Malam itu udara di rumah terasa lebih berat dari biasanya. Lampu ruang tamu menyala redup, hanya satu lampu standing yang cahayanya kuning keemasan, menciptakan bayangan panjang di dinding. Aroma masakan dari dapur masih menempel di udara—nasi goreng spesial dengan tambahan telur mata sapi dan kerupuk yang renyah. Budi berdiri di depan kompor, tangannya masih memegang spatula, kemeja rumahnya agak basah oleh keringat karena panasnya api dan entah apa lagi yang menggelayut di dadanya.
5427Please respect copyright.PENANAaDDw9a0W63
Ia mendengar suara tawa istrinya dari ruang tamu. Tawa yang dulu hanya untuknya. Sekarang, tawa itu diselingi suara pria lain yang dalam dan percaya diri.
5427Please respect copyright.PENANAtEODN6bQ7I
“Nadia… kamu beneran bawa dia ke sini?” gumam Budi pelan pada dirinya sendiri, suaranya hampir hilang ditelan deru kipas angin dapur.
5427Please respect copyright.PENANAjHi6Z2IuBq
Nadia, istrinya yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya, baru saja pulang. Tapi bukan sendirian. Di sampingnya ada seorang pria tinggi, berbadan tegap, dengan rahang tegas dan senyum yang selalu terlihat penuh kendali. Namanya Dimas. Nadia tidak pernah menyembunyikannya lagi. Sudah tiga bulan terakhir ini, semuanya terbuka. Terlalu terbuka.
5427Please respect copyright.PENANA5xpYuxnyiy
Budi mengusap tangannya ke lap dapur, lalu membawa dua piring nasi goreng yang masih mengepul ke ruang tamu. Langkahnya pelan, seperti ragu. Saat ia masuk, Nadia duduk santai di sofa panjang, kakinya yang jenjang disilangkan. Gaun hitam pendek yang ia pakai malam ini naik sedikit ke paha, memperlihatkan kulit putih mulus yang masih terlihat segar meski sudah berusia 34 tahun. Payudaranya yang besar dan kencang terlihat jelas dari lekukan gaun yang rendah, putingnya samar-samar menonjol karena tidak memakai bra.
5427Please respect copyright.PENANAgVWdnHFBq3
Dimas duduk di sebelahnya, satu tangan melingkar santai di pundak Nadia, jarinya sesekali mengusap kulit bahu istrinya dengan gerakan posesif.
5427Please respect copyright.PENANAQjuWoBArQm
“Ini… makanannya,” kata Budi pelan, meletakkan piring di meja depan mereka. Suaranya datar, tapi ada getar kecil yang tak bisa disembunyikan.
5427Please respect copyright.PENANAD2it9FQxic
Nadia menoleh, senyumnya manis tapi ada kilatan sesuatu yang tajam di matanya. “Terima kasih, Sayang. Wangi sekali. Kamu tambahin sambal dong, Dimas suka pedas.”
5427Please respect copyright.PENANA9Ms99MDjCU
Dimas tersenyum tipis, matanya menatap Budi sekilas—bukan dengan hinaan kasar, tapi dengan rasa superior yang tenang. “Iya, tambahin banyak. Nadia bilang kamu jago masak.”
5427Please respect copyright.PENANA4nDfZ7eBio
Budi mengangguk tanpa bicara. Ia kembali ke dapur, mengambil sambal, dan membawanya. Saat meletakkan lagi, ia melihat tangan Dimas sudah turun ke paha Nadia, mengusap pelan ke atas, mendekati rok gaun yang pendek itu. Jari-jari Dimas yang besar terlihat kontras dengan kulit halus Nadia.
5427Please respect copyright.PENANA7jCrYjLdh6
Nadia mendesah kecil, bukan karena malu, tapi karena menikmati. “Kamu capek nggak, Mas? Hari ini kerja lembur lagi?” tanyanya pada Budi, tapi matanya setengah terpejam saat Dimas mencium sisi lehernya pelan.
5427Please respect copyright.PENANATDNV8MYkhI
“Biasa saja,” jawab Budi. Ia berdiri di sana, tak tahu harus melakukan apa. Duduk? Pergi ke kamar? Semuanya terasa salah.
