Aku, Kaelan, mendorong pintu rumah kayu jati tua itu dengan bahu yang sedikit pegal setelah seharian mengurus proyek renovasi di pinggir kota. Hari itu hujan deras mengguyur Kudus sejak sore, membuat jalanan licin dan pikiranku basah oleh kenangan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Lampu teras menyala redup, kuning keemasan seperti biasa, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. Ada aroma lilin vanila yang samar-samar menyusup keluar dari celah pintu—aroma yang biasanya Saskia nyalakan saat dia ingin suasana rumah terasa hangat dan menggoda.
5676Please respect copyright.PENANAaCuUaCNHjS
Saskia. Pacarku selama tiga tahun terakhir. Wanita yang membuatku merasa hidup setiap kali dia tersenyum. Tubuhnya yang tinggi semampai, 172 sentimeter, dengan kaki panjang yang selalu terlihat sempurna di balik rok pensil kantor atau celana yoga ketatnya. Payudaranya yang ukuran 36C, berat dan penuh, selalu bergoyang lembut saat dia berjalan, areolanya yang berwarna cokelat muda seperti karamel, putingnya yang kecil tapi cepat mengeras hanya dengan sentuhan jariku. Aku mengenal setiap inci kulitnya. Atau setidaknya, kukira begitu.
5676Please respect copyright.PENANAzxq3yc15Bn
Aku melepas sepatu di teras, kaos kaki basah menempel di telapak kaki. Rumah dua lantai ini milik ayahku, Darmawan. Seorang duda berusia 52 tahun yang masih terlihat gagah. Tubuhnya tegap karena kebiasaan olahraga pagi dan kerja fisik di perusahaan kontraktor kecilnya. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, tapi rahangnya tegas, suaranya dalam dan tenang—suara yang selalu membuat orang mendengarkan. Sejak ibuku meninggal lima tahun lalu karena kanker, ayah hidup sendirian di rumah ini. Aku pindah ke apartemen kecil di dekat kantor dua tahun lalu agar lebih mandiri, tapi tetap sering mampir, terutama sejak Saskia mulai tinggal di sini sementara menunggu apartemen barunya selesai direnovasi.
5676Please respect copyright.PENANAWFeW1laSxC
Itu ide ayahku sendiri. “Lebih baik Saskia di sini daripada kos sendirian, Lan. Rumah ini terlalu sepi,” katanya waktu itu sambil menepuk pundakku. Matanya tulus. Aku percaya. Kenapa tidak? Ayahku orang paling dihormati di lingkungan ini. Tetangga sering minta nasihat, karyawannya segan. Saskia juga menyukainya. “Papamu orangnya asyik, Lan. Bisa diajak ngobrol apa saja,” katanya suatu malam sambil meringkuk di pelukanku.
5676Please respect copyright.PENANAGloTses1VN
Aku mendorong pintu masuk. Ruang tamu gelap, hanya lampu dinding di koridor yang menyala. Suara hujan deras di atap terdengar seperti genderang jauh. Aku meletakkan tas kerja di sofa kulit cokelat tua, melepas jaket basah, dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Langkahku pelan. Entah kenapa, ada getaran aneh di dada. Mungkin karena hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya—proyek mendadak dibatalkan karena banjir.
5676Please respect copyright.PENANAhXLxUSMMke
Dari tangga atas, samar-samar terdengar suara. Bukan suara televisi. Bukan musik. Suara napas. Desahan pelan yang tertahan. Jantungku berdegup lebih kencang. Mungkin Saskia lagi tidur dan mimpi buruk? Aku naik tangga pelan-pelan, tangan memegang pegangan kayu yang dingin. Lantai dua gelap, hanya cahaya samar dari kamar utama ayahku yang pintunya sedikit terbuka.
5676Please respect copyright.PENANA1a8vSOwqY5
Aku mendekat. Napasku tertahan.
5676Please respect copyright.PENANARSzzjxlNkj
Melalui celah pintu, aku melihatnya.
