Pagi itu sinar matahari menyusup melalui tirai tipis apartemen penthouse kami, menerangi tubuh-telanjang kami bertiga yang masih saling terpaut di atas tempat tidur king-size yang sudah berantakan. Aku, Alex, terbangun dengan sensasi hangat yang luar biasa.5459Please respect copyright.PENANAWXPYROgniu
Payudara Mami yang besar dan lembut menindih dada kananku, putingnya yang masih mengeras sedikit menggesek kulitku setiap kali dia bernapas. Di sebelah kiri, Tya memeluk pinggangku erat, paha mulusnya menyilang di atas pahaku, dan memeknya yang masih agak basah menempel di pinggulku. Bau seks masih pekat di udara—campuran keringat, sperma, dan cairan kewanitaan yang manis-asam.
Aku mencoba bergerak pelan, tapi kontolku yang pagi-pagi sudah setengah tegang langsung tersentuh oleh paha Mami. Dia mendesah dalam tidurnya, pinggulnya bergoyang kecil seolah insting. 5459Please respect copyright.PENANAwJelS3uAbd
“Ummm… Alex…” gumamnya tanpa membuka mata. Tya di sebelahku juga bergerak, tangannya turun ke bawah dan langsung menggenggam batang kontolku yang mulai mengeras penuh.
“Pagi, sayang…” bisik Tya dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya terbuka, tersenyum nakal. 5459Please respect copyright.PENANAZJBTMjJNNh
“Kontol suamiku sudah bangun duluan nih.” Dia mengocoknya pelan, jari-jarinya yang lentik memainkan kulit kulupku yang masih lengket sisa malam tadi.
Mami ikut terbangun. Dia mengangkat kepala, rambut hitamnya yang acak-acakan jatuh ke bahu putihnya. Senyumnya lebar, penuh kepuasan. 5459Please respect copyright.PENANAoyh6BDP4UK
“Pagi, anak-anak Mami. Tidur nyenyak?” Dia mencium pipiku dulu, lalu mencium bibir Tya dengan mesra—bukan ciuman ibu-anak biasa, tapi ciuman yang dalam, lidah mereka saling menyentuh sebentar. Aku terpana melihatnya. Ini masih hari kedua sejak “pembukaan” itu, tapi mereka bertindak seolah sudah biasa.
Kami bertiga bangkit tanpa malu. Tak ada lagi pakaian di apartemen ini. Semua pintu terbuka, semua ruangan jadi arena bermain. Kami berjalan bergandengan ke kamar mandi utama yang luas, dengan shower rain yang besar dan bathtub jacuzzi. Air hangat menyembur, sabun tubuh beraroma lavender memenuhi udara. 5459Please respect copyright.PENANAKpqQlXflNn
Tya menyabuni tubuhku dari depan, tangannya meluncur di dada, perut, lalu turun ke kontolku yang sudah tegak sempurna. Mami dari belakang, payudaranya yang besar menempel di punggungku, tangannya meremas bokongku sambil jari tengahnya menyusup ke celah bokongku, menggoda lubang anusku pelan.
“Alex suka yang begini ya?” bisik Mami di telingaku sambil menggigit cuping telingaku. 5459Please respect copyright.PENANAuzvKHh13UT
Aku hanya mendesah. Tya berlutut di depanku, mulutnya langsung melahap kontolku sampai ke pangkal. Suara gluck-gluck basah bercampur dengan suara air shower. Mami memelukku dari belakang, tangannya memainkan putingku sambil menggosokkan memeknya yang sudah basah di bokongku.
Aku tak tahan lama. Dalam hitungan menit, aku menyemburkan sperma pagi ke dalam mulut Tya. Dia menelan sebagian, sisanya dia biarkan menetes di payudaranya yang kenyal. Mami tertawa pelan, lalu menunduk ikut membersihkan kontolku dengan lidahnya bersama Tya. Dua lidah—ibu dan anak—menjilat batang dan kepala kontolku bergantian. Pemandangan itu membuatku hampir jebol lagi.
Setelah mandi, kami sarapan telanjang di meja makan marmer. Mami membuat omelette keju, roti panggang, dan jus jeruk segar. Tya duduk di pangkuanku, memeknya menelan kontolku yang setengah tegang sambil makan. Dia menggoyang pinggul pelan, seperti latar belakang musik pagi. Mami duduk di depan, payudaranya bergoyang saat dia memotong omelette, sesekali memberi suapan ke mulutku.
“Malam tadi enak banget, Alex,” kata Mami sambil tersenyum. 5459Please respect copyright.PENANAeXPj6p12Kh
“Mami sudah lama nggak merasakan kontol sebesar dan sekuat ini. Suami Mami dulu… ya, dia orang Jerman, tapi di ranjang biasa saja. Makanya Tya manja sama Mami, karena dari kecil Mami ajarin segalanya.”
