Bab 2: Rahasia yang Terbongkar
184Please respect copyright.PENANACQY2kVhdqz
Malam berikutnya setelah Aisyah menemukan buku catatan kecil berwarna hitam itu, hujan kembali turun deras di perumahan Muslim modern Jakarta Selatan. Suara gemuruh petir sesekali menyela ketenangan rumah dua lantai mereka. Aisyah berbaring di ranjang dengan mata terbuka lebar, meski jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Hijab kremnya masih terpasang rapi, gamis tidur longgar menutupi seluruh tubuh montoknya. Payudara D-cupnya naik turun mengikuti napas yang tak teratur.
184Please respect copyright.PENANAcG0XAbiIlF
Ia tak bisa tidur. Pikirannya terus kembali ke lemari pakaian suami, ke buku catatan yang kini seolah membakar tangannya setiap kali teringat. Pagi tadi ia hanya sempat membaca beberapa halaman sebelum buru-buru menyimpannya kembali karena takut ketahuan. Tapi kata-kata itu sudah mengakar dalam benaknya.
184Please respect copyright.PENANAf1wPaqS039
“Besok siang, saat Hasan ke bank, aku harus membaca semuanya,” bisiknya dalam hati.
184Please respect copyright.PENANAkFTa39X71K
Pagi harinya berlalu seperti biasa. Aisyah menyiapkan sarapan dengan senyum yang dipaksakan. Hasan mencium keningnya seperti biasa sebelum berangkat kerja. Begitu mobil keluarga menghilang di ujung jalan, Aisyah langsung naik ke kamar tidur utama. Tangan putihnya yang halus gemetar saat membuka lemari dan mengambil buku catatan hitam itu.
184Please respect copyright.PENANAUQQr3cgluv
Ia duduk di lantai karpet lembut kamar, bersandar di sisi ranjang. Dengan napas tertahan, Aisyah membuka halaman demi halaman.
184Please respect copyright.PENANA6pr5X81faH
Tulisan tangan Hasan yang rapi dan tegas seolah berteriak di depan matanya:
184Please respect copyright.PENANArsQAqmz3mX
“Aku sangat mencintai Aisyah. Ia istri sholehah yang sempurna. Tapi nafsuku… aku ingin melihatnya menangis sambil hijab masih terpasang. Ingin merobek gamis syar’inya dari dada hingga pinggul, melihat puting merah jambunya yang besar dan montok terpapar begitu saja. Ingin mencengkeram lehernya pelan sambil mendorong kontolku ke dalam memeknya yang sempit…”
184Please respect copyright.PENANAR7nSmsEFFV
Aisyah menutup mulut dengan tangan. Wajahnya memerah hebat. Dadanya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Ia melanjutkan membaca, meski air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
184Please respect copyright.PENANA3Z6qp42Q29
Halaman berikutnya semakin gelap:
184Please respect copyright.PENANA3hCgW35ziM
“Aku ingin mengikat tangannya dengan tali mukena putih di musholla rumah. Membiarkannya berlutut di atas sajadah sambil aku masuk dari belakang. Ingin mendengar suaranya yang polos memanggil ‘Mas’ sambil memohon ampun karena merasa berdosa. Aku ingin memasukkan mainan-mainan ke dalam anal belakangnya yang masih suci, melihat perutnya sedikit kembung karena penuh, lalu melihat spermaku mengalir keluar dari memeknya yang berdenyut…”
184Please respect copyright.PENANAN123ektKUq
Tubuh Aisyah mulai panas. Ada getaran aneh di perut bawahnya. memeknya yang selama ini jarang disentuh dengan benar kini terasa lembab. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit, berusaha melawan sensasi yang muncul.
184Please respect copyright.PENANAfJrI8GpFDW
“Ya Allah… ampuni hamba-Mu,” gumamnya dengan suara bergetar. Tapi alih-alih menutup buku, ia malah membacanya lagi dari awal. Kali ini lebih perlahan, lebih teliti, seolah setiap kata Hasan meresap ke dalam jiwa dan raganya.
184Please respect copyright.PENANArZw7zLMptN
Ia membayangkan dirinya sendiri dalam fantasi-fantasi itu. Tubuh montoknya yang selama ini selalu tertutup rapat, kini dibayangkan dirobek gamisnya. putingnya yang sensitif terisap kasar, memeknya yang sempit dipaksa meregang menerima kontol suaminya dengan brutal. Air matanya jatuh ke kertas, membuat tinta sedikit luntur.
