Ayunda mencengkram punggung pria tersebut erat. Ia seperti tak ingin melepaskannya ketika menerima sod0kan yang begitu keras dan cepat.
892Please respect copyright.PENANAnsPpa6aAhK
Suara erangannya memenuhi ruang kamar tersebut dan sesekali merancau sembari mengumpat. Ia menikmati permainan yang diberikan sang pria tanpa menyadari bahwa kelakuannya telah diketahui oleh anaknya sendiri.
892Please respect copyright.PENANAMakMnM30pP
Sementara itu, Dinda masih berlari menjauh dari rumah itu. Ia seolah tidak memiliki tujuan selain menghindari kenyataan yang baru saja dilihatnya. Sulit baginya untuk percaya bahwa ibunya tega mengkhianati ayahnya, bahkan menghancurkan keutuhan keluarga mereka.
892Please respect copyright.PENANADbSvOEwrH6
Dinda tidak tahu dengan siapa ibunya bercinta, tetapi ia yakin lelaki itu bukanlah ayahnya.
892Please respect copyright.PENANAgDFIaJEmVx
Langkahnya akhirnya terhenti ketika ia menemukan sebuah gedung tua terbengkalai di pinggiran kota. Bangunan itu tampak sunyi dan tak berpenghuni, dikelilingi ilalang liar yang tumbuh tinggi hingga menambah kesan suram di sekitarnya.
892Please respect copyright.PENANArB4xzqo9UM
Namun, Dinda tidak memedulikan semua itu. Kesedihan dan kemarahan yang memenuhi hatinya jauh lebih besar daripada rasa takut terhadap tempat tersebut. Ia lalu duduk meringkuk di salah satu sudut bangunan, membiarkan air mata bercampur dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Udara dingin menusuk kulit, tetapi rasa sakit di hatinya terasa jauh lebih menyiksa.
892Please respect copyright.PENANAbxfmXx9hbV
Dalam suara hujan, des∆han Ayunda semakin menjadi-jadi. Tak ada orang lain dirumah itu selain dirinya dan selingkuhannya. Kini ia mulai bercinta∆ diruang dapur, kamar mandi dan juga ruang tamu. Entah sudah berapa ronde yang ia lewati, selangkangannya mulai berair dan memerah akibat hentakan dari kel∆min pria tersebut. Dirinya kini berposisi menungg1ng, siap menerima s0d0kan melalui dubu7nya
892Please respect copyright.PENANAaxOoMGp4gT
"Pelan-pelan aja, aku tidak terbiasa" pinta Ayunda sembari menerima pelukan dari belakang.
892Please respect copyright.PENANAuMnntVtAlj
"Iya sayang... Rasakan ini" Pria tersebut mulai memasukannya, benda panj4ng tersebut seakan memaks4 masuk, menyesakkan lubang kecil itu yang telah memerah.
892Please respect copyright.PENANAohOiKnA8vb
"Sakiiit" ringis Ayunda.
892Please respect copyright.PENANAgGs7FAEAWj
"Tapi kamu suka kan?"
892Please respect copyright.PENANAlX2yv4aQAt
Ayunda hanya mengangguk tersenyum genit.
892Please respect copyright.PENANA6Fe5MiVGIw
Bima yang telah menyelesaikan pekerjaannya merasa hari itu berlalu lebih cepat dari biasanya. Di luar, hujan turun semakin deras. Pandangannya sejenak tertuju pada langit kelabu sebelum pikirannya melayang pada hari ulang tahun Dinda yang ke-15. Dengan senyum tipis, ia segera menuju mobilnya, berniat menjemput putrinya di sekolah.
892Please respect copyright.PENANAJBhet4lhlC
Sesampainya di sekolah, Bima tidak menemukan Dinda yang biasanya menunggunya di dekat pagar. Ia menyusuri area sekitar sambil mencari sosok putrinya, lalu menghampiri seorang satpam untuk bertanya.
892Please respect copyright.PENANAFETC93lrYA
Lelaki kurus yang menjaga sekolah itu menggeleng pelan.
892Please respect copyright.PENANAd7yU0r5r7c
"Anak-anak sudah pulang beberapa jam yang lalu, Pak."
