Aku, Arkan, duduk di balkon apartemenku yang kecil di lantai delapan, cahaya lampu kota menyapu wajahku yang lelah setelah seharian bekerja sebagai desainer grafis freelance. Tangan kananku memegang gelas whiskey murahan, sementara pikiranku melayang pada satu sosok yang sudah berbulan-bulan menguasai setiap detak jantungku.
5581Please respect copyright.PENANAmaXt59DAlS
Namanya Laksmi.
5581Please respect copyright.PENANAorecCvHMRo
Laksmi Wardhana. Wanita yang membuatku merasa seperti remaja lagi setiap kali melihatnya. Usianya 29 tahun, tiga tahun lebih tua dariku, tapi aura kematangannya terasa seperti anggur yang sudah sempurna difermentasi—kaya, memabukkan, dan sedikit berbahaya. Kulitnya kuning langsat yang halus, rambut hitam lurus sepunggung yang selalu tergerai indah, dan mata cokelatnya yang tajam tapi kadang lembut saat tersenyum. Tubuhnya... ah, Tuhan, tubuhnya adalah mahakarya. Payudaranya penuh dan tegang, selalu terlihat menggoda di balik blus sutra yang ia kenakan, pinggangnya ramping, bokongnya montok dan berbentuk sempurna seperti persik matang yang siap dipetik, serta kaki jenjangnya yang panjang dan mulus.
5581Please respect copyright.PENANAdyemIrFoL8
Aku mengenalnya karena ia adalah klien tetapku. Perusahaan keluarganya yang besar di bidang properti sering memesan desain branding dan materi promosi dariku. Pertemuan kami selalu di kantornya yang mewah di Sudirman, tapi kadang ia mengajakku ke rumah megahnya di kawasan elite Pondok Indah untuk diskusi yang lebih santai. Di sana, aku selalu melihatnya.
5581Please respect copyright.PENANAI1UlNKNyWq
Dan di sana pula aku melihat *dia*—sopir pribadinya.
5581Please respect copyright.PENANApqUfY5ZKQP
Namanya Budi. Pria berusia sekitar 35 tahun, tubuhnya tegap dan berotot karena dulu pernah jadi tentara. Kulitnya sawo matang, rahang tegas, dan tatapannya selalu tenang tapi penuh kendali. Ia bukan sekadar sopir. Ia seperti bayang-bayang Laksmi yang setia, selalu ada di dekatnya, membukakan pintu mobil mewahnya, membawa tasnya, bahkan kadang terlihat berbisik pelan padanya dengan senyum kecil yang membuat dadaku sesak.
5581Please respect copyright.PENANA5BVFO0PZTb
Malam ini, seperti biasa, aku membuka laptop dan membuka folder rahasiaku. Di dalamnya ada foto-foto Laksmi yang kuambil diam-diam saat pertemuan. Bukan foto vulgar, tapi cukup untuk membangkitkan imajinasiku. Foto saat ia membungkuk sedikit saat mengambil dokumen, sehingga payudaranya yang besar hampir menyembul dari kemeja. Foto saat roknya naik sedikit memperlihatkan paha mulusnya yang putih.
5581Please respect copyright.PENANArD2IUldO2w
Jemariku bergerak pelan di atas celana pendekku. Sudah setengah tegang. Aku menutup mata, membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang boleh menyentuhnya.
5581Please respect copyright.PENANA7OE6LGfIRj
Tapi aku tahu, aku hanya bisa membayangkan.
5581Please respect copyright.PENANA9RT7Ges2Oo
Hubungan kami masih sebatas profesional dengan sedikit keakraban. Laksmi selalu ramah, suaranya lembut dan berwibawa. Ia sering tertawa saat aku bercanda soal desain, dan kadang tatapannya tertahan lebih lama di mataku. Tapi ia juga selalu menjaga jarak. "Arkan, kamu memang berbakat," katanya suatu hari sambil menyentuh lengan ku sekilas. Sentuhan itu seperti listrik yang menjalar sampai ke selangkangan ku.
5581Please respect copyright.PENANA942EJfgQjy
Aku menghela napas panjang. Malam semakin larut. Aku memutuskan untuk tidur, tapi sebelumnya, seperti biasa, aku membuka aplikasi chat kami.
5581Please respect copyright.PENANAukUqjw4JS6
**Arkan:** Bu, desain terbaru sudah saya kirim lewat email. Besok pagi bisa review?
5581Please respect copyright.PENANAAhZJRJPUYb
Balasannya datang cepat, padahal sudah jam 11 malam.
