Malam itu udara di rumah kami terasa lebih berat dari biasanya. Aku duduk di tepi ranjang kamar lamaku yang masih sama seperti dulu—dindingnya berwarna krem pudar, rak buku penuh novel-novel klasik yang sudah kusentuh berulang kali, dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Usiaku sudah dua puluh dua tahun, tapi kadang rasanya aku masih gadis kecil yang merindukan pelukan ibu. Hanya saja, sekarang pelukan itu harus bersaing dengan sosok lain yang datang membawa perubahan.
7838Please respect copyright.PENANAWiXVxspDli
Namanya Arkan. Suami baru ibu.
7838Please respect copyright.PENANAAUSQcBwdVf
Aku masih ingat pertama kali melihatnya tiga bulan lalu, saat ibu memperkenalkannya di ruang tamu. Tubuhnya tinggi tegap, bahu lebar yang seolah mampu menampung seluruh beban dunia, kulit sawo matang yang terawat, dan rahang tegas yang memberi kesan maskulin tanpa kesan kasar. Matanya—ya Tuhan, matanya—dalam, berwarna cokelat gelap, seolah bisa menembus lapisan jiwa siapa pun yang ia tatap. Usianya tiga puluh delapan tahun, sepuluh tahun lebih tua dariku, dan ia membawa aura kedewasaan yang membuat setiap gerakannya terasa penuh kendali.
7838Please respect copyright.PENANAtXjhNddKRq
Ibu, Maya namanya, tampak bahagia. Senyumnya yang dulu sering pudar setelah perceraian dengan ayahku kini kembali bersinar. "Arkan ini baik sekali, Nak. Dia akan jadi ayah baru buat kamu," katanya waktu itu dengan suara lembut, tangannya memegang lengan Arkan erat.
7838Please respect copyright.PENANAnk9nGFcsuU
Aku hanya mengangguk, tersenyum sopan. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang bergetar aneh. Bukan iri. Bukan marah. Melainkan... rasa penasaran yang tak seharusnya ada.
7838Please respect copyright.PENANAKhrwu4D2yH
Malam ini, tiga bulan setelah pernikahan mereka, rumah terasa lebih hidup. Suara tawa kecil ibu dan Arkan terdengar samar dari kamar utama di lantai bawah. Aku seharusnya tidur, tapi mataku tak mau terpejam. Aku bangkit, mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna krem yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha. Kainnya halus, hampir tak terasa di kulit, dan setiap kali aku bergerak, hembusan angin malam menyentuh kulit pahaku yang mulus.
7838Please respect copyright.PENANAfHupjFOsKR
Aku turun ke dapur untuk mengambil air. Cahaya lampu remang-remang menyinari lorong. Saat melewati pintu kamar utama yang sedikit terbuka, aku tak sengaja mendengar suara mereka.
7838Please respect copyright.PENANAfXSKxNGgCv
"Arkan... pelan saja malam ini," suara ibu terdengar manja, diikuti tawa rendah Arkan yang dalam dan bergetar.
7838Please respect copyright.PENANA9dcEKduWc2
Aku berhenti sejenak. Jantungku berdegup lebih cepat. Bayangan apa yang sedang terjadi di balik pintu itu? Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu, tapi kaki ini malah melangkah lebih dekat. Hanya sedikit. Hanya untuk melihat sekilas.
7838Please respect copyright.PENANAUrILhejsV0
Melalui celah pintu, aku melihatnya.
7838Please respect copyright.PENANAE5SwGF7g2j
Ibu berbaring di atas ranjang king-size, gaun tidurnya sudah tersingkap hingga pinggang. Payudaranya yang masih kencang meski usia sudah empat puluh dua tahun terpapar lembut di bawah cahaya lampu tidur. Bentuknya bulat sempurna, seperti dua buah mangga matang yang berat, dengan areola cokelat muda yang lebar dan puting yang sudah mengeras karena sentuhan. Arkan berada di atasnya, tubuh telanjangnya yang berotot tapi tidak berlebihan menutupi sebagian tubuh ibu. Punggungnya lebar, otot-ototnya bergerak halus setiap kali ia menunduk mencium leher ibu.
7838Please respect copyright.PENANAa2r08ZI25B
Tapi yang membuat napasku tertahan adalah saat Arkan menoleh sedikit ke samping. Matanya—mata itu—seolah menangkap gerakanku di lorong. Hanya sepersekian detik. Tatapannya tajam, penuh arti, sebelum kembali ke ibu.
7838Please respect copyright.PENANAaQerbbAmDV
Aku buru-buru mundur, jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Air yang tadi kuambil tumpah sedikit di lantai. Cepat-cepat aku kembali ke kamar, mengunci pintu, dan duduk di ranjang dengan napas tersengal.