Tya tertawa, memeknya mencengkeram kontolku lebih erat. 5459Please respect copyright.PENANANeDz00Ca33
“Iya, Pa. Mami yang ajarin aku cara ngulum, cara memutar pinggul, bahkan cara squirt. Kami berdua sering… main bareng dulu di Eropa waktu Papa lagi kerja.”
Aku terkejut mendengar pengakuan itu, tapi birahiku malah naik. 5459Please respect copyright.PENANAECVmLdUQ6w
“Jadi… kalian sudah pernah begini sebelumnya?”
Mami mengangguk santai. 5459Please respect copyright.PENANAM7MRwopuAa
“Bukan full sex sama pria lain. Tapi sesama… ya, kami dekat sekali. Tya anak tunggal, Mami juga butuh kasih sayang. Tapi sekarang ada kamu, Alex. Kami berdua milikmu.”
Kata-kata itu seperti bensin di api. Aku mengangkat Tya ke meja makan, membaringkannya di antara piring-piring, dan langsung menancapkan kontolku ke memeknya yang sudah banjir. Mami berdiri di samping, memegang kepala Tya sambil menciumnya, tangan satunya meremas payudara anaknya. Aku genjot Tya dengan kuat, suara benturan daging memenuhi ruang makan. Tya orgasme pertama dalam dua menit, cairannya muncrat membasahi meja.
“Gantian, Mami,” kata Tya sambil napas ngos-ngosan. Mami langsung naik ke meja, posisi doggy menghadap Tya. Bokongnya yang besar dan bulat terpampang sempurna di depanku. Aku memegang pinggulnya yang lebar, menancapkan kontolku ke dalam vaginanya yang masih ketat meski sudah melahirkan. 5459Please respect copyright.PENANAXyKCBju99w
“Ahhhh… dalem banget, Alex…” erang Mami. 5459Please respect copyright.PENANAgL3WHYA9mJ
Aku mulai memompa, setiap hunjaman membuat bokongnya bergoyang seperti jelly. Tya di depan, mencium Mami sambil jari-jarinya memainkan klitoris ibunya.
Kami berganti posisi berkali-kali di meja makan. Aku genjot Mami sampai dia squirting pertama kali—cairan beningnya menyembur deras membasahi lantai. Lalu Tya naik lagi, kali ini reverse cowgirl sambil menghadap Mami. Mereka berdua berciuman di depanku sementara kontolku bergantian masuk ke memek mereka. Pagi itu aku menyemburkan sperma dua kali—pertama di dalam Mami, kedua di mulut Tya yang berbagi dengan Mami.
Setelah sarapan “spesial”, aku berangkat ke kantor. Tapi suasana di apartemen sudah berubah total. Tak ada lagi batas. Siang hari, saat aku meeting via Zoom di ruang kerja, Tya dan Mami sering masuk telanjang, berlutut di bawah meja, bergantian mengulum kontolku diam-diam. Suaraku hampir gemetar saat presentasi proyek properti senilai puluhan miliar.5459Please respect copyright.PENANAOJEAg0dHSV
“Ya… angka itu… ah… sangat menguntungkan…” kataku sambil Tya menelan kontolku sampai ke tenggorokan.
Pulang kantor sore hari, aku disambut pemandangan yang semakin liar. Mereka berdua sudah menunggu di ruang keluarga, hanya memakai high heels dan kalung mutiara. 5459Please respect copyright.PENANAAJPgRlmmDV
Mami memasak sambil Tya memijat tubuhnya dari belakang. Begitu aku masuk, mereka langsung menyerbu. Tya melepas dasiku, Mami membuka kemejaku. Dalam hitungan detik aku sudah telanjang, kontolku dihisap bergantian di sofa.
Malam itu kami “bertempur” lagi selama hampir tiga jam. Kali ini lebih terstruktur. Mami mengambil peran guru. Dia duduk di kursi single, kakinya terbuka lebar, memeknya yang tebal dan basah terpampang sementara dia memainkan klitorisnya sendiri. 5459Please respect copyright.PENANAm0OFH3lDJF
“Tya, sekarang coba posisi yang Mami ajarin kemarin. Naik ke pangkuan Alex, tapi punggungmu menghadap dia. Gerak memutar pelan dulu.”
Tya patuh. Dia naik, memeknya menelan kontolku reverse cowgirl. Aku memegang pinggulnya, melihat bokongnya yang bulat naik turun. Mami mendekat, lidahnya menjilat klitoris Tya sambil kontolku keluar-masuk. Sensasinya gila—lidah hangat Mami menyentuh batang kontolku setiap kali Tya naik.
“Lebih cepat, Tya. Rasakan kontol suamimu memenuhi rahimmu,” perintah Mami. Tya orgasme berkali-kali, tubuhnya gemetar. Lalu giliran Mami. Dia naik dengan cara yang sama, tapi gerakannya lebih ahli—putaran pinggulnya sempurna, vaginanya seperti mesin pijat yang hidup.\5459Please respect copyright.PENANAEUTwv0i9hc
Aku meremas payudaranya dari belakang, mencubit putingnya keras. Mami mengerang dalam bahasa Jerman campur Indonesia, “Ja… fester… tiefer… ahh Alex, kamu bikin Mami gila!”
