Karena memang gue nggak suka dengan mata kuliahnya, gue cuma mainin HP. Mulai dari ngebalesin chat yang sengaja gue biarin, sampai ngestalk IG mahasiswi yang sekelas sama gue.
"Liatin cewek mulu lu, ini si Bella udah selesai. Dia udah di bunderan tuh," kata Catherine ke gue.
"Cepet amat. Baru juga dua puluh menit mulai kelas," tanya gue.
"Iya, dia cuma bagi modul di hari pertama soalnya," jelas Catherine.
Gue langsung teringat sama seksinya badan Bella. Sontak aja milik gue mulai berdiri, walau belum lama dibuat klimaks sama Tia.
"Siapa Bella?" tanya Tia.
"Temen si Catherine, dia mau lihat kosan gue," kata gue ke Tia.
"Emang siapa aja yang udah ngekos di tempat lu?" tanya Tia.
"Baru Catherine aja sih. Kan idenya juga baru. Haha," kata gue.
"Wah, satu kos berduaan jangan mesum ya. Hihihi," kata Tia.
Telat woy, udah keburu mesum duluan sama Catherine, pikir gue.
2371Please respect copyright.PENANAtWnn0s2xXS
Waktu berjalan sangat lambat, terlebih gara-gara gue sudah tidak sabar ingin cepat-cepat ketemu sama Bella.
"Ada pertanyaan?" tanya dosen gue.
Satu kelas hening dan akhirnya dosen menyudahi kelas hari ini.
"Yuk, Cath," ajak gue.
"Ga sabaran banget lu," goda Catherine.
"Kan nyari duit, Cath. Haha," kata gue ngeles.
"Ah, lu mah ga perlu duitnya. Perlu badannya. Hihihi," jawab Catherine sambil ketawa.
Gue dan Catherine langsung turun dan jalan ke arah bunderan tempat Bella menunggu.
"Lama banget lu orang," kata Bella.
"Sorry deh Bell, dosennya on time banget," jawab Catherine.
"Yuk deh, gue udah kepanasan nih. Sampai keringetan," kata Bella sambil mengelap wajahnya yang sedikit basah karena keringat.
Melihat Bella keringetan, gue malah semakin on. Pasti enak kalau bisa ngelapin keringat di deket dadanya sambil perlahan-lahan masuk ke belahannya.
"Yuk, Clif," kata Catherine sambil menarik tangan gue dan ngebuyarin fantasi gue.
2371Please respect copyright.PENANAa3XhHdk0a3
Begitu sampai di kosan, gue mengajak Bella untuk melihat sekeliling bangunannya.
"Gila, yakin lu kayak begini cuma lima ratus ribu aja?" tanya Bella.
"Tuh kan Clif, semua orang pasti heran sama harga yang lu kasih," sahut Catherine.
"Yakin kok, Bell. Kalau bisa lihat cewek cantik kayak lu berdua mah, dibayar lima ratus ribu juga udah cukup. Haha," kata gue sambil menggoda Bella.
"Berarti kalau gue kasih 'lebih', bisa gratis dong?" goda Bella.
"Kasih lebih maksudnya?" tanya gue yang kaget dengan pernyataan Bella.
"Pura-pura nggak mengerti lagi, itu yang di bawah saja sudah mengerti," kata Bella sambil menunjuk ke arah selangkangan gue.
Milik gue tampaknya memang nggak bisa diajak kompromi sejak gue di Jakarta. Dia sering bangun tanpa izin setiap kali melihat sosok yang seksi.
"Haha, gue nggak mengerti. Kalau ini kan gara-gara melihat belahan lu," kata gue sambil menunjuk ke arah bagian dada Bella yang terpampang dengan jelas.
"Nggak jadi deh Clif, gue juga cuma bercanda," jawab Bella.
"Jadi gimana, Bell? Kapan pindah?" tanya gue, merasa yakin kalau Bella suka dengan tempat gue.
"Kalau gue dapat promo kayak Catherine, Sabtu gue pindah deh," kata Bella.
"Promo apaan Bell? Lima ratus ribu?" tanya gue.
"Itu lho, free satu bulan pertama," kata Bella.
"Okelah Bell, deal nih ya. Sabtu pindah kan? Lu mau sekamar sama Catherine atau sendiri di lantai dua?" tanya gue.
"Di lantai dua saja deh gue. Gue nggak suka berbagi kamar soalnya," jawab Bella.
"Tuh Cath, si Bella di lantai dua. Lu juga pindah ke lantai dua saja. Kan