7838Please respect copyright.PENANAH4maEV4QUl
Apa yang baru saja aku lihat? Kenapa tubuhku terasa panas seperti ini?
7838Please respect copyright.PENANA1URASJWFiq
Malam itu aku tak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan punggung Arkan, lengan kuatnya, dan tatapan sekilas itu kembali muncul. Aku membayangkan bagaimana tangan besarnya menyentuh kulit, bagaimana bibirnya yang tegas meninggalkan jejak panas. Aku menggigit bibir bawahku, tanganku tanpa sadar menyusuri paha sendiri, naik pelan ke balik gaun tidur.
7838Please respect copyright.PENANACrZBeXMH9y
Kulitku halus, tanpa cela. Paha dalamku yang lembut mulai terasa lembap. Aku menyentuh celana dalamku yang sudah basah, jari tengahku menekan pelan di atas kain tipis itu, membayangkan bukan jemariku sendiri, melainkan jemari Arkan yang lebih kasar, lebih berpengalaman.
7838Please respect copyright.PENANAxotRRPuzcM
Aku menghentikan diri. "Tidak boleh," bisikku pada kegelapan. Ia suami ibu. Ini salah.
7838Please respect copyright.PENANADQVdU2Lymn
Pagi harinya, aku turun dengan mata sedikit bengkak karena kurang tidur. Ibu sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali—ia bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan properti. Hanya ada Arkan di dapur, sedang membuat kopi. Ia mengenakan kaus hitam ketat yang menonjolkan dada bidangnya dan celana training longgar. Rambutnya agak acak-acakan, memberi kesan baru bangun tidur yang sangat maskulin.
7838Please respect copyright.PENANAtWNrlEfKzh
"Pagi, Ara," sapanya dengan suara rendah yang terasa seperti belaian di telinga. Namaku Amara, tapi ia memanggilku Ara sejak pertama. Panggilan itu terdengar terlalu intim di mulutnya.
7838Please respect copyright.PENANAmOrAXvSo0Q
"Pagi, Om Arkan," balasku sopan, mencoba tak menatap matanya terlalu lama.
7838Please respect copyright.PENANA2BKYNCch2w
Ia tersenyum tipis, menuangkan kopi untukku tanpa diminta. "Ibu kamu berangkat pagi. Katanya ada meeting penting. Kita berdua saja hari ini. Mau sarapan apa?"
7838Please respect copyright.PENANAYkpcmVFcxc
Aku duduk di meja makan, merasakan tatapannya yang tak lepas dari wajahku. Gaun tidurku masih melekat di tubuh, kain tipisnya sedikit transparan di bawah sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela. Payudaraku yang sedang—ukuran 34C, bulat kencang dengan puting kecil yang sensitif—terasa terpapar di balik kain. Aku merasa putingku mengeras pelan karena tatapannya.
7838Please respect copyright.PENANAkHPekc8HxC
Kami mengobrol ringan. Tentang kuliahku yang sebentar lagi semester akhir, tentang pekerjaannya sebagai arsitek yang sering bekerja dari rumah, tentang bagaimana ia dan ibu bertemu di sebuah acara bisnis. Setiap kali ia tertawa, ada getaran di perutku. Setiap kali tangannya tak sengaja menyentuh punggung tanganku saat menyodorkan roti bakar, ada listrik kecil yang menjalar ke seluruh tubuh.
7838Please respect copyright.PENANAW5PjeeBQt3
"Kamu mirip ibumu, tapi ada sesuatu yang berbeda," katanya tiba-tiba, matanya menelusuri garis leherku yang jenjang. "Lebih... liar di balik kesopanan itu."
7838Please respect copyright.PENANAdHaAwWln3K
Aku tersipu. "Om bisa saja."
7838Please respect copyright.PENANAmV1vLUV56K
Ia hanya tersenyum, tak menjawab. Tapi tatapannya lama. Terlalu lama.
7838Please respect copyright.PENANAbRJDpjg7zu
Sepanjang hari, ketegangan itu terus membangun. Arkan bekerja di ruang kerjanya, tapi beberapa kali ia keluar untuk mengambil minum atau bertanya hal kecil padaku. Setiap pertemuan singkat itu terasa penuh muatan. Saat aku membungkuk mengambil buku yang jatuh di ruang tamu, aku merasakan tatapannya tertuju ke bokongku yang bulat dan kencang. Pinggulku yang lebar, hasil dari olahraga yoga rutin, terasa panas di bawah pandangannya.
7838Please respect copyright.PENANAT8rpBhr8fd
Sore harinya, hujan turun deras. Ibu menelepon, bilang ia terjebak di luar kota karena banjir dan tak bisa pulang malam ini. Hanya aku dan Arkan di rumah besar ini.
