Hujan gerimis tipis masih membasahi aspal perumahan Green Valley saat Rian mematikan mesin mobil. Jam di dashboard nunjukin pukul setengah delapan malam. Biasanya arisan mulai jam tujuh, tapi Rina telat pulang dari kantor lagi.
Rian menghela napas pelan, tangannya masih nempel di setir yang agak lengket karena keringat. "Udah biasa sih," gumamnya dalam hati. Kerja WFH memang enak, tapi kadang bikin dia merasa kayak sopir istri sendiri.
Dia turun dari mobil, kemeja polo hitamnya agak nempel di punggung. Udara malam Jakarta yang lembab bikin baju cepet basah. Bau tanah basah campur asap knalpot tetangga yang baru pulang kerja menyeruak di hidungnya. Rumah Bu RT nomor 12 sudah terang benderang. Suara tawa ibu-ibu samar-samar keluar lewat jendela yang terbuka sedikit.
Rian dorong pagar yang agak berat itu. "Assalamualaikum..." sapanya pelan.
Dari dalam, suara Rina langsung nyambut, "Waalaikumsalam! Sayang, sini sini. Gue lagi bantu siapin kue."
Rian melangkah masuk. Ruang tamu rumah Bu RT sudah penuh. Ada sekitar dua belas ibu-ibu, kebanyakan umur 35 ke atas. Meja tengah penuh kue basah, bolu, sama kopi yang masih ngepul. AC nyala pelan, tapi tetap aja gerah karena banyak orang.
Matanya langsung nyari Rina. Istri dia lagi berdiri di dekat meja makan, pakai blouse putih yang agak ketat di bagian dada. Rambutnya diikat asal. Kelihatan capek, tapi masih sempat senyum ke arah Rian.
"Mas Rian ikut lagi ya malam ini?" tanya salah satu tante yang duduk di sofa panjang.
Rian mengangguk sopan. "Iya Tante, nemenin Rina aja. Kerjaannya udah kelar."
Tante itu tersenyum lebar. Itu Tante Lila. Janda kaya yang rumahnya paling besar di cluster ini. Tubuhnya subur, kebaya cokelatnya ketat banget di bagian dada. Teteknya yang besar itu kayak mau meledak tiap gerak. Usianya 42, tapi kulitnya masih kenceng. Rambutnya dyed cokelat muda, selalu wangi.
Di sebelahnya ada Tante Sinta. 38 tahun, istri pengusaha properti yang jarang pulang. Rok hitam selututnya naik sedikit pas duduk, nunjukin paha putih yang mulus. Bibirnya merah menyala, matanya agak sipit kayak lagi nilai orang.
Rian duduk di kursi kosong dekat Rina. Bau parfum Tante Lila langsung nyengat hidungnya. Wangi vanila campur sesuatu yang manis berat. Bikin kepalanya agak pening.
"Mas Rian makin ganteng aja tiap bulan," goda Tante Sinta sambil nyodorin secangkir kopi. Jarinya sengaja nyentuh punggung tangan Rian sebentar. Dingin. "Kerja di rumah terus ya? Pasti banyak waktu luang."
Rian tersenyum kaku. "Biasa aja Tante. Kerjaan numpuk juga."
Rina ketawa kecil sambil duduk di sebelahnya. "Emang sih, Mas Rian paling rajin di rumah. Gue yang sering lembur."
Obrolan arisan mulai mengalir. Bulan ini mereka kumpulin uang buat arisan ke-8. Ada gosip soal tetangga sebelah yang baru beli mobil mewah, suaminya katanya main perempuan di luar. Tante-tante pada heboh, suara mereka naik turun.
Tapi Rian ngerasa ada yang beda malam ini.
Tante Lila duduk persis di depannya. Tiap kali dia ngomong, matanya sering mampir ke arah Rian. Bukan sekadar liat, tapi agak lama. Tatapannya turun ke leher Rian, lalu ke dada yang agak terbuka kancing kemejanya.
Rian ngerasa tenggorokannya kering. Dia ngeloyor kopi, tapi rasa pahitnya malah nambah panas di perut.
"Mas Rian, tolong ambilin piring di rak atas dong," kata Tante Lila tiba-tiba. Suaranya lembut, tapi ada nada yang agak manja.
Rian bangun tanpa banyak tanya. Dia berdiri di belakang Tante Lila, tangannya meraih rak dapur yang agak tinggi. Tubuhnya hampir nyenggol punggung Tante Lila. Bau parfumnya makin kuat. Dada Tante Lila yang besar itu cuma berjarak beberapa senti dari lengannya.
Pas Rian turun lagi, sikunya nggak sengaja nyenggol pinggul Tante Lila. Lunak. Hangat.
"Maaf Tante," ucap Rian cepat.