5676Please respect copyright.PENANAI3MLCWnl2B
Saskia. Telanjang bulat. Tubuhnya yang indah diterangi lampu kamar tidur yang redup. Payudaranya yang penuh dan berat bergoyang-goyang pelan, putingnya sudah mengeras seperti dua puncak kecil yang memerah karena rangsangan. Dia duduk di atas pangkuan ayahku, pinggulnya bergerak naik-turun dengan ritme lambat, sensual. Kontol ayahku yang tebal dan panjang—aku tak pernah melihatnya sebelumnya, tapi sekarang terlihat jelas—masuk keluar dari vaginanya yang sudah basah mengkilap. Bibir luar vaginanya yang tebal dan montok, berwarna merah muda gelap, membuka lebar setiap kali pinggulnya turun, membiarkan batang ayahku yang berurat menyelam dalam-dalam. Cairan kentalnya menetes di pangkal kontol ayah, membasahi bola-bolanya yang besar dan berbulu tipis.
5676Please respect copyright.PENANA1Kd1mlkysc
“Oh… Pak Dar… pelan… ahh…” desah Saskia dengan suara serak yang penuh kenikmatan. Kepalanya mendongak, rambut hitam panjangnya yang biasa aku cium harum sampo strawberry tergerai di punggungnya yang lentik. Bokongnya yang bulat sempurna, kencang tapi kenyal, naik-turun, dagingnya bergoyang setiap kali bertemu pangkal kontol ayahku. Kulitnya yang putih mulus berkilau oleh keringat.
5676Please respect copyright.PENANAximbYM0pZZ
Ayahku duduk bersandar di kepala ranjang, tangannya memegang pinggang ramping Saskia dengan kuat tapi lembut. Jari-jarinya yang kasar karena kerja fisik menekan daging lembut di sana. “Saskia… kamu begitu sempit… basah sekali… ayah nggak tahan…” suaranya dalam, parau, penuh nafsu yang sudah lama terpendam.
5676Please respect copyright.PENANAFIYRcc6YX9
Aku membeku di tempat. Kaki seperti terpaku. Dunia seolah berhenti berputar. Hanya suara hujan, desahan mereka, dan detak jantungku yang menggelegar yang terdengar.
5676Please respect copyright.PENANAc8HynVTvVp
Bagaimana bisa? Kapan ini dimulai?
5676Please respect copyright.PENANAWqdNtadsgO
Ingatanku melayang ke belakang, ke awal semuanya, seolah otakku mencoba mencari alasan, mencari titik di mana segalanya mulai melenceng.
5676Please respect copyright.PENANAgMi8PfgSzl
---
5676Please respect copyright.PENANA5g9sGbYAlS
Tiga bulan lalu.
5676Please respect copyright.PENANAVI31xRUIEc
Aku pulang ke rumah ini setelah dua minggu dinas ke Semarang. Saskia menyambutku di pintu dengan pelukan hangat. Tubuhnya yang lembut menempel padaku, payudaranya yang penuh tertekan di dada. “Kangen banget, Lan,” bisiknya sambil mencium bibirku dalam-dalam. Lidahnya menari pelan dengan lidahku, basah dan manis. Aku mengangkatnya, membawanya ke kamar tamu yang sekarang jadi kamarnya, dan kami bercinta sepanjang malam. Dia di atas, mengendalikan ritme, pinggulnya berputar sensual, dinding vaginanya yang hangat dan berdenyut meremas kontolku dengan sempurna. Aku ingat bagaimana putingnya mengeras saat aku hisap, bagaimana dia gemetar hebat saat orgasme keduanya datang, cairannya membasahi selangkangan kami.
5676Please respect copyright.PENANA6ZRnd8QoGv
Tapi saat itu, ayah sering berada di rumah. Dia baru saja menyelesaikan proyek besar dan punya lebih banyak waktu luang. Pagi-pagi dia masak sarapan untuk kami bertiga. Saskia selalu tertawa lepas saat ayah bercerita tentang masa mudanya dulu, saat dia masih bujangan dan suka naik gunung. “Kamu mirip papamu waktu muda, Lan. Tapi papamu lebih… berpengalaman,” candanya suatu pagi sambil mengedipkan mata ke arahku. Aku tertawa. Ayah hanya tersenyum tipis, matanya melirik Saskia sekilas—aku tak curiga waktu itu.
5676Please respect copyright.PENANAQpo2LJhNvJ
Malam-malam, saat aku lembur di kantor, Saskia sering chat dengan ayah di grup keluarga. “Papamu baik banget, nemenin aku nonton film horor tadi malam. Kamu tahu kan aku takut sendirian,” tulisnya. Aku balas dengan emoji hati. Bodohnya aku.
