Karena banyak yang kesusahan saat ingin membeli bab yang berbayar, maka saya akan upload cerita ini di platform sebelah, yang bisa topup koin atau beli bab dengan mudah tanpa ribet.
Langsung saja klik linknya di bawah ini
Jadi cerita ini akan terus diupdate di 2 platform. Terimakasih
621Please respect copyright.PENANA1ILlCl1rHS
Gema azan subuh yang baru saja usai berkumandang masih menyisakan gersang yang mencekam di dalam dada Ratna. Dengan langkah yang teramat kaku dan lutut yang gemetar hebat, ia menyusuri gang sempit yang gelap untuk kembali ke rumahnya, meninggalkan Nisa yang juga melangkah pulang dengan tubuh lemas dan wajah pucat pasi. Di balik kain gamis hitamnya yang menjuntai, selangkangan Ratna rasanya begitu pekat, panas, dan berdenyut ngilu. Semburan peju panas Fadhli yang melimpah ruah di kedalaman rahimnya perlahan mulai meleleh turun, melumuri celah paha dalamnya yang mulus karena ia tidak sempat memakai celana dalam kembali.
621Please respect copyright.PENANAV70ffwNiUI
Ratna membuka pintu dapur belakang dengan sangat hati-hati, memutar anak kunci kuningan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi, ia langsung bergegas menuju kamar mandi utama di dekat ruang tengah. Di bawah guyuran air sumur yang dingin, Ratna menggosok seluruh permukaan kulitnya dengan sabun berkali-kali, berusaha melenyapkan sisa bau keringat jantan Fadhli dan aroma peju kental yang melekat di tubuh matangnya. Setiap kali jemarinya menyentuh bibir memek togenya yang bengkak dan memerah akibat hunjaman beringas subuh tadi, sensasi ngilu yang teramat nikmat kembali merayapi saraf-saraf rahimnya, memicu lendir asmara barunya untuk kembali ngocor membasahi air bilasan.
621Please respect copyright.PENANA5Kfk0rQAZ6
"Astaghfirullah... astaghfirullah..." Ratna merintih lirih, air matanya menetes menyatu dengan aliran air kamar mandi. Jiwanya yang salehah menangis meratapi kehancuran moralnya, namun raganya yang jalang justru berkedut kencang, sepenuhnya telah dijinakkan dan dikunci oleh kelicikan pemuda kontrakan seberang jalan tersebut.
621Please respect copyright.PENANA03QrBnUiuy
Setelah berpakaian rapi dengan gamis putih bersih dan jilbab khimar lebar, Ratna melangkah keluar dari kamar mandi tepat saat Ustadz Hadi membuka pintu kamar tidur utama dengan mengenakan jubah putih dan sorban yang tertata rapi di pundak. Pria alim itu menatap Ratna dengan pandangan matanya yang datar dan lurus seperti biasa.
621Please respect copyright.PENANAHLcZssxc36
"Kamu sudah bangun, Nduk? Kebetulan, Mas baru mau membangunkanmu untuk salat subuh berjamaah," kata Ustadz Hadi dengan suara beratnya yang tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit lalu sang istri baru saja ditunggingkan di depan janda sebelah rumah oleh pemuda predator.
621Please respect copyright.PENANA2dVKLgnF3T
"I-iya, Mas. Saya tadi terbangun lebih awal karena perut saya masih agak kurang nyaman, jadi saya langsung mandi sekalian," dusta Ratna, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan rona merah yang mendadak menjalar ke pipinya. Pikiran tentang bagaimana rahimnya saat ini masih penuh dengan peju panas Fadhli yang tertanam di dalam sana, tepat di depan suaminya yang bersiap memimpin salat, membuat memek Ratna kembali memeras cairan alami yang kental hingga merembes basah di celah pahanya.
