Silvi berusia 27 tahun. Tubuhnya seperti mimpi basah setiap pria: payudara besar kencang ukuran 36D dengan puting cokelat muda yang sensitif, pinggul lebar yang bisa digenggam erat, pantat montok bulat sempurna, paha mulus tebal, dan memeknya yang selalu basah cepat. Sudah tiga tahun menikah dengan Dani, tapi pernikahan mereka mulai hambar karena Dani terlalu sering dinas keluar kota.
Pak Irfan, mertua Silvi yang berusia 57 tahun, masih sangat gagah. Tubuhnya tinggi besar, dada bidang berbulu, lengan kuat, dan yang paling penting — kontolnya sangat besar. Panjangnya hampir 20 cm saat ereksi penuh, tebal seperti pergelangan tangan Silvi, berurat, dan kepalanya besar mengkilap. Sejak Silvi pertama kali masuk ke rumah ini, Pak Irfan sudah menginginkannya. Ia sering mencuri pandang ke dada dan pantat menantunya, kadang sengaja menyenggol pinggul Silvi saat lewat di lorong sempit.
Malam itu, Dani baru saja berangkat dinas ke Surabaya untuk lima hari. Rumah besar itu hanya dihuni Silvi dan Pak Irfan.
Silvi mandi sore dan hanya memakai daster tipis tanpa bra serta tanpa celana dalam. Kainnya sangat ringan, hampir transparan saat terkena cahaya. Ia sedang di dapur membuat kopi ketika Pak Irfan masuk dari belakang.
“Bapak sudah lama mengawasimu, Silvi,” kata Pak Irfan dengan suara berat sambil berdiri sangat dekat. Tangan besarnya langsung memeluk pinggang Silvi dari belakang dan menariknya hingga pantat montok Silvi menempel erat dengan kontol Pak Irfan yang sudah setengah tegang.
“Pak… ini tidak boleh…” bisik Silvi, tapi suaranya gemetar dan tubuhnya tidak bergerak menjauh.
Pak Irfan mencium leher Silvi, lalu tangannya naik dan meremas payudara kiri Silvi dengan kasar. “Dani tidak akan tahu. Malam ini kamu akan Bapak entot sampai pagi.”
Silvi menahan napas ketika Pak Irfan memasukkan tangan ke dalam daster dan langsung meraba memeknya yang sudah basah. Dua jari tebal Pak Irfan langsung masuk ke dalam lubang memek Silvi yang sempit.
“Ahh… Pak… jangan…” erang Silvi lemah, tapi pinggulnya justru mendorong ke belakang, membuat jari Pak Irfan masuk lebih dalam.
Pak Irfan memutar jarinya di dalam memek Silvi sambil ibu jarinya menggosok klitoris. “Memekmu sudah sangat basah. Kamu juga menginginkan ini, kan?”
Silvi tidak menjawab. Ia hanya mengerang ketika Pak Irfan menambahkan jari ketiga dan menggoyangkannya cepat. Dalam hitungan menit, Silvi orgasme pertama. Tubuhnya kejang, lututnya lemas, dan cairan beningnya membasahi jari Pak Irfan.
Pak Irfan menarik jarinya, lalu memaksa Silvi berlutut di lantai dapur yang dingin.
“Buka mulutmu lebar-lebar,” perintahnya.
Silvi patuh. Pak Irfan membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah sangat keras dan besar. Silvi terpana melihat ukurannya. Ia membuka mulut dan Pak Irfan langsung memasukkan kontolnya dalam-dalam hingga menyentuh tenggorokan Silvi.
“Gluk… gluk… gluk…” suara Silvi terdengar saat Pak Irfan menggoyang pinggulnya, meniduri mulut menantunya dengan kasar. Air liur Silvi menetes ke lantai. Pak Irfan memegang kepala Silvi dengan dua tangan dan mendorong lebih dalam.
Setelah beberapa menit, Pak Irfan mengangkat Silvi dan membawanya ke kamar tidur utama — kamarnya sendiri. Ia melempar Silvi ke atas kasur king size, lalu merobek daster tipis itu hingga robek di bagian dada.
Payudara Silvi yang besar langsung terpapar. Pak Irfan menunduk dan mengisap putingnya dengan ganas, bergantian kiri dan kanan, sambil menggigit pelan. Silvi mengerang keras, tangannya mencengkeram rambut Pak Irfan.
Pak Irfan membuka lebar kedua paha Silvi dan mengarahkan kontolnya yang besar ke memek yang sudah banjir.
“Dengan ini, kamu resmi jadi pelacur Bapak,” kata Pak Irfan sambil mendorong pinggulnya kuat.
“AAAKKKHHH!!! PAK!!! SAKIT… BESAR SEKALI!!!” jerit Silvi. Kontol Pak Irfan masuk setengah, meregangkan memek Silvi dengan brutal.
