Nadya Ghina Amalia
Pagi itu aku memandangi jalan dari jendela mobil travel yang berderit pelan mengikuti lekukan aspal berbatu. Angin laut mengalir deras menapaki wajahku, membawa aroma garam dan rumput laut yang pekat. Di luar sana, pemandangan laut lepas membentang tanpa batas—birunya sendu seperti perasaanku saat ini. Rimbunan belukar pantai bergoyang liar, daun-daunnya berbisik seolah menyimpan rahasia kelam yang tak ingin kudengar.
Di sampingku, wajah tabah istriku Nadya menjadi satu-satunya pelipur lara. Dia duduk dengan anggun, rambut hitamnya yang tergerai sesekali menari tertiup angin dari celah jendela. Nadya yang manis dengan kamera DSLR mungilnya—Canon warna hitam yang selalu setia menemani kemanapun kami pergi.
Dia tak punya banyak hobi pasca menikah denganku, kecuali memotret momen- momen yang menurutnya berharga. Kulihat jemarinya yang lentik mengatur lensa, mengambil beberapa foto dengan kaca mobil sebagai filter alami, menciptakan efek berkabut yang dramatis.
"Mas Anwar," Nadya tersenyum padaku, senyuman yang biasanya bisa menenangkan hatiku tapi kali ini terasa berbeda. Ada kekhawatiran terselip di sudut matanya yang cokelat madu. "Mabuk ya? Dari tadi diam terus, mukanya pucat."
Aku menggeleng perlahan, mencoba membalas senyumannya meski terasa berat. "Enggak, Dek. Cuman banyak pikiran aja." Suaraku serak, hampir tenggelam dalam deru mesin mobil tua ini. Nadya meraih tanganku, menggenggamnya erat. Kulitnya yang halus terasa dingin.
"Sudahlah, Mas. Ini 'kan lembaran baru. Anggap aja kita diberi Tuhan kesempatan buat memulai dengan awal yang lebih baik kali ini."
Sebelum aku sempat menjawab, supir travel bernama Darto—pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi kusam—memandangi kami dari kaca spion. Matanya yang sayu menyiratkan kebijaksanaan orang-orang pesisir yang terbiasa dengan kerasnya hidup.
"Maaf ya, Mas, Mbak, jalannya memang agak rusak di sini," ujarnya dengan logat Sulawesi pesisiran yang kental. "Tapi ya beginilah di Desa Tanjung Karang sini. Memang agak jauh dari kota besar, terpencil gitu lah. Sebagian besar orangnya melaut, ada yang jadi petani rumput laut juga."
Darto menepuk setir mobilnya pelan, seolah menenangkan kuda tua yang kelelahan. "Tapi tenang aja, warga di sini ramah-ramah kok, Mas. Cuman..." dia terdiam sejenak, ragu melanjutkan.
"Cuman apa, Pak?" Nadya bertanya dengan nada penasaran.
"Ah, enggak ada apa-apa, Mbak. Cuman kadang ada cerita-cerita aneh aja dari orang tua dulu. Tapi namanya juga desa, pasti ada aja tahayulnya," Darto tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan.
Mobil berbelok memasuki jalan yang lebih sempit. Pohon-pohon kelapa dan beringin tua mengapit kedua sisi, daunnya yang rimbun hampir menutupi langit pagi. Cahaya matahari menerobos celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola aneh di atas aspal yang retak-retak.
Dan kemudian, di kejauhan, muncullah gerbang besar yang terbuat dari beton yang sudah mengelupas cat putihnya. Huruf-huruf besar bertajuk 'SELAMAT DATANG DI DESA TANJUNG KARANG' terpampang dengan warna biru laut yang sudah pudar. Di bawahnya, lukisan ombak dan perahu nelayan yang hampir tak terlihat lagi bentuknya, dimakan waktu dan cuaca.
Saat mobil melintasi gerbang itu, dadaku terasa sesak. Seolah gerbang itu bukan hanya penanda masuknya kami ke desa, tapi juga mengunci erat takdir yang tak bisa lagi kuhindar. Perasaan aneh mencengkeram hatiku—campuran antara ketakutan dan kepasrahan.
Tak ada yang ingin kuingat tentang tempat ini. Aku ingin memejamkan mata dan berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Tapi genggaman tangan Nadya yang semakin erat menyadarkanku—ini nyata, dan kami sudah terlanjur datang.
Darto menghentikan mobilnya di depan sebuah warung kecil yang catnya sudah mengelupas. Dia melompat turun dan melambaikan tangannya pada seorang pria berkulit gelap yang sedang duduk di bangku bambu.
"Daeng Andi! Ada tamu nih, cari kontrakan murah!" teriak Darto dengan akrab.
