Aku duduk di teras rumah sambil memandang langit sore yang mulai memerah. Namaku Bagas, 21 tahun, mahasiswa semester akhir teknik sipil di sebuah universitas negeri di Jakarta. Rumah kami di pinggiran Depok ini cukup luas, dengan halaman depan yang hijau dan pagar tanaman rambat yang selalu dirawat ibuku dengan telaten. Ibuku, namanya Rina, berusia 42 tahun. Dia seorang ibu rumah tangga yang masih sangat cantik, tubuhnya terjaga meski sudah melahirkan dua anak. Ayahku bekerja sebagai manajer proyek di perusahaan konstruksi besar, sering sekali dinas ke luar kota bahkan luar negeri. Sudah hampir dua minggu ini ayah tidak pulang.
11763Please respect copyright.PENANAy8HkpoIMyW
Aku menghela napas pelan. Hari ini temanku, Dika, bilang mau mampir ke rumah. Dika adalah sahabatku sejak SMA. Dia cowok tinggi, berbadan atletis karena rutin gym, kulit sawo matang, dan punya senyum yang katanya banyak bikin cewek klepek-klepek. Kami sering nongkrong bareng, main game, atau sekadar ngobrol sampai malam. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini Dika sering bertanya tentang ibuku. “Tante Rina masih sehat kan, Gas? Masih cantik ya?” tanyanya suatu kali sambil nyengir. Aku cuma ketawa, menganggapnya guyonan biasa.
11763Please respect copyright.PENANAcSOvExzITA
Pukul setengah lima sore, motor Dika sudah terdengar di depan pagar. Aku bangkit menyambutnya. “Bro! Lama lo ga mampir,” sapaku sambil tos tangan.
11763Please respect copyright.PENANAwzl4dUNKvg
Dika tertawa lebar, memelukku sebentar. “Sibuk kuliah, Gas. Tapi hari ini sengaja luangin buat lo. Eh, Tante Rina ada?”
11763Please respect copyright.PENANAZFvYX4cfHf
Aku mengangguk. “Ada di dalam. Lagi masak kayaknya. Masuk yuk.”
11763Please respect copyright.PENANAFzSyNdzoMV
Kami berjalan masuk ke ruang tamu yang sejuk karena AC. Ibuku keluar dari dapur sambil menyeka tangan dengan lap kecil. Dia memakai daster rumah berwarna krem yang longgar, tapi tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Payudaranya yang besar dan kencang masih terlihat menonjol di balik kain tipis itu, pinggangnya ramping, dan bokongnya yang montok bergoyang pelan saat berjalan. Kulitnya putih mulus, rambutnya hitam panjang terikat asal.
11763Please respect copyright.PENANA8T0DwU25zk
“Wah, Dika! Lama tidak main ke sini,” sapa ibuku ramah, senyumnya manis sekali. Matanya yang bulat dan bibirnya yang penuh membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.
11763Please respect copyright.PENANAjfVOZe8z56
Dika langsung berdiri, memeluk ibuku sebentar seperti biasa. Pelukannya agak lama kali ini, tangannya menempel di punggung ibuku. “Iya Tante, sibuk banget. Tante Rina makin cantik aja. Wangi masakannya enak sekali.”
11763Please respect copyright.PENANATk7sPpz0Nk
Ibuku tertawa kecil, pipinya sedikit merona. “Kamu ini, sudah besar masih suka ngegombal. Duduk dulu, Tante buatkan minum ya. Bagas, temenin Dika.”
11763Please respect copyright.PENANAqLggMKm4Sw
Aku dan Dika duduk di sofa. Dika melirik ke arah dapur, matanya sedikit menyipit. “Gas, Tante Rina emang selalu gitu ya? Ramah banget. Badannya juga… masih fit banget.”
11763Please respect copyright.PENANAArPjgEKYtZ
Aku mengangkat bahu. “Iya lah, dia rajin olahraga pagi. Yoga katanya. Kenapa emang?”
11763Please respect copyright.PENANAkLr5DHwiGu
Dika nyengir lebar, suaranya pelan. “Nggak apa-apa. Cuma kagum aja. Kalau gue punya ibu secantik itu, tiap hari gue bangga.”
11763Please respect copyright.PENANARN65ZLXGYh
Percakapan kami berlanjut santai. Ibuku datang membawa dua gelas es jeruk dan sepiring kue kering. Dia duduk di kursi single di depan kami, kakinya yang jenjang dan mulus terlihat saat daster sedikit naik. Aku memperhatikan Dika yang sesekali melirik ke arah paha ibuku yang putih dan halus.