Tante Lila cuma senyum. "Nggak apa-apa, Mas. Badan Tante emang agak... lebar di situ." Dia ketawa kecil, matanya berkilat.
Rian balik ke kursi dengan jantung yang agak lebih cepat. Rina lagi sibuk ngobrol sama yang lain, nggak notice apa-apa.
Tante Sinta yang sekarang. Dia lagi nyender ke meja, roknya naik sedikit lagi. Paha putihnya keliatan. Dia ngelirik Rian, lalu pura-pura ngambil tissue di dekat Rian. Dadanya hampir nyenggol lengan Rian.
"Maaf ya Mas, sempit," bisiknya pelan. Napasnya hangat di telinga Rian.
Satu detik. Dua detik. Rian ngerasa bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang bergerak pelan di bawah perutnya. Bukan nafsu besar, cuman pijar kecil yang muncul tiba-tiba.
Dia geser duduknya sedikit, berusaha fokus ke obrolan. Tapi pikirannya malah ke Tante Lila yang sekarang lagi nyilang kaki. Kain kebayanya naik, nunjukin betis yang mulus dan sedikit urat yang keliatan karena umur.
"Rian, lo nggak apa-apa?" tanya Rina pelan di telinganya.
"Enggak, sayang. Cuman gerah aja," jawab Rian sambil senyum.
Dia bohong.
Di dalam kepalanya, yang ada cuman bayangan tangan Tante Lila yang lembut, senyum Tante Sinta yang penuh arti, dan bau parfum yang masih nempel di kemejanya.
Arisan malam itu masih berjalan biasa. Tawa, gosip, hitung-hitung uang. Tapi buat Rian, ada sesuatu yang mulai retak pelan di dalam rutinitas yang biasa-biasa aja ini.
Dan dia belum sadar, retakan itu baru mulai.
Arisan mulai masuk ke sesi hitung uang. Suara koin dan lembaran seratus ribuan berderak di meja. Rina lagi sibuk catat di buku kecilnya, alisnya agak berkerut karena capek. Rian duduk di sebelahnya, tangannya nggak tahu harus ngapain. Dia coba bantu ngitung, tapi pikirannya malah melayang.
Tante Lila bangun dari sofa, kebaya cokelatnya agak naik di pinggul. Dia berjalan ke dapur, pinggulnya bergoyang pelan. Rian nggak sengaja ngikutin gerakan itu. Bulu kuduknya meremang lagi.
"Mas Rian, ikut Tante ke belakang dong. Bantuin angkat kardus snack yang baru dibeli," panggil Tante Lila dari dapur. Suaranya santai, tapi cukup keras biar yang lain denger.
Rina ngelirik sekilas. "Pergi aja sayang, bantuin Tante Lila."
Rian mengangguk. Kakinya terasa agak berat pas berdiri. Dapur rumah Bu RT itu sempit, lampu neon kuningnya bikin suasana agak pengap. Tante Lila sudah berdiri di depan rak tinggi, tangannya nunjuk kardus besar di atas.
"Ini Mas, yang biru itu. Berat banget, Tante nggak kuat angkat sendiri."
Rian mendekat. Tubuhnya hampir nempel di punggung Tante Lila. Bau vanila parfumnya langsung nyerang lagi, kali ini lebih kuat karena ruangan kecil. Dia angkat tangan, otot lengannya tegang pas narik kardus itu. Pas kardus turun, sikunya nyenggol pinggul Tante Lila lagi. Kali ini lebih lama.
Kulit Tante Lila hangat lewat kain tipis kebaya. Rian langsung narik tangan, tapi Tante Lila malah mundur sedikit, sengaja nempel lebih dekat.
"Maaf Tante..." gumam Rian.
Tante Lila ketawa pelan. "Mas Rian kok gampang banget minta maaf. Tante nggak marah kok." Dia balik badan, sekarang mereka berhadapan. Jaraknya cuma tiga puluh senti. Dada Tante Lila naik turun pelan, napasnya teratur tapi agak dalam.
Rian ngerasa tenggorokannya kering lagi. Matanya nggak bisa nggak turun sebentar ke lekukan leher Tante Lila yang agak basah keringat. Bau tubuhnya campur parfum bikin kepalanya pusing pelan. Bukan pusing sakit, tapi pusing yang aneh, yang bikin darah mengalir lebih cepat ke bawah.
"Mas Rian sering nemenin Rina arisan ya akhir-akhir ini?" tanya Tante Lila sambil nyender ke meja dapur. Roknya naik sedikit, nunjukin paha yang putih dan mulus.
"Iya Tante. Rina suka capek, gue nemenin biar nggak sendirian pulang malam."
Tante Lila nyengir. "Baguslah. Suami idaman emang gitu. Tapi... Mas Rian sendiri nggak capek? Kerja di rumah terus, tapi istri sibuk. Pasti ada yang... kurang."