5427Please respect copyright.PENANA8s5H7De6Mp
“ Duduklah dulu,” kata Dimas santai, seolah ia yang empunya rumah. “Kita ngobrol bareng. Nadia cerita banyak tentang kamu.”
5427Please respect copyright.PENANAZYSkBTxNu9
Budi duduk di kursi single di seberang mereka. Jaraknya cukup dekat untuk melihat segalanya. Nadia menyandarkan kepalanya ke bahu Dimas, tangannya bermain di dada pria itu yang bidang. Kemeja Dimas terbuka dua kancing, memperlihatkan dada berbulu yang kekar.
5427Please respect copyright.PENANA2xbkZ9NWjL
“Mas Budi… kamu tahu kan, aku dan Dimas sudah dekat banget sekarang,” ujar Nadia dengan suara lembut, hampir seperti sedang bicara tentang cuaca. “Aku nggak mau sembunyi-sembunyi lagi. Kamu bilang sendiri dulu, mau aku bahagia.”
5427Please respect copyright.PENANAJzuF0XniJc
Budi menelan ludah. Ingatannya kembali ke malam itu tiga bulan lalu, saat Nadia menangis di pelukannya karena merasa “hidupnya membosankan”. Ia yang lemah, yang takut kehilangan, akhirnya mengatakan kalimat yang sekarang ia sesali: “Kalau ada yang bisa bikin kamu bahagia lagi, aku dukung.”
5427Please respect copyright.PENANAk3GZxR3UQV
Sekarang dukungan itu berwujud pria lain yang duduk di sofa rumahnya sendiri.
5427Please respect copyright.PENANAiShZQlwY6d
Dimas tertawa pelan. “Kamu orang baik, Bud. Beneran. Jarang ada suami yang rela seperti ini.”
5427Please respect copyright.PENANAU3G8HLRDWN
Tangan Dimas naik lebih tinggi, menyusup ke bawah gaun Nadia. Budi bisa melihat gerakan jari itu di balik kain tipis. Nadia menggigit bibir bawahnya, napasnya mulai sedikit berat.
5427Please respect copyright.PENANABm3psnkBgG
“Dimas… pelan dulu,” bisik Nadia, tapi nada suaranya justru mengundang. Ia menatap Budi. “Mas, kamu nggak apa-apa kan lihat ini? Aku ingin kamu di sini. Melihat aku bahagia.”
5427Please respect copyright.PENANAlQbrGU30Vf
Budi merasa dadanya sesak. Ada rasa panas yang aneh—campuran malu, sedih, dan sesuatu yang lebih gelap yang ia tak mau akui. “Aku… aku di sini,” katanya pelan.
5427Please respect copyright.PENANAZ2syzAfZ8w
Nadia tersenyum. Ia menarik wajah Dimas dan menciumnya. Ciuman itu lambat pada awalnya, bibir mereka saling menempel lembut, lalu lidah mereka bertemu dengan suara kecil yang basah. Tangan Dimas meremas payudara Nadia dari luar gaun, merasakan bobotnya yang penuh dan kenyal. Jempolnya mengusap puting yang sudah mengeras, membuat Nadia mendesah di dalam ciuman.
5427Please respect copyright.PENANAspVl0JArgT
Budi duduk diam. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu. Payudara Nadia yang besar, yang dulu sering ia puja, sekarang sedang dipegang tangan orang lain. Lekukan bokongnya yang bulat dan kencang terlihat saat ia bergeser mendekat ke Dimas.
5427Please respect copyright.PENANA1iPqjEgFii
Setelah ciuman panjang itu terlepas, bibir Nadia sudah agak bengkak dan mengkilap. Ia menatap Budi dengan mata berkabut. “Mas… kamu masak enak sekali malam ini. Dimas suka. Besok kamu masak yang lebih spesial ya? Kita mau makan malam bareng lagi.”
