Namaku Danu, 47 tahun. Aku pengusaha kontraktor sukses di Surabaya. Tubuhku masih kekar, tinggi 180 cm, berat 82 kg, dada bidang, perut rata meski sudah berumur. Istriku Rina, 44 tahun, sudah jarang sekali mau disentuh. Bisnis fashion onlinenya membuat dia selalu capek, dan kehidupan seks kami hampir mati total. Sudah hampir setahun ini aku hanya puas dengan tangan sendiri sambil membayangkan tubuh perempuan muda yang montok.
Keponakanku, Firman, 26 tahun, anak dari adik iparku. Dia baru menikah setahun lalu dengan Nayla, gadis cantik berusia 24 tahun. Firman bekerja sebagai marketing di perusahaan otomotif, sering sekali dinas ke luar kota. Tubuhnya kurus tinggi, masih seperti anak muda yang belum matang. Sedangkan Nayla… Ya Tuhan, Nayla adalah dosa yang berjalan.
Nayla tinggi 165 cm, berat 56 kg. Kulitnya putih mulus seperti susu kental, rambut hitam panjang bergelombang sampai pinggang, mata besar yang selalu basah menggoda, bibir tebal merah alami yang seolah selalu siap mengisap. Dada Nayla 36D yang padat, kenyal, dan selalu terlihat menantang di balik baju apa pun yang dia pakai. Pinggangnya ramping, pinggulnya lebar, pantatnya bulat montok yang bergoyang lembut setiap kali dia berjalan. Aku yakin memeknya sempit, pink, dan sangat mudah basah.
Suatu sore di pertengahan bulan Maret, Firman datang ke rumahku bersama Nayla. Mereka berdua duduk di ruang tamu dengan wajah cemas.
“Om Danu, tolong bantu kami,” kata Firman memelas. “Rumah kontrakan kami bocor parah di kamar tidur. Musim hujan begini, tiap malam tempat tidur kami basah. Kami belum punya uang banyak untuk renovasi besar.”
Aku melirik Nayla yang duduk di sebelah suaminya. Dia memakai kaos oversized putih tipis dan celana pendek jeans. Saat dia membungkuk mengambil gelas air, belahan dada putihnya terlihat jelas. Putingnya samar-samar menonjol karena tidak memakai bra. Kontolku langsung bergerak pelan di dalam celana.
“Tenang, Firman. Om bantu. Besok Om datang sendiri ke rumah kalian lihat kondisinya. Om bawa tukang sekalian,” jawabku sambil tersenyum, tapi mataku tak lepas dari Nayla.
Nayla mengangkat wajahnya, tersipu. Pipinya merah muda. “Terima kasih banyak, Om. Nayla senang Om Danu mau datang. Rumah kami kecil, tapi Om.”
Malam itu, setelah mereka pulang, aku tak bisa tidur. Bayangan dada Nayla yang montok dan pantatnya yang bergoyang terus berputar di kepala. Aku onani di kamar mandi, membayangkan Nayla berlutut di depanku, mengisap kontolku sambil menyebut “Om…”.
Keesokan siangnya, aku tiba di rumah kontrakan mereka di Gunung Anyar dengan mobil pick-up dan dua tukang. Rumahnya kecil tapi cukup rapi. Nayla menyambut kami di pintu dengan senyum manis. Hari itu dia memakai daster rumah tipis warna krem muda yang hampir tembus pandang. Tanpa bra. Dua payudara besarnya terlihat jelas bentuknya, putingnya sudah mengeras karena AC.
“Om Danu… Silakan masuk. Firman lagi dinas ke Malang, baru pulang besok malam,” kata Nayla sambil membawakan minum dingin.
Hatiku berdegup kencang. Sendirian dengan Nayla seharian penuh.
Tukang mulai bekerja di atap kamar tidur. Aku duduk di ruang tamu yang sempit, Nayla duduk di sebelahku, agak dekat. Aroma sabun mandi dan parfum murahnya yang manis langsung menyerbu hidungku.
“Om… Nayla boleh cerita sesuatu?” tanyanya pelan setelah tukang naik ke atap.
“Cerita apa, Nayla?”
Nayla menunduk, jarinya memilin ujung daster. “Firman… dia baik. Tapi… dia sering capek kerja. Kalau malam… ya… cuma sebentar. Lima atau sepuluh menit, terus langsung tidur. Nayla kadang masih pengen… masih haus… Tapi Nayla malu bilang.”
