Rahma – Api yang Tersembunyi di Balik Gamis ( pov Rahma)
5647Please respect copyright.PENANAWd6u0BYL95
Nama aku Rahma Putri Ananda. Dua puluh satu tahun. Aku lulusan pondok pesantren putri di Jawa Tengah yang terkenal ketat. Dari kecil aku diajarkan untuk menjaga pandangan, menjaga jarak dengan lawan jenis, dan menjadikan ilmu agama sebagai prioritas utama. Gamis lebar, jilbab panjang sampai dada, dan sikap diam bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Itu sudah menjadi bagian dari diriku sejak kecil.
5647Please respect copyright.PENANAsh36QzHawV
Di kampus Universitas swasta Islam di Jakarta, aku selalu menjadi mahasiswi yang “alim” di mata semua orang. Aku jarang ikut acara malam, tidak pernah pacaran, dan selalu duduk di barisan paling depan saat kuliah. Teman-teman cewekku sering bilang aku terlalu kaku, tapi aku tidak peduli. Fokusku hanya kuliah dan ibadah. Semester 1 sampai 4 berjalan begitu itu. Aku bahkan tidak pernah merasakan degup jantung karena seorang laki-laki.
5647Please respect copyright.PENANAqngv4eB60s
Semuanya berubah di semester 5.
Awalnya hanya hal biasa. Namanya Kak Farid, kakak kelas jurusan Pendidikan Agama Islam juga. Farid dikenal sebagai pelajar yang rajin, suaranya merdu saat mengaji, dan selalu membantu adik-adik kelas yang kesulitan mata kuliah fiqih dan tafsir. Aku pertama kali berinteraksi dengannya saat aku kesulitan mengerjakan tugas makalah besar tentang “Hakikat Takwa dalam Kehidupan Modern”. Saya bertanya melalui grup kelas, dan Farid menawarkan bantuan.
5647Please respect copyright.PENANAtXhOaB3MH2
“Kalau mau, kita ketemu di perpustakaan kampus sore ini. Aku jelasin pelan-pelan,” katanya lewat chat.
5647Please respect copyright.PENANAEB9aOa7Sgx
Aku ragu. Tapi karena tugas itu sangat penting untuk nilai akhir, akhirnya aku setuju. Kami bertemu di perpustakaan yang sepi di lantai 3. Farid duduk di seberangku dengan jarak yang sopan, menjelaskan materi dengan suara pelan dan sabar. Aku mencatat setiap katanya. Saat itu aku merasakan sesuatu yang aneh di dada — degup jantung yang lebih cepat dari biasanya. Aku cepat menepisnya. “Ini hanya karena dia baik,” kataku dalam hati.
5647Please respect copyright.PENANA9a1kDsQug0
Pertemuan demi pertemuan berlanjut. Kadang di perpustakaan, kadang di masjid kampus setelah ashar. Awalnya murni bantuan belajar. Tapi lama-kelamaan pembicaraan kami meluas. Farid bercerita tentang mimpi menjadi ustadz, tentang keluarga, tentang perjuangannya kuliah sambil mengajar ngaji di masjid dekat kosnya. Aku juga mulai sedikit bercerita tentang pondokku, tentang betapa ketatnya aturan di sana, dan betapa aku takut mengecewakan orang tua.
5647Please respect copyright.PENANAlNCMIbiRM7
Suatu sore, setelah kami selesai membahas tugas, Farid melihatnya lebih lama dari biasanya. “Rahma… kamu beda dari cewek lain. Aku suka kamu.”
5647Please respect copyright.PENANAERF7tRxee2
Wajahku langsung panas. Aku menunduk ke dalam-dalam, jari-jari memainkan ujung jilbab. “Kak… jangan bicara seperti itu. Kita hanya teman belajar.”
5647Please respect copyright.PENANAZPjeRF63TT
Tapi Farid tidak berhenti. Dia bilang dia sudah lama memperhatikanku. Dia mengaku bahwa dia juga belum pernah pacaran serius karena alasan yang sama denganku — fokus ibadah dan kuliah. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan apa yang disebut “cinta”. Degup jantung yang tidak bisa dikendalikan, pipi yang memerah sendiri, dan pikiran yang selalu mengingatkannya.
5647Please respect copyright.PENANA9qT2JJVOnL
Hubungan kami dimulai secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada status di medsos, tidak ada pegangan tangan di depan orang, tidak ada kencan di luar kampus. Kami hanya bertemu di tempat-tempat “aman”: perpustakaan, masjid, atau kadang-kadang di taman belakang kampus saat sore sepi. Farid selalu menjaga batas. Dia berkata, “Aku tidak mau fitnah buat kamu, Rahma.”
5647Please respect copyright.PENANA8nCTAcazAw
Namun manusia adalah manusia.
