Malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 00.45. Lampu utama sudah dimatikan, hanya cahaya biru samar dari TV yang masih menyala di mode sleep. Rumah sunyi sekali, hanya sesekali terdengar angin malam yang menyusup lewat celah jendela. Vina sudah tidur pulas di kamarnya sejak hampir satu setengah jam lalu. Pintu kamarnya tertutup rapat, dan dengkurannya yang pelan dan teratur terdengar samar dari lorong.
Melda duduk di pangkuan Bayu di sofa panjang ruang tengah. Tubuhnya hanya memakai oversized shirt putih milik Bayu yang kebesaran, ujungnya hanya menutupi pertengahan paha. Rambutnya tergerai acak-acakan, bibirnya masih basah karena ciuman tadi. Ia mencium leher Bayu pelan, napasnya panas dan bergetar penuh antisipasi.
“Kak Bayu…” bisiknya di telinga Bayu, suaranya lembut tapi penuh nafsu. “Aku sudah nggak tahan lagi. Ide yang aku bilang sore tadi… ini malamnya. Aku mau kita libatkan Vina malam ini.”
Bayu membeku sejenak. Jantungnya berdegup kencang sekali. Tangannya yang sedang mengusap paha Melda berhenti bergerak. “Mel… kamu serius? Ini adik aku, loh.”
Melda menjauhkan wajahnya sedikit, matanya berkilat nakal di kegelapan ruangan. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum. “Serius banget, Kak. Aku sudah mikirin ini berhari-hari. Vina itu adik Kakak… tapi dia juga sahabat aku yang paling dekat. Aku tahu dia masih perawan total. Dia sering curhat ke aku pas kita berdua di kos—dia penasaran banget sama seks, tapi takut sama cowok di kampus. Dia bilang pengen rasain yang pertama sama orang yang dia percaya. Malam ini… aku mau kita buka dia bareng. Pelan-pelan. Aku mau lihat Kakak ngentot adik sendiri sambil aku ikut. Aku mau jadi yang pertama ajarin Vina rasanya kontol Kakak yang gede ini. Aku mau kita bertiga malam ini.”
Bayu menelan ludah keras. Kontolnya langsung mengeras sempurna di balik celana pendek. Pikirannya berputar cepat—bahaya, dosa, tapi juga nafsu yang luar biasa. “Ini bahaya banget, Mel… kalau Vina bangun dan marah gimana?”
Melda tersenyum semakin lebar. Ia meremas bahu Bayu sambil menggesek memeknya yang sudah basah di paha Bayu. “Aku sudah siapin semuanya, Kak. Tadi sore pas Vina mandi, aku masukin obat tidur ringan ke minumannya. Bukan yang bikin pingsan total, tapi yang bikin dia tidur sangat pulas dan tubuhnya agak panas, agak horny pas setengah sadar. Dia nggak akan bangun mudah, tapi kalau kita bangunin pelan-pelan, tubuhnya bakal responsif banget. Kita bisa kendalikan semuanya. Aku mau Vina ngerasain enaknya dulu, baru sadar pelan-pelan. Percaya sama aku, Kak. Ini ide terbaik aku.”
Bayu masih ragu sebentar, tapi nafsu sudah mengalahkan segalanya. Ia mengangguk pelan. “Oke… tapi kita harus pelan-pelan banget.”
Melda berdiri, menarik tangan Bayu dengan semangat. “Ayo, Kak. Ke kamar Vina sekarang. Jangan nyalain lampu besar, cukup lampu tidurnya aja.”
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong tanpa suara sama sekali. Lantai kayu terasa dingin di telapak kaki mereka. Melda membuka pintu kamar Vina perlahan, tanpa suara. Ruangan gelap, hanya lampu tidur kecil di nakas yang menyala redup kuning keemasan. Vina tidur telentang di tempat tidur single-nya dengan damai. Selimutnya melorot sampai pinggang, memperlihatkan tank top tipis berwarna pink yang ketat di dada. Payudaranya naik-turun pelan mengikuti napasnya. Celana pendeknya naik sampai pertengahan paha, memperlihatkan kulit putih mulusnya.
