Bab 4: Api yang Mulai Menyala
177Please respect copyright.PENANAoZ36gnGGIW
Malam keempat sejak Aisyah menemukan catatan rahasia suaminya, rumah di perumahan Muslim modern Jakarta Selatan terasa semakin pengap meski hujan deras masih mengguyur tanpa henti di luar jendela. Udara malam yang lembab menempel di kulit, menciptakan sensasi lengket yang aneh di seluruh tubuh. Di dalam kamar tidur utama yang luas, cahaya lampu tidur kuning temaram menyinari sosok Aisyah yang sedang berdiri di depan cermin besar dengan tangan gemetar.
177Please respect copyright.PENANAuhLfwmhyD9
Hijab putih suci masih terpasang sempurna di kepalanya, menutupi rambut hitam panjang yang terurai hanya di depan suami. Gamis tidur longgar berwarna putih susu menjuntai hingga lantai, tapi malam ini Aisyah sengaja memilih kain yang sedikit lebih tipis. Tubuh montoknya terasa panas dari dalam, payudara D-cup yang berat naik turun mengikuti napasnya yang cepat, pinggul lebarnya sedikit bergoyang saat ia berjalan mondar-mandir.
177Please respect copyright.PENANAcIL0AzUA20
“Ya Allah… aku sudah gila,” bisik Aisyah pada dirinya sendiri sambil memegang dada. “Tapi ini harus kulakukan. Mas Hasan sudah mulai kasar semalam. Ia menyukai hijabku yang tetap terpasang. Aku harus memberikan lebih. Ini bukan dosa… ini pengorbanan suci sebagai istri sholehah.”
177Please respect copyright.PENANA6vh5djNFwG
Batinnya terus mengulang rasionalisasi yang semakin kuat. Setiap kali rasa malu dan bersalah datang, ia langsung menekannya dengan kalimat “Ini untuk kebahagiaan suamiku. Allah pasti mengerti niat hamba-Mu yang tulus.”
177Please respect copyright.PENANAJvKNLM8hcp
Pintu kamar terbuka pelan. Hasan masuk dengan wajah yang sudah tidak lagi terlihat lelah seperti biasa. Ada cahaya berbeda di matanya — campuran antara cinta dan nafsu yang mulai terlepas kendali. Ia melihat hijab putih istrinya yang masih rapi, lalu menutup pintu dan menguncinya.
177Please respect copyright.PENANAopCusDjXmm
“Aisyah…” suaranya rendah dan serak. “Kamu sengaja malam ini, ya?”
177Please respect copyright.PENANApZHOpwnVET
Aisyah membalikkan badan, pipinya merona merah. Ia mengangguk pelan sambil menunduk malu-malu, tapi tubuhnya sengaja mendekat. “Iya, Mas. Aku ingin Mas merasa nyaman… dan bahagia.”
177Please respect copyright.PENANA4foxNMNQJH
Hasan mendekat dengan langkah lambat. Tangan kanannya langsung menyentuh hijab Aisyah, menarik kain itu pelan ke belakang hingga tarikan terasa di akar rambut. Aisyah mendesah kecil. Sensasi tarikan itu membuat kulit kepalanya merinding.
177Please respect copyright.PENANA8dgIa25vZZ
Tanpa banyak kata, Hasan menarik istrinya ke pelukannya. Ciuman mereka langsung dalam dan penuh nafsu. Lidahnya menyerbu masuk ke mulut Aisyah, menari liar, menghisap, dan menggigit bibir bawah istrinya hingga terasa sedikit sakit. Suara kecupan basah “chup… chup…” memenuhi kamar. Aisyah merespons dengan malu tapi semakin berani, tangannya memeluk leher suami erat.
177Please respect copyright.PENANAX8FPMJeZ5T
Tangan Hasan turun ke payudara montok Aisyah. Ia meremas keduanya dengan kuat melalui kain gamis, jari-jarinya menekan daging lembut itu hingga terasa nyeri manis. Puting puting Aisyah langsung mengeras seperti batu, menekan kain dengan jelas.
177Please respect copyright.PENANASiazLutC3U
“puting Mas… sudah keras sekali,” bisik Hasan di telinga istrinya dengan kata-kata yang jarang ia ucapkan sebelumnya.
177Please respect copyright.PENANAtZo7XFA1dp
Aisyah menggigil. “Iya, Mas… sentuh lebih kuat. Aku milik Mas.”