5647Please respect copyright.PENANAm4XmrgQT92
Suatu malam, setelah kami belajar sampai larut di perpustakaan yang hampir tutup, Farid mengajakku ke mobilnya yang diparkir di pojok kampus yang gelap. “Cuma sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu,” katanya.
5647Please respect copyright.PENANAN0u5RlQfp9
Di dalam mobil yang gelap, setelah berbicara panjang lebar tentang perasaan kami, Farid memegangnya untuk pertama kalinya. Tangannya hangat. Aku gemetar. Lalu dia mendekat, dan kami berciuman untuk pertama kali. Ciuman itu lembut, penuh rasa takut dan penasaran. Aku merasa dunia berhenti berputar. Malam itu, di kursi belakang mobil Farid, aku memberikan keperawananku padanya.
5647Please respect copyright.PENANA1DXerVRS1S
Aku menangis setelah itu. Bukan karena sakit, tapi karena campuran rasa bersalah, bahagia, dan ketakutan yang luar biasa. Farid memelukku erat. “Rahma… aku akan nikahin kamu. InsyaAllah. Aku serius. Tunggu aku lulus dulu ya?”
5647Please respect copyright.PENANAPJArlCxihC
Dari situ, aku ketagihan.
5647Please respect copyright.PENANAAxtUvpZl2M
Farid selalu mengajakku ke mana pun dia bisa. Kadang ke kosannya yang sepi saat teman sekosnya pulang kampung, kadang ke hotel murah di pinggir Jakarta dengan alasan “kita butuh waktu berdua yang lebih aman”. Aku yang dulu tidak pernah bisa menolak permintaan orang tua, sekarang juga tidak bisa menolak Farid. Setiap kali dia berkata “Aku kangen memek kamu yang sempit itu”, tubuhku langsung bereaksi. Nafsu yang selama ini aku tekan rapat-rapat di pondok, meledak begitu saja.
5647Please respect copyright.PENANAqTXA6dWT42
Kami melakukannya hampir setiap minggu. Kadang cepat dan tergesa-gesa di mobil, kadang lama dan penuh detail di kosannya. Farid suka sekali dengan dadaku yang besar. Dia bilang itu “rezeki yang Allah kasih buat aku”. Aku yang dulu malu dengan ukuran payudaraku, sekarang merasa bangga setiap kali Farid meremas dan menghisapnya dengan rakus.
5647Please respect copyright.PENANAAskPdpbJte
Tapi KKN ini memisahkan kami.
5647Please respect copyright.PENANAWILVnX9x9K
Farid tidak bisa ikut KKN bersamaku karena jadwal skripsinya yang bertabrakan. Dia harus tetap di Jakarta. Dua bulan tanpa bertemu secara fisik terasa sangat berat. Kami hanya bisa video call setiap malam saat orang lain sudah tidur. Awalnya hanya percakapan biasa, tapi lama-lama nafsu kami tidak terganggu. Farid mulai memintaku menunjukkan tubuhku. Menurutku. Aku merasa bersalah, tapi juga sangat ingin merasakan sentuhannya meski hanya lewat layar.
5647Please respect copyright.PENANALFA0LpDeLm
Malam ini, malam ketiga di desa, hujan deras turun di luar. Udara sangat dingin. Aku berbaring di kasur pojok ruang cewek, tirai tebal sudah menutup rapat. Teman-teman yang lain sudah tidur pulas. Sinta mendengkur pelan, Nadia tidur menghadap dinding, Rina bernapas teratur.
5647Please respect copyright.PENANApTHX38cCl6
Saya mengambil HP, memastikan volume kecil dan kecerahan rendah. Farid sudah menunggu di video call. Wajahnya muncul di layar, senyumnya nakal.
5647Please respect copyright.PENANAUtfHlWVoMr
“Sayang… aku kangen banget. Malam ini dingin ya di desamu?”
5647Please respect copyright.PENANAFUHh5i4mPR
“Iya Mas… dingin sekali. Aku kangen kamu,” bisikku pelan.
5647Please respect copyright.PENANAETL3AadjM9
Farid langsung ke inti. “Buka gamisnya pelan-pelan, Rahma. Aku mau lihat dada kamu yang besar itu.”
5647Please respect copyright.PENANAaSyENCz9LH
Jantungku berdegup kencang. Aku duduk bersandar di dinding kayu. Dengan tangan gemetar, aku gulung gamis kremku sampai pinggang. Jilbab panjangku masih terpasang rapi, karena aku takut ada yang bangun tiba-tiba. Aku tarik bra hitamku ke bawah. Kedua payudaraku yang besar dan putih langsung terbebas. Putingku sudah menekan karena dinginnya udara desa.
5647Please respect copyright.PENANAZxdgB4WuMr
Farid mendesah di layar. “Cantik sekali… remas pelan, sayang.Bayangin itu rasanya.”