5427Please respect copyright.PENANAMPq3HStcBK
Dimas mengangguk, tangannya masih di paha Nadia, jari telunjuknya mengusap pelan garis celana dalam istrinya. “Iya. Nadia bilang kamu bisa bikin steak yang juicy. Besok coba ya.”
5427Please respect copyright.PENANAKGnOoJimtU
Budi hanya mengangguk. Suaranya hilang.
5427Please respect copyright.PENANAABGpHFYOCE
Nadia bangkit pelan, gaunnya sudah agak naik hingga pinggang. Bokongnya yang montok dan putih terlihat jelas, hanya ditutupi celana dalam hitam tipis yang sudah agak basah di bagian tengah. Ia berjalan ke arah Budi, membungkuk, dan mencium kening suaminya dengan lembut—seperti seorang istri yang penuh kasih sayang.
5427Please respect copyright.PENANAnsL3U3EbYV
“Tapi malam ini… aku mau tidur sama Dimas di kamar kita. Kamu tidur di kamar tamu ya, Mas? Besok pagi kamu bisa siapkan sarapan.”
5427Please respect copyright.PENANAMF2mgz1dIC
Dimas berdiri di belakang Nadia, tangannya memeluk pinggang istrinya dari belakang. Tubuhnya menempel rapat, dan Budi bisa melihat tonjolan besar di celana Dimas menekan bokong Nadia.
5427Please respect copyright.PENANA4kJhuaGdXs
Nadia menggoyang pinggulnya pelan, menggesekkan diri ke Dimas sambil tetap menatap Budi. “Kamu boleh denger kalau mau. Aku tahu kamu suka denger suaraku… dulu kan kamu bilang suara aku saat klimaks itu paling indah.”
5427Please respect copyright.PENANAtHmX0vqFZb
Suasana menjadi sangat tegang. Udara terasa panas dan berat. Budi merasakan denyut di dadanya, di perutnya, dan di tempat yang sudah lama tak ia rasakan kekuatannya.
5427Please respect copyright.PENANAZR9GzKTDK3
Dimas tersenyum ke arah Budi. “Kita ke kamar dulu. Nadia sudah basah banget nih.”
5427Please respect copyright.PENANA0qMIRJJ3jl
Nadia tertawa kecil, malu-malu tapi jelas menikmati. Ia menggandeng tangan Dimas menuju kamar utama—kamar yang dulu milik mereka berdua.
5427Please respect copyright.PENANA7MwiaQVyxi
Pintu kamar tertutup. Tapi tak terkunci.
5427Please respect copyright.PENANAHNGEOkDX7W
Budi duduk sendirian di ruang tamu yang sekarang terasa dingin. Dua piring nasi goreng masih ada di meja, satu sudah setengah dimakan. Ia mendengar suara tawa kecil Nadia dari dalam kamar, diikuti suara rendah Dimas yang mengatakan sesuatu yang membuat istrinya mendesah.
5427Please respect copyright.PENANANUQb63Ruuz
Budi masih duduk di sofa ruang tamu, tubuhnya terasa berat seperti dipaku ke tempat duduk. Dua piring nasi goreng yang sudah dingin tergeletak di meja, sambalnya mengering di pinggir piring. Jam dinding berdetak pelan, tapi setiap detik terasa seperti berjam-jam. Dari balik pintu kamar utama yang hanya tertutup rapat tapi tidak dikunci, suara-suara mulai terdengar samar. Tawa kecil Nadia yang lembut, diikuti gumaman rendah Dimas yang dalam.
5427Please respect copyright.PENANAS0oT6ziN9i
Ia bangkit perlahan, kakinya gemetar. “Apa yang aku lakukan?” bisiknya pada diri sendiri. Tapi rasa penasaran yang menyakitkan, campuran antara sakit hati dan sesuatu yang gelap, mendorongnya melangkah mendekat. Lantai kayu di koridor terasa dingin di telapak kakinya yang telanjang. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar, menyandarkan punggung ke dinding sebelahnya, dan menutup mata.
5427Please respect copyright.PENANAgN0HJFK74b
Di dalam, suara Nadia terdengar lebih jelas sekarang.