Aku pura-pura terkejut, tapi kontolku sudah setengah tegang. “Maksud Nayla, Firman kurang memuaskan kamu di ranjang?”
Nayla menggigit bibir bawahnya, suaranya hampir berbisik. “Iya, Om… Nayla masih muda. Kadang Nayla butuh yang lama… yang kuat… yang bikin Nayla gemetar sampai nggak bisa jalan besoknya.”
Aku menatap matanya dalam-dalam. “Nayla… perempuan secantik kamu nggak boleh kekurangan kenikmatan. Kamu pantas dimanja, digenjot lama, sampai memek kamu banjir dan jerit-jerit minta ampun.”
Wajah Nayla langsung merah padam. Nafasnya mulai cepat. “Om… jangan bilang gitu… Nayla malu… tapi… kata-kata Om bikin Nayla… basah.”
Sore hari hujan deras tiba-tiba turun. Langit gelap, listrik padam. Tukang-tukang buru-buru pulang karena atap sudah selesai diperbaiki sementara. Hanya tinggal aku dan Nayla di rumah kecil itu.
Kami duduk di ruang tamu dengan cahaya lilin kecil. Nayla merapat ke tubuhku karena kedinginan.
“Om… dingin sekali,” katanya sambil menyandarkan kepala di bahuku.
Aku memeluk bahunya pelan. Tangan kananku tanpa sengaja menyentuh sisi dada kirinya. Payudaranya lembut dan berat. Nayla tidak menolak. Malah dia mendesah pelan.
“Om… peluk Nayla lebih erat ya… Biar hangat.”
Tangan kiriku merayap ke paha Nayla yang putih mulus. Kulitnya halus seperti sutra. Jemariku naik pelan ke bawah daster, menyentuh celana dalamnya. Kainnya sudah basah.
“Nayla… memek kamu sudah banjir,” bisikku di telinganya.
Nayla menggeliat. “Om… jangan sentuh… tapi… jangan berhenti juga… Nayla sudah lama nggak disentuh yang bener.”
Aku tak bisa menahan diri lagi. Aku tarik Nayla ke pangkuanku. Daster tipisnya aku buka kancingnya satu per satu. Dua payudara besar putih melompat keluar, bergoyang lembut. Putingnya cokelat muda, sudah berdiri tegak seperti biji ceri.
“Wah… dada Nayla besar sekali. Enak banget diremas,” kataku sambil meremas keduanya dengan rakus.
“Ouhhh… Om Danu… Remas lebih kuat… Nayla suka tangan Om yang kasar…” erang Nayla sambil mendongakkan kepala.
Aku menunduk, menghisap puting kiri dengan rakus. Lidahku berputar-putar, menggigit pelan, menghisap kuat sampai Nayla menggelinjang di pangkuanku.
“Aaaahhh… Hisap susu Nayla… Ouhhh… Enak… Nayla rasanya mau keluar hanya dari dihisap puting saja…”
Tanganku turun ke bawah. Aku selipkan jari ke celana dalam Nayla. Memeknya licin sekali, bibirnya tebal dan panas. Aku masukkan satu jari, lalu dua jari, mengaduk-aduk titik G-nya.
“Cepeett… cepeett…” suara cairan memek Nayla terdengar jelas.
“Nayla… memek kamu sempit dan basah banget. Sudah berapa lama nggak digenjot beneran?” tanyaku sambil jari terus bergerak.
“Dua minggu… Firman terakhir dinas… Aaaahhh… Om… Masukin tiga jari… Adik Nayla lapar…!”
Aku masukkan tiga jari, mengocok cepat. Nayla menggoyang pinggulnya liar di pangkuanku, payudaranya bergoyang naik turun di depan wajahku.
“Om… Nayla mau jilat kontol Om… Boleh? Nayla ingin lihat kontol pria dewasa yang beneran gede…”
Aku buka celana pendekku. Kontolku melompat keluar — 19 cm panjang, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap sudah mengeluarkan precum.
