Ruangan divisi pemasaran di lantai tujuh gedung Hartono Tower terasa lebih pengap sore itu, meski pendingin udara menyemburkan angin dingin yang tak mampu menembus ketegangan di dada Nadia. Jam dinding menunjukkan pukul 18.47, hampir semua rekan kerjanya sudah pulang. Hanya suara ketikan jari Nadia yang tersisa, cepat dan tegas, seolah ia sedang berusaha melarikan diri dari pikirannya sendiri. Rambut hitamnya yang biasanya tergerai rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai menempel di leher putihnya yang halus karena keringat tipis yang muncul meski ruangan ber-AC.
5721Please respect copyright.PENANA0LM6FATIDx
Nadia Pratiwi, 28 tahun, adalah salah satu karyawan teladan di PT. Hartono Group. Wajahnya yang oval dengan pipi sedikit tirus, mata cokelat yang tajam tapi lembut, dan bibir penuh yang selalu diwarnai lipstik nude membuat banyak pria di kantor melirik diam-diam. Tubuhnya pun tak kalah memikat—payudara yang montok dan kencang, selalu terbalut kemeja putih ketat yang sedikit meregang di bagian dada, pinggang ramping yang membuat rok pensil hitamnya terlihat semakin pas di pinggul, serta bokong yang bulat sempurna dan kaki panjang jenjang yang dibungkus stocking tipis. Ia tahu efek yang ditimbulkan tubuhnya, tapi ia selalu menjaga jarak. Profesional. Fokus. Karena hidupnya sudah cukup rumit tanpa tambahan gosip kantor.
5721Please respect copyright.PENANACM7i81OwAS
Ayahnya meninggal dua tahun lalu karena kanker, meninggalkan utang rumah sakit yang masih menggantung di pundaknya. Ibu yang kini sakit-sakitan dan adik laki-lakinya yang masih kuliah di UGM. Gaji bulanan Nadia yang tujuh juta rupiah sudah hampir habis untuk cicilan dan biaya hidup. Ia butuh lebih. Banyak lebih. Tapi promosi yang dijanjikan manajer divisi selalu tertunda tanpa alasan jelas.
5721Please respect copyright.PENANAOwnjGEQojo
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan. Sekretaris eksekutif Pak Darius, Mbak Rina, muncul dengan wajah datar tapi nada suara yang tak biasa.
5721Please respect copyright.PENANAzuIEROv4UV
“Nadia, Pak Darius minta kamu naik ke lantai 25 sekarang juga. Ruang kerjanya. Jangan tanya apa-apa, langsung ke sana.”
5721Please respect copyright.PENANAt2blF3aiMX
Nadia mengerjap. Pak Darius? CEO perusahaan itu sendiri? Jarang sekali beliau memanggil karyawan biasa secara pribadi, apalagi di luar jam kerja. Jantung Nadia berdegup kencang. Apakah ada kesalahan laporan? Atau… ia melakukan sesuatu yang salah?
5721Please respect copyright.PENANAYIkdrXg7Mb
Dengan tangan sedikit gemetar, ia merapikan roknya, mengancingkan satu kancing kemeja yang sempat terbuka karena panas, lalu berjalan menuju lift khusus eksekutif. Di dalam lift yang mengkilap, ia melihat bayangan dirinya di dinding cermin. Payudaranya naik-turun mengikuti napas yang tak teratur. Putingnya yang kecil dan sensitif tanpa sengaja bergesek dengan bra renda hitam yang ia kenakan pagi tadi, membuat sedikit getaran aneh merayap di perutnya. Ia menggelengkan kepala. *Fokus, Nadia. Ini pasti soal kerjaan.*
5721Please respect copyright.PENANA8aAOqelF4c
Pintu lift terbuka di lantai 25. Koridornya sunyi, karpet tebal menelan suara langkah sepatu haknya. Hanya ada dua pintu di ujung—ruang rapat pribadi dan ruang kerja pribadi Pak Darius. Nadia mengetuk pelan.
5721Please respect copyright.PENANAuvrEhXwlFC
“Masuk.”
5721Please respect copyright.PENANAq7WVubgo3M
Suara itu dalam, tenang, dan penuh otoritas. Nadia mendorong pintu.
5721Please respect copyright.PENANAJCpq21QoA0
Ruangan itu luas sekali, hampir seluas apartemen kecil. Dinding kaca dari lantai ke langit-langit menampilkan pemandangan malam Jakarta yang berkelap-kelip. Meja kerja dari kayu mahoni mengkilap, di belakangnya duduk seorang pria yang membuat napas Nadia tertahan sejenak. Pak Darius Hartono, 42 tahun, pewaris tunggal Hartono Group. Tubuhnya tinggi tegap, bahu lebar di balik jas hitam Armani yang mahal, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang dengan sedikit uban di pelipis yang justru membuatnya terlihat semakin matang dan berwibawa. Wajahnya tegas, rahang kuat, mata hitam pekat yang seolah bisa membaca pikiran siapa pun yang berdiri di depannya.