5676Please respect copyright.PENANAb5w83fiTnz
Suatu malam hujan deras seperti sekarang, aku telat pulang. Saat tiba, aku mendengar mereka tertawa di ruang keluarga. Saskia memakai tank top tipis tanpa bra, putingnya samar terlihat karena AC dingin. Ayah duduk di sebelahnya, tangannya memegang remote, tapi jarak mereka terlalu dekat. Paha Saskia yang halus dan panjang bersentuhan dengan celana pendek ayah. Aku mengusir pikiran itu. Hanya kebetulan.
5676Please respect copyright.PENANAPWY81ck1XG
Tapi ketegangan mulai terbangun perlahan.
5676Please respect copyright.PENANAHbZ2DtZjCU
Saskia mulai sering memuji ayah di depanku. “Papamu kuat sekali, Lan. Angkat kardus berat kemarin tanpa bantu siapa-siapa. Kamu harus belajar dari beliau.” Suaranya manja, matanya berbinar. Saat kami bercinta, dia kadang menyebut “lebih keras, seperti papamu yang tegas.” Aku kira itu dirty talk biasa. Aku malah semakin bergairah.
5676Please respect copyright.PENANAVzzYIWBt3i
Ayah juga berubah. Dia lebih sering memakai kaos ketat yang menonjolkan otot dada dan lengannya yang masih kencang di usia 52. Saat Saskia berjalan di depannya, matanya mengikuti gerakan bokong Saskia yang bergoyang lembut. Aku melihat itu sekali-dua kali, tapi menganggapnya sebagai kekaguman biasa seorang ayah pada pacar anaknya.
5676Please respect copyright.PENANApnSYnL9Fyk
Hingga dua minggu lalu.
5676Please respect copyright.PENANAoZCkbTkYDH
Aku pulang larut, menemukan Saskia di dapur hanya memakai kemeja oversize ayahku yang kebesaran. Kancingnya hanya dua yang terpasang, memperlihatkan belahan payudaranya yang dalam dan kulit putihnya yang halus. “Kemejamu basah kena hujan tadi, Lan. Aku pinjam punya papa,” katanya sambil tersenyum. Bau sabun mandi ayah menempel di tubuhnya. Aku mencium lehernya, tanganku merayap ke bawah kemeja, menemukan dia tak memakai celana dalam. Vaginanya sudah basah. Kami bercinta di meja dapur saat itu juga. Aku dari belakang, memasukinya dengan satu dorongan kuat. Dindingnya yang panas dan licin meremasku kuat. “Ahh… Lan… lebih dalam…” erangnya. Tapi matanya tertutup, seolah membayangkan orang lain.
5676Please respect copyright.PENANA4F0o7CMaRr
Malam itu, setelah puas, dia tertidur di pelukanku. Aku bangun tengah malam karena haus. Saat melewati kamar ayah, pintu sedikit terbuka. Aku mendengar desahan pelan. Suara Saskia. “Pak… jangan dihisap terlalu kuat… putingku sensitif…” lalu suara isapan basah dan erangan ayah yang tertahan.
5676Please respect copyright.PENANA9x1rNo8VXy
Aku tak berani masuk. Aku kembali ke kamar, berbaring di samping Saskia yang pura-pura tidur. Napasnya tak teratur. Aku tak bilang apa-apa. Malam itu aku tak bisa tidur, kontolku keras tanpa bisa ditahan, membayangkan apa yang terjadi di kamar sebelah.
5676Please respect copyright.PENANAHGlXfRgKmB
Dan sekarang, malam ini, aku melihat semuanya dengan mata kepala sendiri.
5676Please respect copyright.PENANAanKfolDe2u
Saskia semakin cepat gerakannya. Bokongnya yang montok naik-turun dengan ritme yang semakin liar. Suara basah percikan cairannya memenuhi kamar. “Pak Dar… kontol Bapak besar sekali… mengisi aku penuh… ahh… aku mau keluar lagi…” suaranya gemetar.
5676Please respect copyright.PENANAVGtPVobOyo
Ayah meraih payudara Saskia dari belakang, meremasnya kuat. Jari-jarinya tenggelam di daging lembut yang penuh itu. Putingnya yang merah muda dicekik pelan antara jempol dan telunjuk. “Keluarlah, sayang… biarkan ayah rasakan denyutanmu…” bisik ayah di telinganya sambil menggigit cuping telinga Saskia pelan.
