Aku bernama Nindy, 22 tahun, gadis biasa yang hidup di rumah Paman Huda sejak dua tahun lalu. Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil di jalan tol Surabaya-Malang. Paman Huda, saudara kandung ayahku, langsung mengambil alih perwalianku. Dia duda berusia 48 tahun, istrinya meninggal karena kanker payudara tiga tahun sebelumnya. Rumah kami di pinggir kota Surabaya, besar tapi sepi. Hanya aku dan dia.
Awalnya Paman Huda terlihat biasa saja. Dia pekerja kantoran, pulang sore, kadang minum bir di teras sambil menonton bola. Aku kuliah semester akhir di universitas swasta, jurusan akuntansi. Tiap malam aku masak untuk dia, cuci piring, bersih-bersih rumah. Dia bilang aku “keponakan kesayangan” yang sudah seperti anak sendiri. Tapi akhir-akhir ini matanya berubah. Aku sering merasa dia memandangku terlalu lama saat aku pakai baju rumah yang tipis. Dada aku yang besar, pinggang ramping, pantat yang kencang karena olahraga rutin—semuanya seolah dia catat dalam ingatannya.
Malam itu adalah titik balik. Hujan deras mengguyur Surabaya. Aku baru pulang dari kampus jam sembilan malam, basah kuyup. Aku langsung mandi, pakai tanktop putih tipis dan celana pendek hitam yang ketat. Tidak pakai bra karena capek. Saat keluar kamar mandi, Paman Huda sudah duduk di ruang tamu, memegang botol bir kosong. Matanya merah, napasnya berat.
“Nindy, duduk sini,” katanya dengan suara serak.
Aku ragu, tapi patuh. Aku duduk di sofa seberangnya. Dia menatap dada aku yang tanpa bra, putingku samar terlihat karena kain basah. “Paman… ada apa?” tanyaku pelan.
Dia tidak jawab. Tiba-tiba berdiri, mendekat, dan tangannya langsung meraih bahu aku. “Kamu sudah besar, Nindy. Sudah waktunya kamu balas semua kebaikan Paman.” Bau alkohol kuat dari mulutnya. Aku mencoba menjauh, tapi tangannya kuat sekali. “Paman, jangan… aku keponakanmu!”
Dia tertawa sinis. “Keponakan? Kamu cuma cewek yang tinggal gratis di rumahku. Istriku sudah mati, Nindy. Sudah tiga tahun Paman tidak pernah sentuh perempuan. Kamu pikir Paman bisa tahan lihat tubuhmu setiap hari?”
Aku berusaha berdiri, tapi dia mendorong aku hingga terjengkang di sofa. Tangan besarnya langsung menjepit kedua pergelangan tanganku di atas kepala. “Jangan teriak. Kalau kamu teriak, besok aku usir kamu dari rumah ini. Mau ke mana? Tidak ada siapa-siapa lagi.”
Air mata aku langsung mengalir. “Paman… please… aku masih perawan…”
List Cerita Dari Shalltear3779Please respect copyright.PENANAxbNgpXBbiR
docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing
pdf lynk.id/bande41
ns216.73.216.26da2