Kata-kata itu menggantung. Rian ngerasa ada yang berdenyut pelan di selangkangannya. Dia geser kaki, berusaha nutupin reaksi tubuh yang mulai nggak nurut.
"Enggak kok Tante. Gue biasa aja," jawabnya, suaranya agak serak.
Tante Lila mendekat satu langkah. Sekarang jarak mereka tinggal dua puluh senti. Napasnya yang hangat nyentuh dada Rian. "Tante liat kok, Mas. Tiap Tante ngomong, mata Mas Rian suka melirik. Jujur aja deh... Tante emang suka godain yang muda gini."
Jantung Rian berdegup kencang. Instingnya bilang mundur, tapi kakinya kayak nempel di lantai. Tubuh Tante Lila deket banget, panasnya terasa lewat udara tipis di antara mereka. Ada desir aneh di perutnya, campur antara panik dan sesuatu yang lebih gelap.
Dia mundur setengah langkah, punggungnya nempel ke lemari es. "Tante... ini nggak bener."
Tante Lila cuma senyum tipis. Tangannya nyentuh lengan Rian pelan, jarinya dingin tapi nyetrum. "Nggak bener gimana? Kita cuma ngobrol di dapur. Yang lain di depan. Santai aja Mas."
Tapi sentuhannya nggak lepas. Jari Tante Lila ngusap pelan lengan Rian, naik ke bahu. Rian ngerasa bulu kuduknya berdiri semua. Darahnya panas. Dia bayangin tangan itu turun lebih bawah, dan langsung mengumpat dalam hati.
*Goblok. Ini Tante Lila. Istri lo di depan. Kenapa lo malah...*
Tante Sinta tiba-tiba muncul di pintu dapur. "Eh, kalian lama banget. Gue bantuin juga ya."
Dia masuk, ruangan jadi semakin sempit. Sekarang tiga orang di dapur kecil itu. Tante Sinta berdiri di samping Rian, bahunya nyenggol bahu Rian. Rok hitamnya ketat, bikin pinggulnya keliatan bulat.
"Mas Rian kok keringetan? Gerah ya?" tanya Tante Sinta sambil nyodorin tissue. Tangan dia sengaja nyentuh dada Rian pas nyodorin tissue itu. Pelan, tapi jelas.
Rian megap pelan. "Iya Tante... agak gerah."
Obrolan di ruang tamu masih rame. Tawa Rina terdengar samar. Tapi di dapur ini, suasananya beda. Tebal. Panas. Tante Lila masih berdiri di depan, Tante Sinta di samping. Dua tubuh matang yang wangi dan penuh pengalaman.
Tante Sinta berbisik pelan, "Mas Rian... kalau lagi kesepian, bilang aja sama Tante. Kita kan tetangga deket. Bisa bantu."
Kata "bantu" itu keluar dengan nada yang nggak salah dimengerti. Rian ngerasa batangnya berdenyut pelan di dalam celana. Bukan keras banget, tapi cukup buat dia sadar nafsunya mulai bangun.
Dia coba geser ke samping, tapi malah makin deket ke Tante Lila. Pinggulnya nyenggol pinggul Tante Lila. Lunak. Hangat. Rian langsung kaku.
"Maaf..." ucapnya lagi.
Tante Lila cuma ketawa kecil. "Mas Rian ini lucu banget. Gampang merah gitu mukanya."
Tante Sinta nyengir lebar. "Atau mungkin... ada yang lagi tegang di bawah?"
Rian ngerasa wajahnya panas. Dia buru-buru angkat kardus yang tadi, pura-pura sibuk. "Udah Tante, gue bawa ke depan."
Pas dia balik badan, Tante Sinta sengaja maju, dadanya nyenggol punggung Rian sebentar. Rian ngerasa listrik nyetrum dari punggung ke bawah.
Dia keluar dari dapur dengan napas yang agak memburu. Keringat dingin di punggungnya. Rina masih sibuk catat, nggak sadar apa-apa. Tapi Rian tahu, malam ini nggak biasa.
Di dalam kepalanya, bayangan pinggul Tante Lila, sentuhan Tante Sinta, dan bisikan mereka muter terus. Nafsunya yang tadinya cuma pijar kecil, sekarang mulai mendidih pelan.
Arisan masih lanjut. Tapi buat Rian, batas yang tadinya tegas antara tetangga dan nafsu, mulai retak lebih dalam.
Arisan mulai bubar pelan-pelan. Beberapa tante sudah pamit, bawa plastik kue sisa. Rina lagi sibuk beresin meja sambil ngobrol sama Bu RT di ruang tamu. Suaranya riang, nggak sadar apa-apa yang terjadi di dapur tadi.
