/story/209639/asmirandah-di-balik-layar-sinetron/toc
Asmirandah di Balik Layar Sinetron | Penana
arrow_back
Asmirandah di Balik Layar Sinetron
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Asmirandah di Balik Layar Sinetron
Barashin
Intro Table of Contents Comments (0)

Bulan Pertama

Pagi itu udara di lokasi syuting terasa lembab, khas Jakarta yang
sudah mulai panas meski jam baru menunjukkan pukul setengah delapan. Finz
berdiri di depan monitor besar yang menampilkan rundown hari pertama syuting
sinetron terbaru Rumah Produksinya. Usianya sudah menginjak 38 tahun, tubuhnya
tegap dengan bahu lebar, rahang tegas, dan rambut pendek yang mulai ada uban
tipis di pelipis — ciri khas pria mapan yang lebih suka mengawasi dari belakang
layar daripada ikut main di depan kamera.

 

Finz bukan tipe produser yang suka bergaul liar dengan artis. Ia
dikenal tegas, profesional, dan jarang sekali terlibat hubungan pribadi dengan
talenta yang ia kontrak. Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda.

 

“Asmirandah sudah datang?” tanya Finz kepada asisten sutradara tanpa
mengalihkan pandangan dari monitor.

 

“Sudah, Pak. Lagi di ruang rias nomor dua,” jawab asisten itu cepat.

 

Finz mengangguk pelan. Nama itu sudah ia dengar berkali-kali saat
casting. Asmirandah Zantman — atau Maria Asmirandah Wattimena seperti yang
tercantum di kontrak terbaru. Ia tahu profilnya: aktris senior yang sempat
populer di era sinetron 2000-an, kini kembali setelah beberapa tahun lebih
fokus ke keluarga. Usianya 36 tahun, sudah menikah, punya satu anak perempuan.
Finz biasanya tidak terlalu memikirkan latar belakang pribadi artis, tapi kali
ini ada catatan kecil di benaknya: wanita ini dipilih karena chemistry alaminya
yang kuat dan kemampuan akting yang matang.

 

Ia memutuskan untuk menyapa langsung. Langkahnya mantap menyusuri
koridor backstage yang ramai dengan kru yang sibuk memasang lampu dan setting.

 

Ruang rias nomor dua pintunya sedikit terbuka. Finz mengetuk dua
kali sebelum masuk.

 

Di dalam, Asmirandah sedang duduk di depan cermin besar. Rambut
hitamnya yang panjang tergerai lembut di bahu, make-up tipis yang membuat kulit
putih susunya terlihat glowing. Ia mengenakan kimono longgar berwarna krem yang
biasa dipakai artis sebelum ganti kostum syuting. Saat pintu terbuka, ia
menoleh, dan mata mereka bertemu untuk pertama kali.

 

“Pagi, Pak Finz,” sapa Asmirandah dengan suara lembut, nada yang
khas — pelan, hangat, sedikit manja tanpa dibuat-buat. Ia tersenyum kecil,
bibir penuhnya melengkung manis. “Saya Asmirandah. Senang akhirnya bertemu
langsung.”

 

Finz merasakan sesuatu bergerak di dada. Bukan nafsu kasar, tapi
ketertarikan yang tiba-tiba. Wanita di depannya terlihat lebih cantik dari
foto-foto yang ia lihat selama persiapan proyek. Wajah oval-heart shape yang
lembut, mata almond yang besar dan ekspresif, hidung mancung sedang, dan senyum
yang terasa tulus. Aura Indo-Belanda-nya masih sangat kentara — kulit cerah,
fitur halus, tapi tetap terasa hangat dan approachable seperti ibu rumah tangga
modern.

 

“Pagi, Andah,” balas Finz santai, memanggil dengan panggilan akrab
yang biasa dipakai di industri ini. Ia mengulurkan tangan. “Finz. Owner PH ini.
Senang kamu mau ambil peran ini.”

 

Tangan mereka bersentuhan. Telapak tangan Asmirandah lembut dan
hangat. Sentuhan itu hanya sebentar, tapi Finz merasakan ada sedikit getaran
yang tidak biasa. Asmirandah juga terlihat sedikit salah tingkah, meski ia
cepat menyembunyikannya dengan senyum.

