arrow_back
Kehangatan dari Menantuku
more_vert
-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
Kehangatan dari Menantuku
Author:
Sterofoam973
ISSUE #1
Awal Sebuah Perjalanan Suci
Wangi semerbak bunga melati dan mawar merah memenuhi udara pagi di kediaman Bapak Haryo. Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai jendela, memberikan kehangatan pada ruangan yang sedari subuh sudah sibuk oleh aktivitas keluarga. Di dalam ruangan, duduk seorang wanita muda di depan cermin rias. Namanya Nisa. Wajahnya yang cantik alami tampak semakin mempesona, bukan karena riasan yang berlebihan, melainkan karena aura ketenangan dan kesopanan yang selalu terpancar dari dirinya.Nisa dikenal oleh lingkungan sekitar sebagai pribadi yang sangat kalem, tutur katanya lembut, dan selalu memancarkan pandangan. Hari ini, ia mengenakan kebaya pengantin berwarna putih tulang yang dirancang khusus. Gaya pakaiannya selalu tertutup; kebaya itu dibuat longgar, menjuntai dengan anggun menutupi lekuk tubuhnya yang sebenarnya berisi. Hijabnya dijulurkan panjang menutupi dada, dihiasi dengan untaian melati yang jatuh dengan indah di bahu pengirimnya. Bagi Nisa, kecantikan sejati adalah yang dijaga dengan rasa malu dan terhormat.Jantungnya berdebar kencang. Hari ini adalah hari pernikahannya. Sebuah pernikahan yang tidak pernah ia rencanakan melalui proses pacaran yang panjang seperti kebanyakan anak muda di zaman sekarang. Semuanya bermula dari sebuah proses *ta'aruf* yang suci dan penuh adab.Ingatannya melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Ayahnya, Pak Haryo, adalah sahabat lama dari Pakde Harun. Pakde Harun adalah sosok yang sangat dihormati, seorang tokoh masyarakat yang dikenal betul dengan bibit, bebet, dan bobot keluarga Haryo. Suatu sore, Pakde Harun datang berkunjung, bukan sekadar untuk silaturahmi biasa, melainkan membawa sebuah niat mulia. Ia menceritakan tentang keponakannya, seorang pemuda baik-baik yang sudah mapan dan berniat untuk mencapai setengah agamanya. “Namanya Fahmi, Nisa,” ucap ayahnya waktu itu sambil menyerahkan sebuah peta berisi biodata sang pemuda. "Pakde Harun menjamin akhlaknya. Dia anak yang pekerja keras, sopan, dan sangat menjaga ibadahnya. Ayah dan Ibu sudah membaca profilnya, dan kami merasa keluarga mereka memiliki latar belakang yang sangat baik dan sekufu dengan keluarga kita."Nisa membaca biodata itu dengan saksama. Proses pertemuan pertama pun diatur dengan sangat tertutup dan syar'i. Di ruang tamu rumahnya, ditemani oleh Ayah, Ibu, dan Pakde Harun, Nisa untuk pertama kalinya melihat Fahmi. Pemuda itu datang dengan kemeja rapi, wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, namun yang membuat Nisa terkesan adalah betapa pemuda itu sangat menjaga penampilannya. Fahmi menunduk, berbicara dengan nada yang sopan, terukur, dan penuh rasa hormat kepada orang tua Nisa.Fahmi bukanlah anak orang kaya raya yang mewarisi harta berlimpah, melainkan seorang pekerja keras yang mandiri. Ia bekerja di sebuah *dealer* sepeda motor ternama di kota kabupaten. Kariernya dirintis dari bawah. Berkat kejujurannya, ketekunannya, dan sifat yang kalem namun cekatan melayani pelanggan,ia kini memegang posisi penting di *dealer* tersebut. Fahmi adalah sosok pria yang tidak banyak bicara, namun tindakannya selalu menunjukkan tanggung jawab yang besar. Kesesuaian itu tidak hanya dirasakan oleh Nisa dan Fahmi, tetapi