Di dalam gudang kecil yang sempit itu, udara terasa semakin pengap meski kipas angin berdiri terus berputar pelan di sudut ruangan. Cahaya matahari siang menyusup melalui celah-celah dinding seng, menerangi tubuh Airin yang berdiri tepat di depan Ujang. Mobil SUV hitamnya kini sudah terlihat hampir sempurna lagi, bekas baret panjang itu hanya menyisakan garis samar yang hampir tak terlihat kecuali jika dilihat dari jarak sangat dekat. Ujang masih jongkok, tangannya memegang kain microfiber yang sudah kotor oleh sisa polish, keringat membasahi kaos oblong lusuhnya hingga menempel di kulit sawo matang yang penuh urat-urat halus.
188Please respect copyright.PENANA5GEy0PwOUA
Airin menghela napas panjang, matanya menatap tajam ke arah pria tua itu. Tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu, ia perlahan mengangkat kedua tangannya ke pinggang, jari-jarinya meraih ujung gaun midi krem yang ia kenakan, lalu dengan gerakan lambat namun pasti ia menarik kain itu ke atas. Gaun itu tersingkap perlahan, memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih, kulitnya tampak lembut dan berkilau samar karena keringat tipis yang menempel di sana. Pahanya terbuka lebar hingga hampir mencapai pangkal paha, celana dalam renda hitam tipisnya samar-samar terlihat menempel ketat di bagian kemaluan yang sudah mulai terasa hangat. Ujang membeku, matanya melebar, napasnya tertahan sejenak saat melihat pemandangan itu. Ia tidak berani bergerak, hanya menatap dengan mulut sedikit terbuka.
188Please respect copyright.PENANACWN7kaltre
Airin tidak berhenti di situ. Tangannya naik ke dada, jari-jarinya mulai membuka kancing blus tipis yang ia pakai di bawah gaun tadi, satu per satu kancing terlepas dengan suara kecil yang terdengar jelas di ruangan sunyi itu. Bra renda hitam yang sama dengan celana dalamnya kini terlihat jelas, payudara bulatnya yang besar dan kencang tertekan di dalam cup bra, belahan dadanya dalam dan menggoda. Jilbab kuning muda yang masih ia kenakan tetap rapi membingkai wajah cantiknya, kontras dengan pakaian yang kini terbuka separuh, membuat penampilannya terlihat semakin liar dan penuh dosa. Ia menatap Ujang dengan senyum tipis yang penuh makna, mata sipitnya menyipit penuh hasrat.
188Please respect copyright.PENANA77RP5JMCyU
Kang Ujang, lihat ini baik-baik. Mobil saya sudah bersih sekarang. Tapi saya masih belum puas. Bapak mau dapat kerjaan tambahan hari ini tidak? Bayarannya satu juta rupiah, hanya untuk hari ini saja. Kerjanya tidak berat, tapi harus sampai puas.
188Please respect copyright.PENANAu5bKvykU1X
Ujang menelan ludah keras, suaranya serak saat menjawab.
188Please respect copyright.PENANAyAC8DQ4CGs
Bu... maksudnya apa, Bu? Saya... saya tukang parkir biasa, Bu. Kerja tambahan seperti apa?
188Please respect copyright.PENANAEspjD9g8w2
Airin melangkah lebih dekat, kini jarak mereka hanya beberapa senti. Ia membungkuk sedikit sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Ujang yang masih jongkok, aroma parfum mahalnya bercampur dengan bau keringat ringan tubuhnya membuat kepala Ujang pusing.
188Please respect copyright.PENANAqqiTUpjI9V
Kerjaannya sederhana, Kang. Memuaskan saya. Sampai saya benar-benar puas. Suami saya sedang liburan ke rumah eyang bersama anak-anak, rumah kosong sampai besok malam. Bapak mau? Satu juta, cash, sekarang juga saya transfer kalau Bapak setuju.
188Please respect copyright.PENANAk9cu4SAVcq
Ujang terdiam beberapa detik, matanya bolak-balik dari wajah Airin yang cantik ke payudara bulat yang hampir tumpah dari bra, lalu ke paha putih yang masih tersingkap. Hasrat yang selama ini ia pendam sebagai pria tua yang jarang disentuh wanita mulai membara. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengangguk cepat.
188Please respect copyright.PENANA1dKwCHf1gP
Saya mau, Bu. Saya setuju.
188Please respect copyright.PENANAyvkHLSkQst
Airin tersenyum lebar, lalu menarik gaunnya kembali ke bawah dengan gerakan cepat, meski kancing blusnya masih terbuka dua biji. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, memindai kode QR dan mentransfer satu juta rupiah ke nomor yang Ujang berikan dengan tangan gemetar.
188Please respect copyright.PENANALISf7OTQdW
Sudah masuk. Sekarang ikut saya. Kita ke rumah saya di Kemang. Naik mobil saya saja, Kang Ujang nyetir ya, biar saya istirahat sebentar di kursi belakang.