Melda mendekat lebih dulu. Ia naik ke tempat tidur dengan hati-hati, duduk di samping Vina. Bayu naik dari sisi lain. Melda mengusap rambut Vina pelan, lalu mencium kening sahabatnya dengan lembut.
“Vin… bangun sebentar ya…” bisik Melda sambil mengusap paha Vina naik-turun dengan lembut.
Vina menggeliat pelan. Matanya setengah terbuka, masih kabur dan sayu karena pengaruh obat. “Mel…? Kak Bayu…? Apa… apa yang terjadi…?”
Melda mencium bibir Vina pelan, ciuman ringan tapi penuh kasih. Lidahnya menyentuh bibir bawah Vina sebentar. Vina mengerang pelan, tubuhnya langsung bereaksi. Obat membuat kulitnya panas dan sensitif.
“Kak Bayu ada di sini, Vin,” bisik Melda lembut di telinga Vina. “Kita mau kasih kamu sesuatu yang enak banget malam ini… kamu mau kan? Kamu penasaran kan sama yang namanya kontol?”
Vina mengangguk samar, napasnya mulai tersengal. “Enak… aku… penasaran… tapi… ini salah…”
Bayu mencium leher adiknya pelan, lidahnya menjilat kulit yang asin-manis. Tangannya mengusap perut Vina di atas tank top, naik perlahan ke payudara. Melda membantu mengangkat tank top Vina sampai ke leher. Payudara Vina terpampang sempurna—lebih kecil dari Melda tapi sangat kencang, bulat, dan putingnya pink muda yang sudah mengeras.
Melda langsung menunduk, menyedot puting kiri Vina dengan rakus. Lidahnya berputar cepat di areola. Bayu menyedot puting kanan, gigit pelan. Vina mengerang panjang, tangannya memegang kepala kakak dan sahabatnya.
“Ahh… Kak… Mel… enak sekali… apa ini… badan aku panas banget…”
Melda turun lebih rendah. Ia menurunkan celana pendek Vina beserta celana dalamnya dalam satu tarikan pelan. Memek Vina terbuka di depan mereka—mulus tanpa bulu, bibir kecil yang masih rapat, klitorisnya kecil dan sudah basah mengkilap karena obat. Melda langsung menjilat klitoris Vina dengan lidah lembut tapi penuh nafsu, dua jarinya mengusap bibir memek yang basah.
Bayu mencium bibir adiknya dalam-dalam. Lidah mereka bertemu untuk pertama kali. Vina merespons meski masih lemah dan malu-malu, lidahnya bergerak kikuk tapi penuh rasa ingin tahu. Ciuman itu semakin dalam, air liur mereka bercampur.
“Kak Bayu… ini salah… tapi… enak… jangan berhenti…” gumam Vina di antara ciuman.
Melda mengangkat wajahnya dari memek Vina, bibirnya basah. “Vin, kontol Kak Bayu gede banget dan tegang sekali. Kamu mau coba hisap dulu?”
Vina mengangguk pelan, matanya masih kabur tapi penuh rasa ingin tahu. Melda menarik celana Bayu turun. Kontol Bayu loncat keluar, keras sempurna, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap precum. Melda memegang batang kontol itu dan mengarahkan ke mulut Vina.
“Hisap pelan-pelan dulu, Vin. Rasain kontol kakak kamu.”
Vina membuka mulutnya lebar. Kepala kontol Bayu masuk ke mulut adiknya yang hangat dan basah. Vina hisap pelan, lidahnya bergerak kikuk tapi semakin berani. Melda membimbing kepala Vina naik-turun sambil mencium Bayu dengan liar.
“Bagus, Vin… hisap lebih dalam… tenggorokan kamu enak banget buat kontol Kak Bayu,” bisik Melda.
