Sialan, tatapan mata Judy saat melihatku mendobrak pintu benar-benar menghantam telak jantungku. Sepasang kelopak mata indahnya yang sayu tampak melebar samar, dilingkupi rasa tidak percaya sekaligus kelegaan yang luar biasa besar di tengah sisa air mata yang mengambang membasahi kedua pipi ranumnya.
89Please respect copyright.PENANAe57iIZnVbB
"Kenapa kau lama banget...? Dasar bodoh... hic... hic..." pekik Judy parau dengan sela tangis yang kembali pecah.
89Please respect copyright.PENANAWDiFqEcNgb
Suara sedu sedannya terdengar teramat rapuh memecah kesunyian sepi di sela tumpukan kardus logistik, meluapkan seluruh tekanan batin yang nyaris menghancurkan harga dirinya malam ini.
89Please respect copyright.PENANAnmyPeFT8Rx
Tepat di bawah sekat besi rak logistik yang remang, ponsel berbingkai hitam miliknya masih tergeletak pasrah di atas lantai ubin keramik abu-abu. Layar monitornya perlahan meredup lalu padam sepenuhnya, menampilkan sisa waktu panggilan dariku yang terputus sepi tanpa sempat terhubung.
89Please respect copyright.PENANAPEjqrxdKyQ
"Oh, hemm... pertama tenang du—"
89Please respect copyright.PENANAZDnuwn6D1A
Kalimat si kasir tambun terdengar terbata-bata mencoba meredakan situasi. Pemuda gempal itu jatuh terduduk di atas tumit kakinya dengan posisi penis yang masih menegang keras menyembul keluar berantakan. Jemari kedua tangannya bergerak gugup, gemetar tidak keruan mencoba menarik kembali ban pinggang celana denim kasarnya demi menutupi selangkangannya yang terekspos kotor.
89Please respect copyright.PENANAh16nN19X3u
Satu ayunan sentakan kaki kananku melesat cepat membelah udara sebelum pria keparat itu sempat menyelesaikan taktik gerakannya. Ujung sepatu kets hitamku menghantam telak tepat di sela pipi dan rahang gempal si kasir tambun dengan kekuatan penuh.
89Please respect copyright.PENANARh9LO0n6LT
Sebuah benturan keras bergaung nyaring saat tubuh gempal pemuda itu terlempar kaku ke samping, menabrak barisan loker penyimpanan besi. Air liur bercampur bercak darah segar seketika menyembur keluar dari celah bibirnya yang robek akibat telak dihantam sol sepatuku.
89Please respect copyright.PENANAxWtdE6nisx
"Sialan kau!!!" pekikku lantang, seutuhnya dilingkupi oleh kabur amarah gila yang meledak hebat di dalam rongga dada.
89Please respect copyright.PENANAo4z1lC2G0m
Tanpa memberi celah sedikit pun bagi tubuh gempal itu untuk bangkit, aku langsung menerjang maju, mengambil posisi menindih dadanya di atas ubin keramik abu-abu. Suara hantaman tinju mentah bertubi-tubi bergaung kaku di dalam gudang saat kepalan tangan kananku melesat bergantian menghantam sela hidung dan mata si kasir tambun hingga wajahnya babak belur tidak berbentuk.
89Please respect copyright.PENANAwQU24ynnOM
"Ack..! T-tunggu!" erang pemuda tambun itu parau sembari kedua telapak tangannya bergerak lumpuh ke udara, berusaha keras memegangi pergelangan tanganku demi menghentikan kegilaan serangan fisikku yang kian tak terkendali.
89Please respect copyright.PENANALL99FkVMO6
Di belakangku, Judy hanya bisa terbelalak lebar meluapkan tangisannya sekencang mungkin. Wajah ranumnya yang memerah padam mendongak pasrah ke atas langit-langit seiring lilitan tali tambang cokelat tebal yang masih mengunci ketat bagian dada dan kedua lengannya di atas lantai ubin yang dingin.
89Please respect copyright.PENANAdO6SCq5QHF
Hawa dingin malam kian mengepung pekat di bawah kepungan atmosfer langit perkotaan yang bertabur bintang sepi. Bias lampu jalanan menyinari kaku fasad bangunan bata kelabu milik kantor kepolisian distrik yang berdiri kokoh dengan papan neon biru bertuliskan Police Department menyala jernih di atas koridor pintu masuk.
