Malam itu rumah terasa lebih panas dari biasanya, meski pendingin udara di kamar Vina sudah dimatikan karena listrik sempat padam beberapa jam tadi. Kami bertiga akhirnya memutuskan pindah ke ruang tengah yang lebih luas. Vina, adikku yang berusia dua puluh tahun, merebahkan tubuhnya dengan malas di sofa panjang sambil memeluk bantal besar. Rambutnya yang pendek acak-acakan menutupi wajahnya yang sudah mulai mengantuk. Di sebelahnya, Melda—teman kuliah Vina yang baru saja menginap karena rumah kosnya kebanjiran—duduk menyilangkan kaki di karpet tebal berbulu. Aku, Bayu, dua puluh empat tahun, duduk di kursi single sambil pura-pura sibuk dengan ponsel, tapi sebenarnya mataku tak bisa lepas sedikit pun dari Melda.
Melda malam ini terlihat berbeda dari biasanya. Tubuhnya yang tinggi ramping dengan kulit putih mulus seperti susu kental membuat pandanganku terus tertuju padanya. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggang, sedikit lembab karena udara malam yang pengap. Dia memakai tank top tipis berwarna putih yang sangat ketat, sehingga payudaranya yang montok dan berat terlihat jelas bentuknya. Tanpa bra, puting kecilnya yang pink gelap menonjol samar di balik kain tipis itu. Celana pendek hitamnya naik sampai pertengahan paha, memperlihatkan kulit paha yang halus dan kenyal. Setiap kali dia bergeser sedikit, payudaranya bergoyang pelan, menggoda imajinasiku yang sudah mulai liar.
“Kak,lagi liatin apa sih dari tadi?” tanya Vina sambil menguap lebar, suaranya sudah berat karena kantuk.
Aku tersenyum tipis, berusaha terlihat santai. “Liatin temen cewekmu yang kelewat cantik malam ini. Melda, kamu ga kedinginan pakai baju segitu tipis?”
Melda menoleh ke arahku. Matanya yang sipit dan indah bertemu pandanganku. Dia tersenyum manis, tapi ada kilatan nakal yang samar di sana. “Dingin sih, Kak Bayu… Tapi enak aja, panas malam ini kok. Lagian di rumah Kakak, aman lah. Aku nyaman di sini.”
Vina tertawa pelan sambil memukul lengan Melda ringan. “Melda emang gitu, Kak. Dari luar kelihatan polos banget, anak baik-baik, perawan, jarang keluar malam. Tapi kalau sudah deket… dia bisa bikin orang gila. Ya kan, Mel?”
Melda hanya tertawa kecil, tapi tangannya tanpa sengaja mengusap paha sendiri dengan gerakan pelan yang terlihat tidak biasa. Aku merasakan kontolku mulai berdenyut di dalam celana pendek. Sudah hampir satu jam kami mengobrol hal-hal ringan—tentang kuliah, gosip kampus, film horor terbaru—tapi setiap kata yang keluar dari mulut Melda terasa seperti undangan tersembunyi. Dia bercerita soal pacar pertamanya yang hanya berani pegang tangan saja.
“Aku masih perawan lho, Vin. Belum pernah… ya gitu deh,” katanya dengan nada polos, tapi matanya melirikku sekilas dengan tatapan yang penuh arti.
Jam dinding menunjukkan pukul 01.17 dini hari. Vina sudah mendengkur pelan di sofa, matanya terpejam rapat, napasnya teratur dan dalam. Obat flu yang diminumnya tadi sore membuatnya tidur sangat pulas. Aku bangkit pelan, mematikan lampu utama ruangan, meninggalkan hanya lampu meja kecil yang menyala redup dengan cahaya kuning keemasan. Ruangan langsung menjadi temaram, intim, dan penuh ketegangan.
“Melda,” panggilku pelan sambil duduk di karpet tepat di depannya. Lututku hampir menyentuh lututnya yang terbuka sedikit.
“Kamu ga tidur?”
Melda menggeleng pelan. Rambutnya bergoyang indah.