Setelah lima menit Vina belajar deepthroat, Bayu tidak tahan lagi. Ia posisikan tubuh Vina di tengah tempat tidur, membuka kedua kakinya lebar-lebar. Melda duduk di belakang Vina, memeluknya dari belakang sambil meremas payudaranya dan mencium lehernya.
Bayu menggesek-gesek kepala kontolnya di memek Vina yang sudah banjir. “Vin… Kakak mau masukin ya… pelan-pelan. Bilang kalau sakit.”
Vina mengangguk, tangannya memegang lengan Melda erat. “Masukin, Kak… aku mau rasain kontol Kakak… aku mau jadi perempuan Kak Bayu juga…”
Bayu mendorong pelan sekali. Kepala kontolnya masuk, meregang lubang memek perawan Vina yang sangat sempit. Vina menjerit pelan, tubuhnya menegang. “Aduh… sakit, Kak… gede banget… tapi… terus… jangan berhenti…”
Satu senti demi satu senti, Bayu memasukkan seluruh kontolnya dengan sangat perlahan. Melda terus mencium Vina dan menggosok klitorisnya untuk mengurangi rasa sakit. Akhirnya seluruh kontol Bayu tenggelam sempurna di memek adiknya.
“Penuh sekali… Kak Bayu… kontol Kakak ngeganjel rahim aku… enak… sakit-enak…” desah Vina, air matanya keluar karena campuran sakit dan kenikmatan.
Bayu mulai bergerak pelan, keluar-masuk dengan ritme lembut tapi dalam. Melda terus meremas payudara Vina dan mencium bibirnya. Suasana kamar penuh desahan tiga orang yang saling bercampur.
Semakin lama Bayu semakin cepat. Vina mulai menikmati, pinggulnya ikut bergerak naik-turun. “Lebih cepat, Kak… entot adik kamu lebih kenceng… ahh… enak banget, Kak Bayu… memek aku milik Kakak sekarang…”
Melda naik ke atas wajah Vina, duduk di mukanya sambil menghadap Bayu. “Jilat memek aku, Vin. Kita bertiga malam ini. Rasain memek sahabat kamu sambil kakak kamu entot memek kamu.”
Vina menjilat memek Melda dengan rakus, lidahnya masuk ke dalam lubang Melda. Bayu menghantam memek Vina dengan ritme sedang tapi semakin dalam dan kuat. Tangannya meremas payudara adiknya. Tempat tidur mulai berderit pelan.
Setelah hampir dua puluh menit, Vina orgasme pertama dalam hidupnya. Tubuhnya mengejang hebat, memeknya memeras kontol Bayu kuat-kuat. “Aku cum, Kak!! Memek aku… ahh… ahh… enak banget!!”
Bayu creampie memek Vina, menyemburkan sperma panas tebal ke dalam rahim adiknya berkali-kali sampai meluap keluar. Melda orgasme di wajah Vina bersamaan, cairannya membasahi mulut Vina.
Mereka bertiga ambruk di tempat tidur Vina yang sempit. Tubuh mereka saling menempel, keringat bercampur, napas tersengal. Sperma Bayu masih menetes dari memek Vina yang bengkak. Vina masih setengah sadar, tersenyum lemah sambil memeluk kakak dan sahabatnya.
“Kak Bayu… Mel… ini gila… tapi enak banget… aku mau lagi besok… aku mau jadi milik Kakak juga…”
Melda mencium Bayu di atas tubuh Vina yang lemas, matanya penuh kemenangan. “Lihat, Kak? Ide aku bagus kan? Malam ini kita bertiga… dan ini baru permulaan.”
Bayu hanya bisa mengangguk, napasnya masih tersengal. Rahasia terbesar mereka akhirnya terbuka malam ini. Tiga tubuh telanjang saling menempel di tempat tidur Vina, sperma Bayu masih hangat di dalam memek adiknya dan memek Melda.
Malam kali ini mengubah segalanya. Dan mereka tahu, besok malam pasti akan lebih liar lagi.
ns216.73.216.37da2