 

“Makasih udah kasih kesempatan lagi buat saya,” kata Asmirandah
sambil menarik tangan pelan. “Sudah lama nggak full main sinetron. Anak saya
masih kecil, jadi saya agak khawatir soal jadwal.”

 

Finz mengangguk mengerti. “Kita usahakan jadwalnya ramah keluarga.
Kalau ada yang perlu di-adjust, langsung bilang ke saya atau sutradara. Saya
nggak suka artis kelelahan.”

 

Mereka mengobrol sebentar soal karakter yang akan dimainkan
Asmirandah — seorang ibu muda yang kuat tapi punya sisi rapuh. Finz menjelaskan
visinya untuk proyek ini dengan suara tenang dan percaya diri. Asmirandah
mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, mata besarnya sesekali
melirik Finz lebih lama dari yang seharusnya.

 

Finz memperhatikan detail kecil: cara Asmirandah menggigit bibir
bawah saat berpikir, bagaimana rambutnya jatuh menutupi sebagian pipi, dan
aroma parfum ringan yang manis tapi tidak menyengat. Ia juga melihat cincin
kawin di jari manis Asmirandah — pengingat jelas bahwa wanita ini sudah
bersuami. Tapi entah kenapa, hal itu justru membuat Finz merasakan tantangan
yang aneh.

 

“Kalau boleh jujur,” kata Finz tiba-tiba, “saya pilih kamu bukan
cuma karena pengalaman aktingnya. Kamu punya aura yang natural. Penonton pasti
percaya sama peran ibu yang kamu mainkan.”

 

Asmirandah tersipu sedikit. Pipinya memerah tipis. “Wah, terima
kasih, Pak. Saya usahain yang terbaik. Kadang-kadang saya merasa… setelah punya
anak, saya agak kehilangan ‘sesuatu’. Tapi proyek ini kayak kasih kesempatan
buat saya merasa hidup lagi di dunia akting.”

 

Finz tersenyum tipis. “Kamu nggak kehilangan apa-apa, Andah. Malah
kelihatan lebih matang dan… menarik.”

 

Kata-kata itu keluar begitu saja. Bukan rayuan murahan, tapi tulus.
Asmirandah menatap Finz sesaat lebih lama, ada kilatan sesuatu di matanya —
campuran terkejut dan… senang?

 

Obrolan mereka terpotong karena sutradara memanggil untuk briefing
awal. Finz mengangguk sopan.

 

“Kita lanjut nanti ya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya,”
kata Finz sebelum keluar ruangan.

 

“Siap, Pak Finz,” jawab Asmirandah dengan suara lembutnya.

 

Sepanjang hari pertama syuting, Finz duduk di belakang monitor,
mengawasi setiap take. Tapi matanya sering kali tertuju ke Asmirandah. Cara ia
berakting — ekspresif, natural, dengan senyum yang membuat karakter terasa
hidup. Setiap kali adegan break, Asmirandah sesekali melirik ke arah Finz,
seolah memastikan apakah bos besar ini puas dengan penampilannya.

 

Sore harinya, saat syuting hari pertama selesai, Finz berdiri di
pinggir set. Asmirandah mendekat setelah berganti baju casual — kaos longgar
dan jeans yang masih menonjolkan pinggang rampingnya pasca-liposuction.

 

“Gimana hari ini, Pak?” tanya Asmirandah pelan.

 

“Bagus. Kamu perform di atas ekspektasi,” jawab Finz jujur. “Besok
kita lanjut adegan yang lebih berat emosinya. Istirahat yang cukup ya.”

 

Asmirandah tersenyum. “Makasih. Saya pulang dulu. Suami sama anak
nunggu di rumah.”

 

Finz mengangguk, tapi ada sedikit rasa aneh di dada saat mendengar
kata “suami”. Ia mengusir pikiran itu.

 

Malam harinya, di apartemennya yang mewah, Finz duduk di sofa sambil
memegang ponsel. Ia membuka chat grup produksi, lalu secara pribadi membuka
nomor Asmirandah yang sudah tersimpan sejak kontrak ditandatangani.