Pria yang dipanggil Daeng Andi itu berdiri perlahan, sarungnya yang lusuh berkibar tertiup angin laut. Matanya yang tajam memandangi kami dengan seksama, seolah menilai. "Oh, pendatang baru ya? Dari mana?"
"Dari Jawa, Daeng," jawab Darto sambil menggaruk kepalanya. "Butuh tempat yang... terjangkau."
Daeng Andi mengangguk perlahan, bibirnya yang kehitaman karena sirih bergerak pelan. "Ada sih, di barakan Nenek Aminah. Tapi..." dia terdiam, memandang ke arah laut yang terlihat dari kejauhan, "...tempat itu agak sepi. Sudah lama kosong."
"Kenapa lama kosong, Pak?" Nadya bertanya dengan suara lirih, tangannya menggenggam tanganku lebih erat. Daeng Andi hanya menggeleng, enggan menjawab. "Sudahlah, ikut saja. Nenek Aminah orangnya baik kok."
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kerikil tajam dan rumput liar. Aroma ikan asin bercampur dengan bau tanah basah menyeruak ke hidung. Di kiri kanan jalan, rumah-rumah panggung berjejer dengan kondisi yang beragam— ada yang masih kokoh, ada yang sudah miring termakan usia.
Barakan Nenek Aminah terletak di ujung perkampungan, agak terpencil dari rumah-rumah lain. Lima pintu kayu berjejer memanjang di bawah atap genteng tua yang sebagian sudah berlumut hitam. Dinding papan kayunya yang kecoklatan tampak lapuk di beberapa bagian, dan jendela- jendela kecilnya tertutup daun jendela yang engselnya sudah berkarat.
Seorang perempuan tua keluar dari pintu paling ujung. Tubuhnya bungkuk, rambutnya yang memutih diikat sanggul longgar. Kain batik lusuhnya menyapu tanah saat dia berjalan menghampiri kami.
"Ini orangnya, Nek Aminah," kata Daeng Andi dengan nada hormat. "Mau sewa barakan." Nenek Aminah memandangi kami dengan mata yang berkabut karena katarak. Bibirnya yang keriput bergerak pelan,
"Oh, pasangan muda ya? Mau yang mana? Yang ujung sana?" Dia menunjuk ke pintu paling ujung yang catnya sudah mengelupas habis.
"Yang... yang paling murah saja, Nek," jawabku dengan suara parau. Nenek Aminah tertawa kecil, suaranya serak seperti daun kering tertiup angin. "Semuanya sama harganya, Nak. Tiga ratus ribu sebulan. Tapi kalau listrik sama air harus patungan ya sama barak sebelah. Gantian bayarnya, biar adil."
"Oh, tidak apa-apa, Nek. Kami terima," Nadya menjawab dengan senyum dipaksakan.
"Bagus, bagus," Nenek Aminah mengangguk-angguk. "Tapi saya kasih tahu ya, di sini sepi. Kadang-kadang ada suara aneh malam-malam. Tapi tenang saja, cuma angin laut kok." Matanya yang berkabut itu seolah menyimpan sesuatu yang tak terucapkan.
"Makasih, Nek," ucap kami hampir bersamaan, mencoba mengabaikan peringatan terselubung itu. Darto menepuk bahuku pelan. "Kalau begitu saya permisi pamit dulu ya, Mas. Semoga betah di sini." Ada nada prihatin dalam suaranya.
Aku merogoh saku dan membayar biaya travel padanya. Darto menerima dengan canggung, lalu berbisik pelan sebelum pergi, "Mas, kalau ada apa- apa, warung saya di dekat pelabuhan. Datang saja."
Setelah Darto pergi, Daeng Andi―yang ternyata memang RT setempat-mengantar kami ke pintu barakan pilihan kami. "Ini kuncinya," dia menyerahkan kunci berkarat. "Kalau butuh apa-apa, rumah saya yang cat hijau di ujung jalan sana."
"Terima kasih, Pak RT," jawabku.
"Oh ya," Daeng Andi menoleh sebelum melangkah pergi, "jangan keluar malam-malam kalau tidak perlu. Di sini... gelap." Lalu dia dan Nenek Aminah pergi meninggalkan kami berdua.
Pintu kayu tua itu berderit keras saat kubuka. Bau apak dan lembab langsung menyergap. Di dalam, ruangan sempit dengan satu kamar tidur, ruang tengah kecil, dan dapur seadanya. Dinding-dinding kayunya penuh dengan sarang laba-laba di sudut- sudutnya. Debu tebal menutupi lantai papan yang berderit di setiap langkah.