Rian berdiri di teras belakang, pura-pura ngecek hujan yang masih gerimis. Udara malam makin dingin, tapi tubuhnya panas. Dia nyalain rokok, tarik napas dalam. Asapnya keluar pelan, tapi nggak bisa ngebuang bayangan pinggul Tante Lila dan sentuhan Tante Sinta.
"Mas Rian sendirian aja?"
Suara Tante Lila muncul dari belakang. Dia keluar lewat pintu samping, roknya agak basah kena gerimis. Rambutnya sedikit acak-acakan karena angin. Senyumnya nggak polos lagi.
"Iya Tante, nunggu Rina beres," jawab Rian sambil matiin rokok di asbak.
Tante Lila mendekat. Langkahnya pelan, sengaja. "Rina masih lama kayaknya. Tante ada barang di mobil, tolong bantuin angkat ya. Di garasi sebelah."
Rian ragu sebentar. Tapi dia ngangguk. Mereka berjalan bareng ke garasi rumah Bu RT yang agak gelap. Lampu sensor nyala pelan, cahayanya kuning temaram. Bau bensin campur tanah basah.
Tante Lila buka bagasi mobilnya. "Ini kardus kecil, Mas. Tapi agak susah diangkat sendiri."
Pas Rian membungkuk ngambil kardus, Tante Lila maju dari belakang. Tubuhnya nempel ke punggung Rian. Dada yang lembut dan hangat nyenggol punggungnya kuat. Rian langsung kaku total.
"Tante..." suaranya serak.
"Sttt..." Tante Lila bisik di telinga Rian. Napasnya panas, bibirnya hampir nyentuh cuping telinga. "Cuma bentar kok. Tante pengen deket-deket sama Mas Rian malam ini."
Tangan Tante Lila melingkar di pinggang Rian dari belakang. Jarinya ngusap pelan perut Rian lewat kemeja. Gerakannya lambat, sengaja ngegodain. Rian ngerasa napasnya tersendat. Tubuhnya bereaksi cepat, batangnya mengeras di dalam celana, ngeganjel kain.
Dia coba lepas diri, tapi Tante Lila makin erat. "Mas... jangan pura-pura nggak suka. Tante tau kok. Dari tadi di dapur, Mas Rian udah tegang."
Rian balik badan. Sekarang mereka berhadapan. Wajah Tante Lila deket banget, matanya setengah merem, bibirnya basah. Bau parfum vanilanya campur keringat tipis bikin Rian pusing berat.
"Tante, ini salah. Rina ada di dalam..."
Tante Lila nyengir. "Rina nggak tau. Dan Mas Rian juga nggak mau lepas kan?"
Dia maju, bibirnya langsung nyium leher Rian. Ciuman basah, pelan, lalu makin kuat. Lidahnya nyentuh kulit Rian, bikin bulu kuduknya berdiri semua. Rian megap, tangannya otomatis pegang pinggang Tante Lila. Lunak. Panas.
*Gila... ini beneran terjadi?*
Pikiran Rian berantakan. Bagian otaknya yang waras teriak suruh mundur, tapi tubuhnya malah maju. Tangannya naik pelan ke punggung Tante Lila, ngerasain lekuk tubuh yang matang. Tante Lila mendesah pelan di lehernya, suaranya rendah dan basah.
"Mas Rian... enak ya?" bisiknya sambil gigit pelan telinga Rian.
Rian nggak jawab. Dia cuma narik napas kasar. Tangan Tante Lila turun, ngusap paha Rian dari luar celana, lalu naik pelan ke selangkangan. Jarinya ngegesek pelan tonjolan yang udah keras banget.
"Uh..." Rian mendesah tanpa bisa nahan. Lututnya agak lemes.
Tante Sinta tiba-tiba muncul di pintu garasi. "Eh, kalian di sini ternyata."
Dia nggak kaget. Malah nyengir lebar sambil nutup pintu garasi pelan. "Tante ikut dong. Jangan pelit-pelit."
Sinta mendekat dari samping. Tangannya langsung pegang lengan Rian, tarik dia lebih ke dalam garasi yang gelap. Sekarang dua tante mengurung Rian di antara mereka. Bau tubuh mereka campur, manis dan dewasa.
Tante Sinta nggak buang waktu. Dia cium bibir Rian langsung. Ciuman ganas, lidahnya masuk, nyari lidah Rian. Rasa lipstik merahnya manis. Rian balas tanpa sadar, tangannya meraba pinggul Sinta yang lebih kecil tapi kenceng.
Tante Lila di belakang, tangannya merayap ke dada Rian, buka kancing kemeja satu per satu. "Mas Rian enak banget baunya... muda gini."