 

Ia mengetik pesan sederhana:

 

“Terima kasih sudah kerja keras hari ini, Andah. Semoga besok lebih
lancar.”

 

Pesan terkirim.

 

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

 

Asmirandah: “Makasih banyak, Pak Finz. Hari ini seru. Saya juga
excited buat besok. Selamat malam
😊

 

Finz tersenyum tipis sambil membaca balasan itu. Hanya emoji senyum
biasa, tapi entah kenapa terasa hangat. Ia meletakkan ponsel, tapi pikirannya
masih tertinggal di wajah Asmirandah yang lembut, suaranya yang manja, dan
senyum yang membuatnya ingin melihat lebih lama.

 

Hari pertama syuting baru saja berakhir, tapi Finz sudah merasa ini
bukan proyek biasa.

 

Dan di rumahnya yang nyaman di kawasan elite Jakarta, Asmirandah
sedang menggendong Chloe yang baru tidur. Ia melirik ponsel yang menyala karena
notifikasi chat dari Finz. Senyum kecil muncul di bibirnya. Ia membalas dengan
cepat, lalu meletakkan ponsel.

 

Tapi malam itu, sebelum tidur, pikirannya sempat melayang sebentar
ke tatapan Finz yang tenang tapi intens. Tatapan yang membuatnya merasa…
dilihat lagi sebagai wanita, bukan hanya sebagai ibu atau istri.

 

Hanya hari pertama.

 

Tapi benih itu sudah mulai ditanam.

 

---

 

Hari kedua syuting berjalan lebih intens dari hari pertama. Lokasi
masih di rumah mewah di BSD, pagi itu udara terasa sedikit lebih lembab. Finz
tiba tepat waktu, mengenakan kemeja hitam lengan digulung dan celana chino
gelap. Ia langsung menuju area monitor utama, memeriksa rundown dan catatan
sutradara untuk hari ini.

 

Tak lama kemudian Asmirandah datang. Ia mengenakan hoodie oversized
berwarna cream dan legging hitam yang membuat tubuhnya yang sudah kembali slim
terlihat proporsional. Rambutnya diikat ponytail sederhana, wajahnya fresh
dengan make-up tipis. Begitu melihat Finz di dekat monitor, ia mendekat dengan
senyum kecil.

 

“Pagi, Pak Finz,” sapanya lembut, suara khasnya yang hangat dan
sedikit manja terdengar jelas.

 

Finz menoleh dan tersenyum tipis. “Pagi, Andah. Tidur nyenyak
semalam?”

 

Asmirandah mengangguk sambil berdiri di sampingnya, jaraknya masih
sopan. “Lumayan, Pak. Chloe agak rewel malam-malam, tapi secara keseluruhan
cukup istirahat. Bapak sendiri?”

 

“Aku tidur cukup. Mikirin proyek ini terus,” jawab Finz. “Hari ini
ada adegan emosional yang cukup berat di pagi hari. Anda siap?”

 

“Siap, Pak. Saya sudah baca ulang script semalam. Semoga take-nya
lancar,” balas Asmirandah sambil tersenyum.

 

Mereka mengobrol singkat tentang adegan hari ini. Finz menjelaskan
beberapa catatan sutradara dengan suara tenang dan profesional. Asmirandah
mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, mata besarnya sesekali
melirik Finz lebih lama dari yang biasa.

 

Setelah briefing pagi selesai, Asmirandah masuk ke ruang rias untuk
persiapan kostum. Finz kembali ke posisinya di belakang monitor. Sepanjang
pagi, tatapannya sering tertuju pada Asmirandah saat ia sedang mengambil
adegan.

 

Ada satu adegan di mana karakter Asmirandah harus menunjukkan
ekspresi rapuh — mata berkaca-kaca, suara bergetar pelan. Finz memperhatikan
bagaimana Asmirandah menjalankannya dengan sangat natural. Air mata yang
menggenang di mata almondnya terlihat nyata dan menyentuh. Saat sutradara
mengucapkan “cut”, Finz tanpa sadar tersenyum kecil.

 

Asmirandah keluar dari set dan langsung mencari Finz dengan
pandangan. Ia mendekat sambil menyeka sudut mata yang masih sedikit basah.

