Satu kilasan ketakutan yang teramat pekat seketika membekukan seluruh aliran darah di tubuh dewasaku. Ingatanku langsung terkunci pada sosok kakak laki-laki Judy yang teramat dingin dan tegas. Dia adalah satu-satunya pria dewasa yang paling kutakuti di dalam hidup ini.
104Please respect copyright.PENANAnPSz1C6kxx
Sepasang mataku seketika terbelalak lebar dengan pupil mata yang mengecil sempurna, sementara rona kemerahan di kedua pipiku mendadak memucat kaku di balik kepungan atmosfer menegangkan yang kembali merayap naik. Butiran keringat dingin merembes deras membasahi pelipis dan leher kaos katun hitamku seiring dengan rahangku yang mengatup rapat menahan kecemasan gila yang mendadak meluluhlantakkan sisa egoku.
104Please respect copyright.PENANAVIz5dcwGmy
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ibu jari tangan kananku bergerak secepat kilat mendarat tegas di atas lingkaran merah virtual bertuliskan decline di sudut layar. Dengan satu sentakan jemari yang gemetar kaku, aku menggeser ikon tersebut ke arah samping, memutus runtutan getaran logam dari dalam ponsel dalam satu gerakan tegas demi menyelamatkan batasan rahasia berdosa kami.
104Please respect copyright.PENANAPaB3JDCwXu
Aku akan bertindak seperti tak tahu kalau dia menelepon...
104Please respect copyright.PENANAhbBgVVj1Ds
Jeritan batin itu meledak frustrasi di balik kabut kepanikanku seiring dengan napas beratku yang mengalir putus-putus memenuhi keheningan ruang tengah yang mendadak kembali mencekam. Aku melipat kedua lenganku rapat-rapat di depan dada, duduk bersila dengan kaku di atas sofa kain berwarna krem. Sinar sore yang menyinari ubin keramik abu-abu melukiskan bayangan tubuhku yang canggung seiring dengan deretan ingatan menegangkan yang kembali berputar lambat di dalam kepalaku.
104Please respect copyright.PENANAOH54sb6ymz
Ugh! Sentakan getaran kencang itu kembali meledak agresif dari permukaan sofa, membuat tubuh dewasaku melompat kaget ke arah samping seolah baru saja terkena sengatan taktil yang teramat pekat. Kelopak mataku terbelalak lebar dengan pupil mata yang mengecil sempurna menatap lurus ke arah ponsel pintar hitam yang kini berdansa liar di atas pembungkus busa.
104Please respect copyright.PENANAnvPITszK03
Apa...
104Please respect copyright.PENANAyLOJm9xvyQ
Gumaman parau itu tertahan di ujung tenggorokanku seiring dengan hawa dingin yang seketika membekukan seluruh aliran darah di tubuhku. Rahangku menegang kaku, sementara butiran keringat dingin kian merembes deras membasahi pelipis dan sela leher kaos katun hitamku.
104Please respect copyright.PENANAcARFUgSMJM
Judy mengatakan semuanya pada Luke..?!
104Please respect copyright.PENANAa9nU2HIj0R
Pikiran mengerikan itu menyengat kesadaranku dalam satu kilasan ketakutan yang teramat gila. Ingatanku langsung mengunci tajam pada selembar kertas kontrak putih berdosa yang pernah kubuat bersama Judy akibat kesalahan mesum yang kulakukan padanya beberapa waktu lalu. Tiga runtutan aturan mutlak di dalam kertas itu seketika berkelebat jelas memenuhi benakku.
104Please respect copyright.PENANAo7TsWgAotl
Sean Kim adalah budak Judy. Jika Sean gagal mematuhi perintah Judy, maka ia akan melaporkan semua pada Luke. Sean harus melakukan apa yang Judy perintahkan.
104Please respect copyright.PENANAjMvktSOMtI
Batasan kontrak gila itu kian meruntuhkan sisa pertahanan batin diriku siang ini.