184Please respect copyright.PENANAaRwyZaa83e
Tapi di balik rasa shock dan malu yang luar biasa, ada api kecil yang mulai menyala. Tubuh sensitif Aisyah bereaksi. Putingnya mengeras, menekan kain gamis hingga terasa nyeri manis. Ia menekankan paha satu sama lain, merasakan kelembaban yang semakin bertambah di celah memeknya.
184Please respect copyright.PENANAj086buN6nW
“Ini ujian,” katanya dalam hati, mencoba merasionalisasi. “Allah sedang menguji aku sebagai istri. Mas Hasan takut mengatakan ini karena aku terlalu polos. Ia menahan diri selama dua tahun karena mencintaiku. Jika aku tak melakukan apa-apa, berarti aku gagal menjadi istri sholehah.”
184Please respect copyright.PENANAU4KR0QvZVr
Aisyah membaca ulang hampir sepuluh kali. Setiap kali selesai, ia merasa semakin terbiasa dengan kata-kata kasar itu. Rasa bersalahnya perlahan berubah menjadi tekad.
184Please respect copyright.PENANAAJVIHKylez
“Jika ini yang diinginkan Mas Hasan… aku harus memberikannya. Aku harus belajar. Aku harus berkorban.”
184Please respect copyright.PENANAd5HAbkBMfP
Sore menjelang, ia menyimpan kembali buku itu dengan tangan yang masih gemetar. Ia mandi air dingin di kamar mandi besar untuk menenangkan diri, tapi saat air mengalir di kulit putihnya yang halus, bayangan fantasi Hasan kembali muncul. Jari-jarinya tanpa sadar menyentuh kristoris kecil di puncak puting kirinya, membuatnya mendesah pelan.
184Please respect copyright.PENANAhlkO4jz4V3
Malam harinya, Hasan pulang dengan wajah lelah seperti biasa. Aisyah menyambutnya dengan pelukan yang lebih erat dari biasanya. Tubuh montoknya sengaja ditempelkan lebih lama, membiarkan payudaranya yang besar menekan dada suami.
184Please respect copyright.PENANAmc7mZbZJCB
“Mas… capek ya hari ini?” tanyanya dengan suara lembut, tapi ada getaran baru di dalamnya.
184Please respect copyright.PENANAS5sillO0K4
Hasan tersenyum, mencium keningnya. “Biasa saja, Sayang. Kamu baik-baik saja? Wajahmu agak merah.”
184Please respect copyright.PENANAR9WwrcfFeo
Aisyah menggeleng cepat. “Hanya kepanasan sedikit. Ayo sholat Maghrib berjamaah.”
184Please respect copyright.PENANAhABze9vfYE
Di musholla rumah, Aisyah sholat dengan khusyuk yang luar biasa. Tapi di setiap sujud, ia berdoa dalam hati: “Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk memenuhi kebutuhan suamiku. Meski jalan ini terasa gelap, aku lakukan ini karena cinta dan kewajibanku sebagai istri.”
184Please respect copyright.PENANAFLabt7jj0m
Setelah makan malam dan sholat Isya, mereka naik ke kamar tidur. Lampu diredupkan. Aisyah mengambil keputusan besar malam ini.
184Please respect copyright.PENANA7ymLZOR3En
Ia naik ke ranjang masih dengan hijab segi empat krem yang rapi terpasang. Biasanya ia melepas hijab sebelum tidur, tapi kali ini ia membiarkannya tetap ada. Ia berbaring miring, membelakangi Hasan, tapi sengaja mendorong bokong montoknya sedikit ke belakang.
184Please respect copyright.PENANAwAWRLRxnkM
Hasan naik ke ranjang, mematikan lampu. Ia memeluk Aisyah dari belakang seperti biasa. Tapi kali ini, saat tangannya menyentuh pinggang istrinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Hijab yang masih terpasang membuat napasnya tertahan sejenak.
184Please respect copyright.PENANAXZQVeMKJo9
“Aisyah… hijabmu belum dilepas,” bisik Hasan pelan.
184Please respect copyright.PENANAFi3zJQvCS3
Aisyah pura-pura mengantuk. “Iya Mas… biarkan saja malam ini. Hangat.”
184Please respect copyright.PENANAoLx7sDCQGT
Hasan diam. Tapi Aisyah bisa merasakan kontol suaminya mulai mengeras di balik kain sarung, menekan celah bokongnya. Jantung Aisyah berdegup kencang. Ini adalah kode pertamanya. Ia berharap suaminya mengerti.
