-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Di gedung tua yang penuh aksara,
dua jiwa bertemu tanpa rencana —
satu tenggelam dalam baris algoritma,
satu lagi belajar mendengar detak jantung manusia.
Arga, si penjaga logika dan layar,
membaca dunia lewat kode yang berjajar.
Citra, si penjaga hati yang sabar,
merawat luka dengan tangan dan doa teratur.
Perpustakaan jadi Saksi bisu mereka,
di antara buku psikologi dan laptop terbuka.
Ia menjelaskan tentang *loop* yang tak pernah henti,
ia membalas dengan cerita pasien yang memanggil pergi.
Dua dunia berbeda, namun saling mengisi —
kode yang dingin, hangat oleh empati.
Stetoskop yang sunyi, berdenyut oleh janji,
bahwa cinta tumbuh di tempat paling tak terduga ini.
Tapi cinta tak selalu menang atas kenyataan,
ada perbedaan yang lebih dalam dari perasaan.
Keluarga berbicara soal status dan strata,
dan Arga terjebak antara hati dan nama keluarga.
“Aku tidak peduli status,” bisiknya gemetar,
namun langkah kaki tetap menurut altar.
Citra — tersenyum senyum yang menyembunyikan luka —
"Aku tak mau jadi beban," katanya pelan di dunia.
Bergetar suara itu ketika ia berkata,
"Ini yang terbaik untuk kita berdua."
Dan Citra hanya mengangguk, pasrah pada takdir,
hatinya hancur — tapi dia memilih untuk tidak berteriak lagi dulu.
Beberapa tahun kemudian...
Arga duduk di depan layar yang sama,
menikah dengan pilihan yang ditentukan keluarganya.
Sukses. Mapan. Namun di sudut jantung yang terdalam,
masih tersimpan nama —Citra— seperti variabel yang tak terhapus.
Citra berdiri di lorong rumah sakit yang putih,
stetoskop di leher, langkah yang teguh dan taktik.
Ia sudah melupakan, atau mungkin ia baru belajar merelakan...
membuka hati untuk mereka yang lebih pantas mencintanya dengan bebas.
Kisah mereka bukan tentang siapa yang menang,
bukan tentang cinta yang kandas atau hilang.
Ini dua tentang manusia yang belajar satu hal berharga:
bahwa terkadang cinta adalah melepaskan,
bahwa terkadang sayang sekali adalah kebebasan,
bahwa di antara kode dan stetoskop —
ada ruang yang tidak pernah benar-benar kosong.
Dan perpustakaan itu masih berdiri,
menyimpan kenangan dua jiwa yang pernah saling mengerti.
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