Rian megap di antara ciuman. Kepalanya penuh. Tubuhnya panas banget, batangnya udah ngaceng maksimal, ngeganjel celana jeansnya sakit. Tangan Sinta turun, ngusap tonjolan itu dari luar kain, pelan tapi tegas.
"Besok aja lanjut di rumah Tante," bisik Sinta di bibir Rian. "Malam ini cuma godain dulu."
Tante Lila ketawa pelan sambil gigit bahu Rian. "Iya. Biar Mas Rian kepengen terus."
Rian ngerasa dunia berputar. Desahan kecil keluar dari mulutnya pas tangan kedua tante itu bergantian ngeusap tubuhnya. Napasnya memburu, keringat netes di pelipis. Dia tahu ini salah besar, tapi nafsu yang tadinya cuma pijar kecil sekarang udah jadi api yang susah dipadamkan.
Dari kejauhan, suara Rina manggil, "Sayang? Rian? Udah selesai belum?"
Rian langsung kaget. Dia dorong pelan kedua tante itu. "Rina..."
Tante Lila dan Sinta mundur sambil ketawa kecil. Wajah mereka merah, mata masih lapar.
"Pulang dulu Mas," kata Tante Lila sambil rapiin kebaya. "Besok kita lanjut obrolan yang tadi."
Rian buru-buru rapiin kemeja, jantungnya mau copot. Dia keluar garasi dengan langkah gontai, napas masih ngos-ngosan.
Rina nunggu di depan pintu. "Lama banget sih. Ngapain aja?"
"Cuma... bantuin angkat barang Tante," jawab Rian sambil coba senyum biasa.
Tapi di dalam celananya masih tegang. Di kepalanya, ciuman, sentuhan, dan bisikan kedua tante itu muter terus.
Malam itu, pas mereka pulang naik mobil, Rian diem aja. Rina ngobrol santai, tapi Rian cuma bisa ngangguk. Nafsunya udah bangun. Dan dia tahu, ini baru awal.
Malam sudah larut pas Rian dan Rina sampai rumah. Rina langsung mandi dan rebah di kasur, capek banget abis arisan. "Gue tidur duluan ya sayang, besok meeting pagi," katanya sambil nutupin selimut.
Rian cuma ngangguk. Tubuhnya masih panas. Batangnya masih setengah tegang dari godaan di garasi tadi. Dia bilang mau ambil air di dapur, tapi pas keluar kamar, HP-nya bergetar.
Chat dari Tante Lila: "Mas Rian masih bangun? Tante nunggu di rumah belakang. Pintu samping terbuka."
Jantung Rian langsung berdegup kencang. Dia liat Rina yang udah mendengkur pelan. Konflik di kepalanya muter kenceng. *Ini gila. Lo punya istri. Tapi...*
Kakinya malah melangkah keluar. Malam hujan gerimis, jalan setapak antar rumah sepi. Rumah Tante Lila cuma dua blok dari situ. Pintu samping emang terbuka sedikit. Bau vanila langsung nyambut pas dia masuk.
Tante Lila dan Tante Sinta udah nunggu di ruang keluarga kecil yang remang-remang. Hanya lampu meja nyala. Lila pakai daster tipis tanpa bra, putingnya samar keliatan. Sinta pakai kaos oversized yang kebesaran, rok pendek di bawahnya.
"Mas dateng juga," kata Tante Sinta sambil nyengir. Dia langsung tarik Rian masuk, nutup pintu.
Tante Lila nggak banyak omong. Dia maju, tangannya langsung ke sabuk Rian. "Tante udah nggak tahan dari tadi."
Rian cuma bisa megap pas daster Lila dilepas. Tubuhnya telanjang di depan mata. Dada besar yang kenceng, perut agak berisi tapi masih seksi, paha tebal yang mulus. Tangan Rian langsung meraba, meremas dada itu kasar. Dagingnya lembut, berat di telapak tangan.
"Fuck... Tante..." gumam Rian, suaranya rusak.
Sinta di belakang narik celana Rian turun. Batangnya langsung loncat keluar, udah keras banget, ujungnya basah. Sinta langsung cekodong, mulutnya hangat nyaput batang Rian dalam satu gerakan.
"Uh shit..." Rian ngerang. Sensasi lidah Sinta yang lincah bikin lututnya goyah. Lila maju, cium bibir Rian ganas, lidahnya nyerobot masuk. Tangan Rian meraba memek Lila yang udah becek. Lendirnya panas, licin banget di jari.
Mereka pindah ke sofa panjang. Lila dibaringin, kakinya dibuka lebar. Rian ngeliat celah merah muda yang udah ngocor itu. Dia nggak tahan. Batangnya dipegang, ujungnya digosok-gosok ke klitoris Lila.
"Masukin Mas... Tante pengen sekarang," pinta Lila sambil menggelinjang.
Rian dorong pelan. Kepala batangnya masuk, daging hangat dan ketat langsung njepit. "Anjir... sempit banget Tante..."