5676Please respect copyright.PENANAhYgZdL8giZ
Aku melihat otot paha Saskia yang kencang menegang, kakinya yang panjang dan halus terbuka lebar di pangkuan ayah. Jari kakinya melengkung. Vaginasnya berdenyut kuat, cairan beningnya menyembur sedikit saat orgasme menghantamnya. Tubuhnya kejang, kepalanya mendongak, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan panjang yang penuh kenikmatan. “Aaaahhh… Pak… aku… cumming…!!”
5676Please respect copyright.PENANAWyjd1Y5WFA
Ayah tak berhenti. Pinggulnya yang kuat dan berotot mendorong ke atas dengan ritme mantap namun penuh kendali, kontolnya yang tebal dan berurat menghunjam dalam-dalam ke dalam vaginanya yang sudah banjir oleh cairan kenikmatan. Urat-urat tegang di sepanjang batangnya menonjol jelas setiap kali ia menarik mundur sedikit, hanya untuk kemudian mendorong kembali hingga pangkal, kepala kontolnya yang besar dan mengkilap membesar di dalam dinding vaginanya yang berdenyut liar, meremasnya seperti ingin menelan seluruhnya. Keringat mengalir deras di dada bidang ayah yang bidang, mengalir melewati lekukan otot perutnya yang masih kencang meski usia sudah 52 tahun, menetes ke pangkal kontolnya yang basah oleh cairan Saskia.
5676Please respect copyright.PENANAik4ruvSt7g
Saskia menggigit bibir bawahnya kuat, matanya setengah terpejam tapi masih terbuka cukup untuk menatapku melalui celah pintu yang kini terbuka lebar. Napasnya tersengal-sengal, payudaranya yang penuh dan berat bergoyang-goyang liar mengikuti setiap hantaman ayah. Bentuknya yang bulat sempurna dengan sedikit kemiringan ke samping saat bergoyang, kulitnya yang putih mulus berkilau oleh keringat, areolanya yang cokelat muda melebar karena rangsangan, putingnya yang kecil tapi sudah mengeras sempurna seperti dua batu kecil yang memerah gelap. Setiap kali ayah mendorong ke atas, payudara itu terangkat tinggi, lalu jatuh dengan getaran lembut yang menggoda, dagingnya bergelombang indah.
5676Please respect copyright.PENANA6ebWy4FBDI
“Pak Dar… ahh… masih… masih dalam sekali…” erang Saskia dengan suara serak yang penuh kerinduan. Pinggulnya ikut bergerak turun menyambut setiap hantaman, bokongnya yang bulat sempurna dan kenyal itu naik-turun, dagingnya yang kencang bergoyang-goyang setiap kali bertabrakan dengan paha ayah. Kulit bokongnya yang halus dan putih mulai memerah di bagian yang sering disentuh telapak ayah. “Kontol Bapak… menggesek titik itu… ya Tuhan… aku bisa gila…”
5676Please respect copyright.PENANAyReZ6STKhw
Ayah tersenyum kecil, tangannya yang besar dan kasar merayap naik dari pinggang Saskia ke payudaranya. Ia meremas keduanya dengan penuh nafsu tapi juga kelembutan yang mengejutkan, jari-jarinya tenggelam dalam-dalam ke daging lembut yang penuh itu. Puting kiri Saskia dicepit pelan antara jempol dan telunjuk, ditarik sedikit, lalu dipilin lembut. Saskia menjerit kecil, tubuhnya melengkung ke belakang, vaginanya berdenyut lebih kuat di sekeliling kontol ayah. Aku bisa melihat jelas bagaimana bibir luar vaginanya yang tebal dan montok itu membuka lebar, merah muda gelap mengkilap oleh cairannya sendiri, bibir dalamnya yang lebih tipis dan halus menjepit batang kontol ayah setiap kali ia naik, meninggalkan lapisan lendir bening yang memanjang seperti benang sutra.
