Hari Selasa siang, gue lagi di kantor, tapi pikiran gue gak fokus ke meeting apa pun. Sudah dua minggu sejak gue mulai chat serius sama Reza di forum itu. Chat kami intens, tapi selalu sopan. Gue ceritain situasi gue: istri cantik, keluarga mampu, lagi explore fantasi hotwife pelan-pelan. Reza balas detail pengalamannya, dia udah jadi bull untuk tiga pasangan di Jakarta selama empat tahun terakhir, semua dari kalangan atas, semua discreet. Dia bilang kunci utamanya respect, komunikasi, dan no attachment emosional. Dia kirim foto badan lebih jelas (six pack terdefinisi, tinggi 183 cm, kulit sawo matang), tapi gak pernah minta foto Lia dulu. “Gue gak mau buru-buru, bro. Kalau lo nyaman, kita ketemu dulu berdua aja,” katanya.
112Please respect copyright.PENANAC7vhiszoOL
Akhirnya gue setuju. Gue ajak ketemu di sebuah kafe kecil tapi eksklusif di Senopati, tempat yang sering dipake orang-orang bisnis Jaksel buat meeting privat. Namanya Brew & Beyond, tempatnya cozy, sofa kulit, pencahayaan redup, dan privacy-nya terjaga karena meja-mejanya terpisah jauh. Gue bilang ke Lia pagi harinya kalau gue ada “meeting sama calon partner bisnis” sore ini, biar dia gak curiga dulu.
112Please respect copyright.PENANAOd2I3eK8ww
Jam 4 sore, gue sampai duluan. Gue pesen flat white, duduk di pojok dekat jendela yang view-nya ke jalan kecil Senopati yang lagi macet. Gue pakai kemeja navy lengan digulung, celana chinos, jam tangan Rolex Submariner yang ortu gue kasih pas ulang tahun ke-30. Gue nervous, jantung gue deg-degan kayak lagi interview kerja pertama.
112Please respect copyright.PENANANGedjbz0ut
Gak lama, Reza masuk. Gue langsung kenal dari foto-fotonya. Dia tinggi, tegap, pakai polo shirt hitam ketat yang nunjukin otot dada dan lengan, celana jeans dark, sepatu sneakers limited edition yang gue tau harganya puluhan juta. Mukanya ganteng banget, rahang tegas, senyum ramah, rambut pendek rapi. Dia langsung nyamperin gue, jabat tangan kuat tapi gak sok dominan.
112Please respect copyright.PENANAav7LEP3fkG
“Rizky, ya? Gue Reza. Seneng akhirnya ketemu langsung.”
112Please respect copyright.PENANAyktBZqq9Cw
“Reza, bro. Duduk aja. Mau pesen apa?”
112Please respect copyright.PENANAdBqlg0B1Wk
Kami pesen kopi lagi, lalu langsung masuk obrolan. Awalnya ringan: kerjaan. Reza bilang dia punya bisnis import barang luxury, jam tangan, tas branded, dan beberapa dealership mobil sport. Keluarganya punya rumah besar di Pondok Indah, dia tinggal sendiri di apartemen mewah di SCBD. “Gue single, bro. Gak mau ribet pacaran serius, makanya lifestyle ini cocok,” katanya sambil senyum.
112Please respect copyright.PENANAq3aXJvhYKI
Lalu kami masuk ke topik utama. Gue ceritain lebih dalam soal Lia, umurnya, kepribadiannya yang manis tapi agak pemalu, gimana gue mulai bujuk dia pelan-pelan selama dua bulan terakhir. Gue bilang Lia udah mulai terbawa imajinasi, tapi masih ragu banget.
112Please respect copyright.PENANAQHxpPoZvBF
Reza dengerin serius, gak nyela. “Bagus banget lo lakuin pelan-pelan, bro. Banyak suami yang buru-buru, akhirnya istri trauma. Gue selalu bilang: istri harus nyaman 100%, suami juga. Kalau ada sedikit aja paksaan, gue mundur.” Dia ceritain pengalamannya sama pasangan sebelumnya, semuanya dimulai dari ketemu bertiga dulu di tempat netral, ngobrol biasa, baru kalau chemistry cocok lanjut ke tahap berikutnya. “Gue gak pernah push. Kalau istri lo bilang stop, ya stop. Period.”