 

“Gimana, Pak Finz?” tanyanya pelan. “Terlalu berlebihan tidak?”

 

Finz menggeleng. “Justru sangat bagus. Kamu membuat penonton pasti
akan ikut merasakan emosinya. Air matanya terlihat asli.”

 

Asmirandah tersipu ringan. “Terima kasih, Pak. Kadang saya suka
masuk terlalu dalam ke peran. Setelah itu capek sendiri.”

 

Mereka berdiri agak terpisah dari kru lain. Finz menatap Asmirandah
lebih lama dari biasanya. Wajah oval-heart shape yang lembut, mata besar yang
ekspresif, bibir penuh yang masih sedikit bergetar karena adegan tadi, dan
kulit putih susunya yang glowing di bawah cahaya set. Ada sesuatu pada wanita
ini yang membuat Finz ingin terus memperhatikan.

 

“Kamu kelihatan agak capek,” kata Finz pelan. “Istirahat dulu di
ruang ganti. Nanti saya suruh orang bawakan minum hangat.”

 

Asmirandah mengangguk. “Terima kasih perhatiannya, Pak Finz.”

 

Sebelum berbalik, ia menatap Finz sesaat. Tatapan itu membuat
Asmirandah merasa sedikit geli di perut — bukan geli biasa, melainkan sensasi
aneh yang hangat. Tatapan Finz tenang tapi intens, seolah benar-benar melihat
dirinya, bukan hanya sebagai aktris di kontrak.

 

Sepanjang siang, pola itu berulang. Setiap kali ada break,
Asmirandah akan mendekat untuk bertanya pendapat Finz atau sekadar berbincang
ringan. Finz juga sengaja mendekat saat Asmirandah sedang istirahat. Obrolan
mereka mulai mengalir lebih mudah, meski masih dalam batas profesional.

 

Di salah satu break sore, mereka duduk di kursi lipat di pojok
lokasi yang agak sepi. Asmirandah memegang botol air mineral, Finz duduk di
sebelahnya dengan jarak yang masih sopan.

 

“Saya dengar Kamu jarang main sinetron lagi setelah punya anak,”
kata Finz tiba-tiba. “Kenapa akhirnya memutuskan ambil proyek ini?”

 

Asmirandah menatap ke depan sebentar sebelum menjawab. “Karena saya
kangen rasanya berakting. Di rumah saya lebih sering menjadi ibu Chloe dan
istri. Kadang saya merasa… kehilangan sedikit bagian diri saya yang dulu.
Proyek ini seperti memberi kesempatan untuk menemukan lagi bagian itu.”

 

Finz mendengarkan dengan serius. “Saya mengerti. Kadang orang lupa
bahwa Kamu tetap seorang wanita yang punya mimpi sendiri, bukan hanya peran di
rumah tangga.”

 

Asmirandah menoleh ke arah Finz. Mata mereka bertemu cukup lama. Ada
kehangatan di tatapan Finz yang membuat Asmirandah merasa perutnya semakin
geli. Ia cepat menunduk, jari-jarinya memainkan tutup botol air.

 

“Terima kasih, Pak Finz,” katanya pelan. “Banyak orang hanya bilang
‘keren bisa balance karir dan keluarga’. Tapi jarang yang benar-benar mengerti
rasanya.”

 

Finz tersenyum tipis. “Karena saya melihat Kamu, Andah. Bukan hanya
sebagai aktris di kontrak saya.”

 

Hening sebentar. Asmirandah merasakan pipinya sedikit panas. Ia
menggigit bibir bawahnya sebentar — kebiasaan kecil yang mulai diperhatikan
Finz.

 

“Terima kasih banyak,” balas Asmirandah dengan suara lembut. “Saya
senang bisa bekerja sama dengan Bapak di proyek ini.”

 

Sore menjelang, saat syuting hari kedua hampir selesai, Finz berdiri
di pinggir set sambil memperhatikan Asmirandah yang sedang mengambil take
terakhir. Tatapannya tidak lepas dari gerak-gerik wanita itu — cara ia
berjalan, cara ia mengucapkan dialog dengan suara lembut tapi penuh emosi, dan
senyum kecil yang muncul di sela-sela adegan.