11763Please respect copyright.PENANApkfAcshljM
“Kamu kuliahnya lancar, Dika?” tanya ibuku sambil menyesap air putihnya.
11763Please respect copyright.PENANAJjbK0RKHE4
“Lancar Tante. Tapi kadang capek juga. Apalagi kalau lagi banyak tugas. Tante sendiri, sendirian di rumah sering nggak? Om kan sering dinas.”
11763Please respect copyright.PENANAYF7Yde9N7j
Ibuku mengangguk pelan, ada sedikit kesedihan di matanya. “Iya, sering. Tapi sudah biasa. Bagas juga sering kuliah sampe malam. Kadang rumah ini terasa sepi.”
11763Please respect copyright.PENANAK31tOWqNrT
Dika mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya bertumpu di lutut. “Kalau gitu, Tante boleh panggil gue kapan saja kalau butuh temen ngobrol atau bantu apa-apa. Gue senang kok dateng ke sini.”
11763Please respect copyright.PENANAvPLUdJV98M
“Wah, baik sekali kamu,” ibuku tersenyum lebar. Mereka berdua mulai mengobrol panjang tentang banyak hal—dari resep masakan, film terbaru, sampai kebiasaan olahraga. Aku hanya duduk mendengarkan, sesekali ikut nimbrung. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Cara Dika memandang ibuku, cara ibuku tertawa saat Dika bercanda, sepertinya lebih… akrab dari biasanya.
11763Please respect copyright.PENANArfD9TPwJRe
Malam mulai turun. Kami makan malam bertiga. Ibuku masak ayam goreng kremes, sayur asam, dan sambal terasi yang pedas. Dika memuji masakan ibuku berulang kali, membuat ibuku tersipu-sipu.
11763Please respect copyright.PENANALU5HS8qSUN
Setelah makan, kami pindah ke ruang keluarga. TV menyala menayangkan film drama Korea. Ibuku duduk di sofa panjang, aku di sebelahnya, Dika di ujung lain. Lama-kelamaan, aku merasa mengantuk. Kuliah hari ini melelahkan.
11763Please respect copyright.PENANAKBUoC5oA1D
“Gas, lo tidur aja kalau capek,” kata Dika pelan. “Gue masih betah ngobrol sama Tante.”
11763Please respect copyright.PENANAcbkkiqikYd
Ibuku melirikku. “Iya, Nak. Kamu istirahat dulu di kamar. Biar Tante temenin Dika sebentar.”
11763Please respect copyright.PENANACUaM6NIjdu
Aku mengangguk, naik ke kamar di lantai dua. Tapi entah kenapa, aku tidak langsung tidur. Aku duduk di tepi ranjang, memikirkan tatapan Dika tadi. Setengah jam kemudian, aku turun lagi pelan-pelan, ingin mengambil air minum. Suara tawa ibuku dan Dika terdengar dari ruang keluarga.
11763Please respect copyright.PENANAKun66nQyo3
Aku mendekat diam-diam, berdiri di balik dinding.
11763Please respect copyright.PENANA7XbtsrIWfB
“…Tante, boleh gue bilang jujur nggak?” suara Dika rendah.
11763Please respect copyright.PENANAy408ghRJm6
“Bilang aja, Dik,” jawab ibuku lembut.
11763Please respect copyright.PENANA4IWRi7nh4h
“Dari dulu gue suka sama Tante. Bukan suka biasa. Setiap dateng ke sini, gue selalu lihat Tante… cantik banget. Tubuh Tante… bikin gue susah konsentrasi.”
11763Please respect copyright.PENANAMmMoE1y6M7
Hening sebentar. Aku membeku di tempat.
11763Please respect copyright.PENANAGKEGpAV4M9
Ibuku tertawa kecil, suaranya agak gemetar. “Kamu ini… sudah gila ya? Aku ibunya Bagas, Dik. Kamu temennya.”
11763Please respect copyright.PENANA6Jqnk42Ioj
“Tapi Tante juga wanita. Wanita yang cantik, yang kesepian. Gue lihat kok, cara Tante pandang gue. Ada sesuatu kan?”
11763Please respect copyright.PENANAUFyXul5G5B
Aku mendengar ibuku menghela napas panjang. “Dika… ini nggak boleh. Bagas bisa bangun kapan saja.”
11763Please respect copyright.PENANAv6Sg64DWNJ
“Dia sudah tidur, Tante. Dan gue janji… gue akan pelan-pelan. Gue cuma mau sentuh Tante sebentar. Kalau Tante nggak suka, gue berhenti.”