Nadya berdiri di tengah ruangan, matanya menelusuri setiap sudut dengan tatapan kosong. Bahunya yang semula tegap kini merosot. Dia meletakkan kamera kesayangannya di atas meja tua yang bergoyang, lalu duduk di kursi rotan yang catnya sudah mengelupas.
"Mas..." suaranya bergetar, "ini... ini rumah kita sekarang?" Hatiku hancur melihat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan yang tak bisa disembunyikan lagi. Aku berlutut di hadapannya, meraih tangannya yang gemetar.
"Maafkan aku, Dek. Mas bikin hidup kita jadi begini... tambah susah..." Suaraku tercekat. Nadya menggeleng kuat-kuat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya.
Dia menarikku ke dalam pelukannya, menangis terisak di bahuku. Kemeja yang kukenakan basah oleh air matanya, tapi aku tak peduli. Yang kurasakan hanya pedih melihat perempuan yang kucintai harus menanggung akibat dari masalah yang kubuat.
"Tak apa, Mas," bisiknya di sela isak tangis. "Rumah... rumah bisa dibangun lagi. Hidup bisa ditata lagi dari awal." Dia melepaskan pelukannya, menatapku dengan mata sembab tapi penuh ketegaran. "Tapi kalau nama sudah rusak... ya apa mau dikata. Kita hadapi bersama-sama."
Kuusap air matanya dengan ibu jari, mencoba tersenyum meski hatiku remuk. Di luar, angin laut mulai bertiup kencang, membuat daun jendela tua berderit-derit seperti rintihan. Entah mengapa, suara itu terdengar seperti peringatan—bahwa kesulitan kami baru saja dimulai.
Kugosok keras kerak hitam yang menempel di dinding WC dengan sikat yang bulunya sudah rontok separuh. Bau pesing yang menyengat membuatku mual, tapi kuteruskan saja—seolah menghukum diriku sendiri atas segala kegagalan yang membawa kami ke tempat ini.
Air kotor bercampur lumut hijau menggenang di lantai kamar mandi, membuat sepatuku becek dan berbau amis. Tanganku yang dulu hanya memegang pulpen untuk menandatangani berkas-berkas penting kini berlumuran kotoran yang entah sudah berapa lama menempel.
"Mas, pakai ini," Nadya muncul di ambang pintu kamar mandi dengan sarung tangan karet kuning di tangannya. Wajahnya berkeringat, rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan diikat asal dengan karet gelang. "Tanganmu nanti iritasi." Kutatap sarung tangan itu, lalu tanganku yang sudah memerah. "Tak apa, Dek. Biar saja."
"Jangan keras kepala, Mas." Dia melangkah masuk, tak peduli sepatunya akan basah kena air kotor. Dengan lembut dia meraih tanganku, memakaikan sarung tangan itu satu per satu. "Kita memang lagi susah, tapi jangan sampai sakit. Nanti malah tambah repot."
Sentuhannya yang lembut membuatku tercekat. Perempuan ini, yang dulu kupinang dengan janji akan kubahagiakan, kini harus membersihkan rumah bobrok di desa terpencil.
"Maaf, Dek..." bisikku.
"Sudah, Mas. Jangan minta maaf terus." Nadya tersenyum tipis, tangannya mengusap pipiku yang kasar karena belum cukur berhari-hari. "Aku ke dapur dulu ya, kompor gasnya macet. Mungkin selangnya kotor."
Setelah Nadya pergi, kulanjutkan menyikat lantai kamar mandi yang berkarat. Setiap gosokan terasa seperti mengikis lapisan-lapisan kebusukan-bukan hanya di lantai ini, tapi juga dalam diriku. Pikiran melayang pada hari-hari di kantor dulu. Anwar Baihaqi-nama yang dulu disegani di Dinas Perikanan. Abdi Negara yang selalu berpihak pada kebenaran. "Si Idealis" kata mereka dengan nada mengejek di belakangku.
Dulu, mereka menyebutku otak brilian di balik meja kayu jati mengkilap itu―pena di tanganku bergerak cepat menandatangani berkas, mencoret proposal yang penuh manipulasi angka, menulis memo tajam yang membuat dahi para koruptor berkerut. Tegas pada aturan, vokal menyuarakan ketidakadilan- itulah Anwar Baihaqi yang mereka kenal.
Di ruang rapat ber-AC dingin, suaraku yang lantang mempertanyakan anggaran fiktif sering membuat wajah-wajah licik itu memerah, dasi mereka seolah mencekik leher saat kutunjukkan bukti penyimpangan di layar proyektor. Sayangnya, tidak semua orang suka dengan sosok semacam itu.