892Please respect copyright.PENANApokOKoNHwR
Jawaban itu membuat hati Bima diliputi kegelisahan. Ia segera kembali ke mobil dan menyetir pulang dengan perasaan tidak tenang. Sepanjang perjalanan, matanya terus menyapu sisi jalan, berharap dapat menemukan Dinda di antara derasnya hujan.
892Please respect copyright.PENANAM6Dut2GdTx
Setibanya di rumah, Bima bergegas turun dari mobil sambil memanggil nama putrinya. Tanpa membuang waktu, ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
892Please respect copyright.PENANAZA3lrgMVE3
Namun, langkahnya seketika terhenti.
892Please respect copyright.PENANAL4gTWw9UVi
Di hadapannya, Ayunda tengah bersama seorang pria lain dalam keadaan yang tak seharusnya dilihat seorang suami.
892Please respect copyright.PENANA9aY95ZZSwR
Keduanya sontak terkejut. Ayunda segera menjauh dan berlari menghampiri Bima dengan wajah pucat penuh kepanikan.
892Please respect copyright.PENANAQyqBGmHdh4
Sementara itu, Bima hanya terdiam. Dadanya terasa sesak oleh pemandangan yang baru saja dilihatnya. Namun di tengah rasa sakit dan amarah yang mulai menggerogoti hatinya, ada satu hal yang jauh lebih mengkhawatirkannya.
892Please respect copyright.PENANA35m7BtbYKr
Dinda.
892Please respect copyright.PENANAW85u8Sdm3x
Ia kembali memanggil nama putrinya dan mencari ke setiap sudut rumah. Ayunda mengikuti dari belakang, berusaha menjelaskan keadaan, tetapi Bima seolah tak mendengarnya. Saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah menemukan Dinda secepat mungkin.
Bima memasuki kamar anaknya, tak ada dia disana, bahkan diruang gudang pun Bima cari tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Dinda.
892Please respect copyright.PENANAiFOsrDZ0lK
"Dinda kemana? anak kita kemana?!" pekik Ayunda.
892Please respect copyright.PENANAzuELpWDEwl
"Jangan sebut Dinda anakmu. Dasar pel∆cur!" Bima melampiaskan kemarahannya lantas berlalu menuju mobil dan meninggalkan isterinya yang tengah menangis histeris.
892Please respect copyright.PENANAoS2pda3hnd
Dijalan, Bima menoleh kekiri dan kanan, memastikan bahwa Dinda berada disuatu tempat. Sampai ketika pencariannya membawa dirinya ke ujung jalan lenggang yang terdapat sebuah bangunan terbengkalai. Ditengah pencariannya, ia akhirnya menemuka Dinda yang sedang meringkuk kedinginan. Dengan terburu-buru ia turun dari mobil kemudian berlari memeluk anaknya dan disambut oleh Dinda sembari menangis.
892Please respect copyright.PENANAwdIJ21r1Wl
Bima menyeka air mata itu, ia kemudian melepas jaketnya dan mengenakannya ke Dinda. Kehangatan dari perlakuan Bima membuat Dinda semakin mencintai ayah tirinya itu.
892Please respect copyright.PENANANs4mWQmLMX
"Kenapa kamu disini?" Bima bertanya sembari memeluk Dinda, memastikan anak tirinya tetap hangat dalam dekapannya.
892Please respect copyright.PENANAEBKiAXIfii
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, Dinda tak menjawab, dia diam tapi dengan suara terseduh seakan menyembunyikan sesuatu.
892Please respect copyright.PENANAmm4D2rxUuz
Tak usah menangis, Ayah tahu semuanya.
892Please respect copyright.PENANA9h9yOARsMq
Seketika tangis Dinda pecah, ia semakin mendekap ayahnya. "Mengapa Ibu berubah? apakah ia tak menyayangi kita lagi?"
892Please respect copyright.PENANA0vLJHRq1k5
"Dia sayang dengan kita" Bima mulai meneteskan air mata.
892Please respect copyright.PENANAgNaeq05qfl
"Ayah bohong!"