Dia dorong lebih dalam. Satu hantaman pelan, lalu makin kuat. Plak. Plak. Suara basah daging beradu mulai terdengar. Lila mengerang keras, tangannya mencengkeram bahu Rian. Memeknya berdenyut, ngisap batang Rian tiap keluar masuk.
Sinta naik ke atas sofa, duduk di muka Lila, memeknya diturunin ke mulut Lila. "Jilat Tante... ya gitu..."
Rian ngentot Lila makin brutal. Pinggulnya maju mundur cepet, tiap hantaman bikin dada Lila goyang-goyang. Keringat mulai netes dari dahinya ke dada Lila. Bau sex mulai memenuhi ruangan — campur parfum, keringat, dan cairan yang becek.
"Mas Rian enak... lebih dalem... hah..." Lila meracau di antara jilatan ke memek Sinta.
Rian nggak bisa mikir lagi. Dia angkat satu kaki Lila ke bahunya, posisi makin dalam. Batangnya nyodok sampai ujung, ngegesek dinding dalam yang panas. Setiap kali keluar, lendir Lila nempel di batangnya, benang-benang putih.
Sinta turun, sekarang gantian ngulum batang Rian pas dia keluar dari Lila. Lidahnya muter di kepala batang, nyedot kuat. Rian hampir gila. Dia tarik Sinta, baringin di sebelah Lila. Sekarang dia ganti nyodok memek Sinta.
Memek Sinta lebih longgar tapi lebih basah. Rian langsung tempok keras. Plak-plak-plak. Suara makin keras. Sinta jerit kecil, "Iya Mas... entot Tante Sinta... kuat-kuat!"
Rian bergantian. Keluar dari Sinta, masuk ke Lila lagi. Dua memek matang yang lapar bergantian nyedot batangnya. Tangan dia meremas dada mereka, cubit puting, tarik pelan. Napasnya ngos-ngosan, otot perutnya tegang tiap dorong.
Dia angkat Lila ke pangkuan. Posisi duduk. Batangnya masuk lagi dari bawah. Lila naik turun sendiri, dada besarnya ngegores dada Rian. "Mas... Tante suka... gede banget batang Mas..."
Sinta di belakang, tangannya meraba pelir Rian, jilat lehernya. Rian ngerasa mau meledak. Tapi dia tahan. Dia dorong Lila ke sofa lagi, tempok dari belakang. Doggy style brutal. Pinggulnya ngebrondong memek Lila tanpa ampun.
Lila kejang, badannya gemeteran. "Aahh... dalem Mas... Tante mau keluar..."
Tapi Rian belum selesai. Dia tarik batangnya, geser ke Sinta yang lagi nunggu merangkak. Masuk lagi. Hantaman demi hantaman. Ruangan penuh suara basah, erangan, dan bau sex yang pekat.
Rian ngerasa batasnya deket. Tapi dia masih tahan. Dia mau yang lebih. Dia mau mereka berdua benar-benar rusak malam ini.
Rian ngerasa otot perutnya kenceng banget, kayak mau putus. Dua tubuh matang di depannya itu udah berantakan total. Lila telungkup di sofa, pantatnya terangkat tinggi, cairan bening meler pelan dari celahnya yang merah membengkak. Sinta di sebelahnya, napasnya megap-megap, tangannya meremas bantal sofa sampe buku jarinya memutih.
Rian pegang pinggul Lila yang lebar, jarinya nancep dalam daging lembut itu. Dia dorong masuk lagi, pelan dulu, ngerasain dinding dalam yang panas dan berdenyut nyedot dia kuat-kuat. Setiap senti masuk, Lila mengerang panjang, suaranya pecah.
"Mas... dalem... isi Tante... penuh-penuh..." racaunya, suaranya udah nggak karuan.
Rian mulai gerak. Cepet. Kasar. Suara plak-plak basah memenuhi ruangan kecil itu. AC masih nyala pelan di pojok, tapi nggak ngaruh lagi. Bau sex pekat — campur keringat, lendir, sama parfum yang udah luntur — bikin kepalanya tambah pusing. Hujan di luar makin deras, bunyinya ngebasahin atap garasi, tapi di sini cuma ada erangan dan daging beradu.
Dia ganti ke Sinta. Tarik keluar dari Lila dengan suara licin yang mesum, langsung nyodok Sinta yang lagi merangkak nunggu. Memek Sinta lebih becek, langsung nyedot masuk sampe pangkal. Rian tempok tanpa ampun. Pahanya ngebrondong pantat Sinta sampe merah bekas tamparan.
Sinta jerit kecil, badannya maju mundur ikut hantaman. "Iya... gitu Mas... hancur Tante... ahh fuck!"