5676Please respect copyright.PENANAuwbDkO5kmq
Aku berdiri di sana, tangan kananku tanpa sadar menekan kontolku sendiri yang sudah keras membatu di dalam celana jeans. Denyutannya sakit, cairan pra-ejakulasi sudah membasahi celana dalamku. Rasa marah, cemburu, dan nafsu yang aneh dan terlarang bercampur aduk di dada hingga membuat napasku tersengal. Bagaimana bisa Saskia, pacarku yang dulu selalu bilang hanya aku yang bisa membuatnya basah seperti ini, sekarang menunggang kontol ayahku dengan begitu liar dan penuh kenikmatan?
5676Please respect copyright.PENANATSSymDbdiz
Ayah mempercepat sedikit ritmenya, tapi tetap tidak terburu-buru. Ia ingin menikmati setiap detik. Setiap kali pinggulnya naik, kontolnya keluar hingga hanya kepalanya yang tertinggal di mulut vaginanya, lalu mendorong masuk lagi dengan satu hantaman pelan tapi kuat hingga bola-bolanya yang besar dan berat menampar pelan bibir vaginanya yang basah. Suara “plok… plok… plok…” basah dan mesum memenuhi kamar, bercampur dengan suara hujan deras di luar yang semakin deras.
5676Please respect copyright.PENANA6tmRPEwKww
“Kamu suka begini, Sayang?” tanya ayah dengan suara dalam dan parau, bibirnya mengecup leher Saskia dari belakang, lidahnya menjilat pelan kulit yang berkeringat di sana. “Lebih suka daripada kontol Kaelan?”
5676Please respect copyright.PENANAJxtU6pFyKH
Saskia menggeleng pelan, tapi matanya masih menatapku. Ada air mata kenikmatan di sudut matanya. “Jangan… jangan bandingkan… ahh… tapi… Pak… Bapak lebih… lebih tebal… lebih dalam… menyentuh tempat yang nggak pernah disentuh Lan…” suaranya pecah menjadi erangan panjang saat ayah tiba-tiba mendorong sangat dalam dan berputar pinggulnya di dalam, menggesek dinding vaginanya yang sensitif.
5676Please respect copyright.PENANA2Z3inajv5G
Aku melihat otot paha dalam Saskia yang kencang dan halus menegang hebat. Kakinya yang panjang, lurus, dan mulus seperti patung marble itu terbuka lebar di pangkuan ayah, telapak kakinya yang indah melengkung, jari-jarinya menekuk karena kenikmatan. Otot betisnya yang lembut tapi kencang gemetar pelan. Ayah meletakkan satu tangan di paha dalamnya, mengusap naik-turun dengan telapak tangan yang hangat, sesekali menampar ringan daging paha yang kenyal itu hingga terdengar suara “plak” kecil yang menggairahkan.
5676Please respect copyright.PENANARupuKC2xOy
Saskia mencondongkan tubuh ke depan sedikit, tangannya bertumpu di dada ayah. Sekarang posisinya lebih seperti cowgirl yang agresif. Ia mulai menggoyang pinggulnya sendiri dengan gerakan melingkar yang lambat dan dalam, seolah ingin merasakan setiap urat di kontol ayah menggesek dinding vaginanya. “Pak… rasanya… penuh sekali… aku merasa… penuh banget…” bisiknya sambil menunduk, rambutnya yang hitam panjang jatuh menutupi separuh wajahnya yang memerah.
5676Please respect copyright.PENANAuJKmC6mUIV
Ayah meraih rambutnya pelan, menariknya ke belakang agar wajah Saskia mendongak lagi. “Lihat Kaelan, Sayang. Lihat pacarmu yang sedang menonton kita,” bisik ayah sambil tersenyum tipis ke arahku. Matanya tak marah. Malah ada tantangan di sana, dan kebanggaan seorang pria yang sedang menguasai milik anaknya.
5676Please respect copyright.PENANA4bvFfUf6O1
Saskia menatapku langsung sekarang. Matanya berkaca-kaca karena kenikmatan, bibirnya yang basah dan bengkak sedikit terbuka. “Lan… maaf… tapi… aku nggak bisa berhenti… kontol papamu… terlalu enak…” suaranya gemetar, tapi ada nada godaan di dalamnya. Pinggulnya terus bergerak, naik-turun lebih cepat sekarang.
5676Please respect copyright.PENANAfBNGyZa2oF
Aku tak bisa bergerak. Hanya bisa menonton saat ayah tiba-tiba mengangkat pinggulnya lebih tinggi, menghunjam dengan hantaman-hantaman pendek dan cepat yang membuat payudara Saskia bergoyang liar. Suara basah vaginanya yang sudah sangat licin terdengar semakin keras. Cairannya menetes deras, membasahi selangkangan ayah hingga mengkilap.
