYBdD
Suara Mama semakin manja. Nafasnya mulai sedikit lebih berat. Payudaranya naik turun di lengan ku, putingnya yang mengeras samar terasa melalui kain daster tipis.
570Please respect copyright.PENANArGqQL0ry6R
Malam itu kami tidur saling berpelukan. Aku sulit sekali memejamkan mata. Pikiran tentang batas antara ibu dan anak mulai kabur di kepalaku. Mama tertidur lebih dulu dengan senyum kecil di bibirnya, tangannya masih memeluk pinggangku erat seolah tak mau melepaskan.
570Please respect copyright.PENANAmAkrlnFOuu
570Please respect copyright.PENANA3ifXY3L5wg
570Please respect copyright.PENANAnBJjFqqxTe