621Please respect copyright.PENANAyAVkrDVKtd
Hadi hanya mengangguk pelan, melangkah menuju ruang tamu untuk bersiap berangkat ke masjid jami'. "Ya sudah, kalau begitu segera ambil wudu dan gelar sajadahmu di kamar. Mas lusa harus mengisi khotbah jumat di masjid agung kabupaten, jadi hari ini Mas akan menghabiskan waktu di ruang kerja untuk merapikan rujukan kitab. Pastikan rumah dalam kondisi tenang, ya."
621Please respect copyright.PENANAuFpglsOWRc
"Baik, Mas," jawab Ratna lirih dengan suara yang nyaris habis di tenggorokan.
621Please respect copyright.PENANAvNt4nWXOXg
Begitu pintu depan ditutup dan Ustadz Hadi berjalan pergi menuju masjid, Ratna langsung merosot berlutut di atas lantai ruang tamu. Tubuh matangnya berguncang hebat, dikepung oleh rasa takut yang luar biasa besar karena takdir maksiatnya kini telah terkunci bersama Nisa di bawah ancaman rekaman video digital milik Fadhli. Di bawah kain gamis putihnya yang anggun, kebecekan selangkangannya terus mengingatkannya bahwa ia telah sepenuhnya menjelma menjadi sekutu dalam lumatan dosa yang teramat pekat.
621Please respect copyright.PENANAkdTuUzNqcL
Aroma minyak gaharu yang dibakar Ustadz Hadi sebelum ke masjid masih tersisa di ruang tamu, berbaur dengan hawa pagi yang dingin. Ratna bangkit berdiri dengan lutut yang terasa lemas. Setiap gerakan kaki membuat kain gamis putihnya bergesek lembut pada permukaan selangkangannya yang masih pekat dan sensitif. Tanpa lapisan celana dalam, rembesan sisa kehangatan subuh tadi seolah sengaja membiarkan saraf-saraf jalangnya terus terjaga, mengirimkan kedutan ngilu yang konstan langsung ke dasar rahimnya.
621Please respect copyright.PENANAWrEHUctM56
Ia melangkah ke dapur untuk merebus air. Namun, baru saja menyalakan kompor, pandangan Ratna tertuju pada jendela samping yang menghadap langsung ke arah halaman samping rumah Nisa. Di balik kaca yang berembun, sosok Nisa terlihat sedang menjemur selembar daster batik dengan gerakan yang kaku dan pandangan kosong. Janda muda itu tampak kehilangan binar keangkuhan yang biasanya terpancar dari wajah centilnya. Rekaman video digital di ponsel Fadhli telah berhasil memotong urat keberanian Nisa, mengubahnya dari seorang pemeras menjadi tawanan dosa yang tak berdaya.
621Please respect copyright.PENANAcYj5JbhnvZ
Ratna meremas pinggiran wastafel dapur. Ada sebersit rasa puas yang aneh dan teramat jalang merayapi dadanya saat melihat ketakutan Nisa. Siasat gila Fadhli tidak hanya melindunginya dari ancaman, tetapi juga memberikan dominasi psikologis yang membuat jiwa jalang Ratna merasa berada di atas angin. Siksaan batin atas hancurnya moralitas sebagai istri seorang ulama kini bersanding dengan candu kekuasaan erotis yang ditanamkan oleh pemuda kontrakan seberang jalan.
621Please respect copyright.PENANADRcikAnWYb
"Nduk, airnya apa sudah matang?" suara Ustadz Hadi terdengar dari pintu depan, menandakan salat subuh berjamaah di masjid telah usai lebih cepat dari biasanya.
621Please respect copyright.PENANAfk8BHrDxe3
Ratna tersentak, buru-buru mematikan kompor dan menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi kopi hitam kesukaan suaminya. "S-sudah, Mas. Ini baru saja saya mau antarkan ke ruang kerja."
621Please respect copyright.PENANAF8SrzeoPvE
Ustadz Hadi melangkah masuk ke dapur dengan jubah putihnya yang melambai anggun. Wajahnya yang bersih mencerminkan ketenangan seorang ahli ibadah. Ia menerima cangkir kopi dari tangan Ratna yang gemetar, lalu menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata bulat istrinya. "Ratna, lusa saat Mas pergi ke masjid agung kabupaten, Mas berniat mengajakmu ikut serta. Mas ingin kamu mendampingi istri kepala dinas di barisan jemaah wanita. Bagaimana?"