11763Please respect copyright.PENANAJpzJh6LBcP
Aku mengintip dari celah dinding. Dika sudah duduk lebih dekat ke ibuku. Tangan kanannya menyentuh lengan ibuku pelan, mengusap naik turun. Ibuku tidak menolak, hanya menunduk, napasnya mulai cepat.
11763Please respect copyright.PENANAMKP9B6aOQm
“Dika… ini salah,” bisik ibuku, tapi suaranya tidak meyakinkan.
11763Please respect copyright.PENANATM4MA87gR5
Dika mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga ibuku. “Tante Rina… payudara Tante besar sekali. Gue selalu bayangin sejak lama. Boleh gue lihat?”
11763Please respect copyright.PENANAovxWQV1ajw
Ibuku menggigit bibir bawahnya. Tangannya gemetar saat Dika perlahan menurunkan resleting daster di bagian dada. Kain krem itu meluncur turun, memperlihatkan bra hitam yang menyangga payudara ibuku yang montok dan berat. Kulitnya putih susu, lekukannya sempurna, dengan belahan dada yang dalam dan menggoda.
11763Please respect copyright.PENANANvlcLb0nMF
“Ya Tuhan… Tante… indah sekali,” desah Dika. Tangannya naik, meremas payudara kiri ibuku dari luar bra dengan lembut. Ibuku mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
11763Please respect copyright.PENANAdpI0EaYIiF
Aku masih berdiri di balik dinding, jantungku berdegup kencang. Harusnya aku marah, harusnya aku keluar dan menghentikan. Tapi kakiku seperti terpaku. Ada rasa aneh yang muncul—campuran cemburu, marah, dan… kegairahan yang tak terduga.
11763Please respect copyright.PENANAseHErl8z31
Dika menunduk, mencium leher ibuku. Bibirnya menyusuri kulit halus itu, lidahnya menjilat pelan. Ibuku menggeliat, tangannya memegang bahu Dika. “Dika… pelan… ahh…”
11763Please respect copyright.PENANAopLdKnA9sp
Bra ibuku dilepaskan dengan satu gerakan. Payudaranya yang besar melompat keluar, putingnya cokelat muda, sudah mengeras dan menegang. Dika langsung menangkup keduanya, meremas pelan sambil memainkan puting dengan jempolnya.
11763Please respect copyright.PENANAr9vUPHkvpC
“Tante… putingnya sensitif ya? Lihat, sudah keras begini,” bisik Dika sambil menjilat salah satu puting itu.
11763Please respect copyright.PENANAgYWCVXwBtN
Ibuku mengerang pelan, tangannya meremas rambut Dika. “Jangan bilang begitu… malu…”
11763Please respect copyright.PENANAGGFebZC68u
Aku melihat semuanya. Payudara ibuku yang besar bergoyang saat Dika menghisap putingnya bergantian. Lidah Dika berputar di sekitar areola yang lebar, mengisap kuat sampai ibuku melengkungkan punggungnya. Suara kecupan basah terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
11763Please respect copyright.PENANAkeFDQ1vDUY
Dika terus merayu dengan suara serak. “Tante Rina… bokong Tante juga pasti enak. Gue mau lihat semuanya malam ini. Boleh kan? Tante sudah basah belum di bawah?”
11763Please respect copyright.PENANA60Qt1kiYSX
Ibuku hanya mengangguk lemah, matanya setengah terpejam karena kenikmatan. Dika menarik daster sampai ke pinggang, memperlihatkan celana dalam hitam yang sudah basah di bagian tengah. Tangan Dika menyusup ke dalam celana itu, jarinya mengusap bibir vagina ibuku yang sudah licin.
11763Please respect copyright.PENANA1TosvkvK4x
“Ahh… Dika… jari kamu… besar sekali,” erang ibuku.
11763Please respect copyright.PENANAY3rLxMHrjL
Dika tersenyum puas. “Tante basah banget. Gue masukin satu jari dulu ya… pelan-pelan.”
11763Please respect copyright.PENANAHOIJcv1VIB
Jari telunjuk Dika masuk perlahan ke dalam liang vagina ibuku yang hangat dan sempit. Ibuku menggigit bibirnya kuat, pinggulnya bergerak pelan mengikuti irama jari Dika yang keluar-masuk. Dika menambah satu jari lagi, kemudian tiga, sambil ibu jarinya memainkan klitoris yang sudah membengkak.