89Please respect copyright.PENANArWAAOT9ocN
"Apa maksudmu?!"
89Please respect copyright.PENANAyCTePVK0aB
"Gimana bisa aku tak teriak-teriak di sini woy!" seruan ketus Judy sekencang mungkin seketika merobek keheningan sepi ruangan aula pelayanan publik yang dibatasi oleh deretan meja kerja sekat logam bertuliskan For The Citizens.
89Please respect copyright.PENANAf14DSxDjxh
"Iya iya, kau tak harus berteriak," sahut petugas polisi paruh baya dari balik meja komputer dengan nada suara yang sengaja dibuat serendah mungkin demi menenangkan gejolak emosi wanita di hadapannya.
89Please respect copyright.PENANAjY2YuFWjHQ
Aku hanya bisa berdiri mematung membelah atmosfer kaku di samping tubuh ramping Judy. Kaos katun hitamku tampak bergerak seirama dengan deru napas lambatku yang mulai memburu tenang, menatap lekat pada gurat rahang ranum Judy yang kian mengencang merah padam menahan sisa rasa salah tingkah sekaligus trauma yang luar biasa pekat melanda isi kepalanya malam ini.
89Please respect copyright.PENANAMF0YkmTqbr
"Pelakunya itu dia!!!!" seru Judy lantang sembari mengacungkan jari telunjuk kanannya yang gemetar ke arah sudut ruangan.
89Please respect copyright.PENANA8JY5EFKKsN
Tatapannya memancarkan kemarahan yang meluap-luap melintasi batas konter pelayanan. Di seberang bilik, si kasir tambun duduk pasrah di atas kursi tunggu besi. Kedua pergelangan tangannya telah terkunci rapat oleh borgol logam yang dingin. Kaos katun hijau bertuliskan Vans miliknya tampak dipenuhi noda darah yang mengering, mendampingi raut wajahnya yang tertunduk lesu menahan kehancuran.
89Please respect copyright.PENANAywI9Q0kQHl
"Tapi kenapa malah yang ini yang dituduh!" protes Judy lagi dengan sela napas yang memburu canggung, merasa tidak terima dengan arah interogasi petugas.
89Please respect copyright.PENANA6UcrNL87Hm
"Tenanglah, Bu..." ucap polisi paruh baya berkacamata itu dengan nada suara yang sengaja direndahkan.
89Please respect copyright.PENANABimen6ahRK
Jemari tangannya bergerak pelan di atas papan ketik komputer, mencoba meredakan gejolak ketegangan yang memadati atmosfer aula. "Kau terus-menerus menyerangnya bahkan setelah kau berhasil mengendalikan situasi tersebut, benarkan Bapak Sean Kim?" tanya petugas polisi itu lagi sembari mendongakkan wajah, menatap lurus ke arah sepasang pupil mataku dari balik lensa kacamatanya.
89Please respect copyright.PENANAjfbFROH2KI
"Iya, Pak..." jawabku pelan dengan raut wajah mendatar.
89Please respect copyright.PENANAcGeOB4rzlf
Aku hanya bisa berdiri tegak menumpu lantai ubin keramik, membiarkan jalinan otot kaos katun hitamku bergerak tipis mengikuti deru napas yang tertahan. Di sampingku, sebutir peluh dingin tampak merembes di sela pelipis Judy seiring kelopak matanya yang terbelalak kecil menahan kejut mendengarkan ketetapan petugas.
89Please respect copyright.PENANAM0rkmDqwb1
"Apa kau terus menerus dihajar, Bapak Mike Lim?" tanya polisi itu beralih ke arah pria gempal di seberang ruangan.
89Please respect copyright.PENANABAFzwelRZA
"Iya, Pak..." gumam si kasir tambun, Mike Lim, dengan suara parau yang teramat serak.
89Please respect copyright.PENANA3eBCm5UAiS
Kedua kelopak matanya tampak membengkak keunguan akibat hantaman tinjuku, lengkap dengan sepasang sumbatan tisu putih yang menyumpal lubang hidungnya yang patah.