621Please respect copyright.PENANACHwFpJIkRe
Pertanyaan dari suaminya seketika membuat jantung Ratna berdegup kencang bagai dihantam palu besar. Pergi ke kabupaten bersama suaminya berarti ia harus meninggalkan desa selama seharian penuh, menjauh dari kendali dan hunjaman batang keras Fadhli. Di satu sisi, ini adalah kesempatan untuk melarikan diri sejenak dari lingkaran maksiat, namun di sisi lain, rahimnya yang sudah terbiasa dipenuhi peju panas Fadhli mendadak berkedut kosong, meronta menolak perpisahan tersebut. Ketakutan bahwa Fadhli akan marah atau justru menggunakan waktu senggang itu untuk menggagahi Nisa sendirian di kontrakan, memicu rasa cemburu gila yang membuat memek toge Ratna kembali ngocor memeras lendir asmara baru yang hangat melumuri celah pahanya di depan sang suami.
621Please respect copyright.PENANAn6w6vUzVhr
Ajakan Ustadz Hadi membeku di udara dapur yang lembap, menciptakan tekanan baru yang menghimpit dada Ratna. Menjadi pendamping istri kepala dinas di masjid agung kabupaten adalah sebuah kehormatan besar, sebuah posisi yang menuntut citra kesucian dan keanggunan mutlak sebagai seorang istri ulama. Namun, di balik kain gamis putihnya yang tampak anggun, kenyataan bahwa lubang memek togenya sedang basah kuyup oleh sisa luapan berahi fajar tadi membuat Ratna merasa seperti seorang penipu ulung yang paling nista.
621Please respect copyright.PENANAjouYcztYno
"B-bagaimana, Mas? Lusa ya?" Ratna terbata, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu. Ia meremas ujung kain jilbab khimar putihnya dengan jemari yang dingin. "Saya... saya tentu sam'an wa tha'ah ikut apa kata Mas Hadi. Tapi, apa tidak apa-apa kalau rumah dan pengajian malam sabtu di sini ditinggal?"
621Please respect copyright.PENANATh3plLbjLn
Ustadz Hadi menyesap kopi hitamnya perlahan, ekspresi wajahnya tetap datar tanpa riak curiga. "Untuk pengajian malam sabtu sudah Mas pasrahkan ke ustadz muda yang lain. Lagipula, sesekali kamu perlu keluar melihat perkembangan dakwah di kota kabupaten, Nduk. Biar wawasanmu semakin luas sebagai muslimah."
621Please respect copyright.PENANADLHQwn5z32
"Baik, Mas. Kalau begitu saya akan siapkan baju terbaik saya untuk lusa," jawab Ratna lirih, memaksakan sebuah senyuman patuh di bibirnya yang masih terasa agak kaku sisa lumat kasar Fadhli subuh tadi.
621Please respect copyright.PENANAbheCZfaO37
Begitu Ustadz Hadi berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mulai membedah kitab-kitab khotbah, Ratna segera berjalan menuju pintu dapur belakang. Ego jalangnya bergolak hebat; ia harus segera memberikan kabar ini kepada Fadhli. Kabar bahwa ia akan dibawa pergi oleh suaminya selama seharian penuh ke luar kota adalah sebuah variabel baru yang bisa mengacaukan ritme permainan sang predator, atau justru memicu rencana gila yang jauh lebih berbahaya.
621Please respect copyright.PENANA0BLnQIPxNM
Dengan langkah kaku karena jepitan paha lebarnya yang becek tanpa celana dalam, Ratna menyelinap ke koridor belakang dekat jemuran, meraih ponsel rahasia dari saku tersembunyi. Jari-jarinya yang gemetar dengan cepat mengetikkan pesan untuk pemuda kontrakan seberang jalan tersebut.
