Namanya Siti. Usia 42 tahun, istri dari seorang suami yang sudah dua tahun terbaring sakit di rumah. Tubuhnya tetap terjaga meski melahirkan dua anak perempuan yang kini sudah 22 dan 20 tahun. Siti selalu tampil tertutup: hijab panjang, baju kurung longgar, rok sampai mata kaki. Wajahnya polos, lugu, jarang sekali berdandan. Tetangga mengenalnya sebagai ibu rumah tangga yang pemalu dan sangat menjaga diri.Setelah suaminya tak bisa lagi mencari nafkah, kebutuhan rumah tangga semakin berat. Dua anaknya masih kuliah, biaya hidup naik. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Siti mulai berjualan live di salah satu platform. Awalnya hanya jualan mukena, kerudung, dan baju muslimah. Ia duduk di depan kamera dengan hijab rapi, suara lembut, malu-malu menjelaskan barang.Malam itu, setelah live selesai, ponselnya bergetar. Seorang penonton bernama Udin mengirim pesan pribadi.Udin: "Bu, live-nya bagus. Ibu orangnya sopan banget, tertutup gitu. Bikin saya penasaran."Siti hanya membaca, tak berani balas. Tapi besoknya Udin kirim lagi, kali ini dengan bukti transfer Rp500.000.Udin: "Ini buat ibu. Tolong balas ya. Saya suka wanita seperti ibu. Tertutup, polos, tapi anggun."Karena kebutuhan mendesak — tagihan listrik dan uang kuliah anak — Siti akhirnya membalas dengan sopan. Mulai dari situ, percakapan mereka berlanjut setiap malam.Udin, pria berusia 28 tahun, punya fetish khusus: wanita-wanita tertutup, berhijab, yang terlihat suci dan tak tersentuh. Ia bosan dengan perempuan yang terbuka dan vulgar. Baginya, Siti adalah mimpi basah yang hidup.Lambat laun, permintaannya naik.Udin: "Bu, kirim foto ibu pakai hijab yang sekarang, tapi dekatkan ke wajah. Saya kasih Rp1 juta."Siti ragu. Tangan gemetar. Tapi ia ingat anak-anaknya yang butuh makan besok. Dengan hati berdebar, ia mengambil foto close-up wajahnya yang polos, hijab menutupi rambut dan dada, lalu kirim.Udin langsung transfer. Pujiannya membuat Siti malu sekaligus anehnya… agak bangga.Udin: "Cantik sekali, Bu. Mata ibu lugu banget. Sekarang tolong foto dari leher ke atas, hijab tetap dipakai, tapi buka sedikit kerah baju kurungnya… cuma sedikit ya."Siti menurut. Ia membuka dua kancing paling atas, memperlihatkan tulang selangka dan sedikit lekukan dada yang masih kencang. Foto itu ia kirim dengan pipi memerah.Malam demi malam, permintaan Udin semakin berani, tapi selalu menjaga tema fetish-nya: tetap ada hijab, tetap terlihat "tertutup" tapi perlahan terbuka hanya untuknya.Suatu malam, setelah transfer Rp3 juta, Udin meminta video call singkat. Siti menolak keras pada awalnya."Tapi Bu… anak ibu butuh uang semester kan? Saya cuma mau lihat ibu live seperti biasa, tapi khusus untuk saya. Hijab tetap full, janji."Karena kebutuhan, Siti akhirnya setuju. Di kamarnya yang temaram, hanya diterangi lampu meja, ia duduk di depan ponsel. Hijab panjang, baju kurung longgar. Udin di layar lain tersenyum penuh nafsu."Lambat-lambat buka kerahnya, Bu… pelan saja. Saya suka lihat ibu yang malu-malu begini."Siti menurut dengan suara bergetar. Satu kancing… dua… tiga. Dada montoknya yang selama ini selalu tertutup rapat mulai terlihat. Putingnya yang cokelat muda mengeras karena dingin dan ketegangan.Udin mendesah. "Bagus sekali… Sekarang angkat rok ibu sedikit, tunjukkan paha. Hijabnya jangan dilepas."Siti gemetar. Ia angkat rok sampai pertengahan paha, memperlihatkan kulit putih mulus yang jarang terkena sinar matahari. Udin meminta ia menyentuh sendiri dada dan paha sambil tetap berhijab, suara polosnya mengeluarkan desahan kecil karena malu dan sensasi baru yang aneh.Dari situ, Siti semakin terbiasa. Setiap kali Udin kirim uang dalam jumlah besar, ia menuruti permintaan yang semakin intim: foto tanpa bra tapi hijab tetap dipakai, video sedang menggosok payudaranya sendiri sambil berbisik "Udin… ini hanya untuk kamu", bahkan suatu malam ia mengirim video pendek saat ia memasukkan jari ke dalam dirinya yang sudah basah, rok terangkat, hijab tetap menutupi kepala dan leher.Siti yang dulu sangat lugu kini mulai merasakan getaran aneh setiap kali ponsel bergetar dari Udin. Rasa bersalah bercampur dengan kebutuhan dan sensasi baru yang membuat tubuhnya panas.Anak-anaknya tak pernah tahu. Mereka hanya melihat ibu mereka semakin sering "live jualan" malam-malam, dan uang terus mengalir masuk.Sementara Udin, semakin ketagihan dengan istri tertutup yang polos ini. Baginya, melihat Siti yang dulu suci perlahan-lahan terbuka hanya untuknya adalah kenikmatan tertinggi.338Please respect copyright.PENANAqI8Na7kGMJ
ns216.73.217.22da2