104Please respect copyright.PENANAnsGtsU08zp
Dengan satu gerakan tangan yang dipaksakan dan gemetar hebat, aku merangkak canggung demi menjangkau gawai tersebut. Jemari tanganku mencengkeram erat bingkai logamnya, menempelkan permukaan kaca dingin itu pada sela telingaku seiring dengan detak jantungku yang kian berdentum keras seolah hendak menjebol rongga dada.
104Please respect copyright.PENANAxSPMnU8TeM
"H-hello...?" Suaraku meluncur dengan nada parau yang bergetar parah, mencoba menyembunyikan kepanikan yang kian merenggut sisa kendali diriku.
104Please respect copyright.PENANAtqY9nUYss3
"Hey, Sean." Suara berat dan dingin milik Luke mengalun tegas dari arah balik speaker telepon, menembus keheningan sudut sepi ruang tengah apartemen dengan impresi intimidasi yang teramat padat.
104Please respect copyright.PENANAYozIJ6tJbR
"K-kamu salah sambung...!" Aku refleks berseru panik dengan sepasang mata terbelalak nanar seiring dengan sisa rona merah canggung yang kian memucat padam di kedua pipiku. Tetesan keringat dingin mengalir menuruni daguku, menetes membasahi kerah pakaian katunku.
104Please respect copyright.PENANAlo9TbuVIbC
"Salah sambung, brengsek? Aku tahu dari suaramu, haha!" Sebuah kekehan yang penuh ancaman meluncur bebas dari bibir Luke di seberang sana, mengunci pasrah seluruh kebebasanku dalam satu tekanan atmosfer yang teramat mencekam di tengah keheningan sore ini. "Gimana kabar Judy?"
104Please respect copyright.PENANA6HxbWRKJOu
"Oh, aku gak tahu kalau ini kau, Luke," aku meralat sahutanku dengan nada parau yang terdengar dipaksakan, berusaha menutupi kepanikan yang sedari tadi mencengkeram dadaku. Tanganku mencengkeram erat bingkai logam gawai hitam itu, menempelkannya lekat-lekat pada sela telingaku seiring dengan detak jantungku yang kian memburu kaku. "Y-yah, Judy baik-baik saja kok..."
104Please respect copyright.PENANARFow4ThnAS
"Oh, benarkah? Kalau gitu... tolong jaga dia, ya," Luke membalas santai seolah tidak menyadari kabut kecemasan yang sedang mengurung pikiranku. Di sekeliling suaranya, sayup-sayup terdengar suara bising latar belakang dari tempatnya berada. "Panggil aku kalau kau butuh uang..."
104Please respect copyright.PENANAUsvE1g5MPx
Huh...?
104Please respect copyright.PENANAYEggql7NcV
Aku bergumam pendek di dalam benakku seiring dengan sepasang kelopak mataku yang seketika mengerjap heran. Rahangku yang tadi mengatup kaku perlahan mengendur, menyisakan kerutan dalam di keningku yang kian dibanjiri peluh tipis.
104Please respect copyright.PENANAp57iTssy1b
"Kau sudah baik pada Judy, jadi aku akan memberikan apa pun untuk membantumu. Aku berikan duitnya ke Judy, lalu Judy memberinya kepadamu. Seperti biasa."
104Please respect copyright.PENANAEJm0zp5AOu
Rentetan kalimat dari seberang telepon itu seketika memaku seluruh kesadaranku. Suasana hening apartemen terasa membeku seiring dengan desah napas parauku yang tertahan di ujung tenggorokan.
104Please respect copyright.PENANAf0Ka8p0hSo
Dia mengirimkan uang sebelumnya?!
104Please respect copyright.PENANATu68JLTBDH
Jeritan batin itu meledak tegas di dalam kepalaku seolah baru saja dihantam kilasan fakta yang luar biasa mengejutkan. Sepasang mataku terbelalak lebar dengan pupil mata yang membesar sempurna, terkunci pasrah pada bayangan ubin keramik abu-abu di bawah pijakan kakiku. Segala kepanikan gila mengenai kontrak budak dan ancaman pelaporan yang sedari tadi menyiksa psikologisku mendadak buyar, berganti dengan kebingungan taktil yang teramat padat.