7838Please respect copyright.PENANATErzV7dDRw
"Kita pesan makan malam saja," katanya santai, tapi ada nada lain di suaranya.
7838Please respect copyright.PENANAGhQbITluCO
Kami makan di ruang makan, cahaya lilin yang ia nyalakan menciptakan suasana intim. Obrolan kami semakin dalam. Ia bercerita tentang masa lalunya, tentang bagaimana ia dulu pernah merasa kesepian sebelum bertemu ibu. Aku bercerita tentang mimpi-mimpiku, tentang keinginan untuk merasa diinginkan, benar-benar diinginkan.
7838Please respect copyright.PENANAvALltuPedY
Saat kami selesai makan, ia berdiri di belakangku, tangannya menyentuh bahuku ringan.
7838Please respect copyright.PENANAQQHnzcVRMl
"Kamu tegang sekali, Ara. Biar Om pijit sedikit."
7838Please respect copyright.PENANA0xqV897cEt
Sentuhannya hangat. Jemarinya yang kuat menekan otot bahuku dengan ahli, perlahan menurunkan ketegangan. Aku menggigit bibir, menahan desahan kecil saat jempolnya memijat titik sensitif di leherku. Aromanya—campuran sabun mandi maskulin dan feromon alami—membungkusku.
7838Please respect copyright.PENANAlfIwHvQTTJ
"Om..." bisikku pelan.
7838Please respect copyright.PENANAR8VDxE4ai4
"Shh... santai saja," balasnya, suaranya semakin rendah. "Kamu cantik sekali malam ini."
7838Please respect copyright.PENANAFDKN2wdOqt
Tangan itu turun sedikit, menyentuh lengan atasku, lalu kembali ke bahu. Bukan terang-terangan, tapi cukup untuk membuat tubuhku merinding. Aku merasakan kelembapan mulai muncul lagi di antara selangkanganku. Vaginaku yang rapat, dengan bibir luar yang halus berwarna merah muda muda dan klitoris kecil yang mudah bangkit, mulai berdenyut pelan.
7838Please respect copyright.PENANABW74REu1z8
Aku bangkit tiba-tiba. "Aku... mau ke kamar dulu."
7838Please respect copyright.PENANADp1h3tJe1I
Ia tak menahan. Hanya tersenyum dengan tatapan yang penuh janji. "Tidur yang nyenyak, Ara."
7838Please respect copyright.PENANAifxzCs701r
Malam itu, di kamar, aku tak tahan lagi. Aku berbaring, tanganku menyusup ke balik gaun. Jari-jemariku menyentuh bibir vaginaku yang sudah basah, membuka pelan lipatan-lipatan halus itu. Aroma manis alami tubuhku sendiri memenuhi udara. Aku membayangkan tangan Arkan di sana—jari-jarinya yang lebih tebal, lebih panjang, masuk perlahan sambil ia berbisik kotor di telingaku.
7838Please respect copyright.PENANA8PnHANjHbQ
Aku mencapai klimaks pertama dengan nama "Arkan" tertahan di tenggorokan.
7838Please respect copyright.PENANAgI5GD3B4cQ
Tapi saat aku membuka mata, napas masih tersengal, aku mendengar ketukan pelan di pintu kamarku.
7838Please respect copyright.PENANACCn0S1EpTk
"Ara... kamu belum tidur kan?"
7838Please respect copyright.PENANAeM4blkDVVi
Suara Arkan. Di depan pintu kamarku. Malam ini, saat ibu tak ada.
7838Please respect copyright.PENANABRMwM96LqZ
Aku membeku di tempat, tubuhku masih bergetar sisa kenikmatan yang baru saja kucapai sendirian. Gaun tidur sutraku kusut di pinggang, tanganku masih basah oleh cairan kewanitaanku sendiri yang kental dan hangat. Jantungku berdegup begitu kencang hingga terasa seperti mau meloncat keluar dari dada. Suara ketukan itu terulang lagi—pelan, tapi tegas. Suara yang tak bisa kabaikan.
7838Please respect copyright.PENANAL9gDYqQhrT
"Ara... kamu baik-baik saja? Aku dengar suara tadi," kata Arkan dari balik pintu. Suaranya rendah, dalam, seperti beledu hitam yang membelai kulit telingaku. Ada nada khawatir, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam.
7838Please respect copyright.PENANAPQVwQU0X5s
Aku buru-buru menarik gaun tidurku ke bawah, merapikan rambut panjangku yang acak-acakan, dan berusaha menenangkan napas. "Ya... aku baik, Om. Hanya... mimpi buruk," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar, berharap ia tak mendengar kebohongan itu.
