Aku duduk di ruang kerjaku yang gelap, hanya diterangi lampu meja kecil. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah besar ini biasanya sunyi di malam hari, tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda. Suara samar-samar yang tak biasa menyelinap dari arah kamar Rara, anak tiriku. Aku mengernyit, meletakkan gelas whiskey yang sudah hampir kosong, lalu berdiri pelan. Kakiku melangkah tanpa suara di karpet tebal koridor.
7768Please respect copyright.PENANAjwRKde2kao
Rara sudah dua puluh tahun. Gadis yang tumbuh menjadi wanita cantik di bawah pengawasanku sejak aku menikahi Lina, ibunya, delapan tahun lalu. Tubuhnya yang dulu ramping kini semakin matang—payudaranya yang penuh, pinggul yang melengkung lembut, dan kaki panjang yang selalu membuatku harus mengalihkan pandangan saat dia berjalan di rumah dengan celana pendek. Aku tahu ini salah. Aku suami Lina, ayah tirinya. Tapi godaan itu selalu ada, seperti bisikan pelan yang tak pernah benar-benar hilang.
7768Please respect copyright.PENANA92T4ptwPck
Malam ini Lina sedang ke luar kota untuk seminar kerja dua hari. Hanya aku dan Rara di rumah. Aku mendekat ke pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Cahaya redup lampu tidur menyembul. Lalu suara itu lagi—desahan pelan, napas yang tersengal, dan suara ranjang yang berderit pelan.
7768Please respect copyright.PENANAN9KJ7oNvsk
Jantungku berdegup kencang. Aku mengintip dari celah pintu.
7768Please respect copyright.PENANASoJ70HJmSM
Di sana, Rara sedang berbaring telentang di atas ranjang king-size-nya. Tubuhnya yang telanjang sepenuhnya berkilau oleh keringat tipis. Payudaranya yang besar dan kencang naik-turun dengan cepat, putingnya yang kecil dan merah muda mengeras tegak seperti dua puncak ceri matang. Kulitnya yang putih mulus berkilau di bawah cahaya lampu. Bokongnya yang bulat sempurna terangkat sedikit saat pinggulnya bergerak. Di antara kedua paha yang terbuka lebar, vagina mulusnya yang dicukur bersih terlihat basah mengkilap, bibir luar yang tebal dan pink itu mengembang karena terangsang.
7768Please respect copyright.PENANA3HH3XULrCy
Di atasnya, seorang pemuda—pacarnya yang bernama Dika—sedang mendorong pinggulnya dengan ritme pelan tapi dalam. Tubuh Dika kekar, otot perutnya terlihat jelas. Rara mendesah panjang, tangannya mencengkeram punggung Dika.
7768Please respect copyright.PENANAoShz4yYIVz
“Ahh… Dika… pelan dulu… enak sekali…” suara Rara lembut, penuh kenikmatan.
7768Please respect copyright.PENANAYifnirJ2hf
Aku merasa darahku mendidih. Bukan hanya marah, tapi ada sesuatu yang lain—keinginan yang gelap, panas, dan tak terkendali. Tangan kananku tanpa sadar meraih ponsel di saku. Aku membuka kamera, mematikan flash, dan mulai merekam. Video pendek dulu, lalu beberapa foto jernih. Sudut yang sempurna: wajah Rara yang memerah penuh nikmat, payudaranya yang bergoyang-goyang setiap dorongan, dan vagina yang basah saat batang Dika keluar-masuk.
7768Please respect copyright.PENANAUyk810OdPC
Rara menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam. “Lebih dalam… ya… seperti itu… aku suka kalau kamu isi aku penuh…”
7768Please respect copyright.PENANAryiBJ2QpYO
Dika mendengus, mencium leher Rara, tangannya meremas payudara kiri Rara dengan kasar tapi penuh nafsu. Putingnya yang mengeras terjepit di antara jari-jari Dika. Rara melengkungkan punggungnya, bokongnya terangkat lebih tinggi, kakinya yang panjang dan mulus melingkar di pinggang Dika.