621Please respect copyright.PENANAEwz0njLZ2h
*“Fadhli... lusa hari Jumat, Mas Hadi mengajakku ikut pergi ke masjid agung kabupaten untuk mendampingi istri pejabat dari pagi sampai malam. Aku tidak bisa menolak perintah suamiku. Bagaimana ini? Aku takut kamu marah, dan aku... aku takut kalau selama aku pergi, kamu justru memasukkan Nisa lagi ke kamarmu.”*
621Please respect copyright.PENANAOmUuBs60wz
Pesan terkirim dengan tanda centang biru yang langsung menyala. Sifat posesif dan cemburu jalang di dalam dada Ratna kini terang-terangan melompati batas ketakutannya sendiri. Rasa bersalah pada suaminya mendadak tenggelam oleh kecemasan gila membayangkan batang kontol besar Fadhli akan menghunjam lubang memek janda lain tanpa kehadirannya sebagai pemegang kendali. Rahim sang istri ustadz terus berkedut kencang, memeras lendir asmara baru yang kental dan hangat, menetes lambat membasahi ubin tempatnya berdiri menanti balasan dari sang penguasa raganya.
621Please respect copyright.PENANAYiQuq3pY0P
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit hingga ponsel rahasia di genggaman Ratna bergetar panjang. Sebuah pesan balasan dari Fadhli masuk, membawa sebaris kalimat yang seketika membuat seluruh bulu kuduk di leher Ratna berdiri tegak.
621Please respect copyright.PENANAsT4bH170GS
*“Ikut saja dengan suamimu yang alim itu, Ratna. Jangan berani-berani menolak perintahnya kalau kamu tidak ingin dia curiga. Tapi ingat satu hal, jalang kecilku... sebelum kamu melangkah naik ke mobil suamimu lusa pagi, aku ingin rahimmu sudah penuh dan terkunci oleh peju panas dimalam jumatnya. Selesaikan tugas dapurmu sekarang, nanti sore bersiaplah untuk menerima setoran benih dariku.”*
621Please respect copyright.PENANAND9OjvkSTf
Membaca barisan kata yang sarat akan dominasi mutlak itu, jantung Ratna terasa berdegup gila bagai dihantam gada besi. Di balik ketakutan yang mencekam akan risiko tertangkap basah, lubang memek togenya justru memberikan respons yang teramat jalang. Liang sanggamannya yang bengkak sisa pergumulan subuh tadi berkedut-kedut kencang, memeras lendir asmara baru yang kental dan hangat hingga mengalir deras melumuri sela-sela paha dalamnya yang telanjang tanpa celana dalam. Sifat posesif Fadhli yang menuntut rahimnya dikunci oleh sperma panas sebelum pergi bersama Ustadz Hadi, justru menjadi candu sensual yang melumat habis sisa akal sehat sang istri ustadz.
621Please respect copyright.PENANAJMYPyj8SVC
"Ratna, tolong ambilkan sisa kitab tafsir di meja ruang tamu," suara Ustadz Hadi mendadak menggema dari arah ruang kerja, memecah kepungan syahwat yang sedang membakar raga Ratna.
621Please respect copyright.PENANAaAuzENx550
Ratna tersentak kecil, buru-buru menyembunyikan ponsel rahasianya kembali ke dalam saku tersembunyi gamisnya. "I-iya, Mas. Ini segera saya bawakan."
621Please respect copyright.PENANAUwMpx3fBnW
Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat kaku akibat kebecekan di selangkangannya, Ratna berjalan menuju ruang tamu. Ia mengambil kitab tebal bersampul kulit kambing tersebut dengan jemari yang masih gemetar halus. Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya yang dipenuhi aroma wangi minyak kasturi dan jajaran kitab suci, Ratna merasa dirinya laksana seorang pendosa paling menjijikkan di muka bumi. Di depannya berdiri seorang ulama yang dihormati, sementara di dalam benaknya, ia justru sedang membayangkan bagaimana sore nanti tubuh matangnya akan kembali ditekuk dan digagahi habis-habisan oleh pemuda kontrakan seberang jalan demi memenuhi pasokan sperma sebelum perjalanan lusa.