Rian ngerasa pelirnya naik, cairan panas udah siap meledak. Tapi dia tahan. Dia mau mereka berdua dulu. Dia tarik Sinta naik, duduk di pangkuannya, menghadap dia. Sinta langsung naik turun sendiri, dada besarnya goyang-goyang di depan muka Rian. Rian dicaplok satu puting, ngisap kuat sambil tangannya meremas yang satunya.
Lila dateng dari samping, tangannya meraba pelir Rian yang lagi naik turun bareng gerakan Sinta. "Keluarin di dalam aja Mas... Tante mau penuh..."
Kata-kata itu kayak tombol. Rian ngerasa kontrolnya ilang. Dia angkat pinggul Sinta, dorong dari bawah makin ganas. Sinta kejang, pahanya gemeteran, cairannya muncrat pelan tiap Rian nyodok dalem.
"Aku... mau... keluar Mas..." Sinta meracau, matanya mendelik, badannya kaku sejenak lalu gemetar hebat. Dinding dalamnya berdenyut-denyut nyepit Rian kuat banget.
Rian nggak tahan lagi. Dia dorong Sinta turun, baringin di sofa, lalu langsung tempok dalam-dalam beberapa kali terakhir. Peju panasnya meledak. Satu, dua, tiga kali semprotan tebal nyembur dalem banget ke dalam Sinta. Rian mengerang rendah, suaranya rusak, badannya kejang sampe otot lengannya bergetar.
Sinta megap-megap, tangannya mencakar punggung Rian. "Panas... penuh... Tante kenyang..."
Rian belum selesai. Dia tarik keluar, cairan putih kental langsung ngocor dari celah Sinta yang masih kejang. Tanpa nunggu, dia geser ke Lila yang udah nunggu telentang, kakinya dibuka lebar-lebar.
"Masukin lagi Mas... isi Tante juga..." pinta Lila, suaranya manja tapi putus-putus.
Rian masuk lagi. Licin banget karena campuran cairan mereka. Dia tempok brutal, posisi missionary, badannya nempel rapat ke tubuh Lila yang subur. Setiap hantaman bikin dada Lila bergoyang liar. Rian cium lehernya, gigit pelan, tangannya njepit pinggul Lila biar makin dalem.
Lila mengerang di telinga Rian, "Lebih cepet... Tante mau lagi... hah... hah..."
Rian ngebut. Sofa bergoyang ikut irama. Hujan di luar makin kenceng, petir jauh samar kedengeran. Rian ngerasa gelombang kedua naik. Pelirnya naik lagi, panas.
Dia angkat pinggul Lila lebih tinggi, posisi breeding dalam. "Tante... gue keluar lagi..."
Lila cuma ngangguk cepet, matanya setengah merem penuh nafsu. Rian dorong sampe ujung, lalu meledak lagi. Peju tebal nyemprot dalem, banjir ke rahim Lila. Lila kejang hebat, kakinya melingkar di pinggang Rian, ngeganjel biar nggak keluar. Badannya gemeteran lama, cairannya ikut muncrat campur peju Rian yang meluber.
Rian ambruk di atas Lila, napasnya ngos-ngosan. Badannya basah keringat. Sinta dateng dari samping, cium leher Rian pelan sambil tangannya ngusap dada Rian yang naik turun.
Tiga tubuh itu saling tumpang tindih di sofa yang udah becek. Bau peju dan lendir pekat. Rian ngerasa otaknya kosong, cuma ada denyut nikmat yang masih tersisa di selangkangan.
Tapi di balik kabut nafsu yang lagi surut, ada suara kecil di kepala Rian yang mulai berbisik.
*Besok pagi Rina bakal nanya kenapa lo pulang telat.*
Rian terbaring di sofa dengan napas masih ngos-ngosan. Tubuh Lila dan Sinta masih nempel di kanan-kirinya, kulit mereka lengket karena keringat dan cairan yang tadi banjir. Ruangan kecil itu sekarang penuh bau yang berat — campuran keringat tubuh matang, parfum yang luntur, dan aroma sex yang nggak bisa ditutupin.
Dia pelan-pelan bangun. Lututnya masih lemes. Batangnya yang tadi keras banget sekarang lemes, basah, dan lengket di paha. Rian ngeliat jam di dinding. Sudah jam setengah dua belas malam.
"Shit..." gumamnya pelan.
Tante Lila masih telentang, matanya setengah merem, senyum puas di bibirnya. Cairan putih kental meler pelan dari celahnya ke sofa. Tante Sinta duduk di sebelah, rambutnya acak-acakan, tangannya masih ngusap dada Rian pelan.
"Mas Rian buru-buru pulang?" tanya Sinta dengan suara serak.
Rian ngangguk kaku. "Rina... pasti udah bangun kalau gue lama."
