Part 3
21Please respect copyright.PENANAbmvj5fGEKw
Tiga hari sudah semenjak aku memerawani putri kandungku, dan semenjak itu pula kami belum pernah lagi mengulanginya. Mungkin dia masih merasakan nyeri pada kemaluannya akibat efek dari luka selaput daranya yang aku bobol. Disamping juga karena istriku yang kini telah berada dirumah, sehingga aku dan Nanda tak mungkin bisa melakukan affair dengan bebas.
Pagi ini kami tengah sarapan, seperti biasa kami makan bersama dimeja makan belakang rumah. Tempat makan outdoor bernuansa taman, dengan rumput gajah terhampar rapi dibawahnya, dan ditanami dengan berbagai jenis tumbuhan tropis yang membuatnya tampak rimbun dan asri. Tak jauh dari situ terdapat kolam hias dengan sehuah air terjun buatan, walau itu hanyalah air terjun buatan, namun memiliki kesan alami, bagai berada dialam pegunungan.
Untuk bangunan rumahnya, aku padukan antara gaya tradisional dan modern, dengan nuansa rumah joglo khas jawa-tengah, sebagaimana leluhurku. namun pada bagian dalamnya aku beri sentuhan modern agar lebih nyaman dan praktis.
Itulah sedikit gambaran tentang hunian tempat kami tinggal, hunian yang artistik dan indah.
Berbicara tentang keindahan, aku memang pecinta keindahan sejati, dan kondisiku memang kebetulan cukup memungkinkan untuk mendapatkan keindahan- keindahan itu semua, yang aku maksud memungkinkan disini adalah kondisi keuanganku. karirku yang cukup menjajikan dengan posisiku yang strategis di departement membuatku begitu mudahnya memperoleh uang hanya dengan membubuhkan tanda tanganku.
Salah satu keindahan paling berharga yg aku miliki adalah termasuk wanita disampingku ini, Rike veronica, 37 tahun, istriku. Kurang apa dia bila yang diberi penilaian adalah keindahan dan kecantikannya. Sosok yang menjadi pusat perhatian teman-teman sejawatku saat kubawa bila sedang ada acara undangan, atau beberapa acara pertemuan
Sosok dengan tinggi 170cm, dengan lekuk tubuh tak kalah dengan artis-artis seksi tanah air. hidungnya yang bangir, mata lebar bercahaya, dengan kulitnya yang putih darah jerman yang mengalir dari ibunya membuat nya sekilas mirip artis sophia latjuba yang kini berganti nama menjadi sophia moler.maksudku muller.
Ah, tapi tidak..aku rasa artis itu masih belum sepadan bila dibandingkan dengan istriku. buah dada sophi terlalu kendor dan jatuh, serta kulitnyapun sudah mulai mengendur, berbeda dengan istriku yang berbuah dada padat berisi serta kencang, asli tanpa suntikan silikon, serta kulit masih kencang dan bercahaya.
Sedangkan bocah lelaki diseberang meja tepat dihadapanku itu adalah Doni, putra keduaku. pemuda tampan berusia 14 tahun yang tekstur wajah dan sinar matanya mirip ibunya. walau baru duduk dikelas 2 SMP namun tinggi badannya hampir menyamai diriku, bocah yang kerap aku pergoki sedang mengakses situs-situs dewasa dikamarnya, dan disaat secara diam-diam aku buka file-file dilaptopnya, isinya sebagian besar hanyalah film-film porno belaka, sepertinya untuk kegemarannya yang satu itu diwarisi dari diriku.
Lalu untuk gadis muda disampingnya itu.. Ah, untuk gadis bengal dan manja, serta sikapnya yang kekanak-kanakan itu, tak perlu lagi aku memperkenalkannya.
"Pa.. kayaknya mama harus berangkat sekarang deh..." ujar istriku seraya meneguk orange juice digelasnya.
"Sekarang? Sepagi ini? jam setengah tujuh saja belum." balasku, sedikit memprotes
"Papaaa.. Mama kan ditunjuk sebagai salah satu anggota tim panitia untuk acara itu.. tentunya mama harus hadir pagi-pagi benar dong."
"Ya sudah.. Papa paham... Hati-hati dijalan.. dan salam sama ibu-ibu pengurus yayasan." setelah apa yang aku katakan itu, sepertinya istriku bersiap meninggalkar meja makan.
"Oke deh, kalau begitu mama berangkat duluan ya pa.. mmmmuaahh." ucapnya, diakhiri dengan mengecup pipi kananku.
"Kamu bener mau nyupir sendiri? Gak perlu diantar pak Somad?*
"Gak usah lah pa.. lagian kayaknya dia hari ini gak masuk, katanya sih ada acara sunatan anaknya gitu.."
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, jadi si Doni berangkat sekolah naik taksi nih.. atau aku antar saja."
"Ah, gak usah repot-repot pa... biar sekalian aja dia berangkat sama Mama.."
"|Iya pa... biarin aja dia pagi-pagi udah sampai sekolahan.. biar sekalian bantuan ngepel sama nyapu disana.. hi.. hi.. hi.." celetuk Nanda dengan mulut masih penuh dengan makanan. yang pagi itu masih mengenakan gaun tidur tipisnya. sepertinya gaun yang sama yang dipakai saat aku memerawaninya tiga hari lalu.
"|Iya mah.. apa enggak kepagian tuh untuk Doni." ujarku, yang langsung dipotong oleh Doni.
"Enggak apa-apa koq pa... sekalian Doni mau nyelesaikan PR yang belum sempat Doni selesaikan.."
"Ya sudah kalau begitu... Tapi lain kali, yg namanya PR itu harus digarap dirumah, dan harus kamu sempatkan.. Kenapa enggak tadi malam sih?" Paparku, sedikit mengomel.
"Maaf pa.. semalem Doni ketiduran..
"Udah lah pa... Mama keburu ditungguin sama ibu-ibu yang lain nih.. kan gak enak.. Ayo Doni, langsung kita berangkat..."
21Please respect copyright.PENANAlk9xQ19bpJ
Sepeninggalan istriku dan Doni, praktis hanya menyisakan Nanda yang menemani sarapan pagiku. Putriku yang kini tepat duduk dihadapanku dan hanya dibatasi oleh meja makan. Dan senyumnya itu.. aku hafal benar arti senyumnya yang seperti itu, kekonyolan apa lagi yang akan dia tunjukan padaku.
"Papaaaaa... coba tengok kebawah meja pa.." Apa kubilang... Dan tanpa basi-basi lagi segera kutundukan kepalaku kebawah meja
https://victie.com/cap/books/8100/chapters/125899
MAsih ada 23 chapter lagi. Bantu komen dan subs. 21Please respect copyright.PENANARXI5CXQMEv


