Aku pertama kali bertemu Lia di lokakarya kreatif yang aku ajarkan setiap bulan di pusat seni kota. Wajahnya yang penuh semangat saat belajar menyusun plot novel membuat diriku terpikat sejak awal. Dia memiliki ide cerita yang brilian dan gaya tulis yang mengalir dengan indah – jelas bahwa dia adalah bakat yang belum terjamah.
Dari pembicaraan selama lokakarya berlangsung, aku tahu bahwa Lia telah menikah selama enam tahun dengan seorang insinyur bernama Bagas. Suaminya bekerja di proyek pembangunan di luar kota dan hanya pulang sekali atau dua kali sebulan. Dengan waktu luangnya yang banyak, Lia mulai mengejar hasratnya yang lama terkubur untuk menulis.
Aku sendiri adalah seorang penulis yang telah menerbitkan tiga buku dan bekerja sebagai editor lepas. Hidupku selalu berputar di sekitar kata-kata dan cerita, sehingga ketika aku bertemu seseorang dengan bakat seperti Lia, rasanya seperti menemukan teman sejati. Aku mulai membantu dia mengembangkan naskah pertamanya – sebuah novel romansa yang penuh dengan emosi dan kedalaman cerita.
Setiap hari setelah bekerja, Lia datang ke rumah kecilku yang terletak di gang tua dekat taman kota. Kita duduk bersama di ruang kerja yang penuh dengan buku dan kertas, membahas setiap bab cerita dengan cermat. Kadang-kadang kita berbicara hingga larut malam, terlupakan waktu karena terlalu fokus pada karya kita.
Perasaan padanya tumbuh perlahan namun pasti. Aku menyukai cara dia tertawa saat menemukan kata yang tepat, cara matanya bersinar saat berbicara tentang karakter cerita, dan cara dia selalu membawa makanan yang dia buat sendiri untukku. Aku tahu bahwa apa yang kita rasakan sudah melampaui hubungan editor dan penulis, tetapi aku terus menekannya ke dalam hati – karena dia adalah istri orang.
Namun batasan yang aku bangun mulai goyah setiap hari. Suatu malam, setelah berhasil menyelesaikan bab terakhir dari naskahnya, kita merayakannya dengan secangkir anggur merah di teras rumahku. Cahaya bulan yang jatuh di wajahnya membuatnya terlihat sangat cantik.
"Tanpamu, saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan ini, Faris," ucap Lia dengan suara yang lembut. Matanya menatapku dengan cara yang membuat hatiku berdebar. "Kamu tidak hanya membantu saya menjadi penulis, tapi juga membantu saya menemukan kembali diri saya sendiri."
Aku meraih tangannya yang ada di meja. "Kamu sudah memiliki bakat yang luar biasa dari awal, Lia. Saya hanya membantu kamu menemukannya."
Dia menarik tangannya lebih dekat dan mengangkatnya ke bibirnya, mencium bagian belakang tanganku dengan lembut. "Saya tahu bahwa apa yang kita rasakan tidak bisa kita anugerahi, tapi saya tidak bisa menolak perasaan ini lagi."
Pada saat itu, aku kehilangan kendali. Aku menariknya ke pelukanku dan mencium bibirnya dengan penuh hasrat. Kita saling memeluk erat, terlupakan segala sesuatu di dunia luar – hingga suara pintu yang terbuka dengan tiba-tiba membuat kita terkejut dan segera melepaskan diri.
Di pintu rumah berdiri seorang pria dengan wajah merah karena kemarahan dan mata yang penuh dengan rasa sakit – itu adalah Bagas, suaminya.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya dengan suara yang menggema di ruangan kecil itu.
Lia berdiri dengan cepat, tangannya gemetar dan wajahnya memucat. "Sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan..."
"Jangan beri alasan bodoh padaku!" teriak Bagas dengan sangat keras. Dia menatapku dengan pandangan yang penuh dengan dendam. "Aku mempercayaimu untuk membantu istriku dengan karirnya, bukan untuk mencuri cintanya dariku!"
Aku berdiri dengan rasa malu yang luar biasa. "Pak Bagas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya tidak bermaksud untuk merusak perkawinan Anda. Saya hanya..."
"Hanya apa? Hanya jatuh cinta pada istri orang?" kata Bagas dengan nada yang penuh dengan sindiran. "Aku tahu bahwa aku sering tidak ada di rumah, aku tahu bahwa aku kurang memperhatikan dia. Tapi bukan berarti kamu bisa mengambil kesempatan!"