104Please respect copyright.PENANAuyWbtKvcAh
Dengan satu gerakan dinamis yang spontan, aku menyentak tubuhku bangkit dari keempukan sofa krem, mengubah posisi dari merebah menjadi berdiri kaku dalam satu gerakan bertenaga seirama dengan pacuan adrenalin yang kembali mendesak sisa kendali diriku.
104Please respect copyright.PENANAgptND0fKMd
"Luke, bentar, kau bilang apa tadi? Duit?" Aku berseru parau setengah berteriak tepat di depan lubang mikrofon gawai, menuntut kejelasan tentang aliran dana rahasia tersebut. Celana pendek katun kelabu yang melorot sedikit di pinggulku bergoyang samar mengikuti dinamika gerakanku yang terburu-buru mendekati meja kayu.
104Please respect copyright.PENANAMcHvCBOtFE
"Huh? Oh bentar, yah, maaf aku habis ngobrol sama temenku..." Suara Luke menyahut terputus-putus, seolah fokusnya mendadak teralih oleh interupsi lain dari lingkungannya di luar sana. "Yah, oi aku lagi kerja sekarang, jadi nanti aku telepon kau lagi."
104Please respect copyright.PENANA5qJIkG0KRC
"H-huh?! Tidak, tunggu!" Aku berseru parau dengan nada suara yang kian meninggi, mencoba menahan perputaran waktu yang kian mendesak sisa pembicaraan kami siang ini.
104Please respect copyright.PENANAxNxeEYV9oD
Rahangku kembali menegang kaku seiring dengan tatapanku yang terkunci pasrah pada jam dinding bundar, menyadari bahwa runtutan rahasia baru tentang Judy baru saja terbuka lebar tanpa sempat kupertanyakan lebih dalam.
104Please respect copyright.PENANAzvi6mUtU9P
Suara nada putus pendek dari layar ponsel menandakan bahwa Luke telah mengakhiri panggilan secara sepihak. Aku menurunkan lambat gawai hitam itu dari sela telingaku, membiarkan keheningan yang mencekam kembali merayap menguasai sudut sepi ruang tengah.
104Please respect copyright.PENANADFumi1k3FG
Aku berdiri mematung di atas ubin keramik abu-abu yang dingin. Tatapanku terkunci pasrah pada lantai, sementara jemari tangan kananku masih mencengkeram erat bingkai ponsel dengan kaku. Sinar matahari sore yang menembus celah horizontal tirai jendela menyiram lesu siluet tubuhku dari belakang.
104Please respect copyright.PENANAxk6NB9ksJ2
Dia mengirimkan kami... uang..?
104Please respect copyright.PENANA6OL8tGdP63
Jeritan batin itu bergetar parah di dalam kepalaku seiring dengan kerutan samar di keningku yang kian mendalam. Kebenaran yang baru saja dilontarkan Luke bagaikan hantaman ombak yang seketika meruntuhkan seluruh runtutan kepanikan kontrak budak yang sedari tadi menyiksa kendali batin diriku. Rahangku kian melonggar canggung seiring dengan sepasang pupil mataku yang membesar sempurna, memikirkan ke mana perginya seluruh aliran dana rahasia yang selama ini dikirimkan oleh pria yang paling kutakuti tersebut.
104Please respect copyright.PENANAQ3hWHTNrIc
Di dalam kamar tidur yang berjarak beberapa jengkal di balik pintu kayu cokelat, uap sejuk dari mesin pendingin ruangan mengalir konstan menyentuh langit-langit putih bermotif garis merah muda vertikal yang teduh.
104Please respect copyright.PENANAEpCHIwSVZm
"Mnghh... hmph...!" Sebuah lenguhan halus yang teramat malas lolos dari sela bibir merah muda Judy yang basah.
104Please respect copyright.PENANAHmu11T4zqT
Tubuh moleknya kini berbaring pasrah di atas keempukan kasur, dengan kepala ramping bertumpu nyaman di sela bantal ungu tua yang empuk. Dia masih mengenakan kaos katun putih berpotongan sabrina longgar bergambar nanas hijau, yang kini tampak sedikit tersingkap ke atas seiring dengan posisi tidurnya yang miring membelakangi pintu.