“Belum ngantuk, Kak. Vina sudah tidur ya?” Matanya melirik adikku yang tertidur di sofa, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan yang semakin berani.
“Kak Bayu… Kakak mau apa malam ini?”
Aku mendekatkan tubuhku lebih dekat lagi. Bau shampoo rambutnya yang manis bercampur aroma keringat malam yang lembut membuat kepalaku sedikit pusing karena nafsu.
“Kamu tahu aku lagi apa, Mel. Dari tadi kamu sengaja kan? Pakai baju tipis gini, senyum-senyum terus, cerita soal masih perawan… Kamu sange ya, Mel?”
Melda menggigit bibir bawahnya pelan. Pipinya merona merah muda, tapi dia tidak mundur sedikit pun. Malah dia membuka kakinya sedikit lebih lebar, memberi ruang kecil di antara pahanya.
“Iya, Kak Bayu… Aku sange banget. Tiap malam aku colmek sendiri di kosan sambil bayangin Kak Bayu yang ganteng ini. Tapi aku takut… Aku masih perawan beneran. Tapi… aku pengen rasain. Pengen Kakak yang ajarin aku semuanya.”
Jantungku berdegup kencang. Aku menyentuh pahanya yang halus dan hangat dengan tangan kananku. Jari-jariku naik perlahan ke pinggir celana pendeknya. Kulitnya terasa panas dan lembut seperti sutra
. “Kamu yakin banget? Kalau Vina tiba-tiba bangun gimana?”
“Dia tidur kayak batu, Kak. Tadi minum obat flu, besok pagi baru bangun. Please, Kak Bayu… Ajak aku ngentot malam ini. Aku mau kontol Kakak masuk ke memekku yang masih perawan ini. Aku sudah nggak tahan lagi.”
Aku menarik tubuhnya pelan ke pangkuanku. Tubuhnya ringan dan hangat. Payudaranya yang montok menempel sempurna di dada ku. Aku mencium lehernya dulu—pelan, basah, lidahku menjilat kulitnya yang asin-manis. Melda mendesah lembut di telingaku. “Ahh… Kak Bayu… enak sekali…”
Kami mulai berciuman. Awalnya sangat lembut, bibirnya yang mungil dan basah terbuka menerima lidahku yang masuk pelan ke dalam mulutnya. Lidah kami saling berputar, menari, saling menjilat dengan penuh rasa lapar. Aku menghisap bibir bawahnya keras sampai dia mengerang pelan di dalam mulutku. Tangan kananku merayap masuk ke dalam tank topnya, meremas payudaranya yang besar, kenyal, dan berat. Putingnya sudah keras seperti kelereng kecil. Aku cubit pelan, memutar-mutarnya dengan jari.
“Kak Bayu… hisap susuku… please…” pintanya dengan suara bergetar sambil mengangkat tank topnya sendiri sampai ke leher. Payudaranya yang indah langsung terpampang di depanku. Aku langsung menunduk, mulutku menyedot puting kirinya dengan kuat. Lidahku berputar di sekitar areolanya yang pink gelap, menghisap dan menjilat bergantian. Tangan kiriku meremas payudara kanannya dengan lembut tapi penuh nafsu.
Melda menggeliat di pangkuanku, memeknya yang sudah basah menggesek kontolku yang mengeras di balik celana pendek.
“Kak… aku sudah basah banget dari tadi… Colmekin aku dulu, Kak Bayu… pelan-pelan ya…”
Aku menurunkan celana pendeknya sampai ke lutut dengan satu tarikan pelan. Memeknya mulus tanpa bulu sama sekali—dia pasti baru saja merawatnya. Bibir memeknya tebal, pink cerah, dan sudah mengkilap penuh cairan bening yang menetes pelan. Aku mengusap klitorisnya yang kecil dan keras dengan ibu jariku, memutar pelan di sana.
“Hhh… enak, Kak… lebih dalam… Masukin jari Kakak sekarang…”
Jari tengahku masuk pelan ke lubang memeknya yang sangat sempit dan panas. Hanya sampai buku pertama sudah terasa penuh.