177Please respect copyright.PENANAM3dVnSBStz
Hasan menarik gamis tidur Aisyah ke atas hingga leher, memperlihatkan tubuh putih montok yang sempurna. Payudara besar itu terayun bebas. Ia langsung menunduk dan mengisap puting kiri dengan rakus. Suara hisapan basah “slurp… slurp…” terdengar jelas. Lidahnya menari di sekitar puting, sesekali menggigit pelan hingga Aisyah menjerit kecil.
177Please respect copyright.PENANAHO3cPyhGC6
“Ahh! Mas… sakit… tapi enak… jangan berhenti,” erang Aisyah. Tangan kanannya memegang kepala suami, mendorongnya lebih dalam ke payudaranya.
177Please respect copyright.PENANAI51cFeEsND
Sementara mulutnya sibuk dengan puting, tangan Hasan turun ke memek Aisyah. Ia menemukan celana dalam yang sudah basah kuyup. Dengan satu tarikan kuat, kain itu robek sedikit di sisi. Dua jari Hasan langsung masuk ke dalam memek yang panas dan licin. Gerakannya cepat dan kasar, mengaduk-aduk cairan cairan orgasme yang melimpah.
177Please respect copyright.PENANAW9LrhIcyyC
“Slurp… slurp… slurp…” suara jari yang keluar masuk terdengar memalukan. Aisyah membuka paha lebih lebar, bokongnya bergoyang kecil mengikuti irama jari suami. Kakinya sudah mulai gemetar.
177Please respect copyright.PENANAFP4p1LqZqd
“Mas… aku sudah sangat basah… karena Mas,” bisik Aisyah dengan suara pecah. Air matanya mulai menggenang karena sensasi yang terlalu intens.
177Please respect copyright.PENANAooQtdrpdfM
Hasan menarik jari-jarinya yang basah oleh cairan orgasme Aisyah, lalu menunjukkannya ke wajah istrinya. “Lihat, istri sholehahku sudah banjir.”
177Please respect copyright.PENANAw0N7Ogan8J
Aisyah memerah hebat, tapi ia malah membuka mulutnya. Hasan memasukkan dua jari itu ke mulut Aisyah. Istrinya mengisapnya dengan patuh, mengecap rasa manis asin cairannya sendiri. Sensasi itu membuat Hasan semakin keras.
177Please respect copyright.PENANAaRhcvgQTgU
Ia mendorong Aisyah hingga berbaring telentang di ranjang. Gamis yang sudah tersingkap tinggi dibiarkan begitu saja. Hasan membuka sarungnya, kontolnya yang besar, tegang, dan berdenyut muncul dengan ujung yang sudah basah oleh cairan bening.
177Please respect copyright.PENANA6ZamikfUha
Aisyah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Mas… pelan dulu ya… tapi… aku ingin merasakan yang lebih kasar.”
177Please respect copyright.PENANAgrqxwB962D
Hasan tersenyum tipis. Ia mengambil bantal dan meletakkannya di bawah pinggul Aisyah, membuat memek istrinya terangkat dan terbuka sempurna. Kemudian ia menunduk. Lidahnya menjilat memek Aisyah dari bawah ke atas dengan lambat, menikmati rasa manis cairan orgasme yang melimpah. Ia mengisap kristoris kecil di puncak memek dengan kuat hingga Aisyah menjerit dan tubuhnya melengkung tinggi.
177Please respect copyright.PENANANbGo41DVVP
“Ngghhh!!! Mas… di situ… terlalu sensitif!” jerit Aisyah. Tangan kirinya mencengkeram seprai, tangan kanannya mencengkeram hijabnya sendiri.
177Please respect copyright.PENANAVxELxUBHbm
Hasan terus menjilat, menghisap, dan sesekali memasukkan lidahnya ke dalam lubang memek. Bau intim yang kuat memenuhi hidungnya. Aisyah merasa panas, dingin, dan bergetar di seluruh tubuh. Kakinya gemetar hebat, jari kakinya melengkung.
177Please respect copyright.PENANAst1pGGCALV
Setelah hampir sepuluh menit foreplay yang panjang dan melelahkan, Hasan bangkit. Ia menempatkan ujung kontolnya di pintu memek Aisyah yang sudah sangat licin.
177Please respect copyright.PENANA2tB73QEqcx
“Dengan hijab yang tetap terpasang… kamu benar-benar istri idamanku,” bisiknya.