89Please respect copyright.PENANALoUcpNhlmM
"Semua sudah beres, kan? Kalian berdua boleh pulang," ucap petugas polisi itu sembari merapikan tumpukan kertas laporan di atas meja. "Bapak Sean Kim, anda ditahan tanpa dipenjara, jadi pastikan anda persiapkan diri anda saat kami memanggil," sambungnya lagi, memberikan teguran hukum atas aksi fisik agresif yang kulancarkan di dalam gudang tadi.
89Please respect copyright.PENANAwOk3PK6ozr
"Baik, Pak," sahutku pendek sembari menganggukkan kepala.
89Please respect copyright.PENANA8z5oumFpe4
"Si brengsek itu..!" gerutu Judy ketus dengan raut wajah yang mengencang merah padam.
89Please respect copyright.PENANAhYdQ5DYKil
Ia langsung memutar tumit kakinya, berniat menerjang kembali ke arah Mike Lim dengan kepalan tangan yang mengeras.
89Please respect copyright.PENANAe6rwBTA3fD
"Judy, jangan," pekikku seraya bergerak secepat kilat, menggerakkan telapak tangan kananku untuk mencengkeram erat pergelangan tangan ramping Judy, menahan pergerakan fisiknya agar tidak memperkeruh keadaan di dalam kantor polisi.
89Please respect copyright.PENANAbc1279ESTM
Mike Lim hanya bisa melirik canggung dari balik borgolnya, menatap lesu kepergian kami di bawah kawalan petugas lain.
89Please respect copyright.PENANAF3I00lgpgV
Hawa hangat mentari malam seutuhnya telah sirna, digantikan oleh kepungan angin sepi yang berembus di sepanjang trotoar jalanan bata luar gedung kepolisian. Papan nama bertuliskan Police Department di atas bangunan kelabu itu masih memancarkan pendar neon jernih, membelah keheningan koridor luar.
89Please respect copyright.PENANAEC8R9Fe03u
"Bikin kesal aja!" sentak Judy frustrasi sembari melangkah konstan memotong jalanan semen.
89Please respect copyright.PENANA6AypPq4hlr
Aku berjalan membuntutinya dari arah belakang dengan langkah yang teramat lambat. Kedua telapak tanganku menyusup ke dalam saku celana pendek hijauku, menundukkan kepala demi menyembunyikan pergolakan batin yang berkecamuk di dalam kepalaku.
89Please respect copyright.PENANA6t8AXd5uaA
"Aku harusnya potong aja tu tititnya!" pekik Judy lagi sekencang mungkin sembari kedua tangan lentiknya bergerak panik meremas helai rambut hitamnya yang berantakan, meluapkan seluruh trauma dan sisa rasa salah tingkah yang berkecamuk hebat di bawah kepungan atmosfer malam perkotaan.
89Please respect copyright.PENANAQ21T18nQNU
Langkah kaki kami yang dibungkus sepatu kets bergerak seirama, meninggalkan pendar cahaya kantor polisi menuju lorong pemukiman apartemen yang remang. Kesunyian sepi kian terasa pekat seiring dengan dinamika pergerakan kami yang membisu di tengah jalan.
89Please respect copyright.PENANASFwWpwRrYD
Judy perlahan memperlambat ritme langkah sepatu pantofelnya. Ia sedikit memiringkan posisi leher rampingnya, melirik tajam dari sela pundak kemeja putihnya untuk menatap lekuk siluet tubuhku yang berjalan kaku di samping belakangnya. Tatapan mata indahnya yang sayu tampak meredup, dilingkupi rasa bimbang yang teramat pekat.
89Please respect copyright.PENANAMYGzK0RXJs
"Maaf... Aku seharusnya bisa lebih cepat menolongmu..." ucapku lirih memecah kesunyian malam di sela langkah kaki kami yang melambat.
89Please respect copyright.PENANACWiTM67Irh
Aku menatap lurus ke arah jalanan kelabu, membiarkan embusan angin menyapu wajahku seiring rasa bersalah yang kian memadat di dalam dada. "Kau pasti sangat ketakutan, kan...?" sambungku lagi sembari sedikit memiringkan kepala, melayangkan pandangan mata yang dilingkupi rasa bimbang ke arah samping wajah Judy.