892Please respect copyright.PENANAiC8ObApSKp
Bima terdiam, matanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
892Please respect copyright.PENANAStYjz9odru
"Jika Ibuku tak bisa membuatmu bahagia, aku yang akan menggantikannya" Dinda meraih wajah sedih ayah tirinya, kemudian mengecup bibirnya lembut.
892Please respect copyright.PENANAUhvs1kete0
Mendapat perlakuan tersebut, Bima terkejut sekilas. Dirinya sempat menghindar hingga akhirnya terbawa suasana dan mulai kembali membalas ciuman Dinda dengan penuh cinta.
892Please respect copyright.PENANAW0mbCB58gi
Dihujan yang semakin deras, dua insan itu kini mulai terbuai perasaan. Bima membopong tubuh kecil Dinda, disandarkannya ke tembok dan mulai merasakan jenjang leher putih bersih itu yang basah dengan kecupannya. Merasakan n4fsu ayahnya yang kian memanas, Dinda kini berusaha mengimbangi. Ia mencengkram punggung Bima dengan tangan kecilnya, berusaha meraih kemeja itu, melepaskan kancingnya dan menampakkan dada ayahnya yang bidang.
892Please respect copyright.PENANAdln1TV8Sgu
Bima kini menelusuri bu4h d4d4 Dinda yang mulai tumbuh. Dalam balutan kut4ng remaja bermotif bunga, ia terpaku. Baru kali ini ia melihat anak tirinya itu setengah telanj4ng. Dirabanya dalam genggaman yang terasa tercengkram semua, memanglah tak sebesar milik Ayunda-Ibunya, tapi sensasi akan menjamah anak tiri sendiri seperti sesuatu yang berbeda dan tak bisa dijelaskan.
892Please respect copyright.PENANABBPYDHmxzA
Bima telah larut dalam permainan naf5u sesaat. Dirinya kini telah menjamah anaknya sendiri dengan kecupan di kedua dada Dinda. Dinda yang menerima perlakuan tersebut seakan tak bisa menolak dan memilih untuk diam dan menikmati.
892Please respect copyright.PENANASGMCqgCZPR
"Apakah sakit?" Bima melepaskan kecupan tersebut dan melihat mata Dinda dalam-dalam.
892Please respect copyright.PENANAEPN8isy0uq
"Tidak... Ayah suka, aku juga suka" keduanya tersenyum dan melanjutkan keharmonisan itu.
892Please respect copyright.PENANArjDfi0U1Ux
Dalam badai, kini mereka saling menikmati tubuh. Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, kini Dinda menjongkok dihadapan Bima, menarik resleting cel4na Ayahnya dan mulai mengeluarkan bendap4njang nan tumpul itu. Dinda seperti kagum akan ukuran yang dimiliki ayah tirinya. dengan jemari kecil, ia berusaha menggenggamnya, meng0coknya dan akhirnya mengulumnya sekuat tenaga.
892Please respect copyright.PENANAB9mj85j6tH
Ia menikmati, meski ukuran tersebut tak cukup muat untuk masuk ke seluruh mulutnya. Bima menggenggam rambut kepang anaknya, seperti memaju mundurkan agar seluruh miliknya bisa masuk ke dalam mulut mungil Dinda. Tetesan liur mulai jatuh membasahi dada Dinda yang memang telah basah akan air hujan dan keringat dingin. Sesekali ia tersedak dan mengeluarkan benda panjang itu yang tak lama kemudian dimasukkannya lagi.
892Please respect copyright.PENANA1EeVyJ3EXW
"jangan dipaksa sayang... nanti kamu tersedak" Dinda kemudian bangkit, berbisik lembut ditelinga ayahnya, "Ayah... aku sudah ingin" sembari mengangkat roknya, ia menunjukkan selangk4ngannya dan dibalik celana dalamnya yang sudah basah.
892Please respect copyright.PENANAbzVqdJyzIX
Mereka kemudian berlari menerobos hujan menuju mobil, Bima memarkirkan mobil sedikit tersembunyi dari jalan itu. Seakan terburu-buru, ia menanggalkan pakaiannya dan juga seragam sekolah Dinda. Di k3cupnya tubuh anaknya itu tanpa melewati sejengkal pun. dibaringkannya Dinda di jok mobil yang sudah disetel agar bisa disandari. B4tang panjangnya sudah meneg4ng, siap menerobos keperaw4nan anak tirinya sendiri.