juga oleh kedua pihak keluarga yang merasa visi dan misi mereka dalam membangun keluarga sangat sejalan.Lamunan Nisa terhenti ketika pintu ruangan diketuk perlahan. Ibunya masuk dengan mata yang berkaca-kaca, membawa aura keibuan yang menenangkan. “Sudah siap, Nduk?” tanya Ibunya sambil mengelus lembut bahu Nisa. "Insya Allah Bu. Nisa hanya sedikit gugup," jawab Nisa dengan suara lirih. Rombongan keluarga mempelai pria telah tiba. Nisa bisa mendengar suara selawat yang dilantunkan dengan syahdu menyambut kedatangan keluarga Fahmi.Di barisan terdepan, tampak Fahmi mengenakan setelan jas pengantin berwarna putih yang senada dengan pakaian Nisa, lengkap dengan peci yang membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa. Wajahnya tenang, meskipun tak bisa dipungkiri ada ketegangan di raut mukanya menjelang detik-detik ijab kabul.Di belakang Fahmi, berjalan rombongan keluarga intinya. Kedua orang tua Fahmi memancarkan keindahan dan kehangatan. Diikuti oleh kedua kakak laki-laki Fahmi, Mas Danang dan Mas Bayu, beserta keluarga mereka. Keluarga Fahmi memang dikenal sebagai keluarga yang rukun dan memegang teguh nilai-nilai agama. Mas Danang, kakak tertua, berjalan berdampingan dengan istrinya, Mbak Fitri. Mbak Fitri mengenakan gamis brukat berwarna *soft pink* yang longgar dan hijab syar'i yang menutup dada dengan rapi. Ia menggandeng putri kecilnya yang baru berusia lima tahun, yang juga mengenakan hijab kecil yang lucu. Di belakang mereka, Mas Bayu dan istrinya, Mbak Rina, juga tampil dengan pakaian yang sangat sopan dan tertutup. Mbak Rina menggendong bayi laki-lakinya yang sedang tertidur pulas.Sifat sopan dan santun keluarga ini sangat terlihat dari bagaimana mereka berinteraksi dengan keluarga Nisa. Tidak ada tawa yang meledak-ledak atau pembicaraan yang meninggi. Istri-istri kakak Fahmi menyapa kerabat Nisa dengan senyuman hangat, bersalaman dengan penuh takzim, dan berbicara dengan nada yang lembut. Gaya pakaian mereka yang tertutup dan tidak menonjolkan bentuk tubuh tinggi Nisa, sangat sejalan dengan prinsip yang dianut Nisa selama ini. Melihat hal itu dari balik tirai, hati Nisa semakin mantap. Ia merasa tidak hanya mendapatkan seorang suami yang baik, tetapi juga keluarga baru yang sefrekuensi, yang akan menjadi tempatnya bernaung dan belajar menjadi wanita yang lebih baik.Prosesi akad nikah dilaksanakan di ruang tengah rumah Nisa yang telah dihias dengan dekorasi bunga-bunga segar yang didominasi warna putih dan hijau, melambangkan kesucian dan kedamaian. Suasana tiba-tiba hening ketika penghulu mulai membuka acara. Bapak Haryo duduk menghadap Fahmi. Tangan mereka saling berpegangan erat di atas meja kecil yang dilapisi kain putih.Dari dalam kamar, melalui pengerasan suara yang dipasang, Nisa mendengarkan setiap umpan doa dan khotbah pernikahan dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Ia menundukkan kepala, mengumpulkankan doa yang tak putus-putusnya kepada Sang Pencipta agar pernikahannya ini diberkahi. “Saudara Fahmi bin Rahman,” suara Bapak Haryo terdengar berat dan bergetar karena haru. “Saya,” jawab Fahmi dengan suara yang mantap dan tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Fahmi menjawab dengan lantang, memecah keheningan ruangan. "Saya terima nikah dan kawinnya Nisa binti Haryo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Bagaimana para Saksi? Sah?" tanya penghulu. "Sah!" seru para Saksi dan seluruh hadirin secara serentak."Alhamdulillahirabbil'alamin..."Air mata Nisa akhirnya tumpah. Air mata kebahagiaan, kelegaan, dan rasa syukur yang teramat dalam. Ibunya memeluknya erat, mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. Mulai detik ini, statusnya telah berubah. Ia bukan lagi gadis di bawah tanggung jawab ayahnya, melainkan seorang istri yang tanggung jawabnya telah beralih ke memanggul laki-laki yang baru saja menepati janji suci di hadapan Allah dan para Saksi.