Airin adalah seorang wanita berusia tiga puluh empat tahun yang telah menikah selama delapan tahun dengan seorang suami yang bekerja sebagai konsultan keuangan di sebuah perusahaan swasta besar di kawasan Sudirman, Jakarta. Mereka tinggal di sebuah perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Kemang, tempat yang tenang namun tetap dekat dengan hiruk pikuk ibu kota. Airin sendiri bekerja sebagai staf ahli di salah satu kementerian strategis, posisinya cukup tinggi sehingga ia sering terlibat dalam penyusunan kebijakan dan rapat-rapat penting dengan pejabat tinggi. Tubuhnya masih terjaga kencang berkat rutinitas olahraga yoga dan pilates yang ia lakukan setiap pagi sebelum berangkat kantor, payudara bulatnya yang ukuran tiga puluh empat C selalu terlihat menonjol di balik blazer formal yang ia kenakan, pinggangnya ramping, dan bokongnya penuh berisi membuat banyak rekan pria di kantor diam-diam meliriknya dengan penuh hasrat. Wajahnya cantik dengan kulit putih mulus, bibir tebal alami, dan mata sipit yang selalu tampak tajam saat berbicara soal data dan analisis. Namun di balik kesibukan karir dan kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna itu, Airin sering merasa ada kekosongan yang sulit dijelaskan, terutama dalam hal keintiman dengan suaminya yang semakin jarang karena kesibukan masing-masing.
91Please respect copyright.PENANARWBYmbYAEe
Pada hari Minggu itu, langit Jakarta cerah tanpa hujan meski udara masih terasa gerah. Airin memutuskan untuk mengambil waktu libur penuh dengan menyetir mobil SUV hitam miliknya sendiri menuju Tangerang Selatan. Ia ingin mencari udara segar di luar kemacetan Jakarta, sekaligus menikmati makan siang di salah satu restoran fusion di daerah BSD yang sedang hits. Perjalanan dari Kemang ke Tangsel memakan waktu sekitar satu jam karena jalan tol cukup lancar di hari libur. Sesampainya di sana, ia memarkir mobil di area parkir terbuka restoran yang ramai pengunjung. Tukang parkir yang bertugas saat itu adalah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun bernama Ujang, badannya kurus namun terlihat kekar karena bertahun-tahun bekerja fisik, kulitnya sawo matang terbakar matahari, rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, dan ia mengenakan kaos oblong lusuh serta celana kargo yang sudah pudar warnanya.
91Please respect copyright.PENANAO0I0IwOqJY
Airin turun dari mobil dengan gaun midi berwarna krem yang cukup ketat di bagian dada dan pinggul, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sepatu hak tinggi membuat langkahnya terlihat anggun. Ia memesan makanan dan menikmati siang dengan tenang, sesekali mengecek ponsel untuk membalas pesan dari suami yang sedang meeting di luar kota. Setelah selesai makan, sekitar pukul dua siang, Airin kembali ke parkiran. Saat mendekati mobilnya, matanya langsung tertuju pada sisi kiri bodi mobil yang terdapat baret panjang sepanjang hampir satu meter, cat hitamnya mengelupas dan terlihat jelas bekas gesekan benda tajam.
91Please respect copyright.PENANAqwW8RS4pZe
Wajah Airin langsung memerah karena marah. Ia berjalan cepat menuju pos tukang parkir dan langsung menunjuk ke arah Ujang yang sedang duduk di bangku plastik sambil minum kopi dari gelas plastik.
91Please respect copyright.PENANA1OJMq99ZQi
Itu mobil saya, Pak. Kenapa bisa ada baret begini panjangnya? Saya parkir tadi dalam keadaan mulus, sekarang begini. Pasti Bapak yang jaga di sini, kan? Siapa lagi yang pegang area ini?
91Please respect copyright.PENANAH4tLmtfGlQ
Ujang terkejut, buru-buru berdiri dan mendekat sambil menggaruk kepala yang sudah botak di bagian atas.
