1494Please respect copyright.PENANAgV3OSXkBBz
Namaku Laras Ayu Pratiwi. Umur 20 tahun, semester 5 Jurusan Manajemen di salah satu universitas negeri di Malang. Tubuhku tinggi semampai, kulit sawo matang bersih, rambut hitam lurus sebahu, dan orang bilang aku punya senyum yang “bikin orang betah ngobrol”. Dulu aku memang cewek biasa yang aktif di organisasi kampus, suka nongkrong sama temen-temen, dan mimpi jadi manager marketing setelah lulus.
Semua berubah sejak aku mengambil mata kuliah “Manajemen Strategis” semester ini.
Dosen pengampunya bernama Dr. Adrian Wijaya. Umur 34 tahun, baru pindah dari Jakarta. Tinggi, rahang tegas, kacamata tipis, dan suaranya dalam serta tenang seperti sedang membaca puisi saat mengajar. Mahasiswi pada naksir berat. Aku juga awalnya cuma mengagumi dari jauh.
Hingga suatu sore di minggu ketiga kuliah.
Aku terlambat mengumpulkan tugas kelompok karena ketua kelompokku sakit. Aku datang ke ruangan dosen pukul 18.20, gedung sudah sepi. Hanya lampu meja Adrian yang menyala.
“Masuk,” suaranya terdengar dari dalam.
Aku mendorong pintu. Adrian duduk di kursi kerjanya, kemeja biru tua lengan digulung, memperlihatkan lengan yang berotot. Dia menatapku dari atas kacamata.
“Laras Ayu, kan? Tugas kelompokmu.”
“Iya, Pak. Maaf terlambat. Ini saya bawa hardcopy dan softcopy-nya.”
Aku meletakkan map di meja. Adrian membukanya pelan, membaca sekilas, lalu melempar map itu kembali ke arahku dengan gerakan kasar.
“Jelek. Analisis SWOT-mu dangkal. Kesimpulannya copy-paste. Kamu pikir ini cukup untuk lulus mata kuliahku?”
Aku langsung panik. “Pak… ini sudah kami kerjakan berjam-jam. Tolong kasih kesempatan revisi.”
Adrian berdiri, berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di depanku. Jarak kami sangat dekat. Aroma parfum mahalnya tercium jelas.
“Revisi? Tentu saja boleh. Tapi aku bukan dosen yang suka memberi nilai gratis.” Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah. “Kamu cantik, Laras. Tubuhmu bagus. Payudaramu kencang. Bokongmu… menggoda. Aku suka mahasiswi yang seperti kamu.”
Wajahku langsung panas. Aku mundur selangkah. “Pak… apa maksud Bapak?”
Adrian tersenyum tipis, tangannya menyentuh dagu ku, memaksa aku menatap matanya.
“Maksudku sederhana. Kamu mau nilai A di mata kuliah ini tanpa revisi susah payah? Atau mau ulang semester depan? Pilih.”
Air mataku langsung menggenang. “Pak… jangan. Ini nggak benar.”
Dia tertawa pelan. “Benar atau salah itu relatif. Yang jelas, aku pegang nilaimu. Dan aku punya rekaman CCTV di koridor ini. Kalau kamu tolak, besok seluruh fakultas akan tahu bahwa Laras Ayu menawarkan diri ke dosen untuk nilai bagus. Mau coba?”
Aku gemetar hebat. Ayahku pensiunan guru SD, ibuku penjahit. Kalau aku gagal semester ini, beban mereka akan bertambah. Aku tidak punya pilihan.
Dengan suara bergetar aku bertanya, “Apa… yang harus saya lakukan, Pak?”
Adrian tersenyum menang. Dia duduk di pinggir meja dan membuka resleting celananya.
“Mulai dengan berlutut. Lepas bajumu dulu. Perlahan. Aku mau nikmati setiap detiknya.”
Malam itu, di ruangan dosen yang temaram, aku menangis sambil melepas kemeja dan bra-ku. Payudaraku yang montok terbebas. Adrian meremasnya kasar, lalu memaksa kepalaku turun ke pangkuannya.
Mulutku yang masih perawan merasakan kontolnya yang besar dan berurat untuk pertama kali. Aku tersedak, air mata mengalir, tapi Adrian memegang kepalaku kuat-kuat.
“Bagus… isap lebih dalam. Kamu akan belajar cepat, Laras.”
Malam itu dia tidak langsung menyetubuhiku sepenuhnya. Dia hanya memaksa aku mengisap dan menjilati sampai dia keluar di mulutku. Sperma asin dan kental itu terasa menyesakkan. Aku muntah di wastafel ruangan setelahnya.
Sebelum aku pulang, Adrian berkata dengan suara dingin:
“Besok malam kamu datang lagi ke apartemenku. Kalau tidak, video CCTV malam ini akan beredar. Dan ingat — mulai sekarang, kamu adalah milikku.”
Aku berjalan pulang ke kosan dalam keadaan hancur. Tubuhku masih bergetar. Mulutku masih terasa asin. Di dalam hati, aku tahu hidupku sudah berubah selamanya.
Tapi yang paling menakutkan adalah… meski aku benci dan jijik, tubuhku bereaksi. Putingku mengeras saat mengingat remasan Adrian. Memekku sedikit basah meski aku menangis sepanjang jalan.
List Cerita:docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing
pdf lynk.id/bande41
ns216.73.217.22da2