188Please respect copyright.PENANAkjcIrESPSR
Perjalanan dari Tangerang Selatan ke Kemang memakan waktu hampir satu setengah jam karena mulai ada kemacetan sore hari. Sepanjang jalan, Airin duduk di kursi belakang, kakinya terbuka lebar, sesekali ia menyentuh pahanya sendiri sambil menatap Ujang melalui kaca spion. Ujang berkeringat dingin, tangannya gemetar memegang setir, tapi ia berusaha fokus mengemudi.
188Please respect copyright.PENANAcUoMJJ1iu7
Sesampainya di rumah mewah dua lantai di kawasan elit Kemang, Airin langsung membawa Ujang masuk melalui pintu samping. Rumah itu sunyi, hanya suara AC yang berdengung pelan. Airin menunjuk kamar mandi tamu di lantai bawah.
188Please respect copyright.PENANAYQqtKIbcJ1
Kang mandi dulu di situ. Air hangat ada, sabun juga. Saya mandi di kamar utama. Setelah selesai, ganti baju ini. Ini baju suami saya, ukurannya pas kok. Tunggu saya di ruang kerja lantai dua ya, pintu paling ujung.
188Please respect copyright.PENANAhdUFmsydpi
Ujang mengangguk patuh, masuk ke kamar mandi tamu dengan perasaan campur aduk antara takut dan sangat bergairah. Ia mandi cepat, membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan debu parkiran. Setelah selesai, ia mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana chino milik suami Airin yang memang agak longgar di badannya yang kurus tapi kekar.
188Please respect copyright.PENANAST9XHyeglI
Airin sendiri mandi lebih lama, membersihkan setiap inci tubuhnya dengan sabun beraroma vanila, membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Setelah mandi, ia mengenakan kebaya brokat kuning cerah yang ketat membalut tubuhnya, payudara bulatnya terlihat menonjol sempurna di balik kain brokat tipis itu, pinggang rampingnya terikat kain jarik kuning senada, dan jilbab kuning senada menutupi rambut basahnya dengan rapi. Ia memoles bibir merah tebalnya, memakai parfum mahal, lalu berjalan ke ruang kerja di lantai dua.
188Please respect copyright.PENANAPbbYirmMSX
Ruang kerja itu luas, ada meja kayu jati besar, sofa kulit panjang, dan rak buku penuh dokumen pemerintahan. Lampu meja menyala redup, menciptakan suasana intim. Airin duduk di sofa, kakinya disilangkan sehingga kebaya tersingkap sedikit memperlihatkan paha putihnya lagi.
188Please respect copyright.PENANAifr3ve6lhg
Ujang naik ke lantai dua dengan langkah ragu, mengetuk pintu ruang kerja.
188Please respect copyright.PENANADWGWzjW4Vj
Masuk, Kang.
188Please respect copyright.PENANA7JkkqK34DN
Ujang membuka pintu, matanya langsung tertuju pada Airin yang tampak seperti ratu dalam kebaya kuning itu. Payudaranya yang bulat dan besar terlihat begitu menggoda, puting kecilnya samar-samar tercetak di balik kain tipis karena bra yang ia pakai sangat minim.
188Please respect copyright.PENANAdPkAQphwk4
Duduk di sini, Kang. Dekat saya.
188Please respect copyright.PENANAqeyuLY0XSx
Ujang duduk di sofa, jarak mereka hanya satu lengan. Airin mencondongkan tubuh ke depan, tangannya menyentuh paha Ujang dengan lembut.
188Please respect copyright.PENANAbhthx0rCqk
Kang Ujang, tugas Bapak malam ini hanya satu. Memuaskan saya. Saya ingin Bapak mengentot saya sampai pagi. Saya ingin merasakan pejuh Bapak mengalir di dalam memek tembem saya. Saya ingin Bapak menjilati kemaluan saya, mengisap clitoris saya sampai saya mengeluarkan cairan banyak sekali. Saya ingin payudara bulat saya diremas, puting merah saya dihisap sampai sakit nikmat. Bapak mengerti?
188Please respect copyright.PENANAtw0QmDI8Fe
Ujang mengangguk cepat, napasnya sudah berat, celananya mulai mengeras di bagian depan.
188Please respect copyright.PENANAG8mzukZ3LO
Saya mengerti, Bu. Saya akan lakukan semuanya untuk Bu Airin.
188Please respect copyright.PENANANFLYeCa2pz
Airin tersenyum puas, lalu berdiri perlahan. Ia mendekati Ujang, tangannya meraih kerah kemeja yang dipakai pria itu, menariknya agar Ujang berdiri juga. Wajah mereka kini sangat dekat, napas Airin terasa hangat di wajah Ujang.
188Please respect copyright.PENANAoTMYR4Oyil
Mulai sekarang, Kang. Dekatkan mulut Bapak ke leher saya. Cium dulu, pelan-pelan. Saya ingin merasakan lidah Bapak di kulit saya.
188Please respect copyright.PENANA0Dy3OPe0V6
Ujang menurut, bibirnya menyentuh leher putih mulus Airin, mencium pelan, lalu lidahnya menjilat garis leher itu dengan gerakan lambat. Airin menggelinjang kecil, tangannya meremas bahu Ujang, desahannya mulai keluar pelan.
188Please respect copyright.PENANAOuQ9jhD0Po
Ahhh... begitu, Kang... jilat lagi... lebih dalam...
ns216.73.216.37da2