184Please respect copyright.PENANAQWnAicmp87
Tangan Hasan yang biasanya lembut kini menyusup ke balik gamis dengan sedikit lebih kuat. Ia meremas pinggul Aisyah, lalu naik ke payudara montoknya. Remasan kali ini lebih kuat dari biasanya. Aisyah menggigit bantal untuk menahan desahan kecil.
184Please respect copyright.PENANA1U6LB5yXot
“Mas…” erangnya pelan.
184Please respect copyright.PENANAOY3B9x68RN
Hasan mencium tengkuk istrinya yang tertutup hijab. Napasnya mulai berat. kontolnya yang sudah sangat tegang menggesek bokong Aisyah dengan gerakan pelan tapi penuh hasrat tertahan.
184Please respect copyright.PENANAs96FtimpOP
Aisyah merasa memeknya sudah sangat basah. Cairan hangat keluar perlahan, membasahi celana dalamnya. Tubuhnya gemetar kecil. Rasa bersalah dan kenikmatan bercampur aduk dalam dadanya.
184Please respect copyright.PENANAE86OT66eGv
“Apakah ini yang Mas inginkan?” batinnya. “Kalau iya… aku siap berkorban lebih.”
184Please respect copyright.PENANA0yhCUaHDBA
Hasan akhirnya tak tahan. Ia membalik tubuh Aisyah hingga telentang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia mencium istrinya dengan penuh nafsu. Lidahnya masuk dalam, menari liar dengan lidah Aisyah yang polos. Suara kecupan basah terdengar di kamar yang sunyi.
184Please respect copyright.PENANAYxuSdnU2LN
Aisyah merespons dengan malu-malu tapi penuh semangat baru. Tangannya memeluk leher suami. Payudaranya naik turun cepat.
184Please respect copyright.PENANA5puiaC5Kzb
Ketika Hasan menarik gamisnya ke atas hingga pinggang, Aisyah tak menolak. Malah ia membuka paha sedikit lebih lebar.
184Please respect copyright.PENANAHSLk121j9M
Malam itu, meski belum mencapai kekasaran penuh seperti di catatan, Hasan lebih agresif dari biasanya. Ia masuk ke dalam memek Aisyah dengan satu dorongan kuat, membuat istrinya menjerit kecil karena sensasi penuh yang mendadak.
184Please respect copyright.PENANAW3xGFKfoKb
“Ahh… Mas… pelan…” bisik Aisyah, tapi kakinya melingkar di pinggang suami.
184Please respect copyright.PENANAH0sPqVZ6Qq
Hasan bergerak dengan ritme yang lebih cepat. Matanya sesekali melirik hijab yang masih terpasang rapi di kepala istrinya. Itu membuat nafsunya semakin membara.
184Please respect copyright.PENANAcncVys6j2f
Aisyah merasakan setiap dorongan. memeknya yang sempit meregang mengikuti ukuran kontol suaminya. Cairan mereka bercampur, menciptakan suara basah yang memalukan tapi erotis setiap kali bertemu.
184Please respect copyright.PENANA0JbdKGo3SD
Tak lama kemudian, Hasan mencapai puncak. sperma hangatnya menyembur kuat di dalam memek Aisyah, membuat perut istrinya terasa penuh dan hangat. Aisyah sendiri hampir mencapai klimaks, tapi belum sepenuhnya. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya mengejang kecil.
184Please respect copyright.PENANA9xQ8kte6wK
Hasan ambruk di atasnya, bernapas berat. Ia mencium hijab Aisyah dengan penuh kasih.
184Please respect copyright.PENANAFMUJqtfSXz
Aisyah memeluk suaminya erat, air mata mengalir pelan di pipinya.
184Please respect copyright.PENANAiSlJ89n17i
“Terima kasih, Mas… aku mencintaimu,” bisiknya.
184Please respect copyright.PENANAdE1xs2QGpZ
Dalam hati, ia berkata lain: “Ini baru permulaan. Aku akan menjadi istri yang kau inginkan. Apa pun itu.”
184Please respect copyright.PENANAUdynXcghnM
Malam itu, Aisyah tidur dengan hijab masih terpasang, memeknya yang masih penuh sperma suami terasa berdenyut pelan. Rasa bersalah, cinta, dan hasrat baru bercampur menjadi satu di dalam jiwanya yang sedang berubah.
184Please respect copyright.PENANADK5rwKu9mQ