89Please respect copyright.PENANAdZgLlhfs6e
Judy tersentak kaku mendengarkan kalimatku. Kelopak mata indahnya yang sayu seketika terbuka sedikit lebih lebar melirik ke arahku.
89Please respect copyright.PENANAXkOwr6tBKG
"Um... ngghh..." gumam Judy dengan sela bibir merah muda yang mengatup canggung.
89Please respect copyright.PENANAkoiYOydBSe
Semburat rona merah padam yang teramat pekat seketika meledak hebat memenuhi seluruh permukaan pipinya yang ranum seiring debaran jantung yang berdegup kaku.
89Please respect copyright.PENANANooCKJ0KL3
"Hah, takut! Siapa juga yang takut?!" Judy memotong dengan langkah kaki yang dipercepat demi menutupi luapan rasa salah tingkah yang mendadak menyerang isi kepalanya.
89Please respect copyright.PENANAigFyrvfoRD
Ia berjalan terburu-buru melewati deretan mobil yang terparkir di sepanjang lorong pertokoan yang sepi. "Ayo cepat kita pulang! Aku pengen nonton!" seru Judy lagi tanpa memalingkan wajah ranumnya ke belakang, berusaha keras mengontrol kembali jalinan otot wajahnya yang menegang kaku di bawah kepungan hawa dingin malam perkotaan.
89Please respect copyright.PENANAVuMmExTf70
Aku hanya bisa menatap lesu ke arah punggung ramping Judy yang meliuk menjauh dari sela tatapanku, menyunggingkan senyuman tipis yang samar melihat taktik bualannya yang kekanak-kanakan untuk mengusir rasa cemas.
89Please respect copyright.PENANAFcLSxRqW3T
Judy perlahan kembali memperlambat gerakan tumit kakinya saat kami mulai mendekati area gerbang apartemen. Ia memiringkan posisi lehernya tipis ke arah belakang, menatap lekat pada sepasang pupil mataku dengan gurat wajah yang melunak samar.
89Please respect copyright.PENANAeQWxfHFwlg
"Ma—Makasih," bisik Judy lirih dengan sudut bibir yang bergerak mengerucut canggung, meloloskan sebentuk kalimat apresiasi yang teramat tulus melintasi kesunyian malam sebelum akhirnya dia berbalik seutuhnya dan berjalan konstan memasuki lobi bangunan.
89Please respect copyright.PENANAIgLPgUK9s2
Keesokan paginya, kilau jernih dari siraman cahaya mentari fajar mulai menyinari kaku deretan gedung apartemen bertingkat di bawah kepungan langit biru yang cerah.
89Please respect copyright.PENANAGRor5vSS9c
Di dalam ruang dapur apartemen kami yang hangat, permukaan meja makan keramik abu-abu tampak telah dipenuhi oleh deretan piring dan mangkuk berisi hidangan sup hangat yang mengepulkan aroma gurih, lengkap dengan dua mangkuk nasi putih bersih serta telur mata sapi yang tertata rapi mendampingi sepasang sumpit logam.
89Please respect copyright.PENANA5Gd8wfQxxO
"Aku memasak semuanya untuk menambah jumlah makanan... tapi, bukankah ini terlalu berlebihan?" gumam Judy bimbang sembari berdiri mematung di sela meja makan.
89Please respect copyright.PENANA5VYk9qVfNR
Dia mengenakan pakaian santai berupa kaos katun jingga sehari-hari yang longgar, dipadukan dengan celemek kain krem pucat yang menutupi bagian depan tubuhnya. Kaos jingga tersebut memiliki tekstur kain yang tipis dan lemas, jatuh mengikuti lekuk tubuh atasnya seiring gerakannya yang merendah demi memeriksa kematangan sup. Wajah ranumnya memancarkan gurat cemas yang samar, meratapi kepasrahan hasil masakannya pagi ini.
89Please respect copyright.PENANAwL9iwGEeSD
"Kenapa Sean masih tidur sih?" keluh Judy frustrasi sembari mengalihkan pandangan sepasang mata indahnya ke arah dinding atas ruang tengah.