 

Ketika “cut” terakhir dikumandangkan, Asmirandah langsung mencari
Finz dengan pandangan. Ia mendekat sambil membawa tas kecilnya.

 

“Hari ini cukup melelahkan,” katanya sambil tersenyum lelah. “Tapi
seru. Terima kasih sudah mengawasi dari awal sampai akhir, Pak Finz.”

 

Finz mengangguk. “Pulanglah dengan hati-hati. Besok jadwalnya agak
sore, jadi Kamu bisa istirahat lebih panjang.”

 

Sebelum berbalik, Asmirandah menatap Finz sekali lagi. “Besok kita
bisa ngobrol lagi ya, Pak? Saya suka mendengar pendapat Bapak soal akting.”

 

Finz merasakan dadanya sedikit hangat. “Tentu saja. Saya tunggu.”

 

Asmirandah melambai kecil sebelum masuk ke mobilnya yang sudah
menunggu. Finz berdiri di tempatnya sampai mobil itu hilang dari pandangan.

 

Malam harinya, di apartemennya, Finz membuka ponsel. Ia mengetik
pesan lebih panjang dari kemarin:

 

“Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Andah. Penampilan Kamu
sangat bagus. Istirahat yang cukup ya. Besok kita lanjut diskusi seperti tadi.”

 

Pesan terkirim.

 

Tak lama, balasan masuk:

 

Asmirandah: “Terima kasih banyak, Pak Finz. Hari ini memang seru.
Saya juga excited untuk besok. Selamat malam.”

 

Finz tersenyum tipis sambil membaca balasan itu. Panggilan “Pak
Finz” masih formal, tapi obrolan mereka hari ini sudah terasa sedikit lebih
dekat. Tatapan yang saling bertemu lebih lama, senyum yang lebih hangat, dan
perasaan “geli” yang mulai muncul di Asmirandah.

 

Hanya hari kedua.

 

Tapi benih ketertarikan itu sudah mulai tumbuh, pelan tapi pasti.

 

---

 

Hari ketiga syuting berjalan dengan ritme yang mulai terasa lebih
hidup. Lokasi masih sama, tapi suasana di belakang set sudah lebih santai
dibanding dua hari sebelumnya. Kru mulai terbiasa dengan jadwal, dan para
pemain pun mulai nyaman satu sama lain.

 

Finz tiba lebih awal seperti biasa. Ia berdiri di area produksi
sambil memegang secangkir kopi hitam panas, mata fokus pada tablet yang
menampilkan revisi script kecil untuk adegan sore nanti. Meski sibuk,
pikirannya sesekali melayang ke Asmirandah. Tatapan wanita itu kemarin sore
saat mereka berpisah masih terasa hangat di ingatannya.

 

Tak lama kemudian Asmirandah datang. Ia mengenakan dress casual
berwarna pastel yang longgar di bagian atas tapi tetap menonjolkan pinggang
rampingnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai alami, hanya disisir
rapi. Wajahnya fresh, kulit putih susunya terlihat cerah di bawah sinar
matahari pagi.

 

“Pagi, Pak Finz,” sapa Asmirandah dengan suara lembutnya yang khas.
Ia mendekat ke area produksi sambil membawa script yang sudah dicetak.

 

Finz menoleh dan tersenyum tipis. “Pagi, Andah. Hari ini kelihatan
lebih fresh.”

 

Asmirandah tersenyum kecil, pipinya sedikit merona. “Terima kasih,
Pak. Semalam saya tidur lebih awal. Chloe sudah tidur nyenyak, jadi saya bisa
istirahat cukup.”

 

Mereka berdiri berdua di samping meja produksi. Finz meletakkan
kopinya dan mengambil script dari tangan Asmirandah.

 

“Ada beberapa revisi kecil di adegan sore nanti,” kata Finz sambil
membuka halaman yang ditandai. “Dialog bagian ini agak panjang. Saya rasa kamu
bisa bikin lebih natural lagi. Mau kita bahas sebentar di belakang set sebelum
syuting dimulai?”

 

Asmirandah mengangguk tanpa ragu. “Boleh, Pak. Saya juga merasa
dialognya agak kaku. Lebih enak dibahas langsung.”