7768Please respect copyright.PENANAEKSTQwqMBz
Aku terus merekam. Napasku tertahan. Vagina Rara terlihat sangat detail—bibir dalamnya yang lembut dan basah menjepit batang Dika, cairan beningnya melumasi setiap gerakan. Aku merasa diri sendiri mengeras di balik celana piyama. Ini salah. Sangat salah. Tapi aku tak bisa berhenti.
7768Please respect copyright.PENANAA6IR1gPn9I
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Dika menarik diri. Rara mengeluh protes, tapi Dika membalik tubuhnya dengan cepat. Sekarang Rara berlutut, bokongnya yang montok dan bulat terangkat tinggi ke arah Dika. Punggungnya melengkung indah, rambut hitam panjangnya tergerai di bahu. Dari belakang, vagina dan anusnya terpampang jelas—keduanya basah dan berkedut karena menunggu.
7768Please respect copyright.PENANAfYB45oRRo1
Dika memasukinya lagi dari belakang dengan satu dorongan kuat. Rara menjerit pelan kenikmatan. “Ahhh! Dalam sekali… kamu bikin aku penuh banget…”
7768Please respect copyright.PENANAJXHOhpKhN7
Aku mengambil lebih banyak foto. Suara tabrakan kulit mereka yang basah dan lengket memenuhi kamar. Payudara Rara bergoyang-goyang liar di bawahnya, putingnya menggesek seprai. Bokongnya yang kenyal bergoyang setiap kali Dika menghantam dari belakang. Kakinya yang panjang gemetar, jari-jari kakinya menekuk karena kenikmatan.
7768Please respect copyright.PENANAuE8qONkVVP
Aku mundur pelan setelah mendapatkan cukup bukti. Jantungku masih berdegup kencang saat aku kembali ke kamar kerja. Aku duduk, melihat foto-foto dan video itu berulang kali. Vagina Rara yang pink dan basah, payudaranya yang sempurna, ekspresi wajahnya yang penuh nafsu. Lina tak boleh tahu. Tapi aku… aku ingin sesuatu.
7768Please respect copyright.PENANAJdyNGTKiNt
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Dika sudah pergi diam-diam sebelum subuh, seperti biasa. Rara keluar dari kamarnya jam sembilan, masih mengenakan tank top tipis tanpa bra dan celana pendek ketat. Payudaranya yang besar terlihat jelas bentuknya, putingnya samar-samar menonjol di balik kain. Kakinya yang mulus dan panjang berkilau setelah mandi.
7768Please respect copyright.PENANArND9Eyj1xn
“Pagi, Pa,” sapanya biasa, mencium pipiku sekilas seperti biasa. Aroma sabun dan shampoo rambutnya menguar.
7768Please respect copyright.PENANAuQ9dYgNMhr
“Pagi, Ra. Tidur nyenyak?” tanyaku, suaraku datar tapi ada nada yang berbeda.
7768Please respect copyright.PENANAUlwevRIfDL
Dia mengangguk, menuang kopi. Kami duduk di meja makan. Aku memperhatikan gerakannya—bagaimana payudaranya bergoyang ringan saat dia bergerak, bagaimana bokongnya yang bulat menonjol saat dia membungkuk mengambil gula. Ketegangan mulai terbangun di antara kami, meski dia belum sadar.
7768Please respect copyright.PENANAyVfR0jIMjf
Sepanjang pagi kami mengobrol biasa. Tentang kuliahnya, teman-temannya, rencana akhir pekan. Tapi aku terus mengingat gambar-gambar semalam. Setiap kali dia tertawa, aku membayangkan desahannya. Setiap kali dia menyilangkan kaki, aku membayangkan vagina basahnya yang terbuka lebar.
7768Please respect copyright.PENANAo53DG7bdyD
Siang harinya, Lina menelepon. Dia bilang seminarnya molor, baru bisa pulang besok malam. Aku tersenyum dalam hati. Kesempatan.