5721Please respect copyright.PENANARm6tjz29rE
Ia tersenyum tipis saat melihat Nadia. Senyum yang tak sampai ke mata.
5721Please respect copyright.PENANAoAZpRDbQff
“Duduk, Nadia.”
5721Please respect copyright.PENANAZ0tCvodPOw
Nadia duduk di kursi kulit empuk di depan meja. Kakinya yang panjang menyilang dengan gugup, rok pensilnya naik sedikit memperlihatkan paha mulus yang dibungkus stocking. Ia merasa tatapan Pak Darius menyusuri tubuhnya—dari leher, turun ke lekukan payudaranya yang terlihat jelas di balik kemeja, lalu ke pinggul dan kaki. Bukan tatapan kasar, tapi tatapan yang lambat, sengaja, seolah sedang menikmati pemandangan yang sudah lama ia amati dari kejauhan.
5721Please respect copyright.PENANAph1JY41FDb
“Terima kasih sudah datang malam-malam begini,” kata Pak Darius sambil bersandar di kursinya. Suaranya rendah, seperti beledu yang mengelus. “Saya sudah mengamati kerjaanmu selama setahun terakhir. Laporan pemasaran untuk proyek mall di Surabaya… luar biasa. Kamu punya bakat yang jarang dimiliki karyawan lain.”
5721Please respect copyright.PENANAmsr7rASV7Q
Nadia menunduk sedikit, pipinya menghangat. “Terima kasih, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya.”
5721Please respect copyright.PENANAnkU9zM8hY2
Pak Darius tertawa pelan. “Jangan rendah hati. Saya bukan tipe bos yang suka basa-basi. Langsung ke intinya.” Ia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah map hitam tebal yang terlihat mahal, lalu mendorongnya ke arah Nadia. “Baca dulu. Perlahan. Saya beri waktu.”
5721Please respect copyright.PENANAeGveRqXsXu
Nadia membuka map itu dengan jari yang dingin. Di dalamnya ada dokumen kontrak, dicetak rapi dengan kop perusahaan tapi dicap “RAHASIA – KONTRAK PRIBADI”. Judulnya: **Perjanjian Kerjasama Pribadi antara Bapak Darius Hartono dan Nadia Pratiwi**.
5721Please respect copyright.PENANA3w74R9nMYn
Matanya menyusuri paragraf demi paragraf. Gaji baru: 35 juta per bulan. Tunjangan apartemen mewah di Sudirman. Bonus tahunan 500 juta. Promosi langsung menjadi Assistant Director Marketing. Semua fasilitas kesehatan keluarga ditanggung perusahaan. Tapi ada syarat-syarat yang membuat napasnya tersendat.
5721Please respect copyright.PENANA4Iy6rEutmE
Pasal 4: “Pihak Kedua (Nadia Pratiwi) bersedia memenuhi segala keinginan seksual Pihak Pertama (Darius Hartono) di dalam area gedung kantor Hartono Tower, kapan pun diminta, selama jam kerja atau di luar jam kerja sesuai kesepakatan. Semua aktivitas bersifat rahasia mutlak dan tidak akan dicatat dalam sistem perusahaan.”
5721Please respect copyright.PENANA7S61J3vJjg
Pasal 5: “Aktivitas tersebut meliputi segala bentuk sentuhan, ciuman, oral, penetrasi, dan variasi posisi yang diinginkan Pihak Pertama, tanpa penolakan kecuali ada alasan kesehatan yang jelas.”
5721Please respect copyright.PENANA76Hm6JlCcx
Pasal 7: “Kontrak ini berlaku selama tiga tahun, dapat diperpanjang, dan pembatalan sepihak oleh Pihak Kedua akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja serta tuntutan ganti rugi sebesar 2 miliar rupiah.”
5721Please respect copyright.PENANAOQJqyIvupZ
Nadia merasa dunia berputar. Ia mengangkat wajahnya, mata cokelatnya melebar. “Pak… ini… ini serius?”
5721Please respect copyright.PENANAfKuVxOsItY
Pak Darius tak tersenyum lagi. Ia berdiri pelan, berjalan mengitari meja, lalu duduk di pinggir meja tepat di depan Nadia. Jarak mereka kini sangat dekat. Nadia bisa mencium aroma cologne-nya yang mahal, campuran kayu cedar dan musk yang maskulin. Ia bisa melihat otot lengan Pak Darius yang menegang di balik lengan jas.