Mereka yang terbiasa makan dari piring kotor membenci orang yang berani menunjuk noda hitam di dasar piring mereka. Aku yang selalu membela transparansi, yang berkali-kali menolak amplop cokelat tebal di bawah meja, yang memilih pulang naik motor butut daripada mobil dinas hasil suap—akhirnya jatuh dalam permainan politik kantor yang lebih kotor dari lumpur di kamar mandi bobrok ini.
Mutasi ke daerah terpencil, demosi terselubung, pengucilan sistematis semua itu harga yang harus kubayar karena menolak ikut dalam lingkaran setan mereka. Surat mutasi itu masih teringat jelas, stempel merah menyala seperti luka bakar di atas kertas putih, tanggal yang tertera seolah vonis mati untuk karierku.
Pada titik ini aku sadar—saat menyikat kerak hitam yang membandel, saat bau pesing menyengat hidungku—makhluk bermuka dua di tempat kerja selalu menang di akhir cerita.
Mereka yang pandai menjilat ke atas dan menindas ke bawah, yang tersenyum manis di depan tapi menusuk dari belakang, yang tidur nyenyak di atas kasur empuk hasil korupsi sementara rakyat kelaparan. Wajah-wajah mereka berkelebat dalam ingatanku senyum palsu di foto bersama pejabat, jabat tangan erat yang menyembunyikan pisau, tepuk tangan riuh saat mereka naik jabatan dengan cara haram.
Pada titik ini aku sadar—saat tanganku yang dulu menulis laporan keuangan negara kini berlumuran kotoran WC-untuk hidup aman saja bagi orang sepertiku sudah sebuah kemenangan.
Banyak rekan seperjuangan yang bernasib lebih buruk. Ada yang hilang tanpa jejak setelah terlalu keras menyuarakan kebenaran, ada yang ditemukan mengapung di sungai dengan luka tusukan di punggung, ada yang kecelakaan misterius di jalan sepi.
Wajah-wajah mereka kadang muncul dalam mimpiku—mata kosong menatap dari dasar kubur tanpa nisan, tubuh kaku dalam koper yang dibuang ke laut, atau bahkan yang lebih beruntung: hidup dalam ketakutan abadi, menutup mulut rapat-rapat sambil menghitung hari dengan was-was.
Setidaknya aku masih bernapas, meski di tempat pengasingan ini, meski dengan nama yang sudah ternoda dan masa depan yang kabur seperti air kotor di lantai kamar mandi ini.
Sore mulai merangkak turun ketika kami keluar dari barak untuk membeli beberapa barang keperluan rumah. Matahari yang memerah di ufuk barat menyinari jalan tanah berbatu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara rumah-rumah panggung. Di ujung gang, gerobak sayur yang catnya sudah pudar dipenuhi ibu-ibu dengan daster lusuh dan sandal jepit yang aus.
Nadya menggenggam tanganku erat saat kami mendekat. Kurasakan telapak tangannya yang basah -entah karena gerah atau gugup bertemu tetangga baru. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada kami, berbisik-bisik dengan tangan menutupi mulut.
"Itu yang baru pindah ke barak Nenek Aminah," kudengar salah satu dari mereka berbisik. Seorang perempuan bertubuh subur dengan kebaya hijau pudar melangkah mendekat. Wajahnya yang bulat dihiasi senyum lebar, kerutan di sudut matanya menandakan usia yang tak lagi muda.
"Assalamualaikum, saya Bu Asih," sapanya ramah, mengulurkan tangan yang kasar karena kerja keras. "Tinggal di barak sebelah. Wah, senang ada tetangga baru."
"Waalaikumsalam, Bu. Saya Nadya, ini suami saya, Anwar," Nadya membalas dengan senyum canggung, menjabat tangan Bu Asih. Belum sempat obrolan berlanjut, seorang perempuan kurus dengan rambut dicat cokelat kemerahan menyerobot masuk. Matanya yang sipit berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Eh, pendatang baru ya? Dari mana? Kerja apa?" Pertanyaannya bertubi-tubi tanpa jeda. "Saya Bu Lastri, tinggal di ujung sana. Kalau mau tahu apa- apa tentang kampung sini, tanya saya saja. Hehehe."
"Dari Jawa, Bu," jawabku singkat, tidak ingin terlalu banyak bicara.
"Ooh, Jawa..." Bu Lastri mengangguk-angguk seolah paham sesuatu yang kami tidak tahu.
"Pindah kerja ya, Mas?" Sebelum aku menjawab, seorang perempuan muda dengan jilbab hitam panjang dan wajah tirus mendekat. Ada aura kesedihan yang menyelimuti sosoknya, meski bibirnya tersenyum tipis.
"Mbak Rania," katanya pelan, suaranya lembut seperti angin sore. "Saya di barak nomor tiga."