7768Please respect copyright.PENANAlg0k5IMG1e
Sore itu, Rara duduk di sofa ruang TV, kakinya terlipat. Aku mendekat, duduk di sebelahnya. Jarak kami lebih dekat dari biasanya.
7768Please respect copyright.PENANAoO6KNGGzg5
“Ra, Papa mau bicara serius,” kataku pelan.
7768Please respect copyright.PENANA6fSLDoIV7P
Dia menoleh, alisnya terangkat. “Ada apa, Pa? Serius banget mukanya.”
7768Please respect copyright.PENANAEg50CU1ObM
Aku mengeluarkan ponsel. Membuka galeri. Foto pertama yang kutunjukkan adalah saat Rara berlutut, bokongnya terangkat tinggi, vagina basahnya sedang dimasuki Dika. Wajahnya terlihat jelas, penuh kenikmatan.
7768Please respect copyright.PENANA652dCL5V4Q
Rara langsung membeku. Wajahnya memucat, lalu merah padam. “Pa… ini… ini apa?!”
7768Please respect copyright.PENANAbVGhsDHovf
“Papa lihat semalam. Kamu dan Dika. Papa ambil fotonya. Banyak. Ada videonya juga.”
7768Please respect copyright.PENANAAFQDxIcSEJ
Suara Rara bergetar. “Pa… tolong hapus… jangan bilang ke Mama… please…”
7768Please respect copyright.PENANA0rIqY8gS4x
Aku mendekatkan wajahku. Napas kami bercampur. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang manis. “Papa tidak mau bilang ke Mama. Tapi… Papa mau sesuatu sebagai gantinya.”
7768Please respect copyright.PENANAaqwxqxxiMp
Rara menatapku dengan mata lebar, campuran ketakutan dan kebingungan. Payudaranya naik-turun cepat karena napasnya yang tersengal. Putingnya kembali mengeras di balik tank top tipis itu, entah karena dingin atau karena ketegangan.
7768Please respect copyright.PENANAxmRznhsURK
“Apa… apa yang Papa mau?” tanyanya hampir berbisik.
7768Please respect copyright.PENANAqwqbJXxfbP
Aku meletakkan tangan di pahanya yang mulus. Kulitnya hangat dan lembut. Jari-jariku mengusap pelan ke atas, mendekati celana pendeknya. “Papa mau kamu, Ra. Sama seperti yang kamu kasih ke Dika. Tapi lebih dari itu. Papa mau kamu jadi milik Papa sekarang.”
7768Please respect copyright.PENANAuFuFCnQ4qq
Rara gemetar. Tapi aku melihat ada kilau lain di matanya—bukan hanya takut. Ada sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang mungkin sudah lama terpendam. Dia menggigit bibir bawahnya, persis seperti semalam.
7768Please respect copyright.PENANAbtiXB7msts
“Pa… ini salah… aku anak tirimu…” katanya, tapi suaranya tak meyakinkan.
7768Please respect copyright.PENANALkX0A9DzHp
Aku tersenyum pelan, jari-jariku naik lebih tinggi, menyentuh pinggiran celana pendeknya. “Salah atau tidak, foto-foto ini akan dikirim ke Mama kalau kamu tidak nurut. Kamu mau Mama lihat betapa nakalnya anaknya? Lihat betapa basah vaginamu saat dimasuki pacar?”
7768Please respect copyright.PENANADeC6PuvS41
Rara menutup mata, napasnya semakin berat. Payudaranya yang besar terlihat semakin tegang. Aku bisa melihat putingnya benar-benar mengeras sekarang.
7768Please respect copyright.PENANARQ8OlGmzf8
“Pa… jangan kasar…” bisiknya.
7768Please respect copyright.PENANAkYs399cl1f
Aku mendekatkan wajahku ke lehernya. Napasku menyapu kulit halusnya. “Kita mulai pelan-pelan, Ra. Papa mau nikmati setiap inci tubuhmu. Seperti yang pantas didapatkan Papa selama ini.”