7838Please respect copyright.PENANA6esAxppEfP
Sesaat hening. Lalu, "Boleh Om masuk? Aku cuma ingin memastikan."
7838Please respect copyright.PENANAEfOBxhz1jE
Tanganiku gemetar saat meraih kenop pintu. Aku tahu ini salah. Ibu sedang tak ada di rumah. Hujan masih deras di luar, angin malam meniup tirai jendela kamarku yang tipis. Tapi ada kekuatan tak terlihat yang membuatku membuka pintu itu.
7838Please respect copyright.PENANAMeJ1UdG1Nj
Arkan berdiri di ambang pintu, tinggi dan gagah. Hanya mengenakan celana pendek hitam longgar dan kaus tipis abu-abu yang menempel di dada bidangnya. Otot lengannya terlihat jelas, urat-urat di lengan bawahnya menonjol. Rambutnya agak basah, seolah baru mandi. Matanya menatapku dari atas ke bawah—lambat, penuh perhatian—seolah sedang membaca setiap lekuk tubuhku di balik kain sutra tipis itu.
7838Please respect copyright.PENANA78bTe01LOr
"Kamu... berkeringat," katanya pelan, tangannya terulur menyentuh dahi ku dengan punggung jari. Sentuhan itu ringan, tapi panasnya seolah membakar. "Dan pipimu merah sekali. Benar hanya mimpi buruk?"
7838Please respect copyright.PENANAcvCgo8eXmy
Aku mundur selangkah, membiarkannya masuk. Pintu kututup di belakangnya. Kamar yang tadinya terasa luas sekarang terasa sempit, penuh dengan kehadirannya. Aroma tubuhnya—campuran sabun cedarwood, sedikit keringat maskulin, dan sesuatu yang primal—mengisi ruangan. Aku duduk di tepi ranjang, lututku rapat, berusaha menyembunyikan kelembapan yang masih ada di antara pahaku.
7838Please respect copyright.PENANAdvajMWdkxo
Arkan tak langsung duduk. Ia berdiri di depanku, memandang ke sekeliling kamar seperti sedang mengingat setiap detail. "Kamar ini masih sama seperti dulu ya? Dulu aku sering bayangkan bagaimana kamu tumbuh besar di sini."
7838Please respect copyright.PENANApLN5Otgda7
Kata-katanya sederhana, tapi ada beban di baliknya. Aku menelan ludah. "Om... sebaiknya Om kembali ke kamar. Ibu nanti pulang besok pagi."
7838Please respect copyright.PENANAevx9QdnVJE
Ia tersenyum tipis, duduk di sampingku. Jaraknya cukup dekat hingga pahanya hampir menyentuh pahaku. "Ibumu aman di hotel. Hujan deras sekali. Dan aku... tak bisa tidur memikirkan kamu sendirian di sini."
7838Please respect copyright.PENANAFKuosAbyI9
Tatapan kami bertemu. Matanya gelap, penuh gairah yang tertahan. Aku merasa putingku mengeras lagi di balik gaun, kain sutra tipis itu tak mampu menyembunyikan tonjolan kecil yang sensitif. Payudaraku yang kencang, bulat sempurna dengan areola merah muda lembut, naik turun mengikuti napasku yang memburu.
7838Please respect copyright.PENANA71AAFEW6QD
"Kamu takut sama Om?" tanyanya lembut, tangannya menyentuh punggung tanganku. Jemarinya panjang, kuat, tapi sentuhannya sangat lembut.
7838Please respect copyright.PENANA3f2GctixND
"Tidak... bukan takut," bisikku. "Tapi ini... salah."
7838Please respect copyright.PENANAvswHupKrkY
"Apa yang salah, Ara?" Ia mendekatkan wajahnya. Napasnya hangat menyapu pipiku. "Kita hanya bicara. Hanya... dekat. Ibumu tahu aku menyayangi kamu seperti anak sendiri."
7838Please respect copyright.PENANAGwnpruuEBx
Kata "anak sendiri" terdengar begitu salah, tapi justru membuat gelombang panas menjalar ke perutku. Vaginaku berdenyut pelan, bibir luarnya yang halus dan montok mulai membengkak karena aliran darah yang meningkat. Aku merasakan cairan bening mulai merembes lagi, membasahi celana dalamku yang sudah lembap.
7838Please respect copyright.PENANASrofhnutvd
Arkan seolah bisa merasakannya. Tangannya naik ke lengan atasku, mengusap pelan ke atas-bawah. "Kamu dingin. Atau... panas?"