91Please respect copyright.PENANAihygIPHJN7
Maaf, Bu. Saya tadi jaga dari pagi, tapi saya tidak lihat ada yang menggores mobil Ibu. Mungkin pas Ibu parkir tadi sudah ada, atau mungkin mobil lain yang nyenggol waktu keluar masuk. Area sini ramai, Bu.
91Please respect copyright.PENANAPbnsumnVdI
Jangan mengelak, Pak. Saya tahu betul mobil saya mulus tadi pagi sebelum berangkat dari Jakarta. Ini pasti ulah orang yang parkir di sini, dan Bapak yang bertanggung jawab. Saya minta pertanggungjawaban sekarang juga. Bersihkan baret ini sampai hilang, atau ganti rugi cat ulang. Saya tidak mau pulang dengan mobil begini.
91Please respect copyright.PENANAFRW3ALah4s
Ujang menunduk, wajahnya tampak gelisah. Ia tahu pekerjaannya rentan jika ada komplain seperti ini, apalagi dari wanita yang terlihat berpenampilan mewah dan berwibawa seperti Airin.
91Please respect copyright.PENANAuyNzRRytyu
Baiklah, Bu. Saya bersihkan dulu ya. Mungkin pakai poles bisa agak hilang bekasnya. Tunggu sebentar, saya ambil peralatan di gudang kecil.
91Please respect copyright.PENANAFysUkuydW3
Airin mengangguk dingin, lalu bersandar di sisi mobil yang tidak rusak sambil melipat tangan di dada, payudara bulatnya sedikit tertekan sehingga terlihat lebih menonjol di balik gaun tipis itu. Ujang kembali dengan ember berisi air sabun, kain lap microfiber, dan botol polish mobil yang sudah agak tua. Ia mulai bekerja dengan hati-hati, jongkok di samping mobil, tangannya menggosok area baret itu perlahan.
91Please respect copyright.PENANAf0JqsKeESI
Airin memperhatikan dari dekat, sesekali mengarahkan.
91Please respect copyright.PENANAusl6w0u4Fs
Lebih keras lagi, Pak. Gosok sampai ke bagian dalam goresannya. Jangan setengah-setengah.
91Please respect copyright.PENANAbslFwCDsnN
Ujang mengangguk patuh, keringat mulai menetes di dahinya karena panas matahari siang. Ia menggosok lebih kuat, tangannya bergerak maju mundur di permukaan bodi mobil yang mengkilap. Dari posisi jongkoknya, matanya tanpa sengaja sesekali melirik ke arah kaki Airin yang mulus terlihat dari bawah gaun midi yang sedikit tersingkap karena angin. Pahanya putih mulus, betisnya kencang, dan aroma parfum mahal Airin tercium samar-samar membuat Ujang sedikit gelisah.
91Please respect copyright.PENANA0ivBjtgW0a
Sudah agak memudar, Bu. Tapi goresannya dalam, mungkin perlu poles ulang dua tiga kali.
91Please respect copyright.PENANAOfAxRA5L7M
Airin mendekat lebih rapat, membungkuk sedikit untuk melihat hasilnya. Saat itu gaunnya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan belahan payudara bulat yang dibalut bra renda hitam tipis. Ujang menelan ludah, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan itu meski ia berusaha menunduk lagi.
91Please respect copyright.PENANA3cNgmMErUI
Lanjutkan saja, Pak. Saya tunggu sampai benar-benar bersih. Kalau tidak hilang juga, kita cari solusi lain.
91Please respect copyright.PENANA2TlkYQLtdJ
Ujang melanjutkan pekerjaannya, tangannya semakin lincah menggosok. Keringatnya menetes ke tanah, napasnya sedikit tersengal karena usaha. Airin tetap berdiri di situ, sesekali menghela napas panjang, tubuhnya terasa panas bukan hanya karena matahari tapi ada sesuatu yang aneh mulai bergerak di dalam dirinya saat melihat pria tua itu bekerja keras demi memperbaiki kesalahan yang mungkin bukan sepenuhnya salahnya. Pikirannya melayang ke rutinitas rumah tangga yang monoton, ke malam-malam di mana suaminya lebih sering tertidur lelah daripada menyentuhnya dengan penuh gairah.