11763Please respect copyright.PENANA5JV7IwYzhk
Aku mendengar suara basah “slurp… slurp…” yang semakin kencang. Ibuku mulai orgasme pertama kali—tubuhnya bergetar hebat, cairannya membasahi tangan Dika.
11763Please respect copyright.PENANAm88kNHyGY0
“Ohh… Dika… aku keluar… ahhh!” jerit ibuku tertahan.
11763Please respect copyright.PENANAP2nRst57QF
Dika tidak berhenti. Dia terus memainkan jari-jarinya sambil mencium bibir ibuku dalam-dalam. Lidah mereka saling menari, saliva saling bertukar. Ciuman itu panjang, basah, dan penuh nafsu.
11763Please respect copyright.PENANAvkJn9xjwP0
Setelah ibuku agak tenang, Dika berdiri, membuka celana jeansnya. Kontolnya yang besar dan tebal melompat keluar, sudah sangat keras, urat-uratnya menonjol, kepalanya mengkilap karena precum.
11763Please respect copyright.PENANA4cdsSGeP2h
Ibuku memandangnya dengan mata lebar. “Besaaar sekali… Dika…”
11763Please respect copyright.PENANAJA5vCgD658
Dika memegang kepala ibuku pelan. “Tante… coba hisap ya. Gue mau rasain mulut Tante yang cantik ini.”
11763Please respect copyright.PENANA564yTDGSdJ
Ibuku ragu sebentar, tapi nafsunya sudah terlalu besar. Dia membuka mulutnya, lidahnya menjilat ujung kontol Dika dulu, kemudian menyedot kepalanya pelan-pelan. Dika mendesah nikmat, tangannya memegang rambut ibuku.
11763Please respect copyright.PENANA94G9IwGJis
“Enak sekali, Tante… lebih dalam… ya seperti itu… ahh…”
11763Please respect copyright.PENANAzrQ4oaLaUY
Ibuku mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, mulutnya yang hangat dan basah mengulum hampir setengah panjang kontol Dika. Suara isapan dan kecupan basah memenuhi ruangan. Dika mendorong pinggulnya pelan, fucking mulut ibuku dengan lembut tapi dalam.
11763Please respect copyright.PENANA69QtqwkBVS
Aku masih mengintip, tanganku tanpa sadar memegang kontolku sendiri yang sudah keras sekali.
11763Please respect copyright.PENANAi2BMgJMFNg
Dika menarik ibuku berdiri, membalikkan tubuhnya, dan membungkukannya di sofa. Bokong ibuku yang bulat, putih, dan montok terpampang sempurna. Dika meremas kedua belahan itu kuat, kemudian menjilat dari belakang—lidahnya menyusuri celah bokong sampai ke vagina yang basah.
11763Please respect copyright.PENANAi78fF0jVbZ
Ibuku menjerit pelan. “Dika… itu… kotor… ahh… tapi enak sekali…”
11763Please respect copyright.PENANAmYpdWq7TAy
Dika terus menjilat dengan rakus, lidahnya masuk ke dalam liang vagina, menghisap cairan yang keluar. Kemudian dia berdiri, menggesekkan kepala kontolnya di bibir vagina ibuku.
11763Please respect copyright.PENANAeUyWNsAABP
“Mau dimasukkan, Tante? Bilang… ‘Masukkan kontol kamu ke vagina Tante, Dika’.”
11763Please respect copyright.PENANA0JEGLDKkzs
Ibuku gemetar. “Masukkan… kontol kamu… ke vagina Tante… pelan-pelan ya…”
11763Please respect copyright.PENANACWhaFduS65
Dika mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kontolnya masuk, kemudian batangnya yang tebal membelah dinding vagina ibuku yang sempit. Ibuku mengerang panjang, “Aaaahhh… penuh sekali… Dika… besar banget…”
11763Please respect copyright.PENANAWjOfUFelQY
Dika mulai gerak pelan, keluar masuk dengan irama yang dalam. Setiap dorongan membuat payudara ibuku bergoyang hebat. Suara benturan daging “plak… plak… plak…” mulai terdengar ritmis.
11763Please respect copyright.PENANAkNQELeCaow
Aku melihat semuanya—kontol Dika yang basah oleh cairan ibuku keluar masuk vagina yang merah muda dan mengembang. Ibuku orgasme lagi, kali ini lebih kuat, cairannya muncrat sedikit.