5721Please respect copyright.PENANA66svtCwoYn
“Saya serius, Nadia. Saya sudah menginginkanmu sejak pertama kali kamu masuk ke ruang rapat enam bulan lalu. Saat kamu presentasi dengan rok hitam itu… payudaramu yang naik-turun saat kamu gugup… bokongmu yang terlihat sempurna saat kamu membungkuk mengambil pointer… saya tahu kamu berbeda. Bukan sekadar cantik. Kamu punya api di dalam sana. Api yang saya ingin nyalakan.”
5721Please respect copyright.PENANAzVDZAXv3PU
Nadia merasa tenggorokannya kering. Putingnya tanpa sadar mengeras di balik bra, bergesekan dengan kain yang membuat sensasi aneh menjalar ke perut bawahnya. Ia mencoba menahan, tapi tubuhnya berkhianat. “Pak, saya… saya bukan wanita seperti itu. Saya punya keluarga yang bergantung. Tapi ini… ini terlalu…”
5721Please respect copyright.PENANA4PFRuz6hNr
“Terlalu apa?” Potong Pak Darius lembut, tapi tegas. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Napasnya hangat menyentuh telinga Nadia. “Terlalu menggoda? Terlalu berbahaya? Atau terlalu menggiurkan karena kamu juga sudah merasakannya? Jangan bohong pada diri sendiri, Nadia. Saya lihat caramu menatap saya di acara tahunan perusahaan. Mata itu… penuh rasa ingin tahu.”
5721Please respect copyright.PENANAIbtogddlFP
Nadia menggigit bibir bawahnya. Dialog di kepalanya berputar liar. *Ini gila. Tapi 35 juta… apartemen… adikku bisa lulus tanpa utang… Ibu bisa berobat tanpa khawatir…* Tapi harga yang diminta terlalu mahal. Tubuhnya. Kebebasannya. Di dalam gedung ini, kapan pun Pak Darius mau.
5721Please respect copyright.PENANARB9WcAGFOY
“Saya beri waktu sepuluh menit,” kata Pak Darius sambil berdiri dan berjalan ke jendela kaca, memandang kota di bawah sana. “Baca lagi. Pikirkan setiap kata. Bayangkan apa yang bisa kamu dapatkan. Dan bayangkan… bagaimana rasanya saat saya menyentuhmu untuk pertama kali. Di sini. Di meja ini. Atau di sofa itu. Lambat. Detail. Sampai kamu tak bisa berpikir lagi selain nama saya.”
5721Please respect copyright.PENANAltzOW5vZXA
Nadia membaca ulang kontrak. Jarinya gemetar di setiap halaman. Ia membayangkan skenario terburuk—gosip, pemecatan, kehancuran. Tapi ia juga membayangkan skenario terbaik—kebebasan finansial, karir yang melesat, dan… entah kenapa, ada bagian kecil di dirinya yang merasa tertarik. Pak Darius bukan pria biasa. Ia kuat. Berkuasa. Dan tatapannya… seolah ia sudah tahu persis bagaimana payudara Nadia akan terasa di tangannya, bagaimana vagina Nadia akan mengejang saat jarinya masuk, bagaimana bokongnya akan bergoyang saat ia menyetubuhinya dari belakang.
5721Please respect copyright.PENANAuS1NPLsIIF
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang tegang. Hanya detak jam dan napas mereka yang terdengar.
5721Please respect copyright.PENANAdhCxSuD4WU
Pak Darius berbalik. “Waktu habis, Nadia.”
5721Please respect copyright.PENANAFIY9lhTyWL
Nadia menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca, campuran takut dan sesuatu yang lebih gelap—keinginan yang mulai bangun. “Kalau saya tolak…?”
5721Please respect copyright.PENANAcurSN1kCxS
“Anda tetap karyawan biasa. Gaji tujuh juta. Tidak ada promosi. Tidak ada bantuan untuk keluarga Anda. Tapi tidak ada paksaan. Saya bukan monster.”
5721Please respect copyright.PENANANqGNuxvhta
Nadia menarik napas dalam-dalam. Payudaranya yang montok terangkat tinggi, putingnya semakin terasa nyeri karena tegang. Ia meraih pulpen di meja, tangannya berhenti di udara beberapa detik.
5721Please respect copyright.PENANA0jV6IPrE8M
Lalu ia menandatangani.
5721Please respect copyright.PENANArMAokst8Om
Tinta hitam mengalir di kertas, seolah menandai akhir dari kehidupan lamanya.
5721Please respect copyright.PENANA7E4xchGLaV
Pak Darius tersenyum—senyum penuh kemenangan yang lambat dan penuh nafsu. Ia mengambil kontrak, memasukkannya ke dalam laci yang terkunci, lalu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Nadia yang masih duduk.