7838Please respect copyright.PENANAtlzqc22kOo
Aku tak menjawab. Hanya menunduk. Tapi tubuhku mengkhianati—aku sedikit condong ke arahnya. Ia menafsirkan itu sebagai izin. Tangan besarnya membelai rambutku, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Jari telunjuknya menyentuh cuping telingaku, lalu turun ke leher jenjangku, menyusuri tulang selangka yang menonjol lembut.
7838Please respect copyright.PENANArMxpH5kwij
"Kamu cantik sekali, Ara," bisiknya di telingaku. Suaranya serak. "Payudaramu... terlihat begitu sempurna di balik kain ini. Bulat, kencang, seperti meminta disentuh."
7838Please respect copyright.PENANAZuQpqqFvV2
Kata-kata kotor itu keluar begitu halus dari mulutnya, membuatklitorku berdenyut keras. Aku menggigit bibir bawah, menahan desahan. Tangan Arkan turun lebih rendah, menyentuh pinggiran gaun di dadaku. Ia tak langsung meremas—hanya menyentuh ringan, menggoda, membuat putingku semakin mengeras hingga terasa nyeri karena ingin disentuh lebih dalam.
7838Please respect copyright.PENANANYXa3aFTD8
"Om... kita tidak boleh," kataku lemah, tapi tanganku justru memegang lengannya, tak melepaskan.
7838Please respect copyright.PENANAhdVVxQRpkb
"Kalau kamu benar-benar tak mau, katakan sekarang. Aku akan pergi," balasnya, tapi matanya berkata lain. Ia menunggu, memberi ruang, tapi jarinya masih bergerak pelan di kulitku.
7838Please respect copyright.PENANAB6FkACmlhc
Aku diam. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
7838Please respect copyright.PENANANyaHO8AIeC
Arkan tersenyum tipis, penuh kemenangan yang tertahan. Ia menarikku pelan hingga aku berbaring di ranjang. Tubuhnya membayangi, tapi tak menindih sepenuhnya. Ia berbaring di sampingku, satu tangan menopang kepala, tangan satunya menjelajah tubuhku dengan kesabaran yang menyiksa.
7838Please respect copyright.PENANAcfO1gvEBhl
Pertama, ia hanya mencium keningku. Lalu pipi. Lalu sudut bibir. Ciuman-ciuman ringan yang membuatku gelisah. Bibirnya tebal, hangat, dan ahli. Saat akhirnya bibir kami bertemu sepenuhnya, ciuman itu dalam, lambat, penuh penjelajahan. Lidahnya menyelinap masuk, menari dengan lidahku, menghisap pelan bibir bawahku hingga aku mendesah ke dalam mulutnya.
7838Please respect copyright.PENANA3iAn4pxSGS
Tangan Arkan akhirnya naik ke payudaraku. Ia meremas lembut melalui kain, merasakan berat dan kekenyalannya. "Sempurna," gumamnya di antara ciuman. "Ukuran yang pas di tangan Om. Putingmu sudah keras sekali."
7838Please respect copyright.PENANAuIIKCL3fm3
Ia menarik turun tali gaunku, memperlihatkan satu payudara. Areolaku merah muda, kecil dan halus, putingnya menegang seperti puncak bukit kecil yang minta diisap. Arkan menunduk, meniupkan napas hangat ke sana dulu, membuatku menggeliat. Lalu lidahnya menyentuh—pelan, melingkar, sebelum bibirnya menghisap penuh.
7838Please respect copyright.PENANA8wBu6hyi01
Aku melengkungkan punggung, tanganku mencengkeram seprai. Sensasinya luar biasa. Setiap hisapan membuat getaran langsung ke selangkanganku. Ia bergantian antara menghisap, menjilat, dan menggigit pelan putingku, sementara tangan satunya meremas payudara yang lain dengan ritme yang sempurna.
7838Please respect copyright.PENANAINR06CyMYv
"Om... ahh..." desahku tak terkendali.
7838Please respect copyright.PENANAVp4rNLevSR
Tangan Arkan turun lebih rendah, menyusuri perut rata ku, pinggul lebarku, lalu ke paha dalam yang gemetar. Ia mengusap bagian dalam pahaku yang halus, semakin dekat ke inti tubuhku, tapi tak langsung menyentuh. Hanya menggoda, membuatku semakin basah.
7838Please respect copyright.PENANA5UwimR7TV9
"Kamu sudah basah sekali ya?" tanyanya serak, jarinya menyentuh celana dalamku yang sudah telanjur basah. "Aroma kamu manis sekali, Ara. Om ingin mencicipi."
7838Please respect copyright.PENANAn4Jpb1rQrl
Ia menarik celana dalamku pelan ke bawah, memperlihatkan vaginaku yang sudah membengkak karena gairah. Bibir luarnya penuh, merah muda segar, dengan sedikit cairan bening yang mengalir keluar. Klitorisku kecil tapi menonjol, minta perhatian. Arkan memandanginya lama, penuh kekaguman.
