Bab 2: Panggilan Pagi dan Pelajaran Pertama
9084Please respect copyright.PENANAHWyFUxVMJv
Pagi itu matahari baru saja menyembul di ufuk timur, mewarnai langit pondok pesantren dengan semburat jingga lembut. Udara masih sejuk, bau tanah basah dan dedaunan hijau bercampur dengan aroma roti bakar dan teh hangat yang menguar dari dapur asrama. Erina sudah bangun sejak subuh, menunaikan sholat dengan khusyuk seperti biasa. Rambut hitam panjangnya masih basah setelah mandi, terikat rapi di belakang. Ia mengenakan gamis putih bersih yang longgar, tapi tetap saja kain itu menempel lembut di payudara F-cupnya yang kencang, membuat bentuknya samar-samar terlihat. Bokong bulat besarnya juga ikut bergoyang pelan saat ia berjalan menuju ruang makan kecil.
9084Please respect copyright.PENANAmsWK6H8ncS
Erina merasa senang hari ini. Umi Siti kemarin bilang ia libur dari tugas mengajar santri kecil. “Hari ini kamu istirahat dulu, Nak,” kata Umi dengan suara lembut yang selalu membuat Erina tenang. Ia duduk di kursi kayu, memegang secangkir teh hangat. Pikirannya melayang ke mimpi semalam—mimpi aneh tentang sentuhan hangat di tubuhnya yang membuat ia terbangun dengan napas sedikit tersengal. Ia mengompol di kepala, pipinya memerah karena malu sendiri. “Pasti karena cuaca panas,” gumamnya pelan.
9084Please respect copyright.PENANA57GM871TCj
Tak lama kemudian, pintu kamar Umi Siti terbuka. Umi Siti tampil dengan penampilan biasa—gamis hitam sederhana, kerudung rapi, wajahnya cantik dan tenang seperti biasa. Tapi Erina tidak tahu bahwa semalam tubuh Umi Siti masih penuh bekas tali dan sperma yang kering di pahanya. Umi Siti tersenyum manis, matanya memandang Erina dengan penuh kasih sayang yang tersembunyi makna lain.
9084Please respect copyright.PENANAUbgM8pVkXJ
"Erina, kamu hari ini libur ya? Tidak ada tugas mengajar atau membersihkan aula," kata Umi Siti sambil duduk di depan Erina. Suaranya lembut, tapi ada nada tegas yang biasa digunakan saat mengajar.
9084Please respect copyright.PENANArlhAEtsqBz
Erina mengangguk cepat, senyuman lucunya muncul di wajah. "Iya, Umi. Terima kasih. Erina senang bisa istirahat sebentar. Badan Erina agak capek kemarin olahraga."
9084Please respect copyright.PENANAldpfHNlDZ2
Umi Siti mengulurkan tangan, mengusap pipi Erina dengan lembut. Sentuhannya yang terasa hangat membuat Erina merasa nyaman. "Bagus. Kalau begitu, Umi mau ngajarin sesuatu yang penting untuk masa depan kamu. Sesuatu yang harus diketahui setiap wanita muslim yang baik, terutama kalau sudah mau menikah nanti."
9084Please respect copyright.PENANAwqjsC9iWSz
Erina mengerutkan kening, matanya yang cokelat besar memandang Umi dengan polos. "Apa itu, Umi? Pelajaran agama lagi? Atau cara mengurus rumah tangga?"
9084Please respect copyright.PENANAkwq1PaOmmg
Umi Siti tersenyum lebih lebar, tapi ada kilau aneh di matanya. “Iya, tentang rumah tangga. Khususnya bagaimana seorang istri memuaskan suaminya. Karena itu adalah kewajiban suci, Nak. Suami adalah imam, dan istri harus bisa membuat bahagia di segala hal—termasuk di kasur.”
9084Please respect copyright.PENANAc8ANzDNsqq
Wajah Erina langsung memerah seperti tomat matang. Ia menunduk, jari-jarinya memilin ujung gamisnya. “Umi… itu… Erina malu. Kita belum pernah membahas hal seperti itu. Erina kan masih… belum tahu apa-apa soal… suami.”
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
9084Please respect copyright.PENANAjpZ26b2B6S