Dia buru-buru ambil celana, tangannya agak gemeteran pas narik resleting. Kemejanya kusut parah, ada bekas lipstik di kerah. Bau tubuh dua tante itu masih nempel kuat di kulitnya. Setiap gerak, ingatan hantaman tadi muter lagi di kepala. Panas. Basah. Erangan mereka yang putus-putus.
Tante Lila bangun, daster tipisnya cuma dilempar asal. Dia peluk Rian dari belakang sebentar, dada besarnya nempel di punggung Rian. "Besok malam Tante tunggu lagi ya. Jangan lupa."
Rian nggak jawab. Dia cuma keluar pintu samping, hujan gerimis masih turun tipis. Udara dingin malam langsung nyerang kulitnya yang panas. Kakinya melangkah cepet melewati gang kecil antar rumah. Setiap langkah, ada rasa bersalah yang mulai naik dari perut ke dada.
*Lo baru aja ngebrondong dua tante tetangga. Di rumah lo sendiri, istri lo lagi tidur nungguin.*
Pas sampe rumah, lampu kamar masih nyala redup. Rian buka pintu pelan-pelan. Rina masih tidur miring, selimutnya turun sedikit nunjukin bahu. Wajahnya polos, capek abis kerja.
Rian langsung ke kamar mandi. Air dingin dari shower nyiram tubuhnya. Tapi nggak cukup. Bau Tante Lila dan Sinta masih nempel. Dia gosok badan kuat-kuat sampe kulitnya merah. Di kepalanya, adegan tadi muter terus. Cara Lila mengerang pas dia dorong dalem. Cara Sinta naik turun di pangkuannya sambil bilang "isi Tante".
Batangnya bergerak pelan lagi meski baru aja habis dua ronde. Rian mengumpat dalam hati.
*Goblok. Lo bukan cowok gini.*
Dia keluar kamar mandi, pakai kaos dan celana pendek. Naik ke kasur pelan. Rina bergerak, matanya kebuka sedikit.
"Baru pulang? Lama banget..." gumamnya setengah sadar.
"Ada... bantuin Tante Lila beresin barang. Hujan deras tadi," bohong Rian mulus. Suaranya datar.
Rina cuma "hmm" lalu balik badan, tidur lagi. Tangan Rian pelan memeluk pinggang istrinya dari belakang. Tubuh Rina lebih kecil, lebih ramping dibanding dua tante tadi. Bau sabun mandi biasa. Familiar.
Tapi justru itu yang bikin dada Rian sesak.
Dia ngerasa kotor. Banget. Tangan yang tadi meremas dada Lila dan Sinta sekarang peluk istri sendiri. Batangnya yang tadi nyodok dua lubang tetangga sekarang cuma diam di balik celana pendek.
Rian tutup mata, tapi susah tidur. Setiap kali hampir ketiduran, bayangan pantat Lila yang bergoyang pas dia tempok dari belakang muncul lagi. Bisikan Sinta yang bilang "besok lagi" muter di telinga.
Pukul tiga pagi, HP-nya bergetar pelan. Chat masuk.
Tante Sinta: "Mas, besok sore rumah Tante kosong. Suami gue ke Singapura. Mau lanjut yang tadi? Tante kangen udah."
Tante Lila: "Foto ini buat Mas Rian aja ya 😉"
Gambarnya masuk. Foto close-up celah Lila yang masih agak bengkak dan belepotan sisa cairan kering. Rian langsung ngegeser HP biar layarnya nggak keliatan ke Rina.
Jantungnya berdegup lagi. Rasa bersalah masih ada, tapi sekarang bercampur sesuatu yang lebih gelap. Ketagihan. Dia ngerasa jijik sama dirinya sendiri, tapi jari tangannya malah ngetik "Oke" ke chat Sinta.
Rian taruh HP, telentang di kasur. Rina tidur pulas di sebelahnya, nggak tahu apa-apa. Besok pagi dia pasti bangun, bikin kopi, cium pipi Rian seperti biasa. Rutinitas yang tadinya aman.
Sekarang semuanya retak.
Di dalam kepala Rian, ada dua suara yang berperang. Satu teriak "berhenti sebelum terlambat". Satu lagi bisik pelan, "besok sore... cuma sekali lagi".
Dia nggak tau yang mana yang bakal menang.
Tapi yang jelas, arisan bulan ini udah nggak sama lagi. Dan rahasia yang baru aja dimulai ini, pelan-pelan bakal makan hidupnya dari dalam.
Rian menarik napas panjang. Bau sabun Rina campur bau sisa Tante Lila di hidungnya sendiri. Dia peluk istrinya lebih erat, tapi matanya nyalang ke langit-langit kamar.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam pernikahannya, Rian tidur dengan hati yang terbelah.
ns216.73.217.39da2