7838Please respect copyright.PENANABAScykHDDd
"Indah sekali," bisiknya. "Bibirnya montok, rapat. Om mau membukanya pelan-pelan."
7838Please respect copyright.PENANAzUdNBUqKZV
Jari tengah dan telunjuknya menyentuh bibir luar, membuka pelan lipatan-lipatan halus itu. Ia mengusap ke atas-bawah, menyebarkan cairanku yang licin, sesekali menyentuh klitorisku dengan tekanan ringan yang membuatku tersentak. Foreplay ini begitu lambat, begitu menyiksa, hingga aku merasa seperti akan meledak.
7838Please respect copyright.PENANAcm1jr9Ih4v
Arkan menunduk, hidungnya hampir menyentuh vaginaku. Ia menghirup aromaku dalam-dalam. "Wanginya memabukkan." Lalu lidahnya menyentuh—pertama di klitorisku, menjilat pelan, melingkar, menghisap lembut. Aku hampir menjerit karena kenikmatan yang membanjiri.
7838Please respect copyright.PENANACuyPQaOquR
Ia terus melakukannya dengan ahli—menjilat panjang dari bawah ke atas, memasukkan lidah ke dalam lubangku yang sempit, lalu kembali ke klitoris. Dua jarinya masuk perlahan ke dalam vaginaku yang panas dan basah, melengkung mencari titik G-ku sambil mulutnya terus bekerja.
7838Please respect copyright.PENANAgFTBx1Bc0Z
Aku mencapai orgasme pertama yang diberikan orang lain—tubuhku kejang, cairan keluar lebih banyak, tanganku mencengkeram rambut Arkan. Tapi ia tak berhenti. Ia terus menjilat hingga gelombang kedua datang, lebih kuat.
7838Please respect copyright.PENANAYNy55AzuJj
Saat aku masih tersengal, ia naik ke atas, menciumku dalam-dalam agar aku merasakan rasa tubuhku sendiri di bibirnya.
7838Please respect copyright.PENANARE0AAQgBF8
Tapi saat tangannya hendak melepaskan celananya, ia berhenti. Matanya penuh gairah yang membara, tapi ada kendali yang kuat.
7838Please respect copyright.PENANA2rDfgpxm22
"Belum malam ini, Ara," katanya dengan suara parau. "Om mau kamu benar-benar siap. Besok... kita lanjutkan. Kalau kamu masih menginginkan ini."
7838Please respect copyright.PENANAQsEtEAH7yx
Ia bangkit, meninggalkanku telanjang, basah, dan penuh kerinduan yang menyiksa di ranjang.
7838Please respect copyright.PENANAzhQRV3l844
Aku terbaring sendirian, tubuh masih berdenyut, dengan pikiran kacau.
7838Please respect copyright.PENANAgtjMix1f1o
Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang malu-malu menyusup melalui tirai kamar. Aku terbaring telanjang di bawah selimut tipis, tubuhku masih terasa lemas dan sensitif setelah malam yang penuh gejolak. Kulitku terasa panas mengingat sentuhan Arkan, lidahnya yang ahli menjelajahi setiap lipatan intimku, dan orgasme demi orgasme yang ia berikan dengan kesabaran seorang maestro. Vaginaku masih sedikit berdenyut, lembap oleh sisa cairan yang mengering di paha dalamku yang halus.
7838Please respect copyright.PENANAqkpbkoqOGS
Aku bangun dengan hati berdebar. Suara mobil terdengar dari depan rumah. Ibu pulang.
7838Please respect copyright.PENANA2xOFroOY8I
Cepat-cepat aku mandi, mengenakan dress rumah berbahan katun tipis berwarna putih yang longgar, tanpa bra di baliknya. Payudaraku yang bulat kencang bergoyang lembut setiap kali aku melangkah, puting kecilku masih sensitif dan sedikit memerah bekas hisapan Arkan semalam. Aku turun ke bawah, berusaha tampak biasa.
7838Please respect copyright.PENANAUGxRm5E9Lk
Ibu sudah di ruang makan, memeluk Arkan dari belakang sambil tertawa kecil. "Hujan deras sekali semalam. Untung kamu jagain Ara ya, Sayang," katanya manja, mencium pipi Arkan.
7838Please respect copyright.PENANAEuvg68oDIR
Arkan menoleh, matanya bertemu denganku sekilas. Tatapan itu penuh api yang tertahan, bibirnya melengkung tipis. "Tentu, Maya. Ara baik-baik saja. Kami... mengobrol sampai larut."
