Kaca depan toko buku yang terletak di pinggir jalan raya Surabaya terpampang jelas tertulis “PERPUSTAKAAN KECIL YANG PERNAH MENGHADAPI KESUSAHAN”. Aku berdiri di luar, melihat seorang wanita dengan anak kecil sedang membersihkan rak-rak buku yang hampir kosong.
“Mas Reno, kamu sudah datang ya?” ujarnya dengan suara lembut. Wanitanya adalah Dewi, seorang janda yang kehilangan suaminya saat sedang membangun usaha plakat tahun lalu. Di sisinya berdiri seorang gadis muda bernama Rina – anaknya yang harus tinggal bersama Dewi setelah ibunya tidak mampu merawatnya.
“Aku sedang mencari inspirasi untuk menyelesaikan naskah yang sudah mangkrak selama enam bulan,” ujar ku dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Cerita tentang seorang penulis yang kehilangan jalannya dalam hidup, lalu menemukan makna melalui orang-orang di sekitarnya.”
Dewi mulai bercerita tentang kehidupannya. “Aku adalah janda yang harus merawat anak sendirian setelah suamiku pergi tanpa kabar. Hidupku seolah naskah yang terhenti di tengah jalan – tidak bisa maju juga mundur. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Maya, kakak iparku yang juga menjadi janda setelah suaminya meninggal.”
Maya kemudian muncul dengan membawa tas besar berisi buku lama. “Kita sudah mencoba memperbaiki usaha plakat keluarga tapi selalu gagal,” ujarnya dengan suara pelan. “Orang bilang kita tidak layak menjalankan bisnis karena struktur keluarga kita yang tidak biasa.”
Aku duduk bersama mereka, melihat bagaimana Dewi dan Maya bekerja sama merawat Rina sebagai anak mereka bersama. “Kita seperti naskah yang mangkrak – tidak bisa maju juga mundur,” ujar Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Sejak saat itu, aku mulai menghabiskan waktu bersama mereka. Aku mengajari mereka cara menggunakan teknologi baru untuk membuat plakat dengan desain yang menarik, sementara mereka mengajari aku teknik tradisional membuat plakat dari bahan alam yang sudah menjadi warisan keluarga.
Namun masalah datang lagi ketika semua pesanan plakat untuk acara besar dibatalkan. “Mereka bilang tidak bisa bekerja sama dengan keluarga seperti kita,” ujar Maya dengan suara gemetar. “Kita sudah berusaha tapi selalu tidak berhasil.”
Aku mengambil tangannya dengan lembut. “Jangan menyerah. Kita akan membuat naskah baru yang menceritakan tentang kita – satu suami, dua istri, dan cinta yang mengikat kita bersama.”
Kita mulai bekerja sama membuat naskah baru berjudul “NASKAH YANG MANGKRAK” – bercerita tentang keluarga yang menemukan makna hidup melalui perjuangan bersama. Dewi menangani bagian produksi, Maya mengelola pemasaran, dan Rina membantu membuat ilustrasi untuk setiap bab naskah.
Lambat laun, pesanan mulai datang kembali. Banyak yang terkesan dengan cerita kita dan pesanan plakat semakin banyak. Pada hari wisuda Rina, kita memberikan plakat yang sudah diperbaiki dengan tulisan: “RINA – CINTA KITA YANG PERNAH TERHENTI, SEKARANG KITA LANJUTKAN BERSAMA.”
Setelah itu, hubungan kita semakin erat. Aku menyadari bahwa cinta kita tumbuh menjadi lebih dalam – bukan hanya sebagai teman, tapi sebagai keluarga yang saling mencintai. “Aku ingin menjadi suami bagi kamu berdua dan ayah bagi Rina,” ujar ku dengan penuh cinta.
Mereka menangis haru dan menerima dengan senang hati. Kita hidup bersama sebagai satu keluarga – satu suami untuk dua istri yang luar biasa dan satu putri yang kita cintai dengan sepenuh hati.
Suatu malam, kita duduk bersama melihat karya-karya plakat yang sudah jadi. Di dinding tertulis: “NASKAH YANG MANGKRAK – BELUM PERNAH DIPUBLIKASIKAN, BELUM ADA HAK CIPTA – KARENA CINTA KITA BELUM PERNAH DICERITAKAN KEPADA SIAPAPUN.”
Aku merangkul mereka dengan erat. “Kita adalah cerita yang belum pernah ada sebelumnya – satu suami, dua istri, satu putri, dan cinta yang mengikat kita bersama. Naskah yang pernah mangkrak kini menjadi cerita paling indah yang pernah aku kenal.”
133Please respect copyright.PENANAtd04sXkhB6