91Please respect copyright.PENANAuNv0Yk1JQZ
Setelah hampir dua puluh menit, Ujang berdiri sambil menyeka keringat dengan lengan bajunya.
91Please respect copyright.PENANAUd978BGDsw
Sudah, Bu. Coba Ibu lihat. Masih ada samar-samar, tapi sudah jauh lebih baik.
91Please respect copyright.PENANAioofLHeCpj
Airin memeriksa dengan teliti, jarinya menyentuh area itu. Memang sudah jauh berkurang, tapi bekasnya masih terlihat jika dilihat dari dekat.
91Please respect copyright.PENANASLJ6ML1nhd
Masih ada, Pak. Ini belum selesai. Mungkin perlu dipoles lagi di tempat yang lebih teduh. Di sini panas sekali. Ada tempat lain?
91Please respect copyright.PENANAabBl2J78qH
Ujang ragu sejenak, lalu menunjuk ke arah gudang kecil di pojok parkiran yang agak tersembunyi oleh pohon besar.
91Please respect copyright.PENANANhENii8CH4
Ada gudang kecil di sana, Bu. Ada kipas angin dan teduh. Kalau mau, saya poles di sana biar Ibu tidak kepanasan menunggu.
91Please respect copyright.PENANAomw2zD2yqy
Airin memikirkan sejenak, lalu mengangguk.
91Please respect copyright.PENANAMJ799OZ1uO
Baik. Bawa mobilnya ke sana. Saya ikut.
91Please respect copyright.PENANAel2guRSgSK
Ujang mengambil kunci yang Airin berikan, lalu dengan hati-hati menyetir mobil ke gudang kecil itu. Gudangnya sempit, hanya cukup untuk satu mobil, dindingnya dari seng dan kayu, di dalam ada meja kecil, kursi plastik, dan beberapa peralatan cuci mobil. Kipas angin berdiri menyala pelan, membuat udara sedikit lebih sejuk.
91Please respect copyright.PENANAUPMaTmYbwU
Airin masuk ke dalam gudang setelah mobil diparkir, pintu gudang ditutup setengah agar tidak terlalu terbuka ke luar. Ia berdiri menyandar di meja, memperhatikan Ujang yang kembali jongkok dan melanjutkan poles dengan gerakan lebih teliti.
91Please respect copyright.PENANAyfGHNM7n8X
Saat Ujang mengoleskan cairan polish dan menggosok dengan kain, tangannya sesekali tanpa sengaja menyentuh betis Airin yang berdiri sangat dekat. Sentuhan itu membuat Airin merinding, tapi ia tidak mundur. Malah ia sedikit menggeser posisi kaki sehingga betisnya lebih dekat lagi.
91Please respect copyright.PENANAc6zLSXX67u
Ujang merasakan hal itu, napasnya mulai berat. Ia menoleh ke atas, matanya bertemu dengan mata Airin yang kini tampak berbeda, tidak lagi marah tapi ada kilau aneh di dalamnya.
91Please respect copyright.PENANAnjl7klmH9T
Bu... maaf kalau tadi tangan saya kena.
91Please respect copyright.PENANA7Yqi7teyko
Airin tersenyum tipis, suaranya lebih lembut sekarang.
91Please respect copyright.PENANA0v1v5h1kvf
Tidak apa, Pak. Teruskan saja. Kerjakan dengan baik, nanti saya beri tip lebih kalau benar-benar bersih.
91Please respect copyright.PENANAuj8CN0TWvy
Ujang mengangguk, tapi tangannya kini bergerak lebih lambat, lebih seperti mengelus daripada menggosok. Udara di gudang terasa semakin panas meski kipas berputar. Airin merasakan detak jantungnya lebih cepat, ada hasrat yang lama terpendam mulai bangkit melihat pria sederhana ini yang begitu patuh dan bekerja keras untuknya.
ns216.73.216.37da2