7768Please respect copyright.PENANAHaZ6XEiPzq
Tangan kiriku naik ke payudaranya dari luar tank top. Aku meremas lembut, merasakan berat dan kenyalnya yang sempurna. Putingnya menusuk telapak tanganku. Rara mendesah pelan, tubuhnya menegang tapi tak menolak.
7768Please respect copyright.PENANAi26aKxA2q1
“Pa… ahh…” desahnya kecil.
7768Please respect copyright.PENANAAzX7C2saRT
Aku terus meremas, memilin putingnya pelan melalui kain. Lalu tangan kananku menyelinap masuk ke celana pendeknya. Jari-jariku menemukan vagina yang sudah agak basah. Bibir luarnya yang tebal dan hangat, klitorisnya yang kecil mulai membengkak saat aku usap pelan.
7768Please respect copyright.PENANAZePN0GDUFT
“Kamu sudah basah, Ra. Tubuhmu jujur sekali,” bisikku di telinganya.
7768Please respect copyright.PENANAsawiKmJIA0
Rara menggeleng pelan, tapi pinggulnya tanpa sadar bergerak maju, mencari jari-jariku. “Ini… ini karena takut… bukan karena…”
7768Please respect copyright.PENANA0RVssEzBpc
Aku memasukkan satu jari pelan ke dalam vaginanya yang sempit dan hangat. Dinding dalamnya langsung mencengkeram jari ku. Basah, licin, dan sangat panas.
7768Please respect copyright.PENANAlVgGTEzYfW
“Bilang saja kalau kamu mau, Ra. Papa tahu kamu suka yang kasar juga. Seperti semalam.”
7768Please respect copyright.PENANA3TECQCLFck
Dialog kami terus mengalir pelan, penuh ketegangan. Rara masih berusaha menolak dengan kata-kata, tapi tubuhnya mulai menyerah. Aku terus fingering-nya dengan lambat, menambah satu jari lagi, merasakan cairannya semakin banyak. Payudaranya aku remas bergantian, kadang mencium lehernya, menghisap kulitnya hingga meninggalkan jejak samar.
7768Please respect copyright.PENANAEqbSkHwjsB
Kami belum benar-benar ke ranjang. Aku ingin build-up ini berlangsung lama. Aku ingin dia memohon dulu dalam hatinya.
7768Please respect copyright.PENANA0CQXWdZPim
Aku menarik tanganku keluar, membawa jari yang basah ke mulutnya. “Jilat. Rasakan sendiri seberapa nakal kamu.”
7768Please respect copyright.PENANAh0NoNTsDDm
Rara ragu-ragu, tapi lidahnya keluar, menjilat jari-jariku yang berlumur cairannya sendiri. Matanya menatapku dengan campuran malu dan nafsu yang mulai menyala.
7768Please respect copyright.PENANArpYy224vpQ
“Pa… kalau aku lakukan ini… foto-fotonya dihapus ya?” tanyanya dengan suara gemetar.
7768Please respect copyright.PENANAsCJW2CivHY
Aku tersenyum. “Baru sebagian, Ra. Sisanya tergantung seberapa baik kamu memuaskan Papa malam ini.”
7768Please respect copyright.PENANAfujP7qQsKi
Aku berdiri, menarik tangannya agar ikut berdiri. Tubuh kami sangat dekat. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, aroma nafsunya yang mulai keluar.
7768Please respect copyright.PENANAnFmn8XZm0B
“Kita ke kamar Papa. Malam ini panjang. Papa mau jelajahi setiap bagian tubuhmu dengan mulut, jari, dan nanti… dengan milik Papa yang sudah sangat keras ini.”
7768Please respect copyright.PENANASXSOaKY3qG
Rara menelan ludah. Bokongnya yang montok bergoyang pelan saat dia berjalan di depanku menuju kamar utama. Payudaranya bergoyang di balik tank top. Aku tahu, di dalam hatinya, ketegangan dan ketakutan bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap—keinginan yang selama ini mungkin dia pendam.