5427Please respect copyright.PENANAV8i7t0gVA2
“Dimas… pelan dulu, Sayang. Aku ingin menikmati setiap detiknya,” kata Nadia dengan suara manja yang Budi kenal betul. Suara yang dulu hanya untuknya di malam-malam mereka yang masih penuh gairah.
5427Please respect copyright.PENANAvZxY9kDjcU
Dimas tertawa pelan. “Kamu sudah basah sekali, Nad. Dari tadi di sofa aku sudah merasakannya. Kamu sengaja menggoda suami kamu di depanku ya?”
5427Please respect copyright.PENANARj4DNDXD5O
Nadia mendesah. “Iya… aku suka lihat wajahnya. Wajah yang pasrah. Itu bikin aku semakin panas. Cium aku dulu, lama-lama.”
5427Please respect copyright.PENANAq3JVD8OkNI
Suara kecupan basah terdengar. Budi bisa membayangkan bibir mereka saling bertemu, lidah yang saling menari. Ciuman itu berlangsung lama, penuh bunyi kecil yang lembab—*slurp*… *mmhh*… *ahh*… Nadia mendesah di sela ciuman, suaranya semakin serak.
5427Please respect copyright.PENANAmc26TMyUmk
“Lebih dalam, Dimas… gigit bibir bawahku pelan,” pinta Nadia.
5427Please respect copyright.PENANAgBkEapzGnV
Dimas menurut. “Begini? Kamu suka ya kalau aku kasar sedikit di bibir ini yang manis?”
5427Please respect copyright.PENANAQfXgaQcmR3
“Iya… ahh… kamu tahu betul caranya. Payudaraku… remas pelan dulu. Jangan langsung keras.”
5427Please respect copyright.PENANAuv2jJ57d6l
Budi menelan ludah susah payah. Ia membayangkan tangan Dimas yang besar meremas payudara Nadia yang penuh dan berat. Payudara istrinya yang selalu ia puja—ukuran 36D yang kencang meski sudah melahirkan satu anak dulu, kulitnya putih susu dengan areola merah muda yang lebar dan sensitif. Putingnya yang kecil tapi mudah mengeras seperti ceri matang.
5427Please respect copyright.PENANAuJYyFTAsS7
Di dalam kamar, suara kain bergeser terdengar. Gaun Nadia pasti sudah diturunkan.
5427Please respect copyright.PENANAymwiTBpibW
“Wah… lihat ini. Putingmu sudah berdiri semua. Dingin ya?” goda Dimas.
5427Please respect copyright.PENANAb3qy8sS8aK
Nadia terkikik. “Karena kamu yang bikin. Hisap yang kiri dulu… pelan… lingkari lidahmu di sekitar putingnya. Iya… seperti itu… ahhh… lebih kuat sedikit.”
5427Please respect copyright.PENANAq3NFreFUq5
Suara isapan basah terdengar jelas. *Slurp… slurp…* Dimas menghisap payudara Nadia dengan rakus tapi terkontrol. Nadia mendesah panjang, suaranya naik turun seperti sedang bernyanyi.
5427Please respect copyright.PENANAQZFneWehaQ
“Yang kanan sekarang… gigit pelan putingnya… ya Tuhan, enak sekali… kamu jago banget mainin payudaraku. Lebih besar dari tangan suamiku… remas keduanya bersamaan… angkat ke atas… iya… buat aku merasa seperti pelacurmu yang manja.”
5427Please respect copyright.PENANAfNF1I6Zwwe
Budi merasakan denyut di selangkangannya. Ia benci dirinya sendiri karena tubuhnya bereaksi. Tangan kanannya tanpa sadar menyentuh celana pendeknya yang sudah mulai menegang.
5427Please respect copyright.PENANAszqDbS0GWG
Nadia terus berbicara dengan suara tersengal. “Kamu tahu nggak, dulu Budi suka sekali menghisap payudaraku sampai aku minta ampun. Tapi sekarang… aku mau kamu yang kuat ini. Hisap lebih kuat… gigit… ahh! Iya… sakit enak… bekas merahnya biar kelihatan besok.”
