Sepulang dari sawah, Tidak lama datang suaminya Diana. Mandra.
494Please respect copyright.PENANAqIPh33NBKj
Diana menyambut kepulangan suaminya itu dengan senyuman hangat. Hari itu hatinya begitu berbunga-bunga.
494Please respect copyright.PENANAzoNOr4iHxy
“ini mas kopinya. “
494Please respect copyright.PENANAPmz9qXGBgy
Diana meletakkan kopi hitam itu di atas meja. Mandra tersenyum mengangguk.
494Please respect copyright.PENANA3cjXzFWWpj
“Gimana perjalanan ke kota mas? aman.” tanya Diana.
494Please respect copyright.PENANAVilfjRpf1b
“Aman-aman aja. mas juga udah beli semua alat-alat yang dibutuhkan, Oh ya bapak sama ibu kemana? “ tanya Mandra melihat suasana rumah agak sepi.
494Please respect copyright.PENANAlaHfW9IxwV
“Ohh. Bapak lagi keluar katanya kerumah mbak Enah, Ibu juga masih disitu.” jawab Diana.
494Please respect copyright.PENANAkAYUMv99sZ
“Ohh. yasudah mas mandi dulu ya. Udah gerah soalnya. ”
494Please respect copyright.PENANAxRWyP2w35x
Diana mengangguk pelan. Mandra pun segera pergi kebelakang sambil membawa handuk.
494Please respect copyright.PENANALHCqvjACym
Tidak berselang lama. Dari depan datang pak Panton dan bu Sulastri.
494Please respect copyright.PENANANtbvejirW7
“Assalamualaikum.. “ panggil keduanya.
494Please respect copyright.PENANAHMNjC0FpG3
“Wa'alaikumsalam.. “ jawab Diana.
494Please respect copyright.PENANApxBwgAXwKQ
Kedua pasangan paruh baya itu melangkah masuk kedalam rumah.
494Please respect copyright.PENANAAyfQx7jYe4
“Mandra udah pulang atau belum neng?” tanya Bu Sulastri.
494Please respect copyright.PENANAYsICkZ4YAC
Diana mengangguk tersenyum. “Udah bu. baru setengah jam ia pulangnya. “
494Please respect copyright.PENANAJnPDh9mCMu
“Oh.. Bagus lah. Ini tolong tarok ini di dapur ya neng, Jangan lupa di panasin biar gak basi. “
494Please respect copyright.PENANAWEIQpZBwHd
Bu Sulastri menyerahkan satu kantong plastik hitam ke Diana.
494Please respect copyright.PENANA1aD8EdRHI8
“Apa ini bu? ” tanyanya.
494Please respect copyright.PENANA21FF90VyS1
“Itu daging kambing rendang. Mbak Enah yang ngasih tadi.”
494Please respect copyright.PENANA717EmP4NA5
“Wahh.. lumayan buat lauk kita nanti bu.” ucap Diana.
494Please respect copyright.PENANAUYkvfYW9Nu
“Iya neng. Makanya ibu suruh neng panasin biar gak basi. ”
494Please respect copyright.PENANAD5LMCxeRRY
“Kalau gitu neng panasin dulu ya bu. ”
494Please respect copyright.PENANAGgBbu5E6ZS
Bu Sulastri mengangguk pelan. Diana pun segera ke dapur guna memanaskan rendang daging itu. Sedangkan pak Panton dia duduk di ruang tengah bersama sang istri.
494Please respect copyright.PENANAUiSLd9IU16
“Bapak gak langsung mandi aja? Dari sawah tadi loh. ” tanya bu Sulastri.
494Please respect copyright.PENANAROOUG3mszI
“Nanti aja bu masih capek. “
****
Singkat waktu. Malam pun sudah tiba. Langit sudah digantikan oleh awan hitam serta sinar bintang dan bulan.
494Please respect copyright.PENANAl2PGh64gSa
Keluarga basar itu makan bersama. Dan di akhiri berpisah kamar.
494Please respect copyright.PENANAuncZ3JZMrS
Suasana malam itu sunyi tapi damai. Namun siapa sangka dalam kesunyian itu ada sebuah rahasia yang sangat besar.
494Please respect copyright.PENANA1Wp1EN0l3J
Ruangan gelap hanya ada sinar api lilin menyala.
494Please respect copyright.PENANAfYIf0u1mQt
Pak Panton duduk dalam kondisi meditasi. Nafasnya begitu teratur. Tenang dan fokus.
494Please respect copyright.PENANAQ6IiduaSKg
Entah apa yang sedang ia lakukan di ruangan kumuh itu.