7768Please respect copyright.PENANALWbzPvSDvB
Kami masuk ke kamar. Pintu kututup rapat. Tak ada gangguan. Hanya aku, dia, dan rahasia yang baru saja terbuka.
7768Please respect copyright.PENANA2da3sY61bT
Aku mendorongnya pelan ke ranjang, membaringkannya. Aku naik ke atasnya, mencium bibirnya untuk pertama kali—ciuman lambat, dalam, lidah kami saling menari. Tanganku kembali ke payudaranya, meremas lebih kuat sekarang. Putingnya aku cubit pelan, membuatnya mendesah ke dalam mulutku.
7768Please respect copyright.PENANAgqslUaLCEM
“Pa… pelan…” bisiknya di sela ciuman.
7768Please respect copyright.PENANAnFtxMmMArU
Tapi aku tahu, dia sudah mulai basah lagi.
7768Please respect copyright.PENANAuDJ4wDpOIG
Foreplay ini baru permulaan. Aku akan menjilat setiap inci kulitnya, menghisap putingnya sampai dia gemetar, menjilat vagina dan klitorisnya sampai dia orgasme pertama, lalu baru memasukinya. Tapi semuanya akan kulakukan dengan sangat lambat, penuh dialog, penuh sentuhan yang membakar.
7768Please respect copyright.PENANA9fgF27h8cD
“Pa… tunggu,” bisiknya lagi, suaranya parau campur malu dan sesuatu yang lebih dalam. Matanya yang indah berkaca-kaca, tapi pupilnya melebar penuh nafsu yang tak bisa disembunyikan. “Kalau aku kasih tubuhku malam ini… apa Papa janji hanya sekali? Apa ini akan jadi rahasia kita berdua selamanya?”
7768Please respect copyright.PENANAzJkx5uAuZ7
Aku tersenyum pelan, tangan kananku masih berada di pinggangnya yang ramping, jari-jariku mengusap kulit halus di sana dengan gerakan melingkar lambat. “Rahasia kita, Ra. Selama kamu patuh dan memuaskan Papa, foto-foto itu aman. Tapi Papa tidak janji hanya sekali. Tubuhmu terlalu sempurna untuk hanya dinikmati satu malam saja.”
7768Please respect copyright.PENANAZJQQLoJflc
Rara menggigit bibir bawahnya, gerakan yang sama persis seperti yang kulihat semalam saat Dika memasukinya. Payudaranya naik-turun lebih cepat, puting kanannya yang belum tersentuh juga mulai mengeras, menonjol jelas di balik kain tank top yang tersisa. Aku menarik kain itu pelan ke atas, melepaskannya sepenuhnya. Sekarang dada telanjangnya terpampang sempurna di depanku—dua gundukan besar, berat tapi kencang, dengan areola yang lebar dan pink lembut. Kulit di sekitar putingnya halus tanpa cela, sedikit berkilau karena panas tubuhnya.
7768Please respect copyright.PENANA9WSOw7VyJW
Aku membungkuk perlahan, napasku sengaja kusiapkan agar menyapu kulitnya dulu sebelum mulutku menyentuh. “Lihat betapa indahnya payudaramu, Ra. Selama ini Papa harus menahan diri setiap kali kamu jalan di rumah pakai baju tipis. Sekarang… Papa boleh nikmati semuanya.”
7768Please respect copyright.PENANApcAF1buVLz
Rara mendesah pelan saat bibirku menyentuh belahan dada kanannya. Aku mencium di sana dengan lembut, lidahku menelusuri garis lembut kulitnya yang harum sabun mandi. Tangan kiriku meraih payudara kirinya, meremasnya dengan penuh kasih sayang tapi penuh nafsu—merasakan betapa kenyal dan beratnya, bagaimana dagingnya melimpah di antara jari-jariku. Putingnya yang mengeras aku putar pelan dengan ibu jari, membuat Rara melengkungkan punggungnya.
7768Please respect copyright.PENANARVT6QhrvAy
“Ahh… Pa… pelan… rasanya… geli tapi enak…” gumamnya, suaranya mulai pecah.