5721Please respect copyright.PENANAm44bouSrm1
“Bagus sekali,” bisiknya, suaranya sudah lebih rendah, lebih berbahaya. “Mulai detik ini, kamu milik saya di dalam gedung ini, Nadia. Tubuhmu… payudaramu yang indah itu… vagina yang pasti sudah basah sekarang… bokong yang saya impikan setiap malam… semuanya milik saya.”
5721Please respect copyright.PENANAH22L2mieGf
Nadia merasa lututnya lemas. Ia ingin berdiri, tapi Pak Darius meletakkan tangan di bahunya, menahannya lembut tapi tegas. Jari-jarinya menyentuh kulit leher Nadia, menelusuri turun ke tulang selangka, sangat dekat dengan lekukan payudaranya.
5721Please respect copyright.PENANA0eNp3CrfAP
Nadia menutup matanya perlahan, bulu matanya yang lentik bergetar. Ruangan lantai 25 terasa semakin sunyi, hanya desis pendingin udara dan detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti genderang perang di dada. Napas Pak Darius menyentuh lehernya—hangat, lambat, dan sengaja. Bukan sentuhan bibir, belum. Hanya hembusan udara yang membuat bulu kuduk Nadia berdiri satu per satu.
5721Please respect copyright.PENANAiOI3GK831u
“Kamu gemetar,” bisik Pak Darius tepat di atas tulang selangka Nadia. Suaranya rendah, seperti beledu yang digosokkan pelan di telinga. “Apakah ini ketakutan… atau sudah mulai basah di bawah sana?”
5721Please respect copyright.PENANAx5jCzO7hOi
Nadia menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram pinggiran kursi kulit hingga jari-jarinya memutih. “Pak… saya… ini terlalu cepat,” jawabnya dengan suara yang hampir hilang. “Baru saja saya tanda tangani… dan sekarang Anda sudah…”
5721Please respect copyright.PENANAjCkYQgtCQ8
“Sudah apa?” Potong Pak Darius sambil tersenyum tipis. Ia masih berdiri di depannya, tubuh tingginya menjulang, bayangannya menutupi Nadia yang duduk. “Saya belum menyentuhmu sama sekali, Nadia. Ini baru kata-kata. Bayangkan betapa lama saya akan menikmati tubuhmu nanti. Payudaramu yang montok ini…” Jarinya melayang tepat di atas lekukan dada Nadia tanpa menyentuh, hanya memberi bayangan panas. “Saya ingin tahu seberapa berat, seberapa lembut, dan seberapa sensitif putingmu saat saya hisap pelan-pelan.”
5721Please respect copyright.PENANA1vX6FGEDtG
Nadia menarik napas tajam. Payudaranya yang besar dan kencang naik-turun cepat di balik kemeja putih ketat. Bra renda hitam yang ia pakai hari ini terasa semakin sempit, kainnya menggesek putingnya yang sudah mengeras seperti dua batu kecil. Ia bisa merasakan kelembapan mulai merayap di celana dalamnya, vagina yang masih tertutup rok pensil itu mulai berdenyut pelan, nyeri karena diabaikan.
5721Please respect copyright.PENANALKavreKuFk
“Pak Darius… tolong… bicarakan dulu,” pinta Nadia, matanya masih tertutup tapi suaranya mulai berani. “Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari saya? Bukan hanya tubuh… tapi kenapa saya? Ada banyak wanita di kantor yang lebih… berpengalaman.”
5721Please respect copyright.PENANAVb6UYAQAmc
Pak Darius tertawa pelan, suara itu bergema lembut di ruangan luas. Ia menarik kursi putar di samping Nadia dan duduk menghadapnya, lutut mereka hampir bersentuhan. “Karena kamu berbeda. Kamu bukan tipe yang langsung menyerah. Kamu punya harga diri, punya beban keluarga, punya api yang tersembunyi di balik mata cokelatmu itu. Saya ingin melihat api itu meledak… saat jari saya masuk ke dalam vagina yang pasti sudah banjir sekarang. Saya ingin mendengar kamu memohon, bukan karena kontrak, tapi karena kamu benar-benar menginginkannya.”
5721Please respect copyright.PENANAf6hVnoAIy6
Nadia membuka mata sedikit, menatap wajah Pak Darius yang begitu dekat. Rahangnya yang tegas, bibirnya yang penuh, dan mata hitam yang seolah menelan segalanya. “Anda terlalu yakin saya akan memohon,” balasnya, suaranya bergetar tapi ada nada menantang kecil.
5721Please respect copyright.PENANARsbZGJlXNn
“Ya, saya yakin,” jawab Pak Darius sambil mengulurkan tangan. Jarinya menyentuh dagu Nadia, mengangkatnya pelan agar mereka bertatapan langsung. Sentuhan pertama itu seperti listrik. Kulit jarinya hangat, kasar sedikit di ujung karena sering memegang pena mahal. “Buka kemejamu. Satu kancing dulu. Biarkan saya lihat lekukan payudaramu.”