892Please respect copyright.PENANA9hEmyMl3Vn
Dinda mengangkang sedikit malu, tangannya sesekali menutup area itu dan wajahnya memerah merona. "Ayah aku malu" desirnya menutup wajah. Bima kemudian kembali mencium Dinda, memastikan bahwa anak tirinya itu aman dalam dekapannya. Perlahan ia menyentukan bat4ngnya ke bibir k3lamin Dinda yang ditumbuhi bulu halus, tak rimbun namun dan tersusun rapi di atas belahannya.
892Please respect copyright.PENANAJbA7tb8UGE
Pelan, batang panjangnya membelah memasuki lubang kecil itu. Dinda hanya meringis sembari menggit bibir bawahnya. Terasa sesak namun nikmat. Kesakitan yang awalnya ia rasakan kini mulai berubah menjadi kenikmatan disaat Bima memaju mundurkan bat4ngnya dengan pelan. Dengan tempo teratur, pinggul Bima seakan ikut membantu menerobos keperawanan anat tirinya itu.
892Please respect copyright.PENANAMrpGyLGsyA
Suara badai hujan yang menghantam kaca mobil seakan mensamarkan desahan dan erangan kedua insan yang dimabuk asmara itu. Dinda mulai terbawa arus dalam permainan, ia seakan menikmati s0dokan demi sod0kan dari ayahnya. Beberapa kali mereka berganti gaya di dalam mobil yang sempit itu; mulai dari Dinda yang terlihat menungging, atau bahkan ia menimpa ayahnya untuk dipangku dan menerima so0dokan dari bawah.
892Please respect copyright.PENANAJr3tf9v94w
Setelah kurang lebih sejam mereka memuaskan birah1, akhirnya Bima menumpahkan cair4n putihnya di perut anak tirinya itu, sebagian menetes menuju pinggang dan beberapa lagi mengendap di lubang pusar Dinda. keduanya rebah sembari berpeluh keringat di jok belakang. Mereka berpelukan sembari berciuman penuh kemesraan.
892Please respect copyright.PENANAifwv45LSCq
Keduanya telah memutuskan ikatan ayah dan anak dan beralih ke hubungan cinta layaknya kekasih.
892Please respect copyright.PENANA69EU9VFmHu
"Selamat ulang tahun sayang.." ucap Bima sembari memeluk anak tirinya.
892Please respect copyright.PENANAV7HLGSS0Xn
"Ini adalah kado terbaik, ayah.." ucap Dinda sembari mengatur nafas.
892Please respect copyright.PENANAmZbUR6tKpf
Seisi rumah terlihat berantakan, serpihan kaca berserakan dilantai bersama dengan porselen yang sudah pecah terhambur terpisah dengan bunga yang entah kemana lagi. Ayunda duduk termenung dengan nafas tersengal-sengal akibat melampiaskan kemarahan terhadap seisi rumah. Beberapa kali ia menelpon Bima namun tak ada jawaban dari suaminya itu. lelah akan kemarahannya, ia pun menangis tersedu dalam penyesalan.
892Please respect copyright.PENANAclD4L13lHf
Disisi lain, Bima yang kini berkendara entah kemana seakan berpikir 'Apakah yang barusan terjadi dengan Dinda hanyalah ilusi belaka?' Ia tak percaya bahwa dirinya barus saja bercinta dengan anak tirinya, terlebih lagi Dinda masih berumur 15 Tahun, tepat pada hari itu.
892Please respect copyright.PENANAlFBlyPWkBn
"Ayah kita mau kemana?" tanya Dinda memecah kesunyian.
892Please respect copyright.PENANA279N6Cq7Dm
"Entahlah... Aku masih berpikir. Apakah kita sebaiknya pulang? Ibu pasti sudah menunggu"
892Please respect copyright.PENANASaiO1mxC7w
"Tidak! Aku tak mau bertemu Ibu" tolak Dinda dengan wajah kesal.
892Please respect copyright.PENANAjSHIbcfcqz
Bima yang seperti nurut akan penolakan anaknya hanya bisa menyetir tanpa tujuan yang pasti, hingga ia kemudian berpikir untuk sementara menuju penginapan terdekat, memastikan bahwa mereka bisa beristirahat untuk sementara di tengah hujan badai yang semakin deras.
