Bab 3
2401Please respect copyright.PENANAoAJT0fcBgX
Pagi ketiga di rumah baru terasa lebih panas dari biasanya, meski angin desa masih sejuk. Widya berdiri di depan cermin kamar mandi besar, menatap pantulan tubuhnya sendiri. Kulit putihnya masih sedikit memudar bekas hisapan dan sisa kemarin. Payudaranya yang besar dan penuh terlihat agak merah di bagian puting pink yang sensitif, sementara vaginanya terasa agak bengkak dan masih berdenyut pelan setiap kali ia ingat titit Doni yang tebal dan panjang. Bokong bulat besarnya juga meninggalkan jejak jemari kejam pemuda desa itu.
2401Please respect copyright.PENANAQ5fIQDzEjg
Ia menghela napas panjang. kepribadian pemarahnya muncul lagi. “Zaki, ini sudah keterlaluan,” tegasnya saat keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk tipis yang hampir tidak cukup menutupi payudaranya yang meluber. "Kemarin kamu suruh aku melayani Doni. Hari ini kamu bilang mau tambah satu orang lagi? Aku ini istri kamu, bukan mainan seks desa!"
2401Please respect copyright.PENANAnmwhrC8xlU
Zaki yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa rekaman kemarin tersenyum romantis. Tubuhnya yang sedikit berotot terlihat, rambut hitam lurusnya masih acak-acakan setelah bangun tidur. "Sayang, kamu tahu aku mencintai lebih dari apa pun. Justru karena itu aku ingin kamu merasakan lebih banyak kenikmatan. Tubuhmu yang sempurna ini—payudara F cup yang indah, bokong bulat yang menggoda, vagina yang selalu basah saat terangsang—terlalu sayang kalau hanya dinikmati aku seorang. Kemarin kamu orgasme begitu hebat saat Doni mengisi vaginamu. Aku lihat dari rekaman, kamu menikmatinya."
2401Please respect copyright.PENANADz9REW9IQD
Widya merona. Ia memang tidak bisa berbohong pada tubuhnya sendiri. Kemarin malam ia tidur dengan vagina yang masih penuh sisa sperma Doni, dan mimpi buruknya malah penuh bayangan titit tebal itu. “Aku… aku pemarah, Zaki. Tapi kamu selalu membuat aku lemah. Kalau hari ini ada dua orang, aku bisa menginginkannya.”
2401Please respect copyright.PENANAl7LuRyL8jW
Zaki berdiri, mendekat, dan membuka handuk istrinya dengan lembut. Tangannya langsung meremas payudara besar itu, jempol memutar puting pink yang langsung memegangnya. "Itulah yang aku inginkan. Kamu salinan tapi tetap menikmati. Hari ini Doni akan membawa temannya, namanya Rian. Dia juga pemuda desa, 21 tahun, tubuh atletis, dan katanya tititnya lebih dari 17 cm. Kamu akan melayani mereka berdua di bawah pengawasanku. Aku akan merekam semuanya dengan kamera sudut tinggi."
2401Please respect copyright.PENANArGhUKQOpL0
Widya menggigit bibir. Mata cokelatnya memancarkan campuran kemarahan dan nafsu yang mulai tak terbendung. “Kamu benar-benar ingin istrimu diganggu dua pemuda sekaligus?”
2401Please respect copyright.PENANAPSJZY0KtAq
“Ya,” jawab Zaki tegas tapi romantis. “Dan kamu akan suka.Aku berjanji.”
2401Please respect copyright.PENANAxe1ry5AgZ6
Siang hari, Doni datang lebih awal. Di belakangnya ada Rian—pemuda 21 tahun dengan tubuh atletis yang lebih ramping tapi berotot, rambut hitam pendek, kulit sawo matang yang mengkilap, dan senyum nakal yang langsung membuat Widya gelisah. Mereka berdua membawa keranjang buah sebagai alasan, tapi mata mereka langsung lapar saat melihat Widya yang hanya memakai gaun tipis pendek tanpa bra lagi.
2401Please respect copyright.PENANABDluPilnpp
“Bu Widya, ini Rian, teman saya,” kata Doni sambil tersenyum. “Dia sudah saya ceritakan sedikit tentang kemarin.”
2401Please respect copyright.PENANAY0G63qjUf6
Rian menatap payudara Widya yang menonjol di balik gaunnya. “Wah… benar-benar seperti yang Doni bilang. Sangat cantik dan… menggoda.”
2401Please respect copyright.PENANAGdLeC6lc6e
Zaki menyambut mereka dengan ramah, langsung mengajak ke ruang keluarga yang sudah disiapkan. Kamera di empat sudut ruangan sudah menyala, lampu merah kecilnya berkedip pelan. "Hari ini Widya akan melayani kalian berdua. Tapi ingat, aku yang mengatur. Mulai dari foreplay yang panjang."
2401Please respect copyright.PENANAkMhZCyhI7p
Widya berdiri di tengah ruangan, jantungnya berdegup kencang. Zaki memberi perintah pertama, “Widya, angkat gaunmu dan putar badan pelan-pelan. Biarkan mereka melihat tubuhmu dari semua sisi.”