11763Please respect copyright.PENANAzF1eckz494
Dika belum selesai. Tubuhnya masih penuh tenaga, kontolnya yang tebal dan berdenyut masih keras menggelegak di dalam vagina Tante Rina yang sudah banjir cairan. Dengan napas berat dan penuh nafsu, dia menarik pinggul Tante Rina pelan, mengeluarkan batangnya yang basah mengkilap hingga hanya kepala kontolnya yang masih tertahan di bibir vagina yang mengembang merah muda itu. Suara “plop” basah terdengar saat kontolnya lepas sepenuhnya, diikuti aliran cairan Tante Rina yang menetes ke lantai karpet.
11763Please respect copyright.PENANAueXwTwHRfD
“Naik ke pangkuan aku, Tante…” bisik Dika dengan suara serak penuh perintah lembut. Matanya gelap karena gairah, tangannya meraih pinggang ramping Tante Rina yang masih gemetar sisa orgasme sebelumnya. “Aku mau Tante yang mengendalikan sekarang. Biar aku bisa nikmati payudara Tante yang montok ini sambil Tante goyang di atas kontol aku.”
11763Please respect copyright.PENANA0EBbJqd59d
Tante Rina menggigit bibir bawahnya, wajahnya merah padam bercampur malu dan nafsu yang sudah tak tertahankan. Payudaranya yang besar dan berat naik-turun mengikuti napasnya yang cepat, puting cokelat mudanya masih basah oleh air liur Dika, menegang sempurna seperti dua puncak bukit kecil yang menggoda. “Dika… kamu benar-benar… ahh, aku sudah tidak kuat menolak lagi,” desahnya pelan, suaranya bergetar. Tapi kakinya tetap melangkah, naik ke sofa, lututnya menekan bantalan di sisi pinggul Dika.
11763Please respect copyright.PENANA9WZPbViwyY
Dengan gerakan lambat dan penuh godaan, Tante Rina mengangkang di atas pangkuan Dika. Bokongnya yang bulat sempurna, putih mulus dengan sedikit lekukan lembut di pinggirnya, bergoyang pelan saat dia menurunkan tubuh. Tangan Dika langsung meraih kedua belahan bokong itu, meremasnya kuat hingga jari-jarinya tenggelam di daging empuk yang kenyal. “Bokong Tante enak banget diremas… empuk, berat, tapi kencang. Aku bisa pegang seharian,” gumam Dika sambil mengecup ujung payudara kiri Tante Rina.
11763Please respect copyright.PENANAuwwtyRvbnp
Tante Rina memegang bahu lebar Dika untuk keseimbangan. Tangannya yang halus merasakan otot-otot kekar di bawah kulit sawo matang itu. Perlahan, dia menurunkan pinggulnya. Bibir vagina yang sudah licin dan membengkak itu menyentuh kepala kontol Dika yang panas dan berdenyut. Dia menggesekkan pelan dulu, membiarkan cairannya melumasi batang yang tebal itu. “Besaaar sekali… setiap kali masuk rasanya seperti robek… tapi enak… sangat enak,” erangnya dengan suara parau.
11763Please respect copyright.PENANAOtIYefmk7o
Dika tersenyum nakal, lidahnya menjulur menjilat puting kanan Tante Rina yang sudah mengeras. “Masukkan sendiri, Tante. Pegang kontol aku dan arahkan ke dalam vagina Tante yang basah ini. Aku mau dengar Tante bilang betapa Tante menginginkannya.”
11763Please respect copyright.PENANAIKlHITZUED
Tante Rina gemetar hebat. Tangannya turun, meraih batang kontol Dika yang panas dan berurat. Jarinya hampir tidak bisa melingkar sepenuhnya karena ketebalannya. Dengan napas tersengal, dia mengarahkan kepala kontol itu ke lubang vaginanya yang berkedut minta diisi. “Aku… aku masukkan kontol kamu yang besar ini… ke dalam vagina aku yang sudah basah banget buat kamu, Dika… ahh!”
11763Please respect copyright.PENANAdDDb35XJX8
Dia menurunkan pinggulnya perlahan. Sentimeter demi sentimeter, kontol Dika membelah dinding vagina yang hangat, lembab, dan ketat itu. Wajah Tante Rina mendongak, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan panjang yang penuh kenikmatan. “Uhh… penuh… sangat penuh… rasanya sampai ke perut aku…” Payudaranya bergoyang hebat di depan wajah Dika saat dia terus turun hingga pangkal kontol Dika tertelan sepenuhnya. Bokongnya menempel sempurna di paha Dika, bola-bola kontol yang penuh sperma menyentuh kulit halus di antara bokongnya.