494Please respect copyright.PENANAghTTBbEfyw
Beberapa menit kemudian. Suasananya berubah drastis.
494Please respect copyright.PENANAHUrf7M7sHD
Suhunya semakin panas. Membuat tubuh tua pak Panton bercucuran keringat.
494Please respect copyright.PENANAyufPIlfUKT
Dan tiba-tiba..
494Please respect copyright.PENANAM3OqYA6hPy
Whuss!
494Please respect copyright.PENANABOGrFckJja
Deru angin muncul entah dari mana. Memadamkan beberapa lilin.
494Please respect copyright.PENANAqJoGB2UOo5
Lalu pak Panton membuka matanya. Ekspresi pak Panton sangat berbeda dari pada biasanya.
494Please respect copyright.PENANAMXk6wKOzD3
Kali itu auranya berubah 90 darajat. Ia tersenyum menyerangai.
494Please respect copyright.PENANAQWPJBSoNFo
“Darto-Darto. aku kira hanya ibu Narsih yang kau embat, ternyata kau juga mengembat istrinya pak kepala desa sama ibu-ibu yang lain. Memang kau tua-tua sialan.”
494Please respect copyright.PENANAZ1TZkIsHKd
Lalu pak Panton membuat gerakan tengan yang sangat sulit untuk di tebak. Gerakan itu begitu kuno.
494Please respect copyright.PENANAYO6fKj3QuX
Dan penuh aura mistis. Lalu pak Panton menghibaskan kedua telapak tangannya ke dadanya.
494Please respect copyright.PENANAAJ7Ectd0hr
Bughh!
494Please respect copyright.PENANA6MAATDnc8n
“Ughh.. huekk.“
494Please respect copyright.PENANAZK9S9K8ntS
Pak Panton memuntahkan cairan berwarna darah gelap. Cairan itu mengumpul seakan tidak dapat dihancurkan.
494Please respect copyright.PENANATswLa3rIo4
494Please respect copyright.PENANAkXDDLlO02O
“Sebenarnya aku tidak ingin lagi kembali kedalam jalan itu. Tapi desa ini sepertinya semakin lama, Semakin tidak tentu arah, Karena kalian sudah mengusik menantuku, Maka aku juga tidak bisa tinggal diam lagi.“
494Please respect copyright.PENANAYzICwHIX0y
Pak Panton segera melingkari gumpalan darah gelap itu dengan cahaya api lilin.
494Please respect copyright.PENANABLhw0PyMUr
Lalu mulut pak Panton berkomat-kamit entah apa yang sedang ia lakukan.
494Please respect copyright.PENANA3qKDDgvDht
Namun secara tiba-tiba. Muncul suara desingan angin.
494Please respect copyright.PENANA5X83J71V1O
Begitu suara angin itu tidak ada lagi. Pak Panton membuka matanya. Kini didepan ada sebuah mutiara tiga warna ukurannya. Hanya sebesar kelereng.
494Please respect copyright.PENANAS0hGPCthMY
“Akhirnya.. Berhasil juga.. Huhhff.” gumamnya.
494Please respect copyright.PENANAtxIY3LRy40
Nafas pak Panton sedikit ngos-ngosan. Wajahnya pun sedikit pucat.
494Please respect copyright.PENANAf26tT1j1S2
Lalu mutiara tiga warna itu. di ambil oleh pak Panton. Ia menatapnya cermat.
494Please respect copyright.PENANAs3hTW72rDD
494Please respect copyright.PENANAzLEnc2B0IZ
“Mutiara cendonolongit. Akhirnya kita bertemu kembali. ”
494Please respect copyright.PENANAq0h0cUMPJG
Mutiara cendonolongit, adalah sebuah harta yang nilai tidak terhingga, Mutiara cendonolongit bukan sembarangan mutiara.
494Please respect copyright.PENANAz5fgEqtrMv
Itu adalah salah satu harta goib serta bumi, Konon dulu jika ada orang melenalan mutiara itu. Orang itu akan mendapatkan kedigdayaan goib.
494Please respect copyright.PENANARFwEQu3KVb
Dan rumor itu memang tidak abal-abal. Sebab pak Panton sudah mencobanya beberapa kali.
494Please respect copyright.PENANATyhhq4vbNx
Tidak ingin berlama-lama lagi. Pak Panton pun menelan mutiara cendonolongit.
494Please respect copyright.PENANAVqcm9DklAk
“Aarrghhh.. ”
494Please respect copyright.PENANAd3m3gx5E0t
Pak Panton mengerang pelan. Ia merasakan setiap persendian tubuhnya begitu panas, Namun tidak berlangsung lama.