"Dia janda, suaminya meninggal tahun lalu. Masih muda lho, baru dua puluh lima," Bu Lastri berbisik keras di telinga Nadya, membuat wajah Rania memerah.
"Bu Lastri!" tegur Bu Asih dengan nada keras. "Mulutnya... tolong!" Mang Udin, pria kurus berjenggot tipis dengan peci hitam lusuh, tertawa renyah dari balik gerobaknya.
"Sudah, sudah, jangan ribut. Mbak Nadya mau beli apa? Sayur saya segar-segar, baru petik tadi pagi." Matanya yang nakal melirik Nadya dengan senyum lebar, memamerkan gigi yang kuning karena rokok.
Nadya mulai memilih-milih sayur dengan hati-hati— kangkung yang masih segar dengan batang renyah, bayam hijau tua yang daunnya lebar, dan beberapa buah tomat merah mengkilap. Bu Asih membantunya memilih, sesekali memberi saran mana yang bagus untuk dimasak.
"Mbak Nadya masak sendiri?" tanya Bu Lastri sambil memperhatikan tangan Nadya yang halus dan kuku- kukunya yang terawat. "Kelihatannya masih muda ya, sudah berapa lama nikah?"
"Baru setahun, Bu," Nadya menjawab sambil tersenyum malu-malu.
"Wah, masih pengantin baru dong. Pantas masih lengket terus," Bu Lastri terkikik. "Hati-hati lho, Mbak. Di kampung sini banyak duda yang kesepian. Ya kan, Mang Udin?" Mang Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, Bu Lastri bisa aja. Saya mah jualan sayur doang, cari nafkah halal."
"Halal tapi matanya suka jelalatan," cetus Rania tiba- tiba, membuat semua orang menoleh. Ada nada geli dalam suaranya yang biasanya lembut.
Suasana menjadi riuh dengan tawa. Bahkan Nadya ikut tersenyum lebar, ketegangan di bahunya mulai mengendur. Melihatnya bisa tertawa lagi di tengah kesulitan ini membuatku sedikit lega.
"Oh iya, Mas Anwar," panggil Bu Asih. "Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan. Suami saya nelayan, kadang dapat ikan lebih. Nanti saya bagi-bagi."
"Terima kasih, Bu. Baik sekali," jawabku, terharu dengan keramahan mereka.
"Kami di sini memang begitu," Bu Lastri menimpali. "Walaupun hidup pas-pasan, tapi tetap saling bantu. Ya kan, Mbak Rania?" Rania mengangguk pelan, tangannya merapikan ujung jilbabnya yang tertiup angin. "Iya, Bu. Apalagi sesama pendatang, harus saling support."
"Mbak Rania juga pendatang?" tanya Nadya.
"Dari Makassar. Ikut suami dulu, sekarang..." suaranya menggantung, matanya menerawang jauh.
"Ya sudahlah, takdir Allah." Suasana hening sejenak. Angin sore membawa aroma laut yang asin bercampur bau ikan bakar dari warung sebelah. Burung-burung camar berteriak di kejauhan, pulang ke sarang mereka.
"Dek, aku pergi dulu ya," kataku pada Nadya. "Beli pengharum kamar mandi sama obat nyamuk di warung sana." Nadya menoleh, matanya bertanya tanpa suara—apa tidak apa-apa kutinggal? Kuusap bahunya pelan, memberi isyarat bahwa tidak akan lama.
"Hati-hati, Mas," katanya pelan, lalu kembali memilih sayur. Aku melangkah menjauh, tapi masih bisa mendengar suara mereka tertiup angin. Langkahku melambat, penasaran dengan obrolan mereka.
"Mbak Nadya jangan khawatir," suara Bu Lastri terdengar. "Walaupun Mas Anwar gagah dan masih muda gitu, tapi di kampung sini jarang ada cewek cantik yang bisa saingan Mbak. Lagipula kelihatan kok Mas Anwar sayang banget."
"Iya, Mbak," Rania menimpali lembut. "Dari cara Mas Anwar lihat Mbak Nadya, kelihatan banget cintanya. Seperti almarhum suami saya dulu..." Suaranya bergetar di akhir kalimat.
"Sudah, sudah, jangan sedih," Bu Asih memeluk bahu Rania. "Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kita saling menjaga."
"Betul!" Mang Udin menyahut dengan semangat berlebihan. "Kalau Mbak Nadya butuh apa-apa, panggil saja saya. Siap antar ke mana-mana, gratis!"
"Huuu, dasar buaya darat!" Rania tiba-tiba mengambil terong besar dari gerobak dan menggetok kepala Mang Udin dengan main-main. "Mbak Nadya sudah ada yang punya, jangan macam-macam!"