5581Please respect copyright.PENANAgChZknhzSP
**Laksmi:** Terima kasih, Arkan. Kamu memang cepat. Besok sore saya ada waktu luang di rumah. Bisa datang langsung? Biar kita bahas sambil minum kopi. Sopir saya akan jemput kamu jam 3.
5581Please respect copyright.PENANALNfY8lCzfc
Jantungku berdegup kencang. Ke rumahnya lagi. Sendirian.
5581Please respect copyright.PENANAd19v48i59G
**Arkan:** Baik, Bu. Saya siap.
5581Please respect copyright.PENANAUxDcrx8IuL
**Laksmi:** Jangan panggil Bu terus dong. Laksmi aja.
5581Please respect copyright.PENANAzhc03D5lU5
Senyum kecil terukir di bibirku. Malam itu aku tidur dengan mimpi yang basah, penuh bayangan tanganku menyusuri lekuk tubuhnya yang sempurna.
5581Please respect copyright.PENANAJShj9SYFRH
---
5581Please respect copyright.PENANAjGVKVJw2OR
Keesokan sorenya, tepat jam 3, mobil Mercedes hitam mengkilap berhenti di depan apartemenku. Budi keluar, membukakan pintu belakang untukku dengan sopan. Tatapannya datar, tapi aku merasa ada sesuatu di baliknya.
5581Please respect copyright.PENANAJ2JlxghqcX
"Mas Arkan, silakan," katanya dengan suara berat yang tenang.
5581Please respect copyright.PENANArkso4Txvod
Sepanjang perjalanan, aku diam. Budi sesekali melirik ke spion tengah. "Mas Arkan sering ke rumah Bu Laksmi ya?" tanyanya tiba-tiba.
5581Please respect copyright.PENANAc47UnJZoXI
"Iya, Mas. Kerja sama proyek," jawabku singkat.
5581Please respect copyright.PENANA0u1u3xo4Tv
Ia mengangguk. "Bu Laksmi orangnya baik. Tapi kadang kesepian juga. Suaminya sering di luar negeri."
5581Please respect copyright.PENANAU9QBaHVPfJ
Informasi itu seperti pisau yang menusuk pelan. Aku tahu Laksmi sudah menikah, tapi suaminya jarang ada. Itu salah satu alasan kenapa fantasi ku semakin liar.
5581Please respect copyright.PENANAoEJ2Kp3xoH
Rumahnya luas, halamannya hijau dengan kolam renang di belakang. Laksmi menyambutku di teras dengan gaun rumah longgar berwarna krem yang tipis. Gaun itu menempel lembut di tubuhnya, memperlihatkan garis payudara yang penuh dan putingnya yang samar-samar terbayang karena tidak memakai bra.
5581Please respect copyright.PENANApCDs8mU0CK
"Arkan, datang juga," katanya sambil tersenyum manis. Ia memelukku sekilas, aroma parfum vanila dan tubuh hangatnya menyeruak ke hidungku. Payudaranya yang montok menyentuh dada ku sebentar, membuatku langsung setengah tegang.
5581Please respect copyright.PENANABm86GDHA5Q
Kami duduk di ruang tamu yang nyaman. Kopi dan kue sudah tersedia. Obrolan kami mengalir pelan, dari desain, ke proyek baru, lalu ke kehidupan pribadi.
5581Please respect copyright.PENANAOgDSpfyI9l
"Kamu belum punya pacar ya, Arkan?" tanyanya sambil menyesap kopi, matanya menatapku dalam.
5581Please respect copyright.PENANAyVj4Vvw4Nh
"Belum, Laksmi. Sibuk kerja," jawabku sambil tersenyum malu.
5581Please respect copyright.PENANAcv7UH12obX
Ia tertawa pelan, suaranya seperti musik. "Pria setampan kamu kok masih sendiri? Pasti banyak yang ngejar."
5581Please respect copyright.PENANAKcZfmQ4FXO
Kami terus berbicara. Lama. Sangat lama. Ia bercerita tentang pernikahannya yang hambar, suaminya yang lebih sibuk dengan bisnis daripada dirinya. Aku mendengarkan dengan saksama, sesekali memberi komentar yang membuatnya tertawa lagi. Jarak di antara kami semakin dekat di sofa panjang itu. Lututnya hampir menyentuh lututku.