7768Please respect copyright.PENANAj2xAjldxUj
Aku tidak buru-buru. Mulutku berpindah ke puting kanannya. Aku meniup pelan dulu, membuatnya semakin tegak, lalu lidahku menjilat lingkaran kecil di sekitar areolanya. Rara menggeliat, tangannya tanpa sadar naik ke rambutku, mencengkeram pelan. Aku menghisap puting itu ke dalam mulutku—pelan dulu, lalu lebih kuat, lidahku berputar dan menekan. Suara isapan basah terdengar jelas di kamar yang sunyi.
7768Please respect copyright.PENANATrSv6kHbEJ
“Pa… ahhh… jangan hisap terlalu kuat… aku… aku sensitif di situ…” protesnya lemah, tapi pinggulnya justru bergerak pelan ke atas, mencari gesekan.
7768Please respect copyright.PENANAvpv0VggJGU
Tangan kananku turun ke celana pendeknya. Aku membuka kancingnya dengan satu tangan, menurunkan resleting pelan sambil terus menghisap bergantian antara kedua putingnya. Payudaranya sudah basah oleh ludahku, berkilau, putingnya membengkak sedikit karena hisapan panjang. Aku menarik celana pendek itu beserta celana dalamnya ke bawah dalam satu gerakan lambat. Kakinya yang panjang, mulus, dan berbentuk indah terangkat sedikit membantuku. Aku melempar kain itu ke lantai.
7768Please respect copyright.PENANA67iXiTVUKR
Sekarang Rara benar-benar telanjang di depanku. Bokongnya yang bulat sempurna tertekan ke kasur, paha dalamnya yang putih dan lembut terbuka sedikit. Vaginanya yang dicukur bersih terpampang—bibir luar tebal dan montok berwarna pink muda, sudah sedikit mengembang dan basah mengkilap. Klitoris kecilnya yang tersembunyi mulai terlihat karena pembengkakan. Aku bisa mencium aroma manis dan musky nafsunya yang mulai keluar.
7768Please respect copyright.PENANAcVPvv13r4r
“Ra… lihat betapa cantiknya vagina anak Papa,” bisikku serak, jari telunjukku mengusap pelan bibir luarnya dari bawah ke atas. Cairan beningnya langsung menempel di jari. “Sudah basah sekali. Kamu suka saat Papa mainin payudaramu ya?”
7768Please respect copyright.PENANAG4bgyH6F7O
Rara menutup mata, pipinya merah padam. “Pa… jangan bilang begitu… malu…”
7768Please respect copyright.PENANAkE0CP0CtPa
Tapi aku memasukkan satu jari pelan ke dalamnya. Dinding vaginanya hangat, sempit, dan sangat licin. Ia langsung mencengkeram jari ku dengan kuat. Aku gerakkan jari itu keluar-masuk lambat, ibu jariku mengusap klitorisnya yang semakin keras.
7768Please respect copyright.PENANALxztSKLSq7
“Uhh… Pa… ahh… jangan di situ… terlalu… sensitif…” desahnya panjang, kakinya terbuka lebih lebar tanpa sadar.
7768Please respect copyright.PENANA0yiw5Ar7L6
Aku menambah satu jari lagi, sekarang dua jari ku memompa pelan di dalam vaginanya yang semakin basah. Suara cairannya yang licin terdengar setiap gerakan—*slurp… slurp…* pelan tapi jelas. Mulutku kembali ke payudaranya, menghisap puting kiri dengan rakus sementara tangan kananku terus fingering-nya. Rara mulai mendesah lebih keras, pinggulnya naik-turun mengikuti irama jariku.
7768Please respect copyright.PENANARUWj8FJFtk
“Pa… enak… tapi pelan… aku… aku mau pelan dulu…” katanya di sela desahan, suaranya semakin manja.
7768Please respect copyright.PENANAw5LQNMz1EJ
Aku menarik jari-jariku keluar, membawa ke mulutnya lagi. “Jilat bersih, Ra. Rasakan sendiri seberapa basah kamu.