Pak Irfan tidak peduli. Ia terus mendorong sampai seluruh kontolnya masuk hingga pangkal. Silvi menangis kesakitan bercampur kenikmatan. Pak Irfan mulai menggoyang pinggulnya pelan dulu, lalu semakin cepat dan dalam.
Setiap kali kontolnya menghantam serviks, Silvi menjerit. Pak Irfan meremas payudara Silvi sambil mengentotnya dengan irama kuat.
“Kamu suka ya, Silvi? Kontol Bapak lebih besar dari kontol Dani?”
“Iya… ahh… lebih besar… lebih enak… entot Silvi lebih keras, Pak!!” jawab Silvi dengan suara parau.
Pak Irfan membalik Silvi ke posisi doggy style. Ia memegang pinggul lebar Silvi dan mengentotnya dari belakang dengan sangat kasar. Tangan kanannya sesekali menampar pantat Silvi hingga memerah.
“Plak! Plak! Plak!” suara tamparan bercampur dengan bunyi “plak plak plak” kontol yang menghantam memek basah.
Silvi orgasme kedua kali dengan hebat. Memeknya mengejang kuat, menyedot kontol Pak Irfan. Tak lama kemudian Pak Irfan mendengus dan menyemburkan sperma panasnya sangat banyak ke dalam rahim Silvi. Ia terus menggoyang pinggulnya sampai sperma terakhir keluar.
Mereka berbaring terengah-engah. Tapi Pak Irfan belum puas.
Setengah jam kemudian, Pak Irfan membangunkan Silvi dengan mengisap memeknya lagi. Silvi mengerang dalam tidur. Ketika ia sadar, Pak Irfan sudah mengangkat kedua kakinya dan mengentotnya lagi dalam posisi missionary.
Kali ini lebih lama. Pak Irfan mengentot Silvi dengan ritme yang bervariasi — cepat, lalu pelan, lalu sangat dalam sambil diam sebentar, membuat Silvi gila.
Silvi orgasme ketiga dan keempat kali. Tubuhnya sudah lemas, tapi Pak Irfan masih kuat.
Pak Irfan membawa Silvi ke kamar mandi. Di bawah guyuran air shower yang hangat, ia menekan Silvi ke dinding keramik dan mengentotnya sambil berdiri. Satu kaki Silvi diangkat tinggi. Kontol Pak Irfan masuk keluar dengan mudah karena memek Silvi penuh sperma.
“Silvi… mulai sekarang setiap Dani pergi, kamu harus tidur di kamar Bapak,” kata Pak Irfan sambil menggoyang pinggulnya cepat.
“Ya… ahh… Silvi janji, Pak… ahh… entot Silvi setiap malam…” jawab Silvi dengan suara putus-putus.
Mereka kembali ke kamar. Kali ini Silvi yang naik ke atas. Ia menggoyang pinggulnya liar dalam posisi cowgirl. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajah Pak Irfan. Pak Irfan meremas dan mengisap putingnya sambil Silvi terus naik turun di kontolnya.
Silvi orgasme kelima kali sambil menjerit keras. Tubuhnya gemetar hebat.
Pukul empat pagi, Pak Irfan membangunkan Silvi lagi. Kali ini dari belakang dalam posisi spooning. Kontolnya masuk pelan-pelan ke dalam memek Silvi yang sudah bengkak dan sensitif.
“Pak… aku sudah tidak kuat…” erang Silvi lemah.
“Tapi memekmu masih basah,” jawab Pak Irfan sambil terus menggoyang pinggulnya pelan tapi dalam.
Mereka bercinta dengan ritme lambat dan intim. Pak Irfan mencium leher Silvi, meremas payudaranya, dan berbisik kotor di telinganya.
Pukul enam pagi, ketika matahari mulai terbit, Pak Irfan membangunkan Silvi dengan oral lagi. Ia menjilat memek Silvi yang penuh sperma semalaman. Silvi mengerang bangun.
Pak Irfan mengentot Silvi sekali lagi di atas kasur, kali ini dengan posisi prone bone — Silvi telungkup, Pak Irfan di atasnya, mengentot dari belakang dengan sangat dalam.
Silvi orgasme terakhir kali dengan lemah. Pak Irfan menyemburkan sperma untuk ketiga kalinya di dalam rahim Silvi.
Mereka berbaring saling pelukan, tubuh penuh keringat dan sperma.
Pak Irfan membelai rambut Silvi. “Mulai besok, setiap Dani keluar kota, kamu harus siap dientot Bapak sampai pagi. Mengerti?”
Silvi mengangguk lemah, wajahnya penuh kepuasan meski tubuhnya lelah.
“Ya, Pak… Silvi sudah ketagihan…”
ns216.73.216.253da2