5581Please respect copyright.PENANAQkDBmfN24e
Tiba-tiba ia berdiri. "Ayo, kita lanjut di ruang kerja atas. Desainnya mau saya lihat di layar besar."
5581Please respect copyright.PENANAvlXXVo1KJ4
Aku mengikuti. Tangga rumahnya sempit, dan ia naik di depanku. Gaunnya naik sedikit, memperlihatkan paha mulusnya yang putih dan bokong yang montok bergoyang pelan dengan setiap langkah. Aku menelan ludah. Bayangan memeknya yang mungkin sudah basah di balik celana dalam tipis itu membuat darahku berdesir.
5581Please respect copyright.PENANAbJ4ZXaKA5C
Di ruang kerja, ia duduk di kursi besar, aku di sampingnya. Kami membahas desain. Tangannya sesekali menyentuh tanganku saat menunjuk layar. Sentuhan itu lama. Hangat.
5581Please respect copyright.PENANA1wSWMCk6ke
"Arkan... kamu peka sekali," bisiknya tiba-tiba, suaranya lebih rendah. "Bisa baca keinginan orang."
5581Please respect copyright.PENANAVkQUXGdRdI
Aku menoleh. Wajah kami sangat dekat. Bibirnya merah alami, sedikit terbuka. Aku bisa mencium napasnya yang manis.
5581Please respect copyright.PENANA6aPFrBEPeg
"Laksmi..." suaraku parau.
5581Please respect copyright.PENANA0bHYU6suOZ
Ia tersenyum tipis, tapi tidak menjauh. "Kamu tahu tidak, kadang aku merasa bosan dengan rutinitas ini. Suami jarang pulang. Rumah besar ini terasa sepi."
5581Please respect copyright.PENANAsl7K6rvBrS
Jantungku berdegup semakin kencang. Tangan kanannya bergerak pelan, menyentuh paha ku sekilas. "Kamu... tenang sekali di dekatku. Aku suka itu."
5581Please respect copyright.PENANAVvsV2swhQJ
Kami diam cukup lama, saling tatap. Ketegangan di udara terasa tebal. Aku ingin menciumnya saat itu juga, tapi aku menahan diri. Ini baru awal.
5581Please respect copyright.PENANA08gJWycZzW
Tiba-tiba terdengar suara langkah di koridor. Budi muncul di pintu, membawa nampan minuman dingin.
5581Please respect copyright.PENANAn5gezwmRVJ
"Bu, ini es tehnya," katanya sopan.
5581Please respect copyright.PENANAUDtYSFW0qY
Laksmi menarik tangannya pelan dari pahaku. "Terima kasih, Budi. Kamu istirahat saja dulu."
5581Please respect copyright.PENANAy2W4DfxAYj
Budi mengangguk, tapi sebelum pergi, matanya sempat bertemu dengan mataku. Ada sesuatu di tatapannya—seperti tahu apa yang sedang terjadi. Senyum kecil di bibirnya membuat bulu kudukku berdiri.
5581Please respect copyright.PENANAsh5XBPJIWQ
Setelah Budi pergi, suasana kembali hangat. Laksmi mendekat lagi.
5581Please respect copyright.PENANA3vECmvMdDh
"Kamu tahu, Arkan," katanya pelan sambil mencondongkan tubuhnya, "kadang aku suka membayangkan hal-hal yang... tidak seharusnya."
5581Please respect copyright.PENANANNxv1jAJQD
"Apa maksudmu?" tanyaku, suaraku hampir bergetar.
5581Please respect copyright.PENANAFHfsCFH3aB
Ia tersenyum nakal. "Nanti saja kita bahas. Sekarang... fokus ke desain dulu ya."
5581Please respect copyright.PENANA0nxVYGkYN5
Obrolan kami berlanjut, tapi sekarang penuh dengan sentuhan kecil, tatapan lama, dan kata-kata yang bermakna ganda. Aku menceritakan betapa aku mengaguminya sejak pertama bertemu. Ia mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali menggigit bibir bawahnya yang penuh.
5581Please respect copyright.PENANAIr4jsfA4OE
Waktu berlalu tanpa terasa. Sore berganti senja. Kami pindah ke balkon kamar utamanya yang menghadap taman belakang. Angin malam meniup gaunnya, memperlihatkan siluet tubuhnya yang indah. Payudaranya naik turun pelan mengikuti napasnya.