112Please respect copyright.PENANAXRn2GP21gT
Gue semakin yakin. Dia sopan, cerdas, dan keliatan beneran understand boundaries. Gue tanya soal health, dia rutin check-up tiap tiga bulan, selalu pakai kondom kecuali pasangan minta bare dan semua pihak setuju. “Gue punya hasil tes terbaru, nanti bisa gue kirim kalau lo mau.”
112Please respect copyright.PENANA5Ny7Jy72OW
Obrolan kami mengalir dua jam. Gue ceritain gimana Lia mulai bilang “lebih gede” tanpa sadar pas orgasme terakhir kami. Reza senyum tipis, “Itu tanda bagus, bro. Dia udah mulai curious, meskipun bawah sadar. Lo harus terus doktrin pelan, jangan kasih pressure.”
112Please respect copyright.PENANAlFhQxmNkpD
Kami akhirnya sepakat: kalau gue nyaman, langkah selanjutnya ketemu bertiga dulu, cuma dinner atau ngopi, gak ada sentuhan apa-apa. “Lo yang atur tempo, bro. Gue ikut aja.”
112Please respect copyright.PENANA05s4UueQ7X
Kami jabat tangan lagi, dia bayar bill (gue mau belah, tapi dia bilang “biar gue aja, pertama kali ketemu”), lalu kami pisah. Di mobil pulang, gue senyum-senyum sendiri. Reza perfect, kaya, sopan, experienced, dan gak keliatan manipulative. Ini cowok yang gue cari.
112Please respect copyright.PENANAK5WayYwFnG
Sampai rumah jam 7 malam, Lia udah pulang duluan. Dia lagi di dapur, masak nasi goreng seafood kesukaan gue. Aroma bawang putih dan udang nyebar ke seluruh apartemen.
112Please respect copyright.PENANA2kZuIp0g8e
“Mas pulang! Lama banget meetingnya,” katanya sambil cium pipi gue.
112Please respect copyright.PENANAKh9muAs5ik
“Iya, Sayang. Partnernya asik, ngobrolnya panjang.” Gue peluk dia dari belakang, cium lehernya.
112Please respect copyright.PENANA3X2Ep3xmLn
Lia balik badan, matanya nyari-nyari di muka gue. “Partner bisnis apa emang? Cowok atau cewek?”
112Please respect copyright.PENANAZkSJdqvgu0
Gue ketawa kecil. “Cowok, Sayang. Namanya Reza. Orang Jaksel juga, bisnisnya import barang mewah. Kita ngobrol soal kemungkinan kolab.”
112Please respect copyright.PENANAjZvGPW2jAL
Lia angguk, tapi gue tangkap ada kerutan kecil di dahinya. “Oh… ganteng gak?”
112Please respect copyright.PENANAcIZJ5txjHl
Gue pura-pura mikir. “Lumayan lah. Tinggi, six pack, mobilnya Porsche. Tapi Mas lebih ganteng dong.”
112Please respect copyright.PENANAKxhGiPX9ls
Dia cubit pinggang gue pelan. “Ih, Mas. Kok tiba-tiba cerita detail gitu.”
112Please respect copyright.PENANAqBXmqYvWPp
Gue peluk dia lebih erat, bisik di telinga. “Karena Mas lagi mikirin fantasi kita, Sayang. Bayangin kalau Reza ini yang… loh, cemburu ya?”
112Please respect copyright.PENANAnrAwz7tDZS
Lia diam sebentar, mukanya merah. “Enggak kok. Cuma… aneh aja Mas ketemu orang baru terus cerita gini. Mas beneran mau ya? Beneran mau… aku sama orang lain?”
112Please respect copyright.PENANANoB1ZhEqj1
Suara dia pelan banget, campur cemburu kecil dan rasa takut. Gue bisa rasain jantungnya berdetak lebih cepat di dada dia.
112Please respect copyright.PENANAxfabu0l4sH
Gue cium keningnya lembut. “Mas mau kalau kamu juga mau, Sayang. Tapi kita pelan-pelan aja. Gak ada paksaan.”
112Please respect copyright.PENANAk8zafronRN
Dia gak jawab lagi, cuma peluk gue balik dan balik lagi ke kompor. Tapi sepanjang makan malam, gue perhatiin dia agak diam, matanya sering melamun. Gue tau pertanyaan itu “Mas beneran mau ya?”, masih menggantung di pikirannya. Dan itu bikin adrenalin gue naik lagi. Langkah berikutnya semakin dekat.
ns216.73.216.75da2