104Please respect copyright.PENANAq8wwDtC6Mb
Apa yang akan dia lakukan kalau aku sampai gak kembali?
104Please respect copyright.PENANA19oQSwZZow
Pikiran itu mungkin sama sekali tidak mengusik lelapnya sore ini. Kelopak mata indahnya terpejam rapat dengan rona merah halus yang masih menghias kedua pipinya yang ranum akibat pengaruh sisa kelelahan dan alkohol semalam.
104Please respect copyright.PENANAl5C6z7qqFO
Judy perlahan mengubah dinamika posisinya, meregangan kedua lengan rampingnya ke arah atas kepala dalam satu gerakan taktil yang teramat santai dan sensual. Potongan kain sabrina putih yang longgar itu kian melorot turun, mengekspos lekuk halus tulang selangka serta belahan dadanya yang naik-turun teratur mengikuti ritme desah napasnya yang mengalir lembut di udara kamar.
104Please respect copyright.PENANAdgURlfT1VV
Sebuah suara keroncongan pendek yang kental tiba-tiba bergema halus dari balik dinding perutnya yang mulus. Kulit perutnya yang putih bersih dan ramping tampak bergetar samar di balik singkapan kain kaos katunnya, menandakan desakan lapar yang perlahan mulai mengusik ketenangan tidurnya di tengah keheningan sore yang kian pekat.
104Please respect copyright.PENANAWfdMpYaKGh
Judy menyentak tubuhnya bangkit dari atas keempukan kasur, mengubah posisi tidur miringnya menjadi berdiri tegak dalam satu gerakan bertenaga yang terkesan terburu-buru. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang liar seiring dengan kepalanya yang menoleh cepat ke arah pintu kamar tidur.
104Please respect copyright.PENANAhpaSrmgLfs
"Ugh... ngghh... aku lapar, aku belum ada makan dari tadi!" Judy menggerutu parau dengan rahang mengatup rapat menahan desakan lapar yang kian menyiksa sela perut rampingnya. Langkah kaki telanjangnya menapak tegas di atas ubin kayu, bergerak dinamis mendekati meja rias minimalis di sudut ruangan. "Oh, iya..!"
104Please respect copyright.PENANAqa5HBsQFZh
Gumaman pendek itu lolos begitu saja dari sela bibir merah mudanya saat kelopak mata indahnya seketika terbelalak sempurna seolah baru saja teringat akan sebuah senjata rahasia yang teramat mematikan. Suara gesekan laci kayu yang ditarik paksa menggema memecah keheningan sudut sepi kamar tidur tersebut. Jemari lentik Judy dengan cepat menyusup ke dalam celah penyimpanan, menarik keluar selembar kertas putih kusut dari balik tumpukan berkas kosmetik.
104Please respect copyright.PENANA5YYIpXtOMM
Sepasang mata indahnya menatap lekat pada deretan huruf kapital hitam di bagian atas kertas yang bertuliskan slave contract. Sisi kertas itu tampak sedikit terlipat, kontras dengan permukaan marmer meja yang putih bersih di bawah siraman uap sejuk mesin pendingin ruangan.
104Please respect copyright.PENANAKEmlZ3D66J
Aku hampir lupa soal ini!
104Please respect copyright.PENANAtxRmP8HvoZ
Sebuah senyuman tipis yang teramat dingin sekaligus licik melengkung sempurna di sudut bibir ranum Judy. Kedua pipinya kembali merona merah pekat oleh kepungan sisa kepuasan erotis yang mendadak membakar isi kepalanya, menyadari bahwa kendali mutlak atas seluruh sisa kebebasan dewasaku kini berada sepenuhnya di dalam genggaman tangannya.
104Please respect copyright.PENANARDZwdqZeJZ
Judy melangkah lebar melewati ambang pintu kamar, menyeret paha mulusnya yang dibalut celana pendek katun kelabu longgar bertekstur lembut dengan potongan tipis yang mengekspos sela pinggulnya secara lugas.