5427Please respect copyright.PENANAujAscDpigv
Dimas melepaskan payudaranya dengan bunyi *pop*. “Bokongmu ini… angkat pinggulmu. Biar aku lepas celana dalamnya.”
5427Please respect copyright.PENANAWhs1nm3K5P
Kain tipis bergeser. Nadia mendesah lega. “Lihat… sudah banjir begini. Semua karena kamu dari tadi di sofa. Usap pelan klitorisku dulu… jangan langsung masuk.”
5427Please respect copyright.PENANAIdblDIOG7l
Jari Dimas pasti sedang bermain di sana. Budi bisa membayangkan vagina Nadia yang rapi, bibir luar yang tebal dan montok, bibir dalam yang merah muda dan selalu cepat basah. Klitorisnya yang kecil tapi sangat sensitif, tersembunyi di balik kulit halus.
5427Please respect copyright.PENANAxwaGrHBz4T
“Basah sekali… aroma kamu enak banget, Nad,” kata Dimas. “Aku mau jilat. Buka kakinya lebar-lebar.”
5427Please respect copyright.PENANAhcTvWRU1VT
Nadia terkesiap senang. “Iya… letakkan bantal di bawah bokongku biar lebih tinggi. Lihat betapa pink-nya vagina istri orang ini… milikmu sekarang.”
5427Please respect copyright.PENANArH8s7Nn4uP
Suara jilatan panjang terdengar. Lidah Dimas menjilat dari bawah ke atas, lambat dan menyeluruh. Nadia mengerang panjang, “Aaaahhh… lidahmu panjang sekali… masukkan ke dalam… ya… fuck… lebih dalam… jilat dindingnya… iya… seperti itu…”
5427Please respect copyright.PENANAVbblyCmJGa
Budi bersandar lebih dekat ke pintu. Napasnya tersengal mengikuti irama desahan istrinya. Ia membayangkan bokong Nadia yang bulat sempurna, dua bola daging kenyal yang putih dengan garis halus di tengah, kaki jenjangnya yang terbuka lebar, paha dalamnya yang halus dan sedikit berkeringat.
5427Please respect copyright.PENANAzUFtqLPOna
Nadia mulai berbicara kotor, suaranya semakin liar. “Jilat klitorisku cepat… hisap… hisap kuat… masukkan dua jarimu sekarang… pelintir di dalam… cari titik G-ku… iya! Di situ! Gosok terus… jangan berhenti… aku mau squirt sedikit buat kamu…”
5427Please respect copyright.PENANATmezRXki0y
Suara jari yang basah *squish squish* terdengar ritmis. Dimas menjilat dan menggerakkan jarinya dengan ahli. Nadia mulai menjerit kecil, tubuhnya pasti melengkung.
5427Please respect copyright.PENANAqwYyQaZO4k
“Aku… mau keluar… terus… jangan berhenti… Dimas… aku cum… aaaahhhhh!!”
5427Please respect copyright.PENANAn9o6OJSFHX
Orgasme pertama Nadia meledak. Suaranya panjang dan gemetar, diikuti suara cairan yang menyembur kecil. Dimas terus menjilatnya sepanjang klimaks, membuat Nadia menggelinjang hebat.
5427Please respect copyright.PENANAaUg4DA9aCV
“Enak… enak sekali… kamu bikin aku gila…” desah Nadia setelah napasnya agak tenang. “Sekarang gantian. Lepas celanamu. Aku mau lihat kontolmu yang besar itu.”
5427Please respect copyright.PENANAEalIGdnBFs
Budi mendengar gesekan kain. Dimas pasti sudah telanjang sekarang.
5427Please respect copyright.PENANAX554ABtRPq
“Wah… tegang sekali. Ujungnya sudah basah precum. Besar banget… lebih tebal dari suamiku,” puji Nadia dengan suara penuh nafsu. “Boleh aku jilat dulu?”
5427Please respect copyright.PENANAckTh3Idx21
Dimas mendengus. “Hisap pelan. Tunjukkan betapa hausnya kamu.”