Aku balik posisi, menelentangkan Mami di sofa, genjot dia missionary sambil Tya duduk di wajah Mami. Mami menjilat memek anaknya dengan rakus sementara aku menghunjamnya dalam-dalam. Suara erangan mereka berdua menyatu jadi simfoni seks. Aku menyemburkan sperma ketiga kalinya malam itu ke dalam Mami, begitu banyak hingga meluap keluar saat kontolku dicabut.
Kami bertiga mandi lagi, lalu tidur saling peluk. Tapi tengah malam, Tya bangunkan aku. 5459Please respect copyright.PENANA7jpWnmNCaV
“Sayang, nonton bola ya? Ada match Liga Champions.” Aku mengangguk setengah sadar. Tapi Mami langsung merangkak ke pangkuanku, mulutnya mengulum kontolku sementara aku mencoba fokus ke TV. Tya tertawa, 5459Please respect copyright.PENANATp5Y4lU5CD
“Mami, jangan ganggu dulu.” Tapi Mami tak berhenti—dia naik ke atas, memeknya menelan kontolku pelan sambil aku memegang remote. Sepanjang pertandingan, Mami menggoyang pinggulnya pelan, seperti latar belakang yang nikmat. Tya kadang ikut menciumku atau meremas payudara Mami.
Hari-hari berikutnya mengikuti pola yang sama tapi semakin intens. Pagi: sex di kamar mandi dan meja makan. Siang: quickie saat lunch break di kantor via panggilan video, atau mereka datang ke kantorku yang private. Sore: masak sambil foreplay. Malam: sesi panjang tiga babak atau lebih, kadang sampai subuh.
Suatu malam, setelah dua minggu hidup seperti ini, aku bertanya di tengah pelukan kami bertiga yang masih basah keringat. 5459Please respect copyright.PENANASlB9ziquQ7
“Kenapa kalian nggak cemburu? Ini… aneh, tapi enak banget.”
Tya tersenyum, jarinya melingkar di putingku. 5459Please respect copyright.PENANA5PaAQfZkOG
“Karena Mami yang ajarin aku segalanya tentang sex. Aku tahu Mami butuh juga. Dan aku sayang banget sama kamu, tapi aku juga sayang Mami. Melihat kalian enak bikin aku ikut enak.”
Mami mencium keningku. 5459Please respect copyright.PENANABIh25R9qSO
“Kamu milik kami berdua sekarang, Alex. Dan kami milikmu. Selama rahim Mami sudah disteril, nggak ada risiko. Kita bisa bebas selamanya.”
Aku mengangguk, tapi di dalam hati masih ada sedikit kekhawatiran—bisnis, keluarga besar, atau suatu hari rahasia ini bocor. Tapi birahi mengalahkan semuanya. Setiap hari kontolku dimanja dua memek yang berbeda tapi sama-sama ketat dan lapar.
Suatu akhir pekan, kami memutuskan tak keluar apartemen sama sekali. Seluruh hari telanjang. Kami main game seks—siapa yang orgasme duluan kalah. Mami selalu menang. Tekniknya luar biasa: dia bisa mengontrol otot vaginanya seperti tangan, memijat kontolku dari dalam sambil pinggulnya berputar. Tya belajar cepat, tapi masih kalah pengalaman.
Di balkon penthouse yang tinggi, dengan angin malam kota menerpa tubuh telanjang kami, aku genjot mereka bergantian sambil memandang lampu-lampu Jakarta. Tya di railing, bokongnya kena hunjaman dariku. 5459Please respect copyright.PENANA7bI2xxeaiN
Mami di belakangku, payudaranya menempel, jarinya memainkan anusku. Risiko ada orang melihat dari gedung sebelah? Kami tak peduli. Birahi sudah menguasai.
Malam itu klimaksnya paling gila. Aku berbaring di karpet ruang keluarga. Tya naik ke wajahku, memeknya kutjilat sampai dia squirting di mulutku. Mami naik ke kontolku, menggenjot liar. 5459Please respect copyright.PENANAaoCBVE8fZZ
Mereka berdua berpelukan di atasku, berciuman sambil tubuh mereka bergoyang. Aku merasakan dua wanita—ibu dan anak—bergetar orgasme di tubuhku. Saat aku jebol, sperma aku bagi—sebagian di dalam Mami, sebagian disemprotkan ke payudara mereka berdua, lalu mereka saling jilat bersih.
Begitulah kehidupan kami. Semakin dalam, semakin panas, semakin tanpa batas. Apartemen ini bukan lagi rumah biasa. Ini istana kenikmatan di mana aku menjadi raja dari dua ratu yang tak pernah puas.
5459Please respect copyright.PENANAG4Jb75Cae3