5721Please respect copyright.PENANA1H7Orc8JPs
Nadia ragu sejenak. Tanganannya naik ke kancing paling atas, membukanya perlahan. Kain kemeja terpisah, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan putih. Bra hitamnya terlihat jelas, menyangga payudara yang penuh dan berat, dengan areola yang samar-samar terbayang di balik renda tipis.
5721Please respect copyright.PENANAHeiB75voFJ
“Bagus,” puji Pak Darius, suaranya semakin parau. “Lanjutkan. Dua kancing lagi.”
5721Please respect copyright.PENANAOWIEAgoO5o
Nadia menurut, jarinya gemetar saat membuka kancing kedua dan ketiga. Kemejanya kini terbuka lebar hingga pinggang, memperlihatkan perut rata yang halus dan bra yang hampir tak mampu menahan payudaranya yang ingin meloncat keluar. Putingnya jelas sekali menonjol, mengeras dan meminta perhatian.
5721Please respect copyright.PENANAgqELfRg77R
Pak Darius tak langsung menyentuh. Ia hanya memandang lama, menikmati setiap detail. “Payudaramu indah sekali, Nadia. Besar, kencang, dan putingmu… lihat, sudah berdiri tegak seperti itu. Apakah bra ini membuatnya nyeri?”
5721Please respect copyright.PENANA7jWDFz4lJu
“Iya…” bisik Nadia, pipinya merah padam. “Sudah dari tadi… sejak di lift.”
5721Please respect copyright.PENANAPFHqx4nwOO
Pak Darius tersenyum puas. “Lepaskan bra-nya. Pelan-pelan. Saya ingin melihat semuanya terbebas.”
5721Please respect copyright.PENANATWWJG9GTmW
Nadia meraih ke belakang punggungnya, membuka kaitan bra. Kain renda hitam melonggar, dan payudaranya yang montok langsung melambung keluar—berat, bulat sempurna, dengan kulit putih susu yang halus dan puting cokelat muda yang kecil tapi sangat menonjol. Areolanya sedikit melebar karena gairah, dan ada urat-urat halus yang terlihat samar di bawah kulit.
5721Please respect copyright.PENANAiJi0VMbjiT
Pak Darius menghela napas panjang. “Tuhan… sempurna.” Ia mengulurkan tangan, tapi masih menahan diri. Telapak tangannya melayang di atas payudara kiri Nadia, merasakan panas yang memancar. “Boleh saya sentuh sekarang?”
5721Please respect copyright.PENANAQBRC4xT7Hz
Nadia mengangguk pelan, napasnya tersengal. “Ya… Pak…”
5721Please respect copyright.PENANAr9dRxM098X
Jari Pak Darius akhirnya menyentuh. Pertama hanya ujung jari, mengelilingi areola secara melingkar, sangat lambat. Nadia menggigil, punggungnya melengkung sedikit. Lalu telapak tangannya menangkup payudara itu sepenuhnya—berat, penuh, dan sangat lembut. Ia meremas pelan, merasakan tekstur kulit yang kenyal, ibu jarinya mengusap puting yang keras bolak-balik.
5721Please respect copyright.PENANAv9iZyUTY87
“Ahh…” desah Nadia tanpa bisa ditahan. Sensasi itu langsung menjalar ke bawah, membuat vagina-nya semakin basah. Cairan hangat mulai merembes ke celana dalamnya, membasahi lipatan-lipatan halus di sana.
5721Please respect copyright.PENANAZkmZiEau5d
“Enak?” tanya Pak Darius sambil terus meremas, kini bergantian ke payudara kanan. “Katakan padaku. Jangan malu. Ini baru awal.”
5721Please respect copyright.PENANAqVHL59pjZ9
“Enak… Pak. Tapi… pelan saja dulu,” jawab Nadia dengan suara parau. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka sedikit.
5721Please respect copyright.PENANAlH9aZEnnQk
Pak Darius membungkuk lebih rendah. Napasnya kini menyapu puting Nadia. “Saya akan menciumnya. Bukan menggigit. Bibirnya menyentuh puting kiri, lembut sekali, seperti bulu. Lalu ia menghirup aroma kulit Nadia, lidahnya keluar sedikit, menjilat pelan di sekeliling areola.
5721Please respect copyright.PENANAQMkOKz6I2v
Nadia mengerang kecil, tangannya tanpa sadar meraih kepala Pak Darius, jari-jarinya menyusup ke rambut hitam yang rapi. “Pak… itu… sensitif sekali…”
5721Please respect copyright.PENANAHPsnvVnCbb
Ia terus menjilat, semakin berani. Lidahnya menekan puting, memutar, mengisap pelan hingga terdengar suara basah kecil. Payudara Nadia bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya. Sementara tangan kanannya turun ke pinggang Nadia, mengusap rok pensil di atas paha, naik pelan ke bawah rok.