5676Please respect copyright.PENANAj0ZKFM2grm
“Keluar lagi, Saskia… ayah mau rasakan kamu mencengkeram kontol ayah lagi,” perintah ayah dengan suara rendah yang penuh dominasi lembut.
5676Please respect copyright.PENANAMT9hSLQssd
Saskia mengangguk cepat, napasnya memburu. “Ya… Pak… aku… aku dekat… jangan berhenti… hisap putingku… ya… seperti itu…” Ayah menunduk, mulutnya menyedot puting kiri Saskia dengan rakus. Lidahnya berputar di sekitar areola, sesekali menggigit pelan puting yang sudah sangat sensitif itu. Saskia menjerit kecil, tubuhnya kejang hebat. Dinding vaginanya berdenyut liar, meremas kontol ayah dengan irama yang tak teratur. Aku melihat cairannya menyembur sedikit, membasahi bola ayah dan ranjang di bawahnya.
5676Please respect copyright.PENANAOP6zx7IVnE
Orgasme keduanya datang dengan kuat. Tubuh Saskia melengkung seperti busur, kakinya menjepit pinggang ayah, otot paha dalamnya bergetar hebat. “Aaaahhhhh… Pak Dar… aku… cumming… lagi…!!” jeritnya panjang, suaranya pecah-pecah karena kenikmatan yang melanda. Denyutan vaginanya begitu kuat hingga ayah mengerang dalam, kontolnya berdenyut di dalamnya, tapi ia menahan diri untuk tidak ikut keluar.
5676Please respect copyright.PENANAzUM7yr0DSe
Ayah terus menghunjam pelan selama orgasme Saskia berlangsung, memperpanjang gelombang kenikmatannya. Setiap denyutan vaginanya disambut dengan dorongan kecil yang membuat Saskia tersentak lagi dan lagi. Keringat mengalir di antara payudaranya yang bergoyang, menetes ke perut ayah.
5676Please respect copyright.PENANAOFGxaikbwP
Setelah gelombang pertama reda, Saskia ambruk ke dada ayah, napasnya tersengal. Tapi ayah belum selesai. Ia membalikkan tubuh Saskia dengan mudah, sekarang dalam posisi doggy style. Bokong Saskia yang indah terangkat tinggi, punggungnya melengkung, wajahnya tertelungkup di bantal. Aku bisa melihat semuanya dari samping—vaginanya yang sudah merah dan bengkak karena orgasme, bibirnya yang terbuka lebar, cairan bening masih menetes dari lubang yang berkedut.
5676Please respect copyright.PENANAsQx4w12RGO
Ayah memposisikan diri di belakangnya, tangannya memegang pinggul Saskia, lalu mendorong kontolnya yang masih keras dan basah masuk kembali dengan satu hantaman panjang hingga pangkal. Saskia menjerit lagi ke dalam bantal. “Terlalu… dalam… Pak…!”
5676Please respect copyright.PENANA7mgjO51jja
Ayah mulai bergerak. Lambat dulu, lalu semakin kuat. Setiap hantaman membuat bokong Saskia bergoyang indah, daging kenyal itu bergetar dan memerah karena tabrakan. Tangan ayah sesekali menampar ringan bokongnya, membuat suara “plak” yang menggairahkan dan meninggalkan bekas merah samar di kulit putihnya.
5676Please respect copyright.PENANAqYzsfMDORh
“Bilang ke Kaelan… bilang siapa yang bikin kamu basah begini,” perintah ayah sambil menarik rambut Saskia pelan ke belakang agar wajahnya terangkat dan menatapku lagi.
5676Please respect copyright.PENANATKz5EjhtFO
Saskia menatapku dengan mata yang berkabut kenikmatan. “Lan… papamu… papamu yang bikin aku begini…ahh… fuck… lebih keras Pak…”
5676Please respect copyright.PENANAJZOkEll2ta
Aku tak tahan lagi. Tangan ku merogoh celana, mengeluarkan kontolku yang sudah basah dan berdenyut. Aku mengocoknya pelan sambil menonton mereka. Ayah melihat itu dan tersenyum lebar.Kelanjutannya ada link di bawah ini