5581Please respect copyright.PENANAaPnH6va3Sp
"Arkan, duduk di sini," katanya sambil menepuk kursi di sebelahnya.
5581Please respect copyright.PENANAByV7Mll7sP
Aku duduk. Bahu kami bersentuhan. Ia menyandarkan kepalanya sebentar di bahuku.
5581Please respect copyright.PENANApwuDfbIHQ8
"Aku nyaman sama kamu," bisiknya. "Lebih nyaman daripada seharusnya."
5581Please respect copyright.PENANAoZRIfY8qzD
Tangan kami bertautan. Jari-jarinya panjang dan lembut. Aku membelai punggung tangannya pelan, naik ke lengan, lalu ke bahu. Kulitnya halus seperti sutra.
5581Please respect copyright.PENANAjSLu59YBU7
Kami terus berbicara. Tentang mimpi, keinginan yang terpendam, kesepian. Ia bercerita betapa ia merindukan sentuhan yang penuh gairah, bukan rutinitas. Aku mengaku bahwa aku sering memikirkannya di malam hari.
5581Please respect copyright.PENANAUTVH8dHvwV
"Memikirkanku bagaimana?" tanyanya, suaranya menggoda.
5581Please respect copyright.PENANAdxHdN3A7kU
"Dengan cara yang... sangat intim," jawabku jujur.
5581Please respect copyright.PENANA1NsZhWzKka
Ia tertawa pelan, tapi pipinya merona. "Kamu berani juga."
5581Please respect copyright.PENANA04TuSvvxlN
Malam semakin gelap. Lampu taman menyala redup. Ketegangan di antara kami semakin membara. Aku bisa merasakan putingnya yang mengeras di balik gaun tipis saat ia mendekat. Bokongnya yang montok bergeser pelan di kursi.
5581Please respect copyright.PENANA2F9Nke1Afj
Tapi kami masih menahan diri. Hanya sentuhan, bisikan, dan tatapan.
5581Please respect copyright.PENANAd5uZ1f2IsF
Sampai tiba-tiba ia berdiri dan berkata, "Ayo masuk. Malam sudah larut. Kamu bisa menginap di kamar tamu kalau mau. Besok kita lanjut diskusi pagi-pagi."
5581Please respect copyright.PENANAGSEx7enjjs
Aku mengangguk. Tapi saat kami berjalan menuju kamar tamu, ia berhenti di depan kamar utamanya.
5581Please respect copyright.PENANAIAKEUo7g9B
"Arkan... kamu boleh lihat-lihat koleksi buku saya di sini dulu kalau mau," katanya.
5581Please respect copyright.PENANAWKxGo8wCDp
Aku masuk. Kamarnya mewah, tempat tidur king size dengan seprai sutra. Bau tubuhnya memenuhi ruangan.
5581Please respect copyright.PENANA8oop0xmbZT
Ia berdiri di belakangku, sangat dekat. Napasnya menyapu tengkukku.
5581Please respect copyright.PENANAsvMvTg3fbz
"Arkan..." panggilnya lembut.
5581Please respect copyright.PENANAPI1CtQJGlW
Aku menoleh. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti.
5581Please respect copyright.PENANA9EE6v5gBzo
Ini dia. Titik di mana segalanya bisa berubah.
5581Please respect copyright.PENANAGywFe01MlH
Tapi sebelum bibir kami bertemu, terdengar suara pintu terbuka pelan di lantai bawah.
5581Please respect copyright.PENANA9XafClIUU9
Budi.
5581Please respect copyright.PENANA309CX5XtD8
Laksmi tersenyum tipis, mundur selangkah. "Dia pasti mau lapor sesuatu. Tunggu sini ya."
5581Please respect copyright.PENANAtoLSVtKQ6b
Ia keluar kamar. Aku ditinggal sendirian dengan jantung berdegup kencang dan kejantanan yang sudah sangat tegang.
5581Please respect copyright.PENANAqlAcTmgwKP
Aku mendekati jendela yang sedikit terbuka menghadap garasi samping. Dan di situlah aku melihatnya.
5581Please respect copyright.PENANAMQ4qtqtKDP
Laksmi dan Budi di dekat mobil. Budi sedang memeluk pinggang Laksmi dari belakang. Tangan besarnya meremas pelan payudaranya yang penuh dari luar gaun. Laksmi mendongak, bibirnya terbuka, menikmati sentuhan itu.5581Please respect copyright.PENANAQ7zRXhUXKS