"Aduh! Sakit, Mbak Rania!" Mang Udin mengaduh sambil tertawa, mengusap-usap kepalanya yang kena getok.
Aku tersenyum sesaat mendengar riuh tawa mereka yang masih terdengar samar. Melangkah menjauh dari kerumunan itu, kakiku membawa tubuh letih ini menyusuri gang sempit yang dipenuhi genangan air bekas hujan kemarin. Aroma ikan asin dari jemuran warga bercampur dengan bau tanah basah, menciptakan kombinasi yang asing di hidungku yang terbiasa dengan polusi kota.
Warung kelontong yang kutuju berada di ujung gang, bangunan papan sederhana dengan atap seng berkarat. Lampu neon putih berkedip-kedip di bagian depan, huruf-huruf "WARUNG SUSI" yang ditulis dengan cat merah sudah pudar termakan waktu. Tirai plastik berwarna-warni yang digantung di pintu masuk bergoyang pelan tertiup angin sore.
Kudorong tirai itu, menciptakan bunyi gemerincing yang memecah kesunyian. Di dalam, rak-rak kayu berjejer penuh dengan barang dagangan dari sabun batangan, mie instan, hingga botol-botol kecap yang berdebu. Kipas angin tua berputar malas di sudut ruangan, mengeluarkan suara berdecit yang monoton.
Di balik meja kasir yang dilapisi kaca pecah-pecah, seorang wanita sedang menghitung uang dengan jemari lentiknya. Rambutnya yang hitam pekat sebahu berkilau kena cahaya lampu neon. Saat mendengar langkahku, dia mendongak.
"Selamat sore, Mas. Cari apa?" Suaranya serak sensual, bibirnya yang merah—entah karena lipstik atau sirih melengkung membentuk senyum.
"Sore, Mbak. Mau beli obat nyamuk sama pengharum kamar mandi," jawabku singkat, mataku menyapu rak-rak mencari barang yang kubutuhkan.
Wanita itu bangkit dari kursinya, gerakan tubuhnya gemulai bak penari. Kaus tank top putih ketat yang dikenakannya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal. Rok mini jins pudar membalut pinggulnya yang bergoyang saat dia berjalan mendekat.
"Masnya orang baru ya di barakan Nenek Aminah?" tanyanya sambil mengambil obat nyamuk dari rak atas. Tangannya yang jenjang terangkat, memperlihatkan ketiak mulus yang sedikit berkeringat.
"Oh iya, Mbak. Saya Anwar, baru pindah hari ini," jawabku, mencoba menjaga jarak. Ada sesuatu dari caranya menatap yang membuatku tidak nyaman— tatapan lapar yang biasa kulihat di mata pria-pria korup di kantor dulu saat melirik sekretaris muda.
"Oalah, saya Susi, Mas." Dia meletakkan obat nyamuk di meja kasir, lalu berbalik lagi mengambil pengharum ruangan. "Sendirian nih ke sini?"
"Tidak, tadi istri saya masih belanja sayur di Mang Udin."
"Oh, sudah beristri toh." Ada nada kecewa yang tak disembunyikan dalam suaranya. "Masih muda gini sudah nikah. Berapa umur Mas?"
"Dua puluh delapan," jawabku pendek, mengeluarkan dompet dari saku. Susi kembali ke belakang meja kasir, menghitung total belanjaan dengan kalkulator usang. Jemarinya yang dicat kuteks merah menyala menekan tombol- tombol dengan gerakan yang disengaja lambat.
"Wah, seumuran dong kita." Dia tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang rapi. "Saya juga dua puluh delapan, tapi belum ada yang mau. Mungkin karena janda kali ya, Mas?"
Aku hanya mengangguk canggung, tidak tahu harus merespons apa. Suasana dalam warung terasa semakin pengap, atau mungkin hanya perasaanku saja.
"Total tiga puluh lima ribu, Mas." Susi mengulurkan tangannya menerima uang. Kuberikan uang lima puluh ribu. Saat dia mengambil kembalian dari laci, mataku tanpa sengaja menangkap foto yang terpajang di dinding belakang Susi bersama seorang pria bertubuh kekar berseragam tentara. Wajah pria itu keras dengan kumis tebal.
"Itu almarhum suami saya," Susi mengikuti arah pandangku. "Meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan saat pulang dari pos perbatasan. Sejak itu saya sendirian." Nada suaranya berubah sendu.
"Turut berduka cita, Mbak," ucapku tulus.
"Ah, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu." Dia kembali tersenyum, kali ini lebih tulus. "Ini kembaliannya, Mas." Saat menyerahkan uang kembalian, jemarinya menyentuh telapak tanganku-bukan sentuhan tidak sengaja, tapi disengaja dengan gerakan mengusap pelan. Kulitnya yang halus terasa dingin, kontras dengan pandangan matanya yang panas.