 

Mereka berjalan bersama menuju area belakang set yang agak sepi —
sebuah sudut kecil di belakang rumah setting yang biasa digunakan kru untuk
istirahat atau diskusi kecil. Di sana hanya ada dua kursi lipat dan sebuah meja
kecil. Suasana cukup tenang, jauh dari keramaian kru yang sedang mempersiapkan
lampu.

 

Mereka duduk berhadapan. Finz membuka script dan menunjuk bagian
yang direvisi.

 

“Di sini karakter kamu sedang marah tapi tetap menahan emosi,” jelas
Finz dengan suara tenang. “Saya rasa kalau dibaca terlalu keras akan kurang
meyakinkan. Coba kamu baca ulang dengan nada yang lebih pelan, tapi tetap penuh
perasaan.”

 

Asmirandah mengambil script dan membaca dialog itu dengan suara
lembutnya. Nada suaranya yang manja dan hangat membuat dialog yang sebenarnya
biasa saja terdengar lebih hidup. Finz mendengarkan dengan saksama, sesekali
mengangguk.

 

“Bagus,” komentar Finz setelah Asmirandah selesai. “Tapi di kalimat
terakhir, coba tambah sedikit jeda. Seperti sedang menahan sakit hati. Itu akan
bikin penonton lebih ikut merasakan.”

 

Asmirandah mencoba lagi. Kali ini lebih baik. Finz tersenyum puas.

 

“Kamu cepat menangkapnya,” puji Finz. “Banyak aktris yang butuh
beberapa kali take baru bisa seperti ini.”

 

Asmirandah tersipu. “Terima kasih, Pak Finz. Saya senang Bapak
memberikan masukan langsung. Biasanya produser hanya kasih catatan lewat
sutradara.”

 

Finz menatap Asmirandah lebih lama. Mata almondnya yang besar
terlihat cerah pagi ini. Bibir penuhnya bergerak pelan saat berbicara, dan ada
sedikit rambut yang jatuh menutupi pipi kirinya. Finz tanpa sadar mengulurkan
tangan untuk membantu menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Asmirandah.

 

Sentuhan itu hanya sebentar, ringan, tapi cukup membuat Asmirandah
terkejut kecil. Ia menatap Finz dengan mata sedikit melebar.

 

“Maaf,” kata Finz cepat, menarik tangan. “Rambutnya mengganggu.”

 

Asmirandah menggeleng pelan, pipinya sedikit merah. “Tidak apa-apa,
Pak. Terima kasih.”

 

Obrolan mereka berlanjut. Dari script, perlahan bergeser ke topik
yang lebih ringan. Finz bertanya tentang pengalaman Asmirandah di sinetron era
dulu, dan Asmirandah bercerita dengan antusias tapi tetap sopan. Sesekali ia
tertawa kecil, suara tawanya lembut dan menular.

 

Finz memperhatikan setiap detail: cara Asmirandah menggigit bibir
bawah saat berpikir, bagaimana matanya berbinar saat menceritakan momen lucu di
lokasi syuting lama, dan aroma parfum ringan yang manis yang selalu mengikuti
dirinya.

 

“Kamu punya cara yang unik dalam berakting,” kata Finz tulus.
“Natural, tidak berlebihan. Itu yang membuat saya yakin memilih Kamu untuk
peran ini.”

 

Asmirandah menunduk sebentar, senyum malu-malu muncul di wajahnya.
“Saya hanya berusaha yang terbaik, Pak. Kadang setelah punya anak, saya merasa
kurang percaya diri. Tapi masukan Bapak membuat saya lebih yakin.”

 

Mereka terus berdiskusi hampir 20 menit. Waktu berlalu cepat. Saat
sutradara memanggil untuk persiapan take pertama, keduanya baru sadar sudah
cukup lama mengobrol.

 

“Sepertinya kita harus balik ke set,” kata Finz sambil berdiri.

 

Asmirandah ikut berdiri. “Terima kasih banyak atas waktunya, Pak
Finz. Saya merasa lebih siap sekarang.”

 

Sepanjang hari itu, pola obrolan kecil terus berulang di setiap
break. Asmirandah semakin sering mendekat ke Finz untuk bertanya pendapat, dan
Finz semakin terbuka memberikan perhatian. Tatapan mereka mulai bertahan lebih
lama, senyum Asmirandah semakin sering muncul saat berbicara dengan Finz.