Nayla langsung memegangnya dengan dua tangan, matanya berbinar. “Ya ampun… Besar sekali, Om… Kontol Firman cuma setengahnya… dan cepat lemes. Ini… ini kontol yang bisa bikin Nayla hamil…”
Nayla menjilat dari pangkal sampai ujung dengan lidahnya yang panas. Lalu dia buka mulut lebar-lebar, memasukkan kepala kontolku ke dalam mulutnya. Dia mengisap kuat, lidahnya berputar di kepala kontol, tangannya mengocok pangkal dengan gerakan naik turun.
“Slrrpp… slrrpp… gluck… gluck…” suara isapan Nayla memenuhi ruangan.
“Enak kontol Om… Tebal… Nayla mau hisap sampai Om muncrat di mulut Nayla… Nayla mau telan sperma Om…”
Aku pegang kepala Nayla, dorong pelan ke dalam sampai kontolku menyentuh tenggorokannya. Nayla muntah-muntah kecil tapi tetap rakus mengisap. Air liurnya menetes ke kontolku, membuatnya semakin licin.
Setelah hampir 12 menit oral yang panas, aku angkat tubuh Nayla dan letakkan di meja makan kayu. Aku buka paha lebar-lebar. Memek Nayla terbuka sempurna — bibir tebal merah muda, klitoris membengkak, lubangnya sudah mengeluarkan cairan bening yang meluber ke anus.
“Aku mau jilat memek kamu dulu, Nayla. Biar kamu benar-benar basah.”
Lidahku menjilat dari anus sampai klitoris dalam satu sapuan panjang. Nayla menjerit.
“Aaaahhh!! Om… Jilat memek Nayla… Hisap klitorisnya… Ouhhh… Lidah Om panas… Nayla mau keluar… Aaaahhh!!”
Aku hisap klitorisnya kuat sambil dua jari masuk ke memeknya, mengaduk titik G. Nayla squirting kecil, cairannya menyembur ke daguku. Aku tak berhenti, terus jilat dan hisap sampai Nayla orgasme kedua, tubuhnya kejang-kejang di meja makan.
“Om… cukup… Nayla nggak tahan lagi… Masukin kontol Om sekarang… Tusuk memek Nayla yang lapar ini…!”
Aku berdiri di depan meja, memegang kontolku yang sudah mengkilap air liur Nayla. Aku gesekkan kepala kontol di bibir memeknya beberapa kali.
“Bilang, Nayla. Kamu mau apa?”
Nayla memandangku dengan mata sayu penuh nafsu. “Masukin kontol Om yang gede… Tusuk memek istri keponakan Om… Genjot Nayla sampai Nayla jerit… Nayla mau jadi pelacur Om malam ini…”
Aku dorong pelan. Kepala kontol masuk dengan suara “blesss”. Memek Nayla sangat sempit, panas, dan berdenyut-denyut seperti memeluk kontolku.
“Oughhh… Sempit sekali memek kamu… Makan kontol Om rakus banget…”
“Terus dorong, Om… Masukin semuanya… Aaaahhh!! Sakit… enak… Kontol Om amblas sampai rahim Nayla…!”
Blasss!! Kontolku masuk sampai pangkal. Aku mulai gerak pelan, keluar masuk, merasakan setiap inci dinding memek Nayla yang licin dan berlipat-lipat.
“Genjot Nayla, Om… Genjot istri Firman… Aaaahhh… Lebih cepat… Plok plok plok… Enak… Kontol Om nancep banget…!”
Aku percepat gerakan. Tangan kananku meremas payudara Nayla, tangan kiri memegang pinggulnya. Suara tabrakan kulit “plok! plok! plok! plok!” semakin keras dan cepat.
Kami ganti posisi. Aku duduk di kursi, Nayla naik ke pangkuanku menghadap aku (cowgirl). Dia menggoyang pinggulnya naik turun dengan liar. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku hisap putingnya bergantian sambil memegang pantatnya, membantu gerakannya lebih dalam.
“Om… Nayla suka posisi ini… Kontol Om nancep ke rahim… Aaaahhh… Nayla mau keluar lagi…!”
Nayla orgasme ketiga, memeknya menjepit kontolku kuat-kuat. Aku tak tahan lagi.
“Nayla… Om mau keluar di dalam… Boleh?”
“Keluarin di dalam, Om… Isi memek Nayla dengan sperma Om yang panas… Bikin Nayla hamil sama kontol Om… Aaaahhh!!”