"Saya buka sampai jam sepuluh malam di sini," bisiknya, mencondongkan tubuh ke depan hingga belahan dadanya yang montok terlihat jelas. Aroma parfum murah bercampur keringat menyeruak.
"Tapi kalau Mas butuh barang-barang lain malam- malam, bisa ketuk saja rumah saya. Di belakang warung ini. Nanti saya bukakan... apa pun yang Mas butuh." Penekanan pada kata 'apa pun' membuatku menelan ludah. Kutarik tanganku perlahan, memasukkan kembalian ke saku.
"Terima kasih bantuannya, Mbak Susi," ucapku formal, mundur selangkah.
"Sama-sama, Mas Anwar." Dia menjilat bibirnya pelan, gerakan yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan. "Oh ya, hati-hati sama lingkungan sini. Banyak hal... aneh. Kalau butuh teman cerita, saya selalu ada."
Aku mengangguk kaku, lalu berbalik menuju pintu. Bisa kurasakan tatapannya yang masih menempel di punggungku.
"Mas Anwar!" panggilnya saat aku hampir keluar. Aku menoleh. "Salam buat istri ya. Pasti cantik sekali orangnya, sampai Mas tidak melirik wanita lain." Senyumnya kali ini terlihat sedih. "Beruntung sekali dia."
Tanpa menjawab, aku melangkah keluar dari warung itu. Udara sore yang mulai dingin terasa melegakan setelah pengap di dalam. Kutarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan perasaan tidak nyaman yang menggantung.
Aku memandangi area desa yang terbentang di hadapanku, napas masih terengah setelah pertemuan yang menegangkan dengan Susi. Cahaya senja mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di genangan air di jalan tanah. Tidak seperti bayanganku tentang desa purba yang terisolasi-tempat ini masih menggunakan uang, bukan sistem barter kuno. Namun kemajuannya terhenti di situ saja.
Jalan aspal yang kuinjak terputus-putus, berganti tanah berbatu yang berlubang di sana-sini. Rumah- rumah berjajar tak beraturan seperti gigi yang tanggal ada yang masih kokoh dengan dinding papan terawat, ada yang miring hampir roboh dimakan rayap. Yang paling bagus hanya menggunakan kayu jati tua dengan atap galvalum berkilap, itupun bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan beratap seng berkarat atau genteng yang berlumut tebal.
Satu-satunya bangunan tinggi yang menjulang adalah rumah walet di ujung desa- kotak beton polos tanpa jendela, hanya lubang- lubang kecil tempat burung keluar masuk. Suara cicit mereka terdengar riuh saat senja, berbaur dengan azan Maghrib yang sayup-sayup dari surau kecil.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko obat— kalau bisa disebut begitu. Papan nama "APOTEK SEHAT SELALU" miring ke kiri, catnya mengelupas hingga huruf-hurufnya hampir tak terbaca. Kaca etalase retak di sudut, diplester dengan lakban kuning yang sudah menghitam. Di baliknya, kotak- kotak obat berdebu berjajar tak beraturan.
Kurasa tak ada salahnya membeli persediaan obat, setidaknya untuk jaga-jaga. Siapa tahu kondisi kesehatan di sini tidak sebaik yang kubayangkan.
Lonceng kecil di atas pintu berdenting saat kudorong masuk. Aroma obat-obatan bercampur kelembaban menciptakan bau apak yang khas. Lantai keramik putihnya retak di beberapa tempat, nat-natnya menghitam oleh kotoran yang mengendap bertahun-tahun.
"Selamat sore, Pak. Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pria paruh baya muncul dari balik tirai manik-manik yang memisahkan ruang depan dengan belakang. Rambutnya yang beruban disisir rapi ke belakang dengan minyak rambut, kemeja batiknya lusuh tapi bersih. Kacamata minus tebal bertengger di hidungnya yang pesek.
"Sore, Pak," balasku sambil melihat-lihat rak obat yang kebanyakan kosong. "Saya mau beli beberapa obat. Ada Ibuprofen?" Pria itu―yang kulihat memakai name tag bertuliskan 'SANUSI'-menggaruk kepalanya. "Ibuprofen ya... Wah, kebetulan lagi kosong, Pak. Pasokan dari kota kadang telat, jalan rusak soalnya."
"Oh begitu... Kalau Ranitidin? Atau setidaknya Sucralfat cair untuk lambung?" Pak Sanusi mengerjapkan mata beberapa kali, seolah-olah aku baru saja membacakan mantra sihir dalam bahasa asing. Dia membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu tersenyum canggung.