 

Sore harinya, saat syuting hampir selesai, Asmirandah mendekat lagi
setelah berganti baju casual.

 

“Hari ini lancar berkat masukan Bapak,” katanya pelan. “Besok ada
adegan yang lebih berat lagi. Semoga saya bisa tampil maksimal.”

 

Finz mengangguk. “kamu pasti bisa. Kalau ada yang perlu dibahas
lagi, bilang saja.”

 

Asmirandah tersenyum. “Pasti, Pak. Terima kasih sekali lagi.”

 

Malam harinya, Finz mengirim pesan seperti biasa:

 

“Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Andah. Diskusi script
tadi pagi sangat membantu. Istirahat yang cukup.”

 

Balasan Asmirandah datang tak lama kemudian:

 

“Terima kasih banyak, Pak Finz. Saya juga senang bisa diskusi
langsung. Selamat malam.”

 

Finz meletakkan ponsel dengan senyum kecil. Obrolan mereka hari ini
terasa lebih panjang dan nyaman. Meski masih dalam batas profesional, ada
kehangatan yang mulai terbangun.

 

Di rumahnya, Asmirandah sedang menggendong Chloe yang baru tidur. Ia
melirik ponsel dan membaca pesan Finz. Senyum tipis muncul di bibirnya. Ia
membalas singkat, lalu meletakkan ponsel.

 

Tapi malam itu, sebelum tidur, ia sempat teringat sentuhan ringan
Finz saat menyelipkan rambutnya tadi pagi. Sentuhan yang singkat, tapi cukup
membuat perutnya terasa geli lagi.

 

---

 

Hari keempat syuting berlangsung di lokasi yang sama, tapi suasana
sudah terasa lebih hidup. Kru mulai terbiasa dengan ritme kerja, dan para
pemain pun mulai saling nyaman. Finz tiba pagi-pagi sekali seperti biasa,
langsung mengecek monitor dan catatan produksi. Kopi hitamnya masih mengepul di
tangan ketika Asmirandah datang.

 

Asmirandah mengenakan kemeja putih longgar yang dikancingkan sampai
atas dan celana jeans sederhana. Rambutnya tergerai lembut, hanya sebagian
disisir ke belakang. Kulit putih susunya terlihat cerah, dan senyum kecil
langsung muncul begitu melihat Finz di area produksi.

 

“Pagi, Pak Finz,” sapanya lembut.

 

“Pagi, Andah,” balas Finz sambil mengangguk. “Hari ini jadwalnya
agak padat. Ada adegan keluarga yang cukup panjang di pagi hari.”

 

Asmirandah mendekat dan berdiri di sampingnya. “Saya sudah siap,
Pak. Semalam saya latihan dialognya lagi di rumah.”

 

Mereka berbincang sebentar tentang adegan hari ini. Finz memberikan
beberapa catatan kecil dengan suara tenang, sementara Asmirandah mendengarkan
dengan saksama. Sesekali ia mengangguk, mata almondnya sesekali melirik Finz
lebih lama.

 

Sepanjang pagi, Finz tetap berada di belakang monitor, tapi matanya
sering tertuju pada Asmirandah saat ia sedang mengambil adegan. Cara Asmirandah
berakting semakin terasa natural — ekspresi lembutnya, suara yang pelan tapi
penuh emosi, dan senyum yang muncul di saat-saat tepat. Finz merasa semakin
yakin dengan pilihannya.

 

Saat break pertama, Asmirandah mendekat lagi. Ia membawa botol air
dan duduk di kursi lipat tidak jauh dari Finz.

 

“Gimana tadi, Pak?” tanyanya pelan. “Adegan keluarganya terasa
natural tidak?”

 

Finz menoleh. “Sangat bagus. Kamu berhasil membuat penonton percaya
bahwa karakter itu sedang berusaha menjaga keluarga meski rapuh di dalam.”

 

Asmirandah tersipu. “Terima kasih, Pak Finz. Saya agak khawatir
karena adegan keluarga ini mengingatkan saya pada situasi di rumah.”