2401Please respect copyright.PENANAtcSL4SK5X3
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Widya mengangkat gaun hingga pinggang. Bokong bulat besarnya yang berwarna putih terpampang, hanya menutupi celana dalam tipis. Ia berputar, payudaranya bergoyang lembut. Doni dan Rian menatap tanpa berkedip, titit mereka sudah mulai terbentuk di balik celana.
2401Please respect copyright.PENANAuSZrJkU7v7
“Bagus,” kata Zaki. “Sekarang buka gaunmu sepenuhnya.”
2401Please respect copyright.PENANAK0GiAv1Bmp
Gaun tipis itu meluncur ke lantai. Widya berdiri telanjang di depan dua pemuda desa yang lebih muda. Payudaranya yang besar dan putih dengan puting pink tegak, vaginanya yang halus sudah mulai berkilau basah, bokong bulatnya menggoda di belakang.
2401Please respect copyright.PENANA1QhtkrTlN7
Doni dan Rian mendekat. Zaki duduk di kursi tunggal, memegang remote kamera. "Doni, kamu ambil payudara kirinya. Rian, kepastiannya. Hisap putingnya pelan dulu."
2401Please respect copyright.PENANASGNVwRrGDS
Dua mulut hangat langsung menempel di puting Widya. Doni menghisap kuat dengan suara “slurp… slurp…”, lidahnya berputar cepat. Rian lebih lembut tapi dalam, mengulum dan menjilat puting kanan sambil meremas daging payudara yang lembut dan berat. Widya mendesah panjang, “Ahh… dua sekaligus… terlalu… banyak…”
2401Please respect copyright.PENANA95Zqrd8K84
Sensasi dua lidah yang berbeda di kedua putingnya membuat tubuh Widya panas. Ia bisa mencium dua aroma tubuh pria muda yang berbeda—Doni lebih maskulin dan sedikit tanah, Rian lebih segar dengan bau sabun desa. Tangan mereka melingkari bokongnya, meremas secara bergantian, membuat daging bulatnya bergoyang.
2401Please respect copyright.PENANAzYAmsQrKF0
Zaki tersenyum puas. "Sekarang turun ke vagina. Doni, jari kamu di kristoris Rian, jilat vaginanya dari bawah."
2401Please respect copyright.PENANA6d6kFTBy7w
Widya dibaringkan di sofa panjang. Kakinya dibuka lebar oleh dua pemuda. Doni mengusap kristoriskecil yang sudah membengkak dengan jari tengahnya, gerakan melingkar cepat. Rian berlutut dan lidahnya menjilat bibir vagina Widya yang basah, merasakan cairan orgasme manis yang keluar deras. Suara jilat basah “slurp… lick… slurp…” memenuhi ruangan.
2401Please respect copyright.PENANAP9GVw8qfQ1
“Nyess… ahhh… jangan serentak… aku… aku tidak tahan…” erang Widya. Tubuhnya melengkung, payudaranya naik turun dengan cepat. Emosinya kacau—malu karena dilihat suami, marah pada dirinya sendiri yang begitu basah, tapi juga kenikmatan yang luar biasa karena dua pria muda menyerang vagina dan putingnya secara bersamaan.
2401Please respect copyright.PENANAc0VpYUUJuM
Zaki berbisik dari kursinya, “Tahan orgasme dulu, sayang. Jangan keluar sebelum aku mengizinkan.”
2401Please respect copyright.PENANACrBEDDaYzu
Doni dan Rian semakin pembohong. Rian memasukkan dua jari ke dalam vagina Widya yang licin, menggerakkan keluar-masuk cepat sambil lidahnya tetap menjilat kristoris Doni naik ke atas, memasukkan tititnya yang 19 cm ke mulut Widya. “Hisap, Bu.Rasakan tititku sambil mereka memainkan vaginamu.”
2401Please respect copyright.PENANAu2Q1fiv1z6
Widya mengulum titit Doni dalam-dalam. Mulutnya penuh, suara “gluck… gluck… gluck…” terdengar ritmis. Air liurnya menetes ke payudaranya. Sementara itu, jari Rian terus memompa vaginanya, membuat cairan orgasmenya keluar kecil setiap kali jari keluar-masuk.
2401Please respect copyright.PENANAeOykC4hidA
Setelah hampir lima belas menit foreplay intens, Zaki memberi perintah klimaks. “Sekarang gantian memasukkan titit. Doni dulu di vagina, Rian di mulut. Lalu tukar.”
2401Please respect copyright.PENANAgkNnlnUupO
Doni duduk di sofa, Widya naik ke pangkuannya menghadap ke belakang agar bokong bulatnya terlihat jelas oleh kamera dan Zaki. titit Doni yang besar masuk pelan ke vagina Widya yang sudah sangat basah. “Ahhhh… besar… meregang sekali…” erang Widya panjang. Ia mulai naik-turun, bokongnya yang besar memantulkan “plak… plak… plak…” di paha Doni.