5721Please respect copyright.PENANA2fkqdHPFBE
“Rok ini terlalu ketat,” gumam Pak Darius di antara isapan. “Berdiri sebentar. Biarkan saya buka.”
5721Please respect copyright.PENANA6UDBT5CCQX
Nadia berdiri dengan kaki gemetar. Pak Darius tetap duduk, kini wajahnya tepat di depan perut Nadia. Ia membuka resleting rok pensil itu perlahan, menurunkannya hingga ke lantai. Kini Nadia hanya mengenakan celana dalam hitam renda yang sudah basah di bagian tengah, stocking tipis, dan sepatu hak tinggi. Bokongnya yang bulat dan kencang terpampang sempurna, pinggul lebar yang membuat garis tubuhnya seperti gitar.
5721Please respect copyright.PENANAN1Qs1b4qkt
“Putar badanmu,” perintah Pak Darius lembut.
5721Please respect copyright.PENANAx5Hgww21aa
Nadia berputar. Pak Darius menangkup bokongnya dari belakang, meremas kedua belahannya dengan kedua tangan. Kulitnya halus, kenyal, dan hangat. Jarinya menelusuri celah di antara bokong itu, menekan pelan kain celana dalam yang basah.
5721Please respect copyright.PENANAPf01gcTI6Q
“Vaginamu sudah basah sekali, Nadia. Bau nafsumu sampai ke sini,” bisiknya kotor, suaranya penuh nafsu. “Buka kakinya sedikit.”
5721Please respect copyright.PENANACqnTAuQ7Dd
Nadia menurut. Pak Darius menarik celana dalamnya ke bawah perlahan, memperlihatkan vagina yang sudah membengkak. Bibir luarnya penuh dan halus, bibir dalamnya merah muda dan mengkilap oleh cairan bening yang melimpah. Klitoris kecilnya sudah menonjol, minta disentuh.
5721Please respect copyright.PENANAf5PGmVhbQ6
Pak Darius mengusap bibir vagina itu dengan dua jari, sangat pelan dari bawah ke atas. “Lihat betapa basahnya.
5721Please respect copyright.PENANAyMQSeCAGh1
“Iya… Pak…” Nadia hampir tak bisa berdiri tegak. Lututnya lemas.
5721Please respect copyright.PENANAckOZtY6oCH
Ia memasukkan satu jari perlahan ke dalam vagina Nadia. Dindingnya hangat, basah, dan menjepit jari itu erat. “Sempit sekali. Sudah lama tidak dipakai ya?”
5721Please respect copyright.PENANAYcYp5GUE6c
Nadia mengangguk, napasnya tersengal. “Sudah… hampir dua tahun…”
5721Please respect copyright.PENANAzYyLUB5FUe
Pak Darius memutar jarinya di dalam, mencari titik sensitif. Saat menemukannya, ia menekan pelan sambil ibu jarinya mengusap klitoris. Gerakan lambat, ritmis, membangun kenikmatan seperti ombak kecil yang semakin besar.
5721Please respect copyright.PENANAyTHwmuqY00
“Ahh… Pak… di situ…” erang Nadia. Payudaranya bergoyang saat tubuhnya bergoyang pelan mengikuti gerakan jari.
5721Please respect copyright.PENANARBmcNwcA3m
Ia menambah satu jari lagi, kini dua jari keluar-masuk dengan suara basah yang memalukan tapi sangat erotis. “Bayangkan nanti kontol saya yang lebih besar masuk ke sini. Akan saya kocok pelan dulu, lalu keras, lalu pelan lagi sampai kamu orgasme berkali-kali.”
5721Please respect copyright.PENANARnVhYfbIEd
Dirty talk itu membuat Nadia semakin basah. Vaginanya mengejang di sekitar jari Pak Darius. Ia meremas payudaranya sendiri tanpa sadar, memilin putingnya.
5721Please respect copyright.PENANARbFgwNnYxw
Pak Darius berdiri, menarik Nadia ke sofa panjang di sudut ruangan. Ia membaringkannya di sana, membuka kakinya lebar. “Sekarang saya akan menjilatmu. Lama. Sampai kamu orgasme pertama.”
5721Please respect copyright.PENANAYpdqe6AkNW
Ia berlutut di antara kaki Nadia, wajahnya tepat di depan vagina yang basah. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas, lambat sekali, merasakan setiap lipatan. Lalu ia mengisap klitoris, lidahnya berputar cepat di ujungnya.