7768Please respect copyright.PENANAKuvEragOlj
Kali ini Rara tak ragu lagi. Lidahnya yang pink dan lembut menjilat jari-jariku dengan patuh, matanya menatapku penuh malu tapi nafsu. Aku tersenyum, lalu turun lebih rendah. Aku mencium perutnya yang rata, pusarnya yang kecil, lalu turun ke atas kemaluan. Aroma vaginanya semakin kuat—manis, sedikit asin, sangat menggoda.
7768Please respect copyright.PENANADN6qRSwvQM
Aku membuka paha dalamnya lebih lebar dengan kedua tangan. Bokongnya yang montok terangkat sedikit saat aku angkat pinggulnya. Vaginanya terbuka sempurna di depan wajahku—bibir luar tebal mengembang, bibir dalam yang lebih tipis dan merah muda basah berkilau, lubangnya berkedut kecil menunggu. Klitorisnya sudah keluar sedikit dari sarungnya, kecil tapi keras.
7768Please respect copyright.PENANAIQato6HLtM
“Pa… jangan lihat terlalu dekat… malu…” bisiknya, tapi tangannya justru memegang rambutku, seolah menarikku lebih dekat.
7768Please respect copyright.PENANAPRb1dDrdbE
Aku meniup pelan ke klitorisnya. Rara menggigil. Lalu lidahku menyentuh—pertama menjilat bibir luar kiri, lambat, basah, menikmati rasa asin-manisnya. Kemudian ke kanan. Lalu ke tengah, menelusuri celahnya dari bawah ke atas hingga menyentuh klitoris.
7768Please respect copyright.PENANAesKi8LwsVv
“Ahhhhh! Pa… lidah Papa… panas sekali…” jerit kecilnya penuh kenikmatan.
7768Please respect copyright.PENANAOIKLpIOfnp
Aku mulai menjilat dengan ritme lambat tapi mantap. Lidahku menari di sekitar klitoris, kadang menekan datar, kadang ujung lidahku berputar cepat. Sesekali aku menghisap seluruh klitorisnya ke dalam mulut, lidahku bergetar di dalam. Dua jari ku kembali masuk ke vaginanya, memompa selaras dengan gerakan lidah. Cairannya semakin banyak, mengalir ke bokongnya yang bulat.
7768Please respect copyright.PENANA9dWWbKK46T
Rara mulai kehilangan kendali. “Pa… enak… jangan berhenti… ya Tuhan… lidah Papa di klitorisku… aku… aku mau keluar…”
7768Please respect copyright.PENANAZYRQOff9ct
Aku terus menjilat lebih intens. Suara isapan dan jilatan basah memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang-goyang liar karena gerakan pinggulnya yang tak terkendali. Bokongnya naik-turun, kakinya yang panjang melingkar di bahuku, tumitnya menekan punggungku.
7768Please respect copyright.PENANAliEUbTPtPT
“Pa… aku… aku hampir… ahh… lebih cepat… jangan berhenti…” desahannya semakin liar.
7768Please respect copyright.PENANAYUuo0hq5Xy
Aku menekan lidahku lebih kuat ke klitorisnya, dua jari ku melengkung di dalam vaginanya mencari titik G-nya yang kasar. Rara menjerit panjang, tubuhnya menegang total. Vaginanya berdenyut kuat di sekitar jari-jariku, cairan hangatnya menyembur kecil ke lidahku. Orgasme pertamanya datang panjang dan kuat—ia gemetar hebat, payudaranya naik-turun cepat, putingnya sangat keras.
7768Please respect copyright.PENANAYTZpOVFTyL
“Pa… aku keluar… ahhhhhhh!” jeritnya pecah, matanya terpejam rapat, air mata kenikmatan mengalir ke samping.