2401Please respect copyright.PENANAbHniMgHWXz
Rian berdiri di depan, memasukkan tititnya yang juga besar ke mulut Widya. Widya terpaksa masuk tenggorokan sambil tubuhnya digoyang oleh Doni. Suara basah dari mulut dan vaginanya bercampur aduk.
2401Please respect copyright.PENANAKwW9ZeVGXj
“Enak sekali, Bu Widya,” desah Rian. “Mulutnya hangat dan sempit.”
2401Please respect copyright.PENANAYrWZcxNDeR
Mereka bergantian selama hampir tiga puluh menit. Kadang Doni di vagina dan Rian di mulut, kadang sebaliknya. Widya sudah berkali-kali hampir orgasme tapi Zaki selalu menyuruhnya menahannya. “Tahan, sayang. Biarkan mereka puas dulu.”
2401Please respect copyright.PENANA52q7U9faRw
Akhirnya Zaki mengizinkan. “Sekarang keluarkan sperma kalian di dalam vagina Widya.Satu per satu.”
2401Please respect copyright.PENANAAyrTSW264O
Doni yang pertama. Ia memegang pinggul Widya dengan kuat dan mendorong dalam-dalam. tititnya berdenyut, menyemburkan sperma panas yang banyak ke dalam vagina Widya. “Ahh… penuh… sperma panas sekali…” erang Widya.
2401Please respect copyright.PENANAz2wgX9VMyy
Begitu Doni selesai, Rian langsung menggantikan posisi. kontolnya masuk ke vagina yang sudah penuh sperma Doni, membuat suara “byur… byur…” basah. Rian juga menyemburkan spermanya dalam-dalam, bercampur dengan sperma temannya.
2401Please respect copyright.PENANATSE8rMGWUJ
Widya akhirnya orgasme hebat saat titit Rian masih di dalam. Tubuhnya kejang-kejang, cairan orgasmenya menyembur keluar bercampur sperma dua pemuda, membasahi sofa dan paha mereka. "Aku keluar… ahhhhh! Terlalu banyak… aku penuh sperma…”
2401Please respect copyright.PENANApoXGW743xr
Ia ambruk di sofa, napas tersengal, vaginanya terbuka lebar dengan sperma putih kental menetes keluar perlahan. Payudaranya naik-turun cepat, putingnya basah oleh air liur Doni dan Rian. Bokong bulatnya memerah karena memukul ringan saat mereka bergantian.
2401Please respect copyright.PENANAYgDeU3HcWJ
Zaki mendekat, mencium bibir istrinya yang bengkak karena oral. “Kamu luar biasa, Widya. Lihat rekaman nanti, kamu terlihat sangat bahagia saat disajikan dua titit sekaligus.”
2401Please respect copyright.PENANArRARgLlhHr
Widya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Emosinya campur aduk—lelah, malu, marah pada dirinya sendiri yang begitu menikmati, tapi juga puas dalam. "Kamu...membuat aku semakin binal, Zaki. Kemarin satu, hari ini dua. Besok berapa orang lagi?"
2401Please respect copyright.PENANASNneOT2fGw
Zaki tersenyum lembut tapi matanya penuh rencana gelap. "Besok mungkin tiga atau empat. Tubuhmu yang sempurna ini harus dinikmati sebanyak mungkin. Dan aku akan selalu merekam supaya kita bisa menonton bersama saat aku pulang nanti."
2401Please respect copyright.PENANA27MQ1df8Gk
Doni dan Rian pamit dengan senyum puas, tubuh mereka berkilau keringat. “Terima kasih Bu Widya. Besok kami bawa teman lagi ya,” kata Doni sebelum berangkat.
2401Please respect copyright.PENANACCv7nNEHNf
Widya terbaring telanjang di sofa, vaginanya masih meneteskan campuran sperma, payudaranya penuh bekas hisapan. Ia mengamati Zaki yang sedang memeriksa rekaman dengan ekspresi puas. Di dalam hatinya, sisi binal yang dulu tersembunyi mulai semakin kuat. Ia marah, tapi ia juga sudah tidak sabar menunggu besok.
2401Please respect copyright.PENANAEAuxFY3AQd
Malam itu, saat Zaki memeluknya di tempat tidur, Widya berbisik pelan, “Kalau kamu pergi dinas nanti… aku takut tidak bisa berhenti lagi.”
2401Please respect copyright.PENANAr3MWaMwqHS
Zaki mencium keningnya romantis. “Itu yang kuinginkan, sayang. Kamu akan menjadi ratu pemuda desa ini.”
2401Please respect copyright.PENANAMiDcLpLxFo
Di luar rumah, malam desa tenang. Tapi di dalam, api nafsu semakin membara. Widya tahu, tubuh sempurnanya yang putih dengan payudara besar dan bokong bulat ini baru saja mulai dinikmati. Dan cerita ini masih panjang.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 2401Please respect copyright.PENANA6KxasTcNY2
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah
2401Please respect copyright.PENANAnyxR2Y8fjY