5427Please respect copyright.PENANAEmJir9TYWm
Suara mulut Nadia yang basah terdengar. *Gluck… gluck… slurp…* Ia menghisap kontol Dimas dengan rakus. “Mmmh… enak… aku suka bau maskulinnya… dalamkan ke tenggorokan… ahk… ahk…” Nadia tersedak sedikit tapi terus melanjutkan, lidahnya pasti bermain di kepala kontol yang besar.
5427Please respect copyright.PENANA7Cwa1lDXac
Dimas mengerang. “Kamu jago ngisap. Lebih dalam… pegang zakarku yang berat ini… usap pelan… iya… istri yang baik… pelacur suami sendiri.”
5427Please respect copyright.PENANAUGfGEc2dzg
Nadia melepaskan dengan suara *pop* basah. “Naik ke atas aku. Aku mau dikentot sekarang. Tapi pelan dulu… gesekkan kepalanya di bibir vaginaku… basahi semuanya.”
5427Please respect copyright.PENANAsYnw0eTn2P
Budi tak tahan lagi. Tangan kirinya membuka pintu kamar sedikit, hanya celah kecil. Ia mengintip. Pemandangan itu menghantamnya seperti palu.
5427Please respect copyright.PENANAZG4TMrN1nS
Nadia telanjang bulat di atas ranjang king size mereka. Kakinya terbuka lebar, vagina yang merah dan basah mengkilap oleh air liur Dimas. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang saat ia bernapas cepat, putingnya merah dan basah. Bokongnya yang montok terangkat sedikit di atas bantal. Dimas berlutut di antara kakinya, kontolnya yang panjang dan tebal (pasti 18-19 cm) berdiri tegak, kepalanya menggesek bibir vagina Nadia pelan-pelan.
5427Please respect copyright.PENANAKPLlOHwqYj
“Kamu lihat nggak, Mas Budi?” tiba-tiba Nadia berkata tanpa menoleh, seolah tahu suaminya ada di balik pintu. “Masuklah sedikit. Lihat istri kamu mau disetubuhi orang lain.”
5427Please respect copyright.PENANAeZ2ObMQmmz
Budi mendorong pintu lebih lebar, berdiri di ambang pintu. Matanya tak bisa lepas.
5427Please respect copyright.PENANAX4kwyeyAV9
Dimas tersenyum sinis tapi tenang. Ia mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kontolnya masuk ke dalam vagina Nadia dengan bunyi basah yang panjang.
5427Please respect copyright.PENANAovuau7SDa7
“Aaahhh… besar… pelan… isi aku pelan-pelan…” erang Nadia. Matanya setengah terpejam menatap Budi. “Lihat, Mas… kontolnya masuk… lihat bagaimana vaginaku mengembang untuknya… lebih besar dari punyamu…”
5427Please respect copyright.PENANAORUeO4CTiz
Dimas mendorong lebih dalam, sentimeter demi sentimeter. “Ketat sekali… meski sudah basah banjir. Kamu suka ya, Nad? Disetubuhi di depan suami kamu?”
5427Please respect copyright.PENANABi6AVGy2tp
“Iya… suka… dorong semuanya… sampai pangkal… aaahh!!” Nadia menjerit nikmat saat Dimas menenggelamkan seluruh kontolnya. Perutnya terlihat sedikit membuncit karena tebalnya.
5427Please respect copyright.PENANAKwSfU7QzAX
Mereka mulai bergerak. Dimas menarik keluar hampir seluruhnya, lalu mendorong masuk lagi dengan ritme lambat tapi kuat. Setiap hantaman menghasilkan suara *plak* basah yang mesum. Payudara Nadia bergoyang indah mengikuti irama.
5427Please respect copyright.PENANAJAVtmLcXJ0
“Lebih cepat… kentot aku lebih keras… buat aku lupa nama suamiku,” pinta Nadia sambil menatap Budi langsung di mata.
5427Please respect copyright.PENANAqWfARPAieH
Dimas mempercepat. Tubuh mereka bertemu dengan suara keras. Nadia meraih payudaranya sendiri, meremas dan memilin putingnya sambil mengerang tanpa henti.
5427Please respect copyright.PENANASHxjOCNSGw
Kelanjutannya ada link di bawah ini