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. Nisa dituntun keluar oleh ibu dan bibinya menuju ruang tengah. Semua mata tertuju padanya. Nisa berjalan dengan pemandangan yang menakjubkan, langkahnya pelan dan anggun. Saat ia duduk di sebelah Fahmi, hasrat darahnya terasa berdesir hebat. Untuk pertama kalinya, ia berada sedekat ini dengan laki-laki yang kini sah menjadi suaminya.Fahmi menoleh perlahan ke arah Nisa. Ada senyuman tipis yang tulus dan menyatukan mata yang dipenuhi dengan rasa syukur dan kasih sayang di wajah tampannya. Fahmi kemudian mengangkat tangannya, meletakkannya dengan lembut di ubun-ubun Nisa, dan membacakan doa untuk istri barunya. Suara Fahmi yang berat dan merdu saat melantunkan doa membuat hati Nisa terasa sangat damai. Ia mengaminkan doa tersebut di dalam hati, bersumpah untuk mengabdi pada suami dengan sepenuh jiwa. Nisa kemudian menggenggam tangan kanan Fahmi, mencium punggung tangan suami itu dengan takzim sebagai tanda bakti dan ketaatannya yang pertama. Fahmi membalasnya dengan mengecup kening Nisa dengan lembut dan penuh hormat. Suasana haru mencakup seluruh ruangan.Banyak kerabat yang ikut meneteskan air mata melihat keharmonisan dan kesakralan momen tersebut.Acara diakhiri dengan persetujuan sederhana yang diadakan di halaman rumah yang telah dipasangi tenda. Tidak ada musik yang higar bingar, hanya alunan nasyid dan selawat yang mengiringi para tamu yang datang memberikan selamat. Keluarga kedua belah pihak membaur dengan sangat hangat.Di pelaminan, Nisa dan Fahmi berdiri menyambut tamu. Keduanya tampak serasi, ibarat raja dan ratu sehari yang memancarkan pesona kesantunan mereka. Sesekali, saat tidak ada tamu yang bersalaman, Fahmi mengajak Nisa berbicara dengan suara pelan. “Kamu lelah, Dek?” tanya Fahmi dengan panggilan barunya, terdengar sangat perhatian.Nisa tersipu malu, pipinya merona merah. "Sedikit, Mas. Tapi tidak apa-apa, senang melihat banyak yang datang mendoakan kita.""Kalau kaki kamu sakit karena terlalu lama berdiri, bilang saja ya. Kita bisa duduk istirahat," kata Fahmi lagi, menunjukkan sifat kalem namun sangat peka terhadap keadaan istrinya.Sikap Fahmi yang penuh perhatian itu membuat Nisa semakin yakin proses *ta'aruf* ini telah menuntunnya pada jodoh yang tepat.Di sela-sela acara, kedua kakak dari Nisa, Mbak Fitri dan Mbak Rina, naik ke pelaminan. Mereka memeluk Nisa dengan erat. “Selamat datang di keluarga kami ya, Dik Nisa,” ucap Mbak Fitri dengan senyum manisnya. “Mas Fahmi itu orangnya kelihatannya pendiam, tapi dia penyayang sekali. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama Mbak.” “Iya, Dik,” timpal Mbak Rina. "Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kami senang sekali akhirnya Mas Fahmi menemukan tulang rusuknya."Sapaan hangat dari kakak-kakak iparnya membuat Nisa merasa sangat diterima. Keluarga ini memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, dilandasi dengan agama dan akhlak yang mulia. Ia melihat bagaimana anak-anak dari kakak iparnya berlarian di sekitar tenda, namun tetap mengelilingi dan makan dengan lembut saat mereka mulai terlalu berisik. Gaya *parenting* yang diterapkan oleh keluarga Fahmi juga mencerminkan kedewasaan dan kesabaran. Hari semakin sore, tamu undangan mulai berkemah pulang, meninggalkan keluarga inti yang berkumpul di ruang tamu untuk sekedar bercengkerama santai, melepas penat setelah seharian penuh acara. Bapak Haryo dan Ayah Fahmi tampak asyik berputar-putar sambil menyeruput kopi hitam, membahas hal-hal ringan mulai dari pekerjaan hingga rencana ke depan.Fahmi yang sedari tadi terus berada di sisi Nisa, kini ikut duduk lesehan bersama kakak-kakaknya, membahas tentang pekerjaan di *dealer* dan bagaimana ia merencanakan masa depan mereka. Nisa yang duduk di samping Ibu mertuanya, mendengarkan ceramah tersebut sambil sesekali tersenyum. Ibu mertuanya menggenggam tangan Nisa, mengelusnya dengan penuh kasih."Nisa, besok lusa kalau kalian sudah pindah ke rumah kami sementara, jangan sungkan-sungkan ya. Anggap rumah sendiri. Ibu sudah siapkan kamar yang nyaman untuk kalian berdua," kata Ibu mertuanya dengan nada keibuan yang kental.Nisa mengangguk hormat. "Iya Bu. Terima kasih banyak. Mohon bimbingannya ya Bu, Nisa masih harus banyak belajar menjadi istri yang baik. sopan itu kini adalah imamnya, nahkoda bagi bahtera rumah tangganya. Perjalanan ini masih panjang, akan ada proses adaptasi dan pembelajaran satu sama lain. Namun, dengan fondasi keluarga yang baik dari kedua belah pihak, serta niat yang lurus karena ibadah, Nisa percaya bahwa cerita rumah tangganya kelak akan dipenuhi dengan kedamaian, keberkahan, dan cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Inilah lembaran pertama dari buku kehidupan mereka, sebuah awal yang suci, tenang, dan penuh dengan harapan baik di masa depan.2325Please respect copyright.PENANAQhumcqza50
ns216.73.217.22da2
LIKES 0
READS 2321
BOOKMARKS 10
campaign
Request update 0
Sponsor
Login with Facebook
or Sign up/Login to comment or bookmark! Click to load the next chapter
Read the whole book: HK$200
x
will be deducted
will be deducted Your current coin balance: 0Click to buy coins
A recurring charge will be deducted , unless you decide to cancel. You can cancel your subscription at any time.
You can also pay with credit card
X
After each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
X
Sponsor again
Click to login
Login first to show your name as a sponsor.
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
×
Kehangatan dari Menantuku
Drama
Marriage
Romance
Last updated: Jun 10, 2026
Total word count: 28,504
Total reading time: 132 Minutes
Writer:
ceritadewasa
ceritaseks
ceritalucah
ceritapanas
ntr
berselingkuh
suamiygistrinyatdksetia
ayahmertua
penanganperempuan
Report this story
×
Write down what you like about the story
×
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default
×
People Who Like This
x
Before You Publish
Please ensure your story does not contain illegal, hateful, inciting, or violence-promoting content, or any infringing, plagiarized, or spam material, and that it complies with Penana’s Terms of Use.
Penana reserves the right to remove any content that violates these rules or causes legal or community risk, and to suspend or terminate related accounts.