89Please respect copyright.PENANA3yKj9Djj0O
Sebuah jam dinding bulat berbingkai hitam jernih menunjukkan jarum jam yang telah melewati batas angka dua belas siang, membelah keheningan sepi koridor apartemen yang kian memanas diterpa hawa siang hari.
89Please respect copyright.PENANA4kkyQaDuMj
"Ini udah jam 12 lewat..." bisik Judy pelan seiring dengan langkah kakinya yang bertelanjang mulai bergerak konstan melintasi ubin keramik abu-abu, berjalan lambat mendekati posisi daun pintu kayu cokelat kamarku yang masih tertutup rapat di bawah kusen putih.
89Please respect copyright.PENANAJnq2QRVROi
Telapak tangan lentiknya perlahan terjulur ke depan udara, bersiap mendaratkan sentuhan lambat pada pegangan pintu logam yang dingin demi membongkar sisa waktu tidurku.
89Please respect copyright.PENANAOmlpybiSZQ
"Hey, Sean," Judy menyahut pelan sembari mendorong daun pintu kayu cokelat itu hingga terbuka setengah.
89Please respect copyright.PENANAqHsA64ElCZ
Kepala hitamnya yang kini dibiarkan terurai tanpa kuncir perlahan menyembul dari balik kusen, menatap lekat ke arah kamar yang dilingkupi remang cahaya siang. Di atas kasur, aku masih terkapar di balik selimut sprei biru kotak-kotak. Kaos katun pendek kelabuku tampak berantakan mengikuti posisi tidurku yang kaku menahan kantuk.
89Please respect copyright.PENANAxVwM7s5p2O
"Masih aja tidur. Bangun, Sean," gumam Judy seraya memantapkan langkah kakinya melintasi ubin keramik abu-abu.
89Please respect copyright.PENANAC32BUok57X
Dia berjalan mendekati sisi ranjang tempatku terlelap. Celana pendek denim biru ketat yang dikenakannya mencetak jelas lekukan pinggul belakangnya seiring tubuhnya yang condong maju demi mengikis jarak di antara kami.
89Please respect copyright.PENANAM2bZKjGx6v
"Kuhhh! Sean!!!" pekik Judy agak meninggi tepat di depan wajahku yang masih memejamkan sepasang kelopak mata erat-erat dengan celah bibir yang sedikit terbuka melepaskan dengkur halus. "Makanannya udah siap tu," sambung Judy lagi sembari jemari tangan kanannya bergerak cepat ke depan udara.
89Please respect copyright.PENANAUmDuBFx4DW
Satu gerakan tangan yang sigap membuat tangan lentik Judy mencengkeram erat pinggiran kain selimut biru kotak-kotak milikku, lalu menariknya turun ke bawah kaki dengan satu tarikan.
89Please respect copyright.PENANASLDp7J88k8
Perubahan posisi selimut itu seketika mengekspos seutuhnya bentuk tubuh bawahku di hadapan tatapan mata Judy. Di balik celana katun pendek hijau longgar yang kukenakan, sebatang penis milikku tampak telah menegang sempurna membentuk tonjolan yang teramat padat dan kaku, berdiri kokoh akibat gejolak gairah pagi yang tertahan.
89Please respect copyright.PENANAgaEo3dajmt
"Ehem. Ehem." Judy refleks berdehem canggung sembari buru-buru mengangkat telapak tangan kirinya untuk menutupi sela bibir merah mudanya yang basah.
89Please respect copyright.PENANAoVx3N49dMc
Rona merah padam yang teramat pekat seketika meledak hebat memenuhi seluruh permukaan pipinya yang ranum seiring sepasang pupil matanya yang bergerak gelisah ke arah samping bawah. Kenapa tu burung ngaceng mulu sih?! Ngomong-ngomong... emang gak sakit apa kalau ngaceng mulu? Pertanyaan konyol itu bergolak bimbang di dalam benak Judy, memicu debaran jantungnya berdegup kaku dilingkupi kabur gairah yang mendadak merayap liar membanjiri seluruh isi kepalanya. Pandangan matanya seutuhnya terkunci pada siluet yang terpampang nyata di depan sela pahanya.89Please respect copyright.PENANAEFXJh5Yph4


