/story/214817/dua-dunia-satu-rasa/?load=0
Dua Dunia Satu Rasa | Penana
arrow_back
Dua Dunia Satu Rasa
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Dua Dunia Satu Rasa
lthfh20
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)


Di gedung tua yang penuh aksara,

dua jiwa bertemu tanpa rencana —

satu tenggelam dalam baris algoritma,

satu lagi belajar mendengar detak jantung manusia.


Arga, si penjaga logika dan layar,

membaca dunia lewat kode yang berjajar.

Citra, si penjaga hati yang sabar,

merawat luka dengan tangan dan doa teratur.


Perpustakaan jadi Saksi bisu mereka,

di antara buku psikologi dan laptop terbuka.

Ia menjelaskan tentang *loop* yang tak pernah henti,

ia membalas dengan cerita pasien yang memanggil pergi.


Dua dunia berbeda, namun saling mengisi —

kode yang dingin, hangat oleh empati.

Stetoskop yang sunyi, berdenyut oleh janji,

bahwa cinta tumbuh di tempat paling tak terduga ini.


Tapi cinta tak selalu menang atas kenyataan,

ada perbedaan yang lebih dalam dari perasaan.

Keluarga berbicara soal status dan strata,

dan Arga terjebak antara hati dan nama keluarga.


“Aku tidak peduli status,” bisiknya gemetar,

namun langkah kaki tetap menurut altar.

Citra — tersenyum senyum yang menyembunyikan luka —

"Aku tak mau jadi beban," katanya pelan di dunia.


Bergetar suara itu ketika ia berkata,

"Ini yang terbaik untuk kita berdua."

Dan Citra hanya mengangguk, pasrah pada takdir,

hatinya hancur — tapi dia memilih untuk tidak berteriak lagi dulu.


Beberapa tahun kemudian... 

Arga duduk di depan layar yang sama,

menikah dengan pilihan yang ditentukan keluarganya.

Sukses. Mapan. Namun di sudut jantung yang terdalam,

masih tersimpan nama —Citra— seperti variabel yang tak terhapus.


Citra berdiri di lorong rumah sakit yang putih,

stetoskop di leher, langkah yang teguh dan taktik.

Ia sudah melupakan, atau mungkin ia baru belajar merelakan... 

membuka hati untuk mereka yang lebih pantas mencintanya dengan bebas.


Kisah mereka bukan tentang siapa yang menang,

bukan tentang cinta yang kandas atau hilang.

Ini dua tentang manusia yang belajar satu hal berharga:


bahwa terkadang cinta adalah melepaskan,

bahwa terkadang sayang sekali adalah kebebasan,

bahwa di antara kode dan stetoskop —

ada ruang yang tidak pernah benar-benar kosong.


Dan perpustakaan itu masih berdiri,

menyimpan kenangan dua jiwa yang pernah saling mengerti.

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time:
toc Table of Contents
No tags yet.
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.