Di dalam gudang kecil yang sempit itu, udara terasa semakin pengap meski kipas angin berdiri terus berputar pelan di sudut ruangan. Cahaya matahari siang menyusup melalui celah-celah dinding seng, menerangi tubuh Airin yang berdiri tepat di depan Ujang. Mobil SUV hitamnya kini sudah terlihat hampir sempurna lagi, bekas baret panjang itu hanya menyisakan garis samar yang hampir tak terlihat kecuali jika dilihat dari jarak sangat dekat. Ujang masih jongkok, tangannya memegang kain microfiber yang sudah kotor oleh sisa polish, keringat membasahi kaos oblong lusuhnya hingga menempel di kulit sawo matang yang penuh urat-urat halus.
115Please respect copyright.PENANAg1Bk76rhHl
Airin menghela napas panjang, matanya menatap tajam ke arah pria tua itu. Tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu, ia perlahan mengangkat kedua tangannya ke pinggang, jari-jarinya meraih ujung gaun midi krem yang ia kenakan, lalu dengan gerakan lambat namun pasti ia menarik kain itu ke atas. Gaun itu tersingkap perlahan, memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih, kulitnya tampak lembut dan berkilau samar karena keringat tipis yang menempel di sana. Pahanya terbuka lebar hingga hampir mencapai pangkal paha, celana dalam renda hitam tipisnya samar-samar terlihat menempel ketat di bagian kemaluan yang sudah mulai terasa hangat. Ujang membeku, matanya melebar, napasnya tertahan sejenak saat melihat pemandangan itu. Ia tidak berani bergerak, hanya menatap dengan mulut sedikit terbuka.
115Please respect copyright.PENANAqyBWuseBLZ
Airin tidak berhenti di situ. Tangannya naik ke dada, jari-jarinya mulai membuka kancing blus tipis yang ia pakai di bawah gaun tadi, satu per satu kancing terlepas dengan suara kecil yang terdengar jelas di ruangan sunyi itu. Bra renda hitam yang sama dengan celana dalamnya kini terlihat jelas, payudara bulatnya yang besar dan kencang tertekan di dalam cup bra, belahan dadanya dalam dan menggoda. Jilbab kuning muda yang masih ia kenakan tetap rapi membingkai wajah cantiknya, kontras dengan pakaian yang kini terbuka separuh, membuat penampilannya terlihat semakin liar dan penuh dosa. Ia menatap Ujang dengan senyum tipis yang penuh makna, mata sipitnya menyipit penuh hasrat.
115Please respect copyright.PENANACNiueOcFEU
Kang Ujang, lihat ini baik-baik. Mobil saya sudah bersih sekarang. Tapi saya masih belum puas. Bapak mau dapat kerjaan tambahan hari ini tidak? Bayarannya satu juta rupiah, hanya untuk hari ini saja. Kerjanya tidak berat, tapi harus sampai puas.
115Please respect copyright.PENANAL50i0Bx78R
Ujang menelan ludah keras, suaranya serak saat menjawab.
115Please respect copyright.PENANAumcyuZLoUl
Bu... maksudnya apa, Bu? Saya... saya tukang parkir biasa, Bu. Kerja tambahan seperti apa?
115Please respect copyright.PENANAzxpu5F8icr
Airin melangkah lebih dekat, kini jarak mereka hanya beberapa senti. Ia membungkuk sedikit sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Ujang yang masih jongkok, aroma parfum mahalnya bercampur dengan bau keringat ringan tubuhnya membuat kepala Ujang pusing.
115Please respect copyright.PENANAtXiVjT3aTl
Kerjaannya sederhana, Kang. Memuaskan saya. Sampai saya benar-benar puas. Suami saya sedang liburan ke rumah eyang bersama anak-anak, rumah kosong sampai besok malam. Bapak mau? Satu juta, cash, sekarang juga saya transfer kalau Bapak setuju.
115Please respect copyright.PENANA0WhBnRiIpP
Ujang terdiam beberapa detik, matanya bolak-balik dari wajah Airin yang cantik ke payudara bulat yang hampir tumpah dari bra, lalu ke paha putih yang masih tersingkap. Hasrat yang selama ini ia pendam sebagai pria tua yang jarang disentuh wanita mulai membara. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengangguk cepat.
115Please respect copyright.PENANAIALMknnj2N
Saya mau, Bu. Saya setuju.
115Please respect copyright.PENANAwaLnw7UlTz
Airin tersenyum lebar, lalu menarik gaunnya kembali ke bawah dengan gerakan cepat, meski kancing blusnya masih terbuka dua biji. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, memindai kode QR dan mentransfer satu juta rupiah ke nomor yang Ujang berikan dengan tangan gemetar.
115Please respect copyright.PENANAHn6vDnCXpJ
Sudah masuk. Sekarang ikut saya. Kita ke rumah saya di Kemang. Naik mobil saya saja, Kang Ujang nyetir ya, biar saya istirahat sebentar di kursi belakang.