Aku dorong pinggul Nayla ke bawah sekuat tenaga. “Crooott… crooott… crooott… crooott!!” Empat semburan sperma kental menyembur ke dalam rahim Nayla. Kontolku berdenyut-denyut di dalam memeknya yang penuh.
Kami ambruk bersama, napas tersengal. Sperma putih kental mengalir keluar dari memek Nayla yang merah bengkak, menetes ke lantai.
Tapi malam itu belum selesai.
Setelah istirahat 20 menit, Nayla bangun dan langsung berlutut di depanku lagi. “Kontol Om masih setengah tegang… Nayla mau bersihkan dengan mulut…”
Dia mengisap kontolku yang masih penuh campuran sperma dan cairan memeknya sendiri. Lidahnya membersihkan setiap inci. Kontolku kembali keras hanya dalam 5 menit.
Kali ini kami ke kamar tidur mereka. Di ranjang yang sama tempat Firman biasa tidur dengan Nayla. Aku tidur telentang, Nayla naik ke atas wajahku, memeknya menekan mulutku (facesitting). Aku jilat memeknya yang penuh spermaku sambil dia mengocok dan mengisap kontolku lagi.
“Slrrpp… enak… Sperma Om campur cairan Nayla… Nayla suka rasa ini…”
Setelah itu, ronde kedua dimulai dengan doggy style. Nayla merangkak di ranjang, pantat montoknya terangkat tinggi. Aku masuk dari belakang, memegang pinggulnya, menggenjot sekuat tenaga.
“Plok! Plok! Plok! Plok!” Suara pantatnya ditabrak pinggulku memenuhi kamar.
“Om… Tusuk lebih dalam… Bikin memek Nayla longgar karena kontol Om… Aaaahhh… Nayla suka digenjot kasar… Tampar pantat Nayla, Om…!”
Aku tampar pantatnya pelan tapi kuat. Nayla semakin liar, menggoyang pantatnya maju mundur.
“Om… Nayla mau jadi milik Om… Tiap Firman pergi dinas, Om harus datang genjot Nayla… Memek Nayla sekarang milik Om…!”
Ronde kedua berakhir dengan creampie lagi. Aku menyemburkan sperma kedua kalinya di dalam memek Nayla.
Kami mandi bersama di kamar mandi sempit. Di bawah shower air hangat, aku angkat satu kaki Nayla, memasukinya sambil berdiri. Air menyiram tubuh kami, membuat gerakan semakin licin dan erotis.
“Om… Genjot Nayla di kamar mandi… Aaaahhh… Nayla mau squirt lagi…!”
Nayla squirting untuk keempat kalinya malam itu.
Pukul dua dini hari, kami akhirnya berbaring telanjang di ranjang Firman. Nayla memelukku erat, payudaranya menekan dadaiku.
“Om… Nayla sudah ketagihan… Kontol Om terlalu enak… Nayla takut besok Firman pulang, Nayla nggak bisa pura-pura biasa lagi…”
Aku cium bibirnya dalam, lidah kami saling bermain. “Ini baru malam pertama, Nayla. Masih banyak malam lain yang akan datang. Om belum puas sama memek kamu.”
Nayla tersenyum genit, tangannya meremas kontolku yang sudah mulai bangun lagi. “Kalau begitu… ronde ketiga sekarang, Om?”
Tepat saat itu, ponsel Nayla bergetar. Pesan dari Firman:
“Sayang, aku sudah di terminal. Besok pagi sampai rumah. Kamu tidur yang nyenyak ya.”
Nayla menatapku dengan mata penuh nafsu dan sedikit ketakutan.
“Om… Firman pulang besok pagi… Tapi Nayla masih mau… Apa kita lakukan sekali lagi sebelum pagi?”
Aku tersenyum, tanganku sudah kembali meremas payudara Nayla.
“Ya, Nayla. Sekali lagi. Tapi kali ini Om mau genjot kamu di sofa ruang tamu… supaya kalau Firman pulang pagi, dia bisa mencium bau sex istrinya di seluruh rumah.”
Nayla menggigit bibirnya, memeknya kembali basah hanya karena kata-kataku.
“Om nakal… Tapi Nayla suka… Ayo… Genjot Nayla lagi… Buat Nayla sulit jalan besok…”
ns216.73.216.253da2