494Please respect copyright.PENANAGvfR3npBhE
“Tidak berubah. kau selalu membuat ku terkejut. ”
494Please respect copyright.PENANAUy3UJbjZJ7
Sebuah suara serak mengagetkan pak Panton. Suara itu tidak datang dari sebelah kiri mau pun kanan dan depan.
494Please respect copyright.PENANABi01GpGwgJ
Suara itu seolah-olah tidak memiliki arah. Ia hanya menggema.
494Please respect copyright.PENANAvRui1r8qFM
“Arrghhh.. eyang, salam hormat. “ ucap pak Panton terbata-bata.
494Please respect copyright.PENANATZBs3ih73a
Ia segera menundukkan kepalanya. Lalu tidak berselang lama. Muncul sesosok pria tua bersurban hitam.
494Please respect copyright.PENANAmQFGUyaHZY
Penampilannya begitu mencolok. Jenggot berwarna putih kulitnya sudah keriput namun sangat tegas.
494Please respect copyright.PENANAWjfsyIwzuH
Di kepalanya. kain hitam melingkar menutupi rambut bagian atas.
494Please respect copyright.PENANAN678QeTaYM
“Kau kenapa melangkah lagi ke jalan ini. Wahai cucu ku? Tidaklah cukup kau menapaki selama empat tahun lalu? ” ucap sosok pria tua itu.
494Please respect copyright.PENANAoDoO6mCCFs
Tingginya hanya sekitar 160 lebih. Satu tangannya kebelakang satu lagi mengelus jenggotnya.
494Please respect copyright.PENANAkhey4z72wc
494Please respect copyright.PENANAz5e19N1NcY
Ia tidak menghadap ke pak Panton. Melainkan membelakanginya.
494Please respect copyright.PENANAZ0Rf5IPrYp
“Hmm... aku rasa eyang pun tau, kenapa aku melangkah kembali ke jalan ini. ” ucap pak Panton penuh kehati-hatian.
494Please respect copyright.PENANAz9WTbYJkH7
Pria tua itu sekilas tersenyum.
494Please respect copyright.PENANAjKOxMKuYhD
“Baiklah jika itu yang kau inginkan.. Tapi ingat satu hal wahai cucu ku.”
494Please respect copyright.PENANALDXD4IJHlB
“Jangan terlalu lama kamu menapaki jalan ini. Sebab wadah seperti mu tidak akan sanggup menanggung bebannya, Jika tadi kamu berlatih dari awal. Mungkin itu tidak akan masalah dan eyang ingatkan, kau boleh melakukan apa saja yang kau mau, tapi itu semua harus kau pertanggung-jawaban jangan lari dari perbuatan cucu ku.”
494Please respect copyright.PENANAHJQbEoYF2v
Whuuss..
494Please respect copyright.PENANAhRYfvDx1M2
Sosoknya pun seketika menghilangkan. seperti tidak pernah ada.
494Please respect copyright.PENANAfhdYRN9oEf
“Baik eyang.. Aku akan ingat itu. ” gumam pak Panton.
494Please respect copyright.PENANAvPVMijXmCP
Setelah semuanya selesai. Pak Panton memilih untuk keluar setelah memadamkan api lilin.
494Please respect copyright.PENANAS1kID7MrAA
Ia segera ke kamarnya untuk tidur. Karena sebentar lagi matahari sudah terbit.
494Please respect copyright.PENANA7bCqUMcd4x
*****
494Please respect copyright.PENANAkq14VyzkXr
Pagi harinya. Tempat pukul tujuh pagi. Diana keluar rumah.
494Please respect copyright.PENANA67gcqKPSmU
“Bu. Diana ke warung pak Darto dulu ya mau beli sayuran. ” ucap Diana dari depan.
494Please respect copyright.PENANANFPDs7Ctko
“Iya neng. Hati-hati di jalan. ” ucap suara bu Sulastri dari dalam rumah.
494Please respect copyright.PENANAp72JLOw8fW
Diana pun segera pergi, Pagi itu ia mengenakan daster longgar bermotif bunga.
494Please respect copyright.PENANAw8Ab4lIQWs
Sesampainya di warung pak Darto. Tempat itu sudah tidak lagi ramai. Hanya ada beberapa ibu-ibu lagi.
494Please respect copyright.PENANARZA8NvFOmf
494Please respect copyright.PENANAtzaX78Texg
Diana menyapa mereka penuh sopan santun. Begitu pun sebaliknya.