115Please respect copyright.PENANA3tybJFil0Z
Perjalanan dari Tangerang Selatan ke Kemang memakan waktu hampir satu setengah jam karena mulai ada kemacetan sore hari. Sepanjang jalan, Airin duduk di kursi belakang, kakinya terbuka lebar, sesekali ia menyentuh pahanya sendiri sambil menatap Ujang melalui kaca spion. Ujang berkeringat dingin, tangannya gemetar memegang setir, tapi ia berusaha fokus mengemudi.
115Please respect copyright.PENANAXEM6qPOg8J
Sesampainya di rumah mewah dua lantai di kawasan elit Kemang, Airin langsung membawa Ujang masuk melalui pintu samping. Rumah itu sunyi, hanya suara AC yang berdengung pelan. Airin menunjuk kamar mandi tamu di lantai bawah.
115Please respect copyright.PENANAqX3EzOMboV
Kang mandi dulu di situ. Air hangat ada, sabun juga. Saya mandi di kamar utama. Setelah selesai, ganti baju ini. Ini baju suami saya, ukurannya pas kok. Tunggu saya di ruang kerja lantai dua ya, pintu paling ujung.
115Please respect copyright.PENANAlvMuBkVoiR
Ujang mengangguk patuh, masuk ke kamar mandi tamu dengan perasaan campur aduk antara takut dan sangat bergairah. Ia mandi cepat, membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan debu parkiran. Setelah selesai, ia mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana chino milik suami Airin yang memang agak longgar di badannya yang kurus tapi kekar.
115Please respect copyright.PENANAQN9owDcE4W
Airin sendiri mandi lebih lama, membersihkan setiap inci tubuhnya dengan sabun beraroma vanila, membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Setelah mandi, ia mengenakan kebaya brokat kuning cerah yang ketat membalut tubuhnya, payudara bulatnya terlihat menonjol sempurna di balik kain brokat tipis itu, pinggang rampingnya terikat kain jarik kuning senada, dan jilbab kuning senada menutupi rambut basahnya dengan rapi. Ia memoles bibir merah tebalnya, memakai parfum mahal, lalu berjalan ke ruang kerja di lantai dua.
115Please respect copyright.PENANAKBJ7s0nXo3
Ruang kerja itu luas, ada meja kayu jati besar, sofa kulit panjang, dan rak buku penuh dokumen pemerintahan. Lampu meja menyala redup, menciptakan suasana intim. Airin duduk di sofa, kakinya disilangkan sehingga kebaya tersingkap sedikit memperlihatkan paha putihnya lagi.
115Please respect copyright.PENANATap8BnXaD9
Ujang naik ke lantai dua dengan langkah ragu, mengetuk pintu ruang kerja.
115Please respect copyright.PENANAuH63HumYQP
Masuk, Kang.
115Please respect copyright.PENANAggF6uLxMiU
Ujang membuka pintu, matanya langsung tertuju pada Airin yang tampak seperti ratu dalam kebaya kuning itu. Payudaranya yang bulat dan besar terlihat begitu menggoda, puting kecilnya samar-samar tercetak di balik kain tipis karena bra yang ia pakai sangat minim.
115Please respect copyright.PENANAii8H9Nz4AD
Duduk di sini, Kang. Dekat saya.
115Please respect copyright.PENANATPwTDewi7B
Ujang duduk di sofa, jarak mereka hanya satu lengan. Airin mencondongkan tubuh ke depan, tangannya menyentuh paha Ujang dengan lembut.
115Please respect copyright.PENANAgw93YbKEc9
Kang Ujang, tugas Bapak malam ini hanya satu. Memuaskan saya. Saya ingin Bapak mengentot saya sampai pagi. Saya ingin merasakan pejuh Bapak mengalir di dalam memek tembem saya. Saya ingin Bapak menjilati kemaluan saya, mengisap clitoris saya sampai saya mengeluarkan cairan banyak sekali. Saya ingin payudara bulat saya diremas, puting merah saya dihisap sampai sakit nikmat. Bapak mengerti?
115Please respect copyright.PENANAoBwByr85Pk
Ujang mengangguk cepat, napasnya sudah berat, celananya mulai mengeras di bagian depan.
115Please respect copyright.PENANAs0KEEj5yFB
Saya mengerti, Bu. Saya akan lakukan semuanya untuk Bu Airin.
115Please respect copyright.PENANAJI4d2mXuPY
Airin tersenyum puas, lalu berdiri perlahan. Ia mendekati Ujang, tangannya meraih kerah kemeja yang dipakai pria itu, menariknya agar Ujang berdiri juga. Wajah mereka kini sangat dekat, napas Airin terasa hangat di wajah Ujang.
115Please respect copyright.PENANAo7YBrBxKJc
Mulai sekarang, Kang. Dekatkan mulut Bapak ke leher saya. Cium dulu, pelan-pelan. Saya ingin merasakan lidah Bapak di kulit saya.
115Please respect copyright.PENANAt4IWCohlS9
Ujang menurut, bibirnya menyentuh leher putih mulus Airin, mencium pelan, lalu lidahnya menjilat garis leher itu dengan gerakan lambat. Airin menggelinjang kecil, tangannya meremas bahu Ujang, desahannya mulai keluar pelan.
115Please respect copyright.PENANAhx1TIhTvS6
Ahhh... begitu, Kang... jilat lagi... lebih dalam...
ns216.73.216.75da2