7768Please respect copyright.PENANAjSjK88ztBN
Aku terus menjilat pelan sampai gelombang orgasmenya reda, membersihkan setiap tetes cairannya dengan lidah. Tubuh Rara lemas sebentar, napasnya tersengal-sengal. Aku naik ke atasnya lagi, mencium bibirnya dalam-dalam, membiarkannya merasakan rasa vaginanya sendiri di lidahku.
7768Please respect copyright.PENANA36bps0nj2g
“Enak kan, Ra? Orgasme pertama dari Papa,” bisikku di telinganya sambil tanganku meremas payudaranya lagi.
7768Please respect copyright.PENANAxEqDzpLFjG
Rara mengangguk lemah, suaranya hampir hilang. “Enak… Pa… belum pernah seintens ini… Dika… tidak seperti ini…”
7768Please respect copyright.PENANAktNU7QPFt4
Aku tersenyum puas. “Ini baru foreplay, Nak. Papa belum memasukkan milik Papa yang sudah sangat keras ini.”
7768Please respect copyright.PENANAgJDwEyLc5K
Aku melepaskan celana piyama, batangku yang tebal dan panjang sudah berdiri tegak, kepalanya mengkilap oleh precum. Rara menatapnya dengan mata lebar, campuran takut dan ingin.
7768Please respect copyright.PENANAYVYnrGF11U
“Pa… besar sekali… aku takut…” katanya pelan, tapi tangannya tanpa sadar terulur menyentuhnya.
7768Please respect copyright.PENANANIbhIhW8Kx
Aku membiarkannya memegang, merasakan kehangatan tangannya yang lembut di batangku. “Sentuh dulu. Biasakan. Malam ini Papa akan masukkan pelan-pelan.”
7768Please respect copyright.PENANAKtpi4ANltk
Kami berciuman lagi, lama dan dalam, sambil tangannya naik-turun pelan di batangku. Payudaranya tertekan ke dadaku, putingnya menggesek kulitku. Ketegangan semakin membara.
7768Please respect copyright.PENANA0DpFmeW8d5
Aku membalik tubuhnya perlahan hingga Rara berlutut, bokongnya yang montok dan sempurna terangkat tinggi ke arahku. Vaginanya masih basah berkilau dari orgasme tadi, bibirnya mengembang indah. Aku mengusap batangku di celahnya, menggesek klitoris dan lubangnya tanpa memasukkan.
7768Please respect copyright.PENANAYzxi4STLPg
“Pa… masukkan… aku sudah tidak tahan…” mohonnya, suaranya gemetar penuh nafsu.
7768Please respect copyright.PENANAbOUf1PpFXh
Tapi aku masih menggoda, menggesek lebih lama, tanganku meremas bokongnya yang kenyal, membuka belahan bokongnya lebar-lebar. “Belum, Ra. Papa mau dengar kamu memohon lebih jelas.”
7768Please respect copyright.PENANAFwWyyAZTuu
“Pa… please… masukkan batang Papa ke vagina aku… aku mau diisi… aku milik Papa sekarang…” bisiknya malu-malu tapi penuh hasrat.
7768Please respect copyright.PENANAcE3lSIhyzG
Akhirnya aku mendorong kepala batangku pelan ke lubang vaginanya yang sempit. Hanya kepala dulu—rasanya sangat ketat, dindingnya mencengkeram kuat. Rara mendesah panjang. “Ahhh… besar… pelan Pa…”
7768Please respect copyright.PENANAJBwt5qyGQL
Aku dorong perlahan inci demi inci, merasakan setiap lipatan vaginanya yang hangat dan basah melingkupi batangku. Setelah setengah masuk, aku berhenti, membiarkannya menyesuaikan. Tangan ku meraih payudaranya dari belakang, meremas sambil mencubit putingnya.
7768Please respect copyright.PENANAjau2XOe5Om
“Enak, Ra? Rasakan betapa penuhnya vagina kamu diisi Papa.”
7768Please respect copyright.PENANAXroUKurvfE
“Enak… Pa… lebih dalam… aku mau semuanya…” desahnya.
7768Please respect copyright.PENANAxnB0zHXe72
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