177Please respect copyright.PENANA46DrD6OxVp
Lalu ia mendorong masuk dengan satu hantaman kuat hingga pangkal.
177Please respect copyright.PENANA7mGwC3TKWD
“Ahhhhhhhhh!!!” jerit Aisyah panjang. Sensasi meregang yang luar biasa membuat memeknya terasa penuh sekali. Dinding-dindingnya berdenyut hebat menggenggam kontol suaminya.
177Please respect copyright.PENANAkLHXQyDE5Z
Hasan mulai bergerak dengan ritme kasar. Setiap dorongan menghantam sangat dalam hingga ujung kontolnya menyentuh bagian paling dalam. Suara “plok! plok! plok!” basah dan keras memenuhi kamar. Payudara Aisyah bergoyang-goyang liar, putingnya yang basah oleh air liur berkilauan.
177Please respect copyright.PENANAZwQ8lbNjiu
“Enak, Sayang? memekmu sangat sempit dan panas,” kata Hasan sambil mencengkeram hijab Aisyah dengan satu tangan, menariknya sebagai pegangan.
177Please respect copyright.PENANAJCfQsiiQDV
“Iya Mas… lebih keras… robek aku jika perlu… aku milik Mas!” jawab Aisyah dengan suara mesum yang polos, air matanya mengalir deras karena kenikmatan yang membakar.
177Please respect copyright.PENANA4JULSaIvrA
Hasan semakin brutal. Ia mengangkat kedua kaki Aisyah ke atas bahunya, membuat posisi semakin dalam. Dorongannya semakin cepat dan kuat. Setiap hantaman membuat perut Aisyah terasa penuh dan bergoyang. Cairan mereka bercampur, mengalir keluar dari memek setiap kali kontol keluar.
177Please respect copyright.PENANAkhYPc8GvLM
Sensasi panas dari gesekan, dingin dari keringat yang mengalir, sakit dari hantaman dalam, dan kenikmatan yang membara bercampur aduk. Bau keringat, cairan intim, dan nafas mereka memenuhi ruangan. Suara erangan Aisyah semakin keras dan tak terkontrol.
177Please respect copyright.PENANAjaEql79n7X
“Mas… aku mau lagi… mau keluar lagi!” jeritnya.
177Please respect copyright.PENANADgGSiEiPdY
Hasan mempercepat. kontolnya berdenyut kuat di dalam. Dengan dorongan-dorongan terakhir yang sangat brutal, ia menyemburkan sperma panasnya dalam jumlah banyak dan kuat. Semprotan demi semprotan sperma tebal memenuhi memek Aisyah hingga perutnya terasa sedikit kembung dan penuh.
177Please respect copyright.PENANALIOEKZEBIw
Pada saat bersamaan, Aisyah mencapai orgasme keduanya yang lebih hebat. Tubuhnya mengejang hebat, memeknya berdenyut-denyut liar menggenggam kontol suami. cairan orgasme orgasmenya menyembur keluar menyemprot kontol Hasan. Kakinya gemetar tak terkendali, matanya memutar ke atas, air mata mengalir deras, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan panjang yang tercekat.
177Please respect copyright.PENANA6XHC4HTE5y
“Ya Allah… Mas… aku mati… terlalu enak…” bisiknya lemah setelah gelombang itu reda.
177Please respect copyright.PENANAiUmmjxIDxT
Hasan ambruk di atas tubuh istrinya yang berkeringat, masih menyatukan tubuh mereka. Ia mencium hijab Aisyah dengan penuh kasih sayang, kontras dengan kekasaran yang baru saja ia lakukan.
177Please respect copyright.PENANAroACOQ7YVJ
“Kamu luar biasa malam ini,” bisiknya.
177Please respect copyright.PENANAKPT3nFpzbI
Aisyah memeluk suaminya erat. memeknya yang masih penuh sperma terasa berat dan berdenyut pelan. Rasa bersalah masih ada, tapi sudah semakin tipis, digantikan oleh kepuasan dan hasrat yang semakin besar.
177Please respect copyright.PENANA0ALvyv0ekS
“Besok aku akan berikan lebih lagi, Mas,” batinnya. “Aku mulai menyukai ini.”
177Please respect copyright.PENANAMjGfoeKnm5
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 177Please respect copyright.PENANA9FGBkEoaWO
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah177Please respect copyright.PENANA5oxeCpEAfn
177Please respect copyright.PENANAFlpjDkkzQW


