Penjual Bunga yang Menanam Harapan
Namaku Sri. Aku seorang janda yang tinggal sendirian setelah suamiku meninggal dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu. Aku menjalankan usaha kecil penjualan bunga di pasar lokal – menjual bunga segar yang kubeli dari petani di desa sekitar atau yang kutanam sendiri di halaman belakang rumah.
Di sebelah rumahku, tinggallah seorang pria bernama Budi – istri perempuannya baru saja pergi karena sakit paru-paru setahun yang lalu. Ia bekerja sebagai sopir angkutan kota dan seringkali kesusahan mengurus rumah dan anaknya yang masih kecil sendirian. Kita mulai akrab ketika ia datang membeli bunga untuk menghiasi makam istrinya pada hari ulang tahunnya.
"Aku tidak tahu harus memilih bunga apa," katanya dengan suara lemah. "Dia selalu suka bunga tapi aku jarang pernah memberikannya padanya."
"Aku akan memilihkan yang terbaik untukmu," jawabku sambil mengambil beberapa tangkai mawar merah dan putih. "Ini adalah bunga kesukaannya kan? Kamu pernah bilang padaku dulu."
Sejak itu, ia sering datang ke warung bungaku – kadang untuk membeli bunga untuk makam istrinya, kadang hanya untuk membeli secangkir teh hangat dan berbincang sebentar. Ia bercerita tentang kesusahannya mengurus rumah dan anaknya sendirian, tentang rasa rindu yang tak pernah hilang pada istrinya, dan tentang ketakutannya tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Aku hanya mendengarkan dan memberikan dukungan dengan cara yang sederhana – terkadang memberinya makanan yang kubuat sendiri untuk anaknya, terkadang membantu menjaga anaknya sebentar ketika ia harus bekerja lembur.
Suatu hari, ia datang ke warungku dengan wajah yang pucat. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya karena perusahaan tempat ia bekerja tutup. "Aku tidak tahu harus bagaimana," katanya dengan mata merah. "Anakku masih kecil dan butuh banyak hal."
"Aku punya ide," kataku setelah berpikir sebentar. "Kamu bisa membantu aku mengurus usaha bungaku – mengantar pesanan ke pelanggan, merawat tanaman di halamanku, atau membantu menjaga warung ketika aku harus keluar. Aku akan membayarmu dengan baik, dan kamu bisa bekerja sesuai waktu yang kamu punya."
Ia menerima tawaranku dengan senyum haru. Sejak itu, kita bekerja bersama dalam usaha bungaku. Aku mengajarkannya cara merawat bunga, mengenal jenis-jenis bunga yang laku di pasar, dan cara berkomunikasi dengan pelanggan. Kita selalu menjaga hubungan sebatas teman dan rekan kerja – tidak pernah ada kata-kata atau tindakan yang bisa salah artian. Aku tahu bahwa ia masih mencintai istrinya yang telah tiada, dan aku sendiri juga belum siap untuk berpikir tentang hubungan baru setelah kehilangan suamiku.
Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai sopir pribadi seorang pengusaha lokal. Ia tetap membantu aku di warung bunga ketika ada waktu luangnya. "Terima kasih karena tidak pernah melihatku sebagai pria yang lemah atau sebagai kesempatan untuk hubungan baru," katanya suatu hari ketika memberitahuku tentang pekerjaannya yang baru. "Kamu hanya seorang teman yang benar-benar ingin membantu."
Kini, usaha bungaku semakin berkembang. Kadang kita masih bekerja bersama ketika ada pesanan besar, dan kita selalu berbagi cerita tentang bagaimana kita belajar untuk kuat setelah kehilangan orang tersayang. Aku tetap menjadi penjual bunga yang suka menanam harapan dalam hidup orang lain – bukan seseorang yang pernah berpikir untuk menggantikan tempat orang tersayang dalam hati seseorang.
110Please respect copyright.PENANA79bIH5iMDB