Lia menangis tersedu-sedu dan mendekati suaminya. "Sayang, itu salahku juga. Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya, tapi saya mencintaimu. Saya benar-benar mencintaimu."
Bagas melihat istri dengan mata yang penuh dengan kesedihan. "Kamu mencintaiku? Atau kamu hanya merasa bersalah padaku?"
Aku tidak bisa tinggal diam lagi. "Pak Bagas, izinkan saya bicara. Lia memang memiliki perasaan padaku, tapi kami belum pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas selain apa yang kamu lihat tadi. Dan saya bisa jamin bahwa dia masih mencintaimu dengan tulus. Dia sering bercerita tentangmu, tentang betapa bangganya dia dengan pekerjaanmu dan betapa merindukannya kehadiranmu setiap hari."
Bagas melihatku dengan tatapan yang masih penuh dengan kemarahan namun mulai sedikit mereda. Lia terus menangis dan memeluk lengan suaminya.
"Saya benar-benar mencintaimu, Bagas," ucap Lia dengan suara merintih. "Saya hanya merasa kesepian dan tidak dimengerti. Faris adalah satu-satunya orang yang mengerti hasrat saya untuk menulis."
Bagas mengeluarkan napas dalam-dalam dan melihat ke arah istri yang sedang menangis di pelukannya. "Aku juga mencintaimu, sayang. Dan aku tahu bahwa aku telah gagal sebagai suami. Aku terlalu fokus pada pekerjaan dan melupakan bahwa kamu juga membutuhkan perhatian dan dukungan."
Dia kemudian melihat padaku dengan pandangan yang sudah lebih tenang. "Aku tidak akan menyalahkan kamu sepenuhnya, Faris. Aku tahu bahwa kamu benar-benar membantu dia dalam karirnya. Tapi saya mohon untuk menjaga jarak dari sekarang. Dia adalah istriku dan aku akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki hubungan kami."
Aku mengangguk dengan rasa malu yang mendalam. "Saya mengerti, Pak Bagas. Saya akan selalu siap membantu Lia dalam karir penulisannya, tetapi hanya dalam kapasitas sebagai editor dan teman saja. Saya minta maaf sekali lagi atas semua yang telah terjadi."
Keesokan harinya, Lia datang menemukanku dengan wajah yang masih merah karena menangis. Dia memberitahu bahwa suaminya telah memutuskan untuk meminta cuti kerja dan akan tinggal di kota selama beberapa bulan untuk memperbaiki hubungan mereka. Bagas juga telah menyatakan bahwa dia akan mendukung penuh hasrat Lia untuk menulis dan bahkan akan membantu memasarkan karyanya.
"Saya benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi, Faris," ucap Lia dengan suara yang lembut. "Kamu adalah teman baik dan editor yang luar biasa, tapi saya menyadari bahwa tempat saya adalah bersama suamiku. Dia adalah pria yang saya cintai dan yang telah berdiri bersamaku selama bertahun-tahun."
Aku mengangguk dengan hati yang penuh dengan rasa lega dan sedikit kesedihan. "Saya juga menyesal, Lia. Tapi saya senang bahwa kamu dan Pak Bagas bisa menemukan jalan untuk kembali bersama. Kamu berdua pantas mendapatkan kebahagiaan."
Setelah itu, hubungan kita berubah menjadi murni profesional dan pertemanan yang baik. Aku tetap menjadi editornya dan membantu menerbitkan novel pertamanya yang sukses besar di pasaran. Bagas menjadi orang yang paling mendukung karyanya, bahkan membuka ruang kerja khusus untuk Lia di rumah mereka.
Beberapa bulan kemudian, mereka datang mengundangku ke perayaan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-7. Di acara itu, Bagas datang menghampiriku dan memberikan tanganku erat.
"Terima kasih telah membantu istriku menemukan jalannya sebagai penulis," ucapnya dengan suara yang tulus. "Dan terima kasih juga karena tidak mengambil keuntungan dari situasi yang sulit itu. Kamu adalah orang yang benar-benar baik hati."
Aku tersenyum dengan rasa lega yang mendalam. Godaan untuk mencintai istri orang memang telah menguji batasan saya, tetapi akhirnya aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki orang yang kita cintai, melainkan tentang memastikan bahwa mereka baha
649Please respect copyright.PENANAskjrrrupig
gia – bahkan jika itu berarti harus menjauh dari mereka.
649Please respect copyright.PENANAQICU0za5Xw