621Please respect copyright.PENANAXJ96yQ1xxN
Hadi menerima kitab tersebut tanpa sedikit pun menaruh curiga, lalu kembali fokus pada goresan penanya di atas kertas khotbah. Ratna berdiri terpaku sejenak di ambang pintu ruang kerja, memandangi punggung suaminya dengan dada yang naik turun memburu. Di balik gamis putih pengajiannya, hawa panas yang menguar dari memek togenya yang basah kuyup seolah terus menuntut datangnya sore hari, mengunci takdir jalangnya dalam pusaran lumatan dosa yang kian pekat di bawah bayang-bayang mimbar suci.
621Please respect copyright.PENANA2bS2XQYLfo
Matahari perlahan bergerak naik, memapar pelataran semen samping rumah dengan berkas cahaya yang kian terik. Di dalam ruang kerja yang hening, Ustadz Hadi masih tenggelam dalam goresan penanya, menyusun untaian kalimat khotbah yang luhur dan penuh petunjuk kesucian. Sementara itu, Ratna yang berdiri di batas sekat ruangan meraba permukaan kain gamisnya yang terasa lembap dan hangat.
621Please respect copyright.PENANABGYm3f217c
Setiap detik yang berdetak menuju sore hari dirasakannya bagai siksaan gantung yang perlahan-lahan mengencang di leher kehormatannya. Sifat patuh yang semula menjadi pondasi hidupnya sebagai istri seorang pemuka agama, kini telah bergeser menjadi kepatuhan mutlak yang jalang terhadap setiap titah erotis yang dilemparkan oleh Fadhli.
621Please respect copyright.PENANAXvYogqZK7D
"Nduk, jika semua keperluan rumah sudah beres, kamu istirahatlah di kamar. Mas tidak mau kamu kelelahan sebelum perjalanan lusa," ucap Ustadz Hadi tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kitab tafsir yang terbuka lebar.
621Please respect copyright.PENANAD08Dfxwkv6
"Baik, Mas... saya permisi ke kamar dulu," bisik Ratna parau, tak sanggup berlama-lama menatap sorot mata suaminya yang teramat bersih.
621Please respect copyright.PENANAkBHuOqOKwL
Dengan langkah yang disengaja rapat demi menahan rembesan cairan alaminya agar tidak menetes ke lantai ruang tengah, Ratna melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama. Ia mengunci pintu kayu dari dalam, lalu merebahkan tubuh matangnya di atas kasur seprai putih yang rapi. Tanpa perlindungan celana dalam, kulit paha dalamnya yang mulus bersentuhan langsung dengan permukaan kain kasur yang sejuk, mengirimkan sengatan geli yang langsung memicu kedutan kencang di bibir memek togenya yang bengkak.
621Please respect copyright.PENANAoEsMg76Mm2
Ratna menatap langit-langit kamar dengan napas yang mulai memburu putus-putus. Bayangan tentang apa yang akan dilakukan Fadhli sore nanti pada tubuhnya—menghunjamkan batang kontol besarnya yang kekar dan urat-uratnya menonjol tegang hingga mentok ke dasar rahim untuk menanamkan setoran benih jantan yang baru—membuat dinding sanggamannya meremas-remas kosong dalam antisipasi syahwat yang gila.
621Please respect copyright.PENANAtLcvjbpeCL
Ego jalangnya sepenuhnya telah terkunci dalam skenario maksiat yang dirancang oleh sang predator seberang jalan. Sembari mendengarkan lamat-lamat suara suaminya yang melantunkan ayat suci dari ruang sebelah, Ratna membiarkan jemari tangannya merayap turun ke selangkangannya sendiri, meraba lubang kemaluannya yang kian becek dan mengocor deras, bersiap memasrahkan raga dan takdir jalangnya ke dalam lumatan dosa yang jauh lebih membara beberapa jam lagi.
ns216.73.216.236da2