7838Please respect copyright.PENANAUolWMNVY4z
Ibu tak curiga. Ia malah tersenyum lebar padaku. "Kamu kelihatan glowing pagi ini, Nak. Tidur nyenyak?"
7838Please respect copyright.PENANAd3EuVBEl3U
Aku hanya mengangguk, pipiku memerah. Arkan menuangkan kopi untukku, tangannya sengaja menyentuh jariku saat menyodorkan cangkir. Sentuhan kecil itu seperti listrik, membuat klitorisku berdenyut pelan di balik dress.
7838Please respect copyright.PENANAD9yRhgUvZc
Sepanjang pagi, ketegangan itu terus membara di bawah permukaan. Ibu sibuk di dapur membuat sarapan spesial, sementara Arkan bekerja di ruang kerja dengan pintu sedikit terbuka. Beberapa kali aku melewati sana, dan setiap kali, tatapannya mengikuti gerakanku. Saat aku membungkuk mengambil remote TV yang jatuh, dress-ku naik sedikit, memperlihatkan garis bokongku yang bulat montok dan paha yang mulus. Aku merasakan pandangannya membakar kulitku.
7838Please respect copyright.PENANAEezYxodMrc
Siang harinya, ibu harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan. "Arkan, tolong jagain Ara lagi ya. Aku pulang malam," katanya sambil mencium suaminya lama di depanku. Arkan balas menciumnya, tapi matanya melirik ke arahku.
7838Please respect copyright.PENANAd1VxpnSXB6
Begitu mobil ibu keluar gerbang, rumah terasa hening. Hanya detak jantungku yang keras.
7838Please respect copyright.PENANAdcAuRa7IqC
Arkan muncul di belakangku saat aku sedang mencuci piring. Tubuh tingginya menempel pelan ke punggungku. Aku bisa merasakan kejantanan yang sudah setengah mengeras di balik celananya, menekan bokongku yang lembut.
7838Please respect copyright.PENANA4dtlP1qW1A
"Kamu sengaja memakai dress tipis ini ya?" bisiknya di telingaku, tangan besarnya merangkul pinggangku dari belakang. "Payudaramu bergoyang terus sejak tadi. Putingmu terlihat jelas."
7838Please respect copyright.PENANA14jnf7MYfV
Aku mendesah pelan saat tangannya naik, meremas kedua payudaraku melalui kain tipis. Jemarinya menemukan puting yang sudah keras, memilinnya pelan, menarik sedikit hingga aku menggeliat.
7838Please respect copyright.PENANA4r9poWFYK0
"Om... di sini?" tanyaku dengan suara parau.
7838Please respect copyright.PENANAR7eKpnVuky
"Iya. Sekarang," jawabnya tegas tapi lembut. Ia membalik tubuhku, mengangkatku ke atas meja dapur dengan mudah. Dress-ku tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan celana dalam lace hitam yang sudah basah di tengahnya.
7838Please respect copyright.PENANAdbP6Ckg5Se
Arkan berlutut di depanku. Tangannya membuka pahaku lebar-lebar, menatap vaginaku dengan lapar. "Lihat ini... sudah banjir lagi. Bibir vaginamu montok sekali, Ara. Merah muda, mengkilap karena basah."
7838Please respect copyright.PENANAreUZ3Awdk0
Ia menarik celana dalamku ke samping, lidahnya langsung menyerbu. Kali ini ia tak lagi pelan-pelan seperti semalam. Lidahnya menjilat panjang dari anus hingga klitoris, berulang kali dengan tekanan yang pas. Ia menghisap klitorisku kuat-kuat, dua jarinya masuk ke dalam lubangku yang sempit dan panas, melengkung mencari titik kenikmatan sambil mulutnya terus bekerja.
7838Please respect copyright.PENANAe8YiIBs6cG
Aku mencengkeram rambutnya, pinggulku terangkat sendiri mengikuti irama lidahnya. "Ahh... Om... enak sekali... jangan berhenti..."
7838Please respect copyright.PENANA0y5Qndr4Xe
Cairanku mengalir deras, aroma manis alami memenuhi dapur. Arkan menelan semuanya, tak menyia-nyiakan setetes pun. Ia menambah satu jari lagi, tiga jarinya sekarang mengaduk-aduk vaginaku yang semakin longgar karena kenikmatan, suara kecipak basah terdengar jelas.
7838Please respect copyright.PENANA5bJa4yrYKj
Aku orgasme pertama di meja dapur itu dengan jeritan tertahan, tubuhku kejang hebat, cairan squirting kecil membasahi dagu Arkan.