5647Please respect copyright.PENANAAMWyPLGjQw
Aku meremas payudaraku sendiri. Rasanya enak, tapi tidak se-enak saat Farid melakukannya. Aku mencubit putingku pelan, desahan kecil keluar dari mulutku. “Mmmhh… Mas Farid… ini buat kamu…”
5647Please respect copyright.PENANAOhoAnm8fck
Tangan kiriku turun ke celana dalam. Aku tarik ke samping, jari tengahku langsung menyentuh klitoris yang sudah basah. Aku menggosoknya melingkar, pelan dulu, lalu semakin cepat. Pinggulku naik-turun mengikuti gerakan jari. Memekku sudah licin sekali, suara basah kecil terdengar di telingaku sendiri.
5647Please respect copyright.PENANAxm1JdxkCH7
“Ahh… Mas… enak… aku bayangin titit Mas masuk ke sini…” desahku tertahan.
5647Please respect copyright.PENANAHYz0qbJp95
Farid di layar sudah membuka celananya, tangan bergerak cepat. “Desah lebih keras, Rahma. Aku mau denger suara kamu yang alim itu jadi nakal.”
5647Please respect copyright.PENANAV6scRUYQkr
Aku semakin pembohong. Aku menarik bra sepenuhnya ke bawah, kedua dada besarku bergoyang saat jari aku semakin cepat di memek. Cairanku sudah menetes ke kasur. “Ahh… ahh… Mas… aku mau keluar… jangan berhenti… mmmhhh…”
5647Please respect copyright.PENANAp2xGMJ60z8
Badanku melengkung. Orgasme datang dengan kuat. Aku gigit tangan sendiri agar tidak berteriak. Tubuhku kejang beberapa detik, cairan hangat muncrat kecil ke jari dan kasur. Napasku tersengal-sengal. Payudaraku naik turun dengan cepat.
5647Please respect copyright.PENANASnzVLba8yR
Farid juga keluar di layar. "Bagus sayang… aku juga keluar. Kamu semakin pembohong ya di desa itu."
5647Please respect copyright.PENANAVwKjM9yDGu
Aku malu tersenyum, tapi juga puas. “Ini karena kangen Mas… satuan ini berat sekali.”
5647Please respect copyright.PENANAE4fuGI0Yqr
Kami membeku sebentar setelah itu. Farid mengingatkan lagi, “Tunggu aku ya, Rahma. Nanti aku lamar kamu ke orang tua. Aku serius.”
5647Please respect copyright.PENANAKs9TdNYEpq
Panggilan selesai. Aku buru-buru merapikan bra, menarik celana ke posisi semula, dan menurunkan gamis sampai menutupi kaki. Jilbabku masih rapi. Aku menyeka keringat di dahi dengan ujung gamis, lalu berbaring dengan napas yang belum normal.
5647Please respect copyright.PENANAhY7gjZ81wx
Tapi tiba-tiba ada ketukan pelan di pintu.
5647Please respect copyright.PENANAdQYvXE9ayE
"Rahma… kamu belum tidur? Senterku mati total, boleh pinjem lampu minyak sebentar? Aku mau ke kamar mandi."
5647Please respect copyright.PENANAskT2gM2lI5
Suara itu… Reza.
5647Please respect copyright.PENANANtZxDSyTjt
Jantungku hampir copot. Wajahku yang masih merah karena orgasme tadi pasti terlihat jelas. Aku duduk cepat, suaraku gemetar saat menjawab, “Eh… iya Mas Reza, tunggu sebentar…”
5647Please respect copyright.PENANAg1ZZIGioiX
Aku membuka pintu sedikit. Reza berdiri di depan dengan senter HP yang redup. Pandangan memandang lekat. Aku merasa dia tahu sesuatu.
5647Please respect copyright.PENANA2gtHnoNJgY
“Wajahmu merah banget, Rahma. Kamu baik-baik saja?”
5647Please respect copyright.PENANA0m43sgqJoP
Aku menunduk ke dalam, memegang ujung gamis kuat-kuat. Dalam hati aku berdoa, “Ya Allah… jangan sampai dia tahu…”
5647Please respect copyright.PENANA3oiQtG4B4t
Tapi Reza tidak langsung pergi. Dia masuk sedikit ke dalam kamar, mengambil lampu minyak, lalu berdiri sangat dekat denganku. Cahaya lampu mencapai wajah kami berdua.
5647Please respect copyright.PENANAiQRmrszTAg
Dan saat itu terjadi ciuman kecil, ya aku masih nafsu sisa video call tadi
Cerita lengkap ada disini 23 bab
https://lynk.id/silviylstory
https://victie.com/novels/godaan-di-kkn
5647Please respect copyright.PENANAHfPNP3gwOI
5647Please respect copyright.PENANAts3L37sbNS