104Please respect copyright.PENANA7p82cOaPUG
"Hey, Sean." Suara ketus Judy seketika memutus lamunanku di tengah keheningan ruang tamu.
104Please respect copyright.PENANA0KYwL47Rll
Aku yang masih duduk kaku di atas sofa krem refleks menolehkan kepalaku lambat, menatap cemas ke arah sosok tubuh moleknya yang kini berdiri tegak membelakangi cahaya matahari sore.
104Please respect copyright.PENANARVEcp7gS2j
"Buatkan aku ramen," Judy berseru lantang dengan nada perintah yang teramat dingin dan mutlak, tanpa memberikan ruang sedikit pun bagiku untuk menolak tuntutannya.
104Please respect copyright.PENANA3JazNmMOnT
Ia menyilangkan kedua lengan rampingnya tepat di depan belahan dadanya yang tebal, membuat kain kaos katun sabrina putih bergambar nanas hijau miliknya meregang ketat menonjolkan sepasang gundukan payudaranya yang menyembul padat di bawah sorotan lampu dinding.
104Please respect copyright.PENANAi4XNYL0dol
"Kenapa harus aku?" Aku bertanya parau dengan nada suara yang sengaja ditekan rendah, mencoba meluncurkan protes tipis demi menyelamatkan sisa harga diriku sebagai pemilik rumah di balik kepungan atmosfer menegangkan yang kembali merayap naik siang ini.
104Please respect copyright.PENANAJ8EQayEUIc
"Apa? Kau udah lupa ya kalau aku ini majikanmu?!" Judy berseru dengan nada suara yang meninggi, memotong keluhanku tanpa ampun.
104Please respect copyright.PENANAiIelWBu0b0
Dinamika gerakannya beralih cepat saat dia melangkah maju mendekati tepian sofa kain berwarna krem tempatku terduduk kaku. Tangan kanannya yang ramping terjulur ke depan, menjepit selembar kertas putih tipis di antara jemarinya yang lentik, lalu menggoyangkannya di udara dengan ekspresi penuh kepuasan yang mengintimidasi. "Kau sudah menyetujui kontraknya."
104Please respect copyright.PENANA4CeciihCMb
Suara Judy kembali mengalun ketus seiring dengan langkahnya yang kian memojokkan posisiku. Ia menyodorkan permukaan kertas kusut itu tepat di hadapan manik mataku, memaksaku untuk menatap deretan aturan berdosa yang tercetak jelas di sana.
104Please respect copyright.PENANAdQhAgyy7Ka
Kontrak Budak
104Please respect copyright.PENANAWWNSFujncn
Sean Kim adalah budak Judy Hahm.
104Please respect copyright.PENANAOGsJpdT2am
Jika dia gagal mematuhi perintah Judy, dia akan melaporkan semuanya pada Luke.
104Please respect copyright.PENANANBQGWUA6K9
Sean melakukan semua yang diperintahkan kepadanya.
104Please respect copyright.PENANAPrq1zFhIeA
Tatapanku terkunci pasrah pada selembar kertas sialan tersebut, terutama pada guratan tanda tangan canggung milikku yang tertera tepat di bawah nama Judy Hahm. Seluruh otot tubuhku mendadak membeku seketika. Hawa dingin yang pekat kembali merayap naik dari sela punggungku, meruntuhkan sisa keberanian yang sempat kupaksakan dari obrolan telepon bersama Luke beberapa saat lalu.
104Please respect copyright.PENANACbVFl3y660
"Aku bakal telepon Luke kalau kau berani menolak perintahku."
104Please respect copyright.PENANA2baPRlTGDc
Ancaman itu meluncur dingin dari sela bibir merah muda Judy yang basah. Dia berdiri tegak sembari memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah rambut hitamku dari posisi atas dengan sepasang mata indahnya yang menyipit sempurna, penuh dengan tuntutan dominasi psikologis yang teramat pekat.104Please respect copyright.PENANAVGu2jop7Ln