“Kamu beneran perawan ya, Mel? Memek kamu ngepres jari aku gini banget…”
Aku mendorong lebih dalam dengan sangat perlahan sampai ke tengah, lalu keluar-masuk ritmis sambil ibu jariku terus menggosok klitorisnya tanpa henti.
Melda menengadah, napasnya tersengal-sengal. “Ahh… ahh… Kak Bayu… jari Kakak gede sekali… enak banget… Aku mau kontol Kakak… tapi pelan ya, Kak… Aku takut sakit tapi pengen banget rasain kontol Kakak yang besar ini…”
Aku tambahkan satu jari lagi. Dua jari sekarang keluar-masuk dengan ritme yang semakin mantap. Cairannya makin banyak, bunyi “slurp… slurp…” basah terdengar pelan di ruangan yang sunyi. Aku mencium bibirnya lagi sambil jari-jariku bekerja lebih cepat. Payudaranya bergoyang-goyang indah setiap gerakan tanganku.
Setelah hampir lima menit aku memuaskannya dengan jari, Melda sudah mendekati klimaks pertamanya. Tubuhnya gemetar hebat. “Kak Bayu… aku mau keluar… jangan berhenti… ahh… ahh… aku cum, Kak…!” Tubuhnya mengejang kuat, memeknya menggigit jari-jariku dengan denyutan kuat, cairan beningnya menyembur kecil ke telapak tanganku.
Aku mengangkat tubuhnya dan membaringkannya dengan hati-hati di karpet tebal. Aku membuka celana pendekku sendiri. Kontolku loncat keluar—keras sempurna, tegang, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap precum. Panjangnya delapan belas senti, tebal, dan siap untuk memasuki memek perawan itu.
Melda memandang kontolku dengan mata penuh lapar dan sedikit takut. “Gede banget kontol Kakak… Aku mau nyobain… tapi pelan ya, Kak Bayu… Aku masih perawan beneran…”
Aku memposisikan diri di antara pahanya yang terbuka lebar. Kepala kontolku menggesek-gesek bibir memeknya yang basah, naik-turun di klitorisnya untuk membuatnya semakin bergairah. “Kamu siap, Mel? Kakak mau masukin sekarang.”
“Masukin… pelan-pelan, Kak… Aku mau ngerasain tiap senti kontol Kakak yang gede ini…”
Aku mendorong pelan sekali. Kepala kontolku masuk, meregang lubang memeknya yang sempit. Melda mengerang panjang, “Aduh… sakit… tapi enak… Terus, Kak Bayu… lebih dalam lagi…”
Satu senti demi satu senti aku masuk dengan sangat perlahan. Memeknya panas seperti tungku, dinding dalamnya menekan kontolku kuat-kuat. Saat sudah setengah jalan, aku berhenti sejenak agar dia bisa menyesuaikan. “Kamu ketat banget, Mel… Memek perawan kamu nyedot kontol Kakak gini…”
“Lebih dalam, Kak Bayu… Aku mau full… Pengen kontol Kakak ngebor memekku sampai dalam…”
Aku mendorong lagi sampai pangkal. Seluruh kontolku tenggelam sempurna di dalam memeknya. Melda menjerit pelan, tangannya mencakar punggungku kuat. “Uhh… penuh sekali… Kontol Kakak ngeganjel rahim aku… Enak… sakit-enak… Gerakin sekarang, Kak… pelan dulu ya…”
Aku mulai bergerak. Keluar-masuk dengan sangat pelan dan panjang. Setiap dorongan aku putar pinggul agar kepala kontolku menggesek seluruh dinding dalamnya. Bunyi “plok… plok…” basah dan pelan terdengar di ruangan temaram. Payudaranya bergoyang indah setiap hantaman lembut.
