Malam itu rumah besar di pinggir kota Surabaya terasa lebih sepi dari biasanya. Eva, janda muda berusia 32 tahun, duduk sendirian di ruang keluarga yang mewah. Tubuhnya yang seksi dan payudaranya yang sangat besar membuat gaun tidur satin tipis yang ia kenakan hampir tak mampu menutupi semuanya. Putingnya yang keras sudah menonjol jelas di balik kain tipis itu. Sudah enam bulan suaminya meninggal, dan Eva merasa haus yang tak tertahankan. Malam ini ia tak tahan lagi.
Galih, pembantunya yang baru berusia 20 tahun, sedang membersihkan dapur. Tubuhnya atletis, otot perutnya terlihat jelas di balik kaos ketat hitam, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan senyum yang selalu membuat Eva diam-diam menelan ludah. Galih belum tahu kalau majikannya sering memandanginya dari kejauhan, terutama saat ia sedang membersihkan kolam renang tanpa baju.
“Galih… masuk ke sini sebentar,” panggil Eva dengan suara lembut tapi penuh nafsu.
Galih menghampiri, tangannya masih memegang lap.
“Iya, Bu Eva. Ada yang bisa saya bantu?”
Eva berdiri, gaun tidurnya meluncur sedikit ke bawah hingga bahu mulusnya terlihat. Payudaranya yang sangat besar bergoyang pelan.
“Galih… kamu sudah lama kerja di sini. Kamu tahu saya janda sekarang, kan?”
Galih mengangguk pelan, matanya tak bisa lepas dari belahan dada Eva yang dalam.
“Iya, Bu… saya tahu.”
Eva melangkah lebih dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa senti. Bau parfum mahal bercampur aroma tubuhnya yang hangat membuat Galih mulai tegang.
“Saya kesepian, Galih. Sudah lama sekali… saya butuh sentuhan laki-laki. Saya lihat tubuhmu setiap hari. Kamu muda, kuat, dan… saya tahu kamu juga sering memandangi saya.”
Galih menelan ludah. Kontolnya yang sudah 20 cm itu mulai mengeras di dalam celana pendeknya.
“Bu Eva… ini… saya pembantu Anda…”
“Tapi malam ini kamu bukan pembantu,” bisik Eva sambil tangannya menyentuh dada Galih yang bidang.
“Malam ini kamu laki-laki yang saya inginkan. Saya mau kamu entot saya, Galih. Entot memek saya yang sudah basah ini. Bisa, kan?”
Galih napasnya mulai memburu.
“Bu… saya mau… tapi saya takut, saya cuma pembantu…”
Eva tersenyum nakal, tangannya turun dan meremas kontol Galih yang sudah keras dari luar celana.
“Lihat, sudah keras begini. Kamu juga mau, kan? Ayo… ikut saya ke kamar.”
Eva menarik tangan Galih menuju kamar utama yang luas. Begitu pintu tertutup, Eva langsung melepas gaun tidurnya. Tubuh telanjangnya terpampang sempurna di depan Galih. Payudaranya yang sangat besar, berat, dan montok bergoyang lepas. Putingnya cokelat muda dan sudah sangat keras. Memeknya yang mulus, sudah basah mengkilap, terlihat jelas di antara paha yang mulus.
“Sentuh saya, Galih,” pinta Eva dengan suara parau.
Galih mendekat, kedua tangannya langsung meremas payudara Eva yang besar itu. Jarinya mencubit putingnya pelan. Eva mendesah,
“Ahh… lebih keras… remas payudara saya yang besar ini… iya, seperti itu…”
Galih menunduk, mulutnya menyedot puting Eva yang kiri sambil tangan kanannya meremas payudara yang kanan. Lidahnya berputar di sekitar puting, mengisap kuat hingga Eva melengkungkan punggungnya.
“Oh Galih… kamu pandai sekali… hisap lagi… ahh… payudara saya milikmu malam ini…”
Tangan Eva turun, membuka resleting celana Galih. Kontolnya yang panjang dan tebal langsung melompat keluar, 20 cm penuh, urat-uratnya menonjol, kepala kontolnya sudah basah oleh precum. Eva menggenggamnya dengan kedua tangan, mengocok pelan.
“Kontolmu besar sekali, Galih… panjang dan tebal… ini yang saya impikan selama ini,” bisik Eva sambil menatap kontol itu dengan mata penuh nafsu.
Ia berlutut di depan Galih, mulutnya langsung membuka lebar dan memasukkan kepala kontol Galih ke dalam mulutnya yang hangat. Lidahnya menjilat di sepanjang batang, mengisap kuat sambil tangannya mengocok pangkal yang tak muat masuk.
“Ngghh… Bu Eva… mulut Anda enak sekali…” erang Galih sambil memegang kepala Eva.
Eva mengulum lebih dalam, kepala kontolnya menyentuh tenggorokannya. Ia menelan ludah, membuat tenggorokannya menyempit di ujung kontol Galih. Galih mengerang keras. Eva mengocok dan mengisap bergantian, air liurnya menetes-netes di sepanjang batang kontol yang mengkilap.
Setelah beberapa menit, Eva berdiri, mendorong Galih ke atas ranjang king size. Ia naik ke atas tubuh Galih, memposisikan memeknya yang sudah banjir di atas kontol yang menegang.
“Sekarang saya mau masukkan sendiri,” kata Eva sambil memegang kontol Galih dan menggesek-gesekkannya di bibir memeknya yang basah.