"Maaf, Pak... Obat-obat seperti itu... kami kurang lengkap. Ini kan desa kecil, jarang yang minta obat resmi begitu." Dia berjalan ke rak, mengambil sebuah strip obat generik. "Kalau untuk sakit kepala atau pegal-pegal, biasanya orang sini pakai ini."
Dia menyodorkan obat generik murah-merk yang bahkan tidak pernah kudengar. Kemasannya sederhana dengan tulisan yang hampir pudar. Aku memandanginya dengan perasaan campur aduk. Kapan terakhir kali aku melihat obat semacam ini? Mungkin saat masih kecil, ketika Ibu membeli obat warung untuk menghemat uang.
"Cuman ada yang model begini, Pak?" tanyaku sambil mengembalikan obat itu, "Kalau begitu, bagaimana kalau ada orang sakit parah? Puskesmasnya buka 24 jam?" Pak Sanusi menggeleng pelan, ada guratan penyesalan di wajahnya yang keriput. "Puskesmas cuma buka sampai sore, Pak. Dokternya juga cuma datang tiga kali seminggu. Kalau Sabtu-Minggu tutup."
"Lalu kalau ada darurat malam-malam gimana? Kasihan dong."
"Bapak orang baru ya di sini?" Pak Sanusi menghela napas seraya tersenyum maklum melihat ekspresi terkejutku. "Pantas saja heran. Di sini memang berbeda dengan kota, Pak. Orang jarang minum obat kimia kalau sakit. Mereka lebih percaya berobat ke La Ode Malaka."
"La Ode Malaka?"
"Dukun di kampung dalam. La Ode Malaka Tapunopaka. Turun-temurun dari keluarganya, ilmu pengobatan tradisional." Pak Sanusi menjelaskan dengan nada hormat.
"Jangan salah sangka dulu, Pak. Banyak yang sembuh diobati beliau." Aku mengusap wajah, mencoba mencerna informasi ini. "Diobati bagaimana? Diurut? Minum jamu herbal? Atau pakai minyak-minyak aneh?"
"Macam-macam, Pak. Ada yang diurut, ada yang dikasih ramuan, ada yang dimandikan pakai air doa." Pak Sanusi mengangguk-angguk antusias. "Minggu lalu anak saya demam tinggi tiga hari. Dibawa ke La Ode, dimandikan pakai air kembang tujuh rupa, besoknya langsung sembuh!"
"Air kembang?" Aku tidak bisa menyembunyikan nada skeptis dalam suaraku. Pak Sanusi tersenyum melihat ekspresiku yang masih ragu. "Saya tahu Bapak dari kota, mungkin tidak percaya hal beginian. Tapi di sini ya begini adanya."
Aku memijit pelipisku yang mulai berdenyut. Peradaban modern yang kukenal seolah terhenti di gerbang desa ini. "Kalau begitu... saya beli obat generik itu saja. Berapa harganya?"
"Lima ribu aja, Pak. Murah kok." Pak Sanusi membungkus obat itu dengan kertas koran bekas. "Oh ya, Pak. Saya memang jarang jual obat generik yang bagus tapi herbal sama madu hutan di tempat saya ini, lengkap. Siapa tahu bapak perlu obat alami buat jaga-jaga."
"Terima kasih sarannya," jawabku diplomatis sambil menerima bungkusan obat. Saat aku hendak membayar, Pak Sanusi mengulurkan tangannya. "Kenalkan, saya Sanusi. Sudah dua puluh tahun buka apotek di sini. Walaupun ya... apoteknya tidak seperti di kota." Dia tertawa getir.
"Anwar," balasku sambil menjabat tangannya yang kasar. "Baru pindah hari ini."
"Oh, yang di barakan Nenek Aminah ya? Sudah dengar kabarnya." Pak Sanusi mengangguk-angguk. "Semoga betah ya, Pak Anwar. Memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini."
"Lumayan cepat beritanya ya," ujarku tertawa getir mendengar kedatanganku diketahui banyak orang desa.
"Kampung kecil beda sama di kota, Pak. Beritanya cepat. Jarum di ujung kampung jatuh pun bisa kedengaran sampai sini," ujarnya memberi perumpamaan. Pasca selesai membeli semua keperluan, aku melangkah pulang dengan kantong plastik berisi obat dan pengharum ruangan bergoyang di tanganku.
Senja mulai meredup, langit berubah keunguan dengan sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat. Aroma laut yang asin bercampur dengan asap dapur dari rumah-rumah tetangga mulai memenuhi udara, sementara aku terus melangkah bersama takdir baru yang mengikatku di kampung ini.
22Please respect copyright.PENANAtgigsHbzqD
22Please respect copyright.PENANAyjmQRuvlTv