Melda sudah tidak tahan lagi. “Lebih cepat, Kak Bayu… Entot aku lebih kenceng… Aku mau jadi pelacur Kakak malam ini… Ngentot memek perawan aku sampai rusak… Please, Kak…”
Aku mempercepat ritme sedikit demi sedikit. Kontolku sekarang menghantam lebih dalam, bola-bolaku menampar bokongnya yang kenyal. Aku meremas payudaranya lebih kasar, menghisap putingnya bergantian sambil terus mengentot tanpa ampun. Melda orgasme untuk kedua kalinya—memeknya berdenyut-denyut kuat, cairannya banjir membasahi kontolku dan karpet.
“Kak Bayu… aku cum lagi… ahh… Kontol Kakak bikin aku gila… Jangan keluar… Creampie aja… Aku mau ngerasain sperma Kakak yang panas di dalam memekku…”
Aku mengangkat kedua kakinya ke bahu, posisi misionaris yang lebih dalam. Kontolku masuk lebih jauh lagi, menghantam serviksnya setiap kali. “Kamu suka ya, pelacur kecil? Memek kamu sekarang milik Kakak sepenuhnya…”
“Iya, Kak… Aku pelacur Kak Bayu… Entot terus… Rusak memek perawan aku… Aku mau jadi budak seks Kakak selamanya…”
Setelah hampir dua puluh menit mengentot dengan intens, aku merasakan sperma naik. Aku dorong dalam-dalam sekali terakhir, kontolku berdenyut hebat, menyemburkan sperma panas dan tebal ke dalam rahimnya. Satu… dua… tiga… tujuh kali muncratan kuat. Melda orgasme bersamaku, memeknya memerah dan memeras kontolku sampai tetes terakhir.
Kami ambruk berpelukan, napas tersengal-sengal. Kontolku masih tertanam dalam di memeknya yang penuh campuran cairan kami berdua. Aku mencium keningnya dengan lembut.
“Bayu… ini baru pertama… Aku masih mau lagi… Besok malam kalau Vina tidur, kita ulang ya, Kak? Aku mau Kakak ajarin segala macam… doggy, cowgirl, anal… semuanya… Aku mau jadi milik Kakak.”
Aku tersenyum di dalam kegelapan. “Deal, Melda. Teman adikku yang menggoda ini sekarang resmi jadi simpanan Kakak.”
Kami istirahat hanya sepuluh menit. Kontolku kembali mengeras di dalam memeknya. Aku balik memposisikannya doggy style—bokongnya yang bulat dan kenyal terangkat tinggi, memeknya masih menetes sperma sisa ronde pertama. Aku tarik rambutnya pelan sambil memasuki memeknya dari belakang dengan satu dorongan kuat.
“Entot lebih kenceng, Kak Bayu… Pecahin memek aku… Aku suka kasar… Ahh… iya, Kak… seperti itu! Lebih dalam lagi!”
Ronde kedua berlangsung lebih lama, lebih liar, dan lebih kasar. Aku menghantamnya tanpa henti sambil menampar bokongnya pelan. Melda mengerang vulgar tanpa takut, suaranya pelan tapi penuh kenikmatan. Kami berganti posisi lagi ke cowgirl—dia naik di atasku, menggoyang pinggulnya dengan liar sambil payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku hisap putingnya sambil ia naik-turun di kontolku.
Kami terus bercinta liar sampai jam menunjukkan pukul 04.30 pagi. Vina masih tidur pulas di sofa, tak tahu sedikit pun apa yang terjadi hanya dua meter darinya.
Pagi harinya di meja makan, Melda duduk dengan senyum malu-malu sambil memegang gelas susu. Wajahnya masih merona merah. Vina bertanya polos, “Lo kenapa merah-merah gitu, Mel? Capek ya semalam?”
Melda melirikku sekilas dengan tatapan penuh rahasia, lalu menjawab dengan nada polos yang sempurna, “Iya, Vin… Semalam aku diajarin hal-hal baru sama Kak Bayu. Enak banget. Aku mau lagi besok malam.”
Vina tertawa tanpa curiga sedikit pun. Aku hanya diam sambil tersenyum kecil. Kontolku sudah berdenyut lagi di balik celana.
PDF 1 dan 2: lynk.id/bande41/7e41nw9ydrmw2845Please respect copyright.PENANAzDA68VRx15