Pelan-pelan ia menurunkan pinggulnya. Kepala kontol Galih membelah memeknya yang sempit dan basah. “Ahhh… besar sekali… pelan dulu… ohh… kontolmu merenggangkan memek saya…”
Inch demi inch kontol itu masuk, hingga akhirnya seluruh 20 cm itu tenggelam sepenuhnya di dalam memek Eva. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajah Galih.
“Penuh sekali… memek saya penuh kontolmu, Galih…” desah Eva.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara “plok plok plok” memenuhi kamar saat memeknya naik turun di kontol Galih. Payudaranya yang sangat besar bergoyang liar, menampar-nampar dada Galih.
Galih meremas kedua payudara itu sambil mendongak, “Bu Eva… memek Anda panas dan sempit sekali… enak banget…”
Eva semakin liar, pinggulnya berputar-putar sambil kontol Galih menghunjam dalam. “Iya… entot saya lebih dalam… dorong pinggulmu ke atas… ahh! Iya… seperti itu! Kontolmu menyentuh rahim saya!”
Mereka berganti posisi. Galih membalik tubuh Eva hingga berlutut di ranjang, memeknya terangkat ke belakang. Galih berdiri di belakang, memegang pinggul Eva yang lebar, lalu menghunjamkan kontolnya sekali lagi dalam satu dorongan kuat.
“AAHHH!!” jerit Eva kenikmatan. “Entot saya keras-keras, Galih! Pakai semua tenagamu!”
Galih mulai menggenjot dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman membuat payudara Eva bergoyang ke depan dan ke belakang seperti gelombang. Memeknya mengeluarkan cairan bening yang menetes di paha. Suara tabrakan kulit memenuhi ruangan.
“Plak! Plak! Plak! Plak!”
“Enak, Bu? Kontol saya enak di memek Ibu?” tanya Galih sambil terus menghunjam.
“Enak sekali… lebih cepat… hancurkan memek saya… ohh Galih… kamu stamina bagus sekali… jangan berhenti…”
Galih menarik rambut Eva pelan hingga punggungnya melengkung. Ia menghunjam lebih dalam, bola-bolanya menampar klitoris Eva setiap kali kontolnya masuk penuh. Eva sudah orgasme pertama, memeknya berdenyut-denyut di sekeliling kontol Galih, cairannya muncrat sedikit.
“Tapi saya belum selesai, Bu,” kata Galih sambil terus menggenjot tanpa henti.
Ia membalik Eva lagi hingga telentang. Kaki Eva ia angkat tinggi sampai ke bahu, lalu memasukkan kontolnya lagi. Posisi ini membuat kontolnya masuk sangat dalam. Eva menjerit-jerit kenikmatan.
“Galih… kontolmu terlalu dalam… ahh… saya mau lagi… entot saya terus…”
Galih menggenjot dengan kecepatan penuh. Keringatnya menetes ke payudara Eva yang bergoyang-goyang. Ia menunduk, mengisap puting Eva sambil terus menghunjam.
Mereka berganti posisi lagi. Eva duduk di pangkuan Galih, menghadapnya, memeluk leher Galih sambil naik turun liar. Payudaranya menempel di dada Galih yang keras. Mereka berciuman dalam, lidah saling menari.
“Memek saya milik kontolmu sekarang, Galih… kamu boleh entot saya setiap malam kalau mau…”
Galih menggigit bibir bawah Eva pelan. “Setiap malam saya akan entot Bu Eva sampai puas…”
Mereka melanjutkan hampir satu jam tanpa henti. Galih mengubah posisi berkali-kali: doggy style lagi, missionary, side fuck, bahkan berdiri sambil mengangkat tubuh Eva yang ringan. Setiap kali Eva orgasme, memeknya menyemprot cairan hangat di kontol Galih.
Akhirnya, setelah hampir dua jam penuh adegan seks yang tak henti-henti, Galih merasakan klimaksnya mendekat.
“Bu… saya mau keluar…”
Eva langsung berlutut di depan Galih, mulutnya terbuka lebar. “Keluar di mulut saya, Galih… saya mau minum sperma kamu yang banyak…”
Galih mengocok kontolnya yang sudah mengkilap oleh cairan memek Eva. Beberapa detik kemudian, sperma kental dan banyak menyembur keluar, memenuhi mulut Eva. Beberapa tetes mengenai payudaranya yang besar. Eva menelan semua, lidahnya menjilat sisa-sisa di kepala kontol Galih.
Mereka berdua terjatuh di ranjang, napas tersengal. Eva memeluk Galih, payudaranya yang basah keringat menempel di dada Galih.
“Mulai malam ini, kamu tidur di kamar saya, Galih,” bisik Eva sambil menciumi leher Galih. “Setiap malam kamu harus entot saya sampai saya puas. Mengerti?”
Galih tersenyum, tangannya meremas payudara Eva lagi. “Mengerti, Bu Eva. Kontol saya siap kapan saja untuk memek Anda.”
Malam itu baru permulaan. Besok malam, lusa malam, dan setiap malam berikutnya, Galih akan terus memuaskan nafsu Eva yang tak pernah puas. Rumah besar itu tak lagi sepi. Hanya penuh erangan dan suara tubuh saling bertabrakan yang panas dan intens.
lynk.id/bande41/2ojy44ml6rw23324Please respect copyright.PENANAdCoBelPFZc