5721Please respect copyright.PENANAOQ5PwZFPj0
Nadia menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambut Pak Darius. “Pak… enak… jangan berhenti…”
5721Please respect copyright.PENANA5BSkrWjvcX
Ia terus menjilat, kadang memasukkan lidah ke dalam lubang vagina, mengecap cairan manis-asam Nadia. Dua jarinya kembali masuk, mengocok sambil lidah bekerja di klitoris. Build-up semakin kuat.
5721Please respect copyright.PENANAYblpcfQnse
Nadia merasakan gelombang pertama datang. Perutnya menegang, paha-nya menjepit kepala Pak Darius. “Pak… saya mau… keluar…”
5721Please respect copyright.PENANAxLTb6lzt3u
“Keluarlah. Di mulut saya,” perintah Pak Darius tanpa melepaskan.
5721Please respect copyright.PENANAtMuxvtWece
Nadia orgasme pertama—tubuhnya kejang hebat, vagina-nya menyembur cairan hangat yang langsung dijilat habis oleh Pak Darius. Ia terus menjilat sampai getaran terakhir reda, membuat Nadia orgasme kecil lagi hanya dalam hitungan detik.
5721Please respect copyright.PENANAi3hnecwiqW
Nadia terbaring lemas, napasnya memburu, payudaranya naik-turun cepat, putingnya basah oleh keringat dan air liur.
5721Please respect copyright.PENANAgiP54R6hQW
Pak Darius berdiri, melepas jas dan kemejanya perlahan, memperlihatkan dada bidang berotot dan perut six-pack yang masih kencang di usia 42. “Ini baru foreplay, Nadia. Kamu sudah orgasme dua kali. Bayangkan saat kontol saya masuk nanti.”
5721Please respect copyright.PENANA9t8FRcfXna
Ia membuka celana, kontolnya yang sudah keras tegak—besar, panjang, dengan kepala merah mengkilap dan urat-urat tebal.
5721Please respect copyright.PENANAYmxpJExIEy
Nadia menatapnya dengan mata berkabut gairah. “Pak… itu… besar sekali…”
5721Please respect copyright.PENANAoPWeA1b75R
Nadia bangkit perlahan dari sofa, tubuhnya masih gemetar sisa orgasme kedua yang baru saja menyapu dirinya seperti gelombang panas yang tak terduga. Payudaranya yang montok bergoyang lembut mengikuti gerakan, puting cokelat mudanya masih basah oleh air liur Pak Darius, mengeras dan nyeri karena terlalu sensitif. Kakinya yang jenjang terbuka sedikit, vagina-nya yang halus dan membengkak masih mengeluarkan cairan bening tipis yang menetes pelan ke paha dalamnya. Bokongnya yang bulat sempurna menyentuh dinginnya kulit sofa saat ia duduk lebih tegak, menghadap Pak Darius yang berdiri di depannya dengan kontol tegak sempurna.
5721Please respect copyright.PENANAotU0rd6TeV
Kontol itu sungguh memukau sekaligus menakutkan bagi Nadia. Panjangnya hampir 20 sentimeter, tebal dengan urat-urat menonjol yang melingkar seperti tali, kepala glansnya merah mengkilap dan sudah mengeluarkan precum yang bening di ujungnya. Zakar itu berdenyut pelan, seolah punya denyut hidup sendiri, dan aroma maskulin yang kuat—campuran sabun mahal dan nafsu pria dewasa—membuat kepala Nadia sedikit pusing.
5721Please respect copyright.PENANAsPSvqY9UGG
“Pak… ini… benar-benar besar,” bisik Nadia, suaranya parau karena napas yang belum stabil. Tangannya yang halus terulur ragu-ragu, ujung jari telunjuknya menyentuh batang kontol itu dengan sangat ringan, seolah takut membakar. Kulitnya panas, halus di permukaan tapi keras di dalam seperti besi yang dibungkus beludru. “Saya… belum pernah dengan yang sebesar ini.”
5721Please respect copyright.PENANAFqmBVgqxFH
Pak Darius menatapnya dari atas, tangan kanannya menyusup ke rambut Nadia yang hitam dan sedikit berantakan, mengusap kepalanya dengan lembut tapi penuh kendali. “Kamu tidak perlu takut, Sayang. Kita lakukan pelan-pelan. Saya ingin menikmati setiap sentuhan lidahmu. Mulai dari ujungnya dulu… cium saja. Rasakan dulu.”
5721Please respect copyright.PENANA0dczf85diH
Nadia mengangguk kecil. Matanya yang cokelat berkabut gairah menatap kontol itu lama, lalu ia mendekatkan wajahnya. Bibir penuhnya yang lembut menyentuh ujung glans dengan kecupan ringan, sekali, dua kali. Rasa asin manis precum langsung menyentuh lidahnya. Ia mengerjap, tapi tidak mundur. Lidahnya keluar pelan, menjilat lingkaran kecil di kepala kontol, membersihkan cairan yang keluar.