 

Finz menatapnya dengan perhatian lebih dalam. “Kamu sering
memikirkan Chloe saat syuting adegan seperti ini?”

 

Asmirandah mengangguk pelan. “Iya, Pak. Kadang rasanya berat
meninggalkan dia untuk waktu lama. Tapi saya juga ingin kembali merasakan dunia
akting. Rasanya seperti menemukan bagian diri saya yang lama hilang.”

 

Finz mendengarkan tanpa menyela. Ia melihat bagaimana mata
Asmirandah sedikit berkaca-kaca saat bicara tentang anaknya. Ada kerapuhan yang
terlihat tulus, dan itu justru membuat Finz semakin tertarik.

 

“Kamu tetap seorang wanita yang punya mimpi sendiri,” kata Finz
pelan. “Tidak hanya ibu atau istri. Saya menghargai itu.”

 

Asmirandah menatap Finz lama. Ada kehangatan di tatapan pria itu
yang membuat perutnya terasa geli lagi. Ia cepat menunduk, jari-jarinya
memainkan botol air.

 

“Terima kasih, Pak Finz. Jarang ada yang bilang seperti itu.”

 

Obrolan mereka berlanjut di break berikutnya. Kali ini mereka pindah
ke sudut belakang set yang agak sepi. Finz membahas beberapa dialog yang masih
perlu diperbaiki, dan Asmirandah mencoba membacanya dengan suara lembutnya.
Finz memberikan masukan, dan Asmirandah langsung mencoba lagi. Setiap kali ia
berhasil, Finz memuji dengan tulus.

 

“Kamu cepat menyerap masukan,” kata Finz. “Itu jarang saya temui di
aktris seumuran Kamu, Andah.”

 

Asmirandah tersenyum malu. “Saya hanya berusaha yang terbaik, Pak.
Bapak yang memberikan arahan yang jelas, jadi lebih mudah.”

 

Siang menjelang, saat break makan siang, mereka kembali bertemu di
area yang sama. Asmirandah membawa makanan ringan dari rumah dan menawarkan
sebagian kepada Finz.

 

“Ini nastar buatan saya sendiri,” katanya pelan. “Kalau Bapak mau
coba.”

 

Finz menerima dengan senyum. “Terima kasih. Kamu sempat masak di
sela-sela jadwal syuting?”

 

Asmirandah tertawa kecil. “Kadang malam hari. Chloe suka sekali
nastar ini. Saya bikin banyak kemarin malam.”

 

Mereka makan sambil mengobrol ringan. Topik bergeser dari pekerjaan
ke hal-hal kecil sehari-hari. Finz bercerita sedikit tentang bagaimana ia
membangun production house-nya dari nol, sementara Asmirandah mendengarkan
dengan mata berbinar. Ia juga bercerita tentang masa-masa awal kariernya dulu,
sebelum menikah dan punya anak.

 

Finz memperhatikan setiap gerak-gerik Asmirandah — cara ia menggigit
nastar dengan bibir penuhnya, bagaimana matanya menyipit saat tertawa, dan
aroma parfum manis yang selalu mengikuti. Ia merasa semakin nyaman berada di
dekat wanita ini.

 

Sore harinya, saat syuting hampir selesai, Asmirandah mendekat lagi
setelah berganti baju.

 

“Hari ini cukup melelahkan tapi menyenangkan, Pak Finz,” katanya.
“Terima kasih atas semua masukan Bapak. Besok saya akan lebih siap.”

 

Finz mengangguk. “Pulang hati-hati, Andah. Besok kita lanjut lagi.”

 

Asmirandah tersenyum lembut. “Pasti, Pak. Selamat sore.”

 

Malam harinya, Finz mengirim pesan seperti biasa:

 

“Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Andah. Nastarnya enak.
Istirahat yang cukup ya.”

 

Balasan Asmirandah datang tak lama kemudian:

 

“Terima kasih banyak, Pak Finz. Senang Bapak suka. Saya juga
istirahat cukup. Selamat malam.”

PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?

HUBUNGI DISCORD MENATA.IMAJI

TOTAL 142 HALAMAN DENGAN FOTO ILUSTRASI


Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 17 minutes
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.