892Please respect copyright.PENANAgiQ92qrHow
Mereka memasuki salah satu penginapan di pinggiran kota itu setelah memarkirkan mobil. Para resepsionis sejenak menanyakan hubungan antara keduanya, seakan mencurigai bahwa Bima adalah lelaki hidung belang yang suka menikmati tubuh anak remaja yang baru tumbuh atau bahkan mereka mungkin saja mengira bahwa Bima adalah penculik anak sekolah di tengah badai.
892Please respect copyright.PENANAtNzxKbeHF8
Namun kecurigaan mereka seketika sirna setelah Bima menjelaskan bahwa Dinda adalah anaknya, Dinda pun menambah keyakinan mereka bahwa lelaki bersamanya adalah ayahnya. Mereka kini mendapat kunci kamar, dan berjalan menuju lantai dua dengan sedikit basah akibat badai.
892Please respect copyright.PENANAW4yadsdQEq
Keduanya pun memasuki kamar itu; nuansa putih dengan lampu sayup, dua ranjang berseberangan dan kaca rias menghiasi kamar. Keduanya duduk di masing-masing ranjang, seakan menjaga jarak dan terasa canggung. Bima menoleh ke sisi Dinda yang tengah sibuk dengan rambutnya yang basah, ia masih tak percaya bahwa dirinya telah melihat semua isi tubuh kecil itu, bahkan telah memasukkan b4tangnya ke lub4ng anak tirinya sendiri yang masih berusia belasan tahun. Ia menelan ludah, ketika rok pendek Dinda tersingkap menampilkan pahanya yang putih mulus basah.
892Please respect copyright.PENANAZmAHUJL6pM
Belahan dadanya pun sedikit terlihat akibat kemeja yang tak terkancing penuh, dibalik bra pinknya terselip gundukan kecil dengan put1ng berwarna merah jambu. Ia telah meny1cipi semua itu, namun sepertinya Bima menginginkannya lagi. Ia melihat anak tirinya bukan lagi sebagai anak kecil, melainkan seorang wanita yang telah merenggut hatinya dalam cinta dan juga nafsu.
892Please respect copyright.PENANAeUJz5lIYVH
Menyadari perhatian tersebut, Dinda kemudian menyadarkan Bima dengan berkata, "Ayah aku ingin kekamar mandi dulu"
892Please respect copyright.PENANAp1JH8ScX1h
"Oh ya! masuklah, panggil aku jika kamu butuh sesuatu"
892Please respect copyright.PENANA9urPNVfueI
Dinda mengangguk dan berlalu sambil mengambil handuk yang terlipat di meja rias.
892Please respect copyright.PENANAz6Mx1xos3x
Suara desir air mengalir di kamar mandi itu, Bima seakan tak hentinya membayangkan tubuh Dinda yang begitu mulus dan kecil. Ia seperti tersihir akan kenikmatan yang telah ia rasakan, seperti candu namun takut akan penyimpangan itu. Ia kini merasa bersalah, dan berharap dosa yang ia lakukan bisa terampuni oleh tuhan.
892Please respect copyright.PENANAbZxDAX00Iv
Ditengah rasa bersalah itu, Dinda kemudian keluar dengan tubuh basah dan hanya terbalut handuk putih. Ia berjalan menuju Bima, harum tubuhnya seakan kembali membangkitkan nafsu ayahnya yang baru saja bertobat. "Ayah ingin menggunakan kamar mandi" tanya Dinda memastikan.
892Please respect copyright.PENANAtZbQQAYxEq
Bima menatap kagum Dinda, ia lantas menarik lengan anak tirinya itu menuju pangkuannya. "Aku ingin menggunakanmu, sayang"
892Please respect copyright.PENANAfIwFLdEPF8
Ia melum4t bibir mungil itu penuh nafsu dan dibalas oleh Dinda dengan penuh kasih. Mereka pun kembali bercinta dimalam yang dingin itu.
892Please respect copyright.PENANAHtC9zmKKZq
BERSAMBUNG...
Selengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.37da2