11763Please respect copyright.PENANAgQIjQNtvUR
Dika langsung menyambar payudara kiri Tante Rina dengan mulutnya. Dia mengisap puting itu kuat-kuat, lidahnya berputar di sekitar areola yang lebar sambil tangan kanannya meremas payudara kanan dengan ritme yang sama. “Mmmhh… payudara Tante enak banget… berat, lembut, tapi kenyal. Putingnya manis sekali,” katanya di sela-sela hisapan, suaranya teredam oleh daging payudara yang penuh.
11763Please respect copyright.PENANAGAjuyJDJgE
Tante Rina mulai bergerak. Awalnya pelan, naik-turun dengan gerakan melingkar yang sensual. Setiap kali pinggulnya naik, kontol Dika hampir keluar seluruhnya, hanya kepalanya yang tertahan di bibir vagina yang menggigit erat. Kemudian dia turun lagi dengan kuat, “plak!” suara daging bertemu daging terdengar basah dan mesum. Payudaranya bergoyang liar di depan wajah Dika, kadang menampar pipinya pelan. Dika bergantian menghisap kedua puting, kadang menggigit ringan hingga Tante Rina menjerit kecil karena campuran nikmat dan sakit yang manja.
11763Please respect copyright.PENANA9LfleZMQIP
“Ahh… Dika… lebih cepat… hisap puting aku lebih kuat… ya seperti itu!” erang Tante Rina. Tangan kirinya memegang kepala Dika, menekannya lebih dalam ke payudaranya, sementara tangan kanannya bertumpu di dada Dika. Gerakannya semakin liar. Dia naik-turun dengan cepat sekarang, bokongnya yang montok memantul-mantul di pangkuan Dika. Cairan vaginanya meluncur deras membasahi kontol Dika, paha Dika, hingga ke sofa.
11763Please respect copyright.PENANA1I512UJ9CR
Dika melepaskan puting Tante Rina sebentar, menatap wajahnya yang penuh kenikmatan. “Tante Rina… kamu jalangnya aku sekarang ya? Bilang… ‘Aku jalang Dika, kontol kamu bikin aku gila’.”
11763Please respect copyright.PENANAvVHr8tmq3Z
Tante Rina mengangguk lemah, matanya setengah terpejam. “Aku… ahh… aku jalang Dika… kontol kamu yang besar ini bikin vagina aku gila… aku mau digoyang terus… lebih dalam… ahhh!” Dia mempercepat gerakan, pinggulnya berputar saat turun, membuat kepala kontol Dika menggesek titik G-nya yang sensitif. Tubuhnya bergetar hebat. Orgasme kedua datang dengan kuat. Vaginanya berkedut keras menggenggam kontol Dika, cairannya muncrat hangat membasahi selangkangan mereka berdua.
11763Please respect copyright.PENANAVbzALVAC29
“Oh Tuhan… aku keluar lagi… Dika… aku squirting… ahhh!!” jerit Tante Rina tertahan, tubuhnya mengejang, payudaranya bergoyang tak terkendali. Dika memeluk pinggangnya erat, mendorong pinggulnya ke atas agar kontolnya menghunjam lebih dalam saat Tante Rina orgasme.
11763Please respect copyright.PENANAdoFpVtdDdA
Tapi Dika masih kuat. Dia membalik posisi tanpa melepaskan penetrasi. Sekarang Tante Rina berbaring di sofa, Dika di atasnya dalam posisi missionary yang dalam. Kaki Tante Rina yang jenjang dan mulus dia angkat tinggi, meletakkannya di bahu Dika. “Sekarang aku yang gerak, Tante. Aku mau isi vagina Tante sampai penuh.”
11763Please respect copyright.PENANAWPtytcllLi
Dika mulai menghunjam dengan ritme kuat dan panjang. Setiap dorongan membuat bokongnya menampar bokong Tante Rina yang basah. Payudara Tante Rina bergoyang naik-turun seperti gelombang, putingnya masih basah dan merah karena hisapan tadi. Dika menunduk, mencium bibir Tante Rina dalam-dalam sambil terus memompa. Lidah mereka saling menari liar, saliva menetes ke dagu.
11763Please respect copyright.PENANAuemGcRw5aA
“Enak sekali vagina Tante… sempit, panas, basah banget… seperti mengisap kontol aku,” desah Dika di sela ciuman. Tangannya meremas payudara Tante Rina tanpa henti, jempolnya memilin puting.KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/nassa45
ns216.73.216.236da2