7838Please respect copyright.PENANAHlu4g1iC1u
Ia bangkit, menciumku dalam-dalam, membiarkan aku merasakan rasa vaginaku sendiri yang manis di lidahnya. Sambil berciuman, ia melepaskan celananya. Kejantanannya melompat keluar—besar, panjang, dengan kepala yang tebal dan berwarna merah gelap, urat-urat menonjol di sepanjang batangnya. Panjangnya mungkin 18 cm, tebal, dan sudah berkedut minta dimasukkan.
7838Please respect copyright.PENANAhrbNCfNz6I
Arkan mengusap kepala kontolnya yang tebal dan panas di celah vaginaku yang sudah banjir. Kepala kontolnya yang berwarna merah gelap, mengkilap oleh cairan kewanitaanku yang bening dan kental, bergerak naik-turun pelan, menggoda klitorisku yang membengkak sebelum kembali ke lubang sempitku yang terus-menerus berkedut karena menantikan kepenuhan. Setiap gesekan itu mengirim gelombang listrik kecil ke seluruh saraf tubuhku. Aroma percintaan kami sudah memenuhi udara dapur—manis, asin, dan primal.
7838Please respect copyright.PENANA3Gccy9DPDt
"Kamu siap, Sayang? Om mau masukkan pelan-pelan," bisiknya serak di telingaku, suaranya penuh kendali yang hampir pecah.
7838Please respect copyright.PENANAqLcw3nV1ox
Aku mengangguk lemah, tanganku mencengkeram bahu lebarnya yang berotot, kuku jariku menekan kulitnya. "Pelan, Om... kamu besar sekali..."
7838Please respect copyright.PENANAC7g164B12S
Arkan mendorong masuk perlahan. Inci demi inci. Kepala kontolnya yang tebal meregang bibir vaginaku yang montok dan halus, membuka lipatan-lipatan rapatku dengan tekanan yang nikmat sekaligus menyiksa. Dinding vaginaku yang panas, lembap, dan bertekstur halus seperti beludru basah memeluknya erat, seolah tak mau melepaskan. Sensasi penuhnya luar biasa—aku merasa terisi sepenuhnya, rahimku seperti ditarik ke dalam, setiap urat di batang kontolnya terasa jelas menggesek titik-titik sensitif di dalamku.
7838Please respect copyright.PENANAi5FjOmVnrP
"Ngghh... sempit sekali... enak banget, Ara," desahnya di leherku, napasnya panas dan berat. Tubuhnya menegang menahan diri agar tak langsung menghantam dalam.
7838Please respect copyright.PENANA95oToKBuiz
Ia berhenti sejenak saat sudah separuh masuk, memberiku waktu menyesuaikan. Payudaraku naik-turun cepat mengikuti napas yang tersengal. Arkan menunduk, bibirnya menghisap puting kiriku dengan lembut dulu, lidahnya melingkar di areola yang mengerut, lalu menggigit pelan hingga aku mendesah panjang. Baru setelah itu ia mendorong lagi, masuk lebih dalam, hingga pangkal kontolnya menekan klitorisku dan bola-bolanya yang berat menyentuh bokongku.
7838Please respect copyright.PENANA5vzKVegNXI
"Oh Tuhan... penuh sekali..." erangku, kepalaku mendongak, leher jenjangku terpapar. Arkan langsung mencium dan menghisap kulit di sana, meninggalkan jejak merah samar.
7838Please respect copyright.PENANAzV2l3skXze
Ia mulai bergerak. Sangat lambat pada awalnya. Keluar hingga hanya kepala kontolnya yang tertinggal di bibir vaginaku, lalu masuk kembali dengan dorongan panjang dan dalam. Ritme itu menyiksa—setiap kali ia masuk, aku merasakan gesekan sempurna di dinding dalamku, terutama di titik G yang membuat kakiku gemetar. Setiap kali ia keluar, vaginaku seperti merengek kehilangan, otot-ototku mengejang ingin menahannya.
7838Please respect copyright.PENANAVTF3ejQl0U
Payudaraku bergoyang liar mengikuti irama, meski gerakannya masih pelan. Arkan meremas keduanya dengan tangan besarnya, ibu jarinya memilin putingku bergantian. "Lihat payudaramu... indah sekali bergoyang begini. Bulat, kencang, putingnya merah karena Om hisap. Kamu suka ya, digoyang suami ibumu di meja dapur ini?"
7838Please respect copyright.PENANAC0lKkxhqG0
bicaranya membuat vaginaku semakin berdenyut, cairanku semakin melimpah, membasahi batang kontolnya hingga ke bola-bolanya. Aku hanya bisa mendesah dan mengangguk, pinggulku mulai bergerak pelan mengikuti iramanya.
7838Please respect copyright.PENANAHtNz75c5X4
Kelanjutannya ada link di bawah ini