494Please respect copyright.PENANApjuzoN4vtF
Diana memilih sayuran serta beberapa ikan lokal yang di jual.
494Please respect copyright.PENANAlseuN4FGV5
“Berapa semuanya pak? “ tanya Diana.
494Please respect copyright.PENANAFBBgYjA7Yk
“45 ribu neng. “ ucap pak Darto.
494Please respect copyright.PENANAF4HLtJmCYZ
Diana menyerahkan satu uang lembaran berwarna biru. Pria tua pun segera mengambil dan menukarnya.
494Please respect copyright.PENANAl99D3k2dVx
“Ini neng kembaliannya limar ribu. ”
494Please respect copyright.PENANAV9C7GpG2N3
“Terimakasih pak.“
494Please respect copyright.PENANAR3SGbIdTd2
Saat hendak ia ingin pergi. Tiba-tiba saja ia di panggil salah satu ibu-ibu. yang tak lain adalah ibu Narsih.
494Please respect copyright.PENANA7WUNJQwsKf
“Neng Diana. Tunggu.“
494Please respect copyright.PENANALRdOdCbLea
Diana menoleh. “ iya ada apa ya bu? ”
494Please respect copyright.PENANAxSkrXtBL32
Bu Narsih mendekati Diana. Ia sedikit tersenyum.
494Please respect copyright.PENANAVJpnNBW9zN
“Hmm.. neng ada waktu gak? Soalnya ibu mau bicara sebentar.” ucap bu Narsih.
494Please respect copyright.PENANAFrZqHjS72W
“Boleh. Mau bicara apa emang bu? ” tanya Diana.
494Please respect copyright.PENANAGJhsJZA33J
“Jadi gini. ibu ada sesuatu yang mau bicarakan, Kalo disini rasanya kurang nyaman. Gimana nanti ibu datang kerumah? ” usul bu Narsih.
494Please respect copyright.PENANAIeBAXG5IpJ
“Boleh.. ibu datang aja kalo gitu. ”
494Please respect copyright.PENANAWMLDB6yly5
“Yasudah.. nanti siang ibu datang. ”
494Please respect copyright.PENANAV7CedEcGV6
Setelah itu Diana pun pemit pergi. Sedangkan bu Narsih kembali ke warung pak Darto.
494Please respect copyright.PENANA2EJbFDnDrn
Kini warung itu sudah sepi pembeli. Pak Darto melihat kedatangan bu Narsih. Ia tersenyum.
494Please respect copyright.PENANAp87hZlAS9D
“Gimana bu, Aman? ” tanya pak Darto.
494Please respect copyright.PENANA9gMnWygeCq
Bu Narsih tersenyum mengangguk pelan. “ Aman lah. Siapa dong yang ajak.”
494Please respect copyright.PENANAHjZs3fdPWW
“Widihh... Bagus bagus. Kalo gitu sini masuk kerumah dulu bu. mupung istri saya tidak ada.” ucap pak Darto mengedipkan matanya.
494Please respect copyright.PENANAuAWT6cImq3
Bu Narsih tersenyum salah tingkah. ia pun segera masuk kedalam rumah pak Darto sekaligus tempat jualannya.
494Please respect copyright.PENANAIaC7v4RdCn
“Kiyahhh.”
494Please respect copyright.PENANAaYk6kSadMW
Tubuh bahenol bu Narsih di tarik oleh pak Darto.
494Please respect copyright.PENANA2NU2MRZFV7
“Chuphhh Uhmmm Sruphhh.”
494Please respect copyright.PENANAsw9kW3Ni5V
Kedua segera berciuman penuh hasrat. Mereka melakukannya tidak dalam rumah melainkan di tempat pak Darto jualan.
494Please respect copyright.PENANAxVZCV89OYY
Untuk tempat itu agak tertutup oleh papan kayu. Jadi tidak terlihat apa yang mereka lakukan.
494Please respect copyright.PENANAzD8vwcXSRD
“Aahhh Ughhmmm cepat pak takut datang orang nanti. ” ucap bu Narsih.
494Please respect copyright.PENANAMrPheaH0S5
“Sabar to bu.. tempik mu belum basah. Sini jongkok. ”
494Please respect copyright.PENANAmOpGEnFobB
(Kelanjutan dari kisah ini bisa kalian kunjungi melalui lin!k bawah 👇ini
494Please respect copyright.PENANA63cFYJuO3f
https://bit.ly/4cqMj8W494Please respect copyright.PENANAwuds5pBkzP