5721Please respect copyright.PENANA65zlDbW0jO
“Ahh… bagus sekali,” desah Pak Darius, suaranya semakin rendah dan berat. “Lihat saya saat kamu melakukannya. Saya ingin melihat mata kamu yang malu-malu itu.”
5721Please respect copyright.PENANAyYL008Blji
Nadia mengangkat pandangan, mata mereka bertemu saat lidahnya terus menari di ujung kontol. Ia menjilat dari bawah ke atas, mengikuti garis urat tebal yang paling menonjol, lambat sekali, seolah sedang mengecap es krim mahal yang meleleh. Lidahnya datar dan lebar, menekan batang itu dengan tekanan sedang, lalu ia memutar lidah di sekitar kepala, menyedot pelan dengan suara kecil “slurp” yang memalukan tapi sangat erotis.
5721Please respect copyright.PENANAvFgDa8iafh
“Enak?” tanya Nadia dengan suara hampir bisik, bibirnya masih menyentuh kontol yang basah oleh air liurnya.
5721Please respect copyright.PENANAbxKIt9Io3v
“Lebih dari enak,” jawab Pak Darius sambil tersenyum tipis, ibu jarinya mengusap pipi Nadia. “Kamu mantap sekali. Masukkan ke mulutmu sekarang. Hanya setengah dulu.
5721Please respect copyright.PENANAp65Xpgj6fH
Nadia membuka mulutnya lebar, bibirnya yang penuh melingkar di kepala kontol. Ia mendorong kepalanya maju perlahan, merasakan bagaimana mulutnya terisi penuh. Kontol itu panas, berdenyut di lidahnya. Ia hanya bisa memasukkan sekitar 8 sentimeter sebelum merasa tenggorokannya penuh. Air liurnya langsung melimpah, menetes ke dagunya dan ke batang kontol yang tersisa.
5721Please respect copyright.PENANArqGRynnUsS
Pak Darius mengerang pelan, pinggulnya maju sedikit tapi tetap mengontrol diri. “Ya… seperti itu. Hisap pelan sambil lidahmu bergerak di dalam. Rasakan setiap uratnya.”
5721Please respect copyright.PENANA8QWV2SWfBL
Nadia menurut. Ia menghisap dengan lembut, lidahnya berputar di dalam mulut, menekan sisi bawah kontol yang paling sensitif. Tangan kirinya memegang pangkal kontol yang tak muat masuk, mengocoknya naik-turun secara sinkron dengan gerakan kepalanya. Tangan kanannya meremas paha Pak Darius yang keras berotot. Suara basah “gluck… gluck…” mulai terdengar pelan setiap kali kepalanya maju mundur.
5721Please respect copyright.PENANAfqw4H2xhm0
“Pandang saya, Nadia,” perintah Pak Darius lagi. “Lihat betapa saya menikmati mulutmu yang panas ini.”
5721Please respect copyright.PENANAbSepIyMEhE
Mata mereka bertemu lagi. Air mata tipis menggenang di sudut mata Nadia karena refleks tenggorokan, tapi ia tidak berhenti. Malah ia semakin berani, mencoba mendorong lebih dalam sampai kepala kontol menyentuh tenggorokannya. Ia mengerang pelan, getaran suaranya menambah sensasi di kontol Pak Darius.
5721Please respect copyright.PENANAEjYOSYvSFJ
“Bagus… kamu hebat,” puji Pak Darius sambil mengusap rambutnya. “Sekarang mainkan zakarku dengan tangan sambil kamu hisap. Lebih cepat sedikit.”
5721Please respect copyright.PENANAiMPYj9RplQ
Nadia mempercepat gerakan kepalanya, tangannya mengocok batang yang basah oleh air liur dengan ritme yang semakin mantap. Payudaranya yang montok bergoyang-goyang liar mengikuti gerakan, putingnya menggesek paha Pak Darius sesekali, membuatnya semakin bergairah. Vaginanya kembali banjir, cairan hangat menetes ke sofa karena posisinya yang terbuka lebar.
5721Please respect copyright.PENANAzCMocZPK4M
Pak Darius menarik napas dalam-dalam. “Berhenti sebentar. Saya tidak mau keluar terlalu cepat.”
5721Please respect copyright.PENANA0noQfHrr6L
Ia menarik kontolnya keluar dari mulut Nadia dengan suara “pop” basah. Benang air liur panjang menghubungkan bibir Nadia dengan kepala kontol. Wajah Nadia merah, bibirnya bengkak dan mengkilap, napasnya tersengal.KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://v2.utas.me/toko-amin
ns216.73.217.69da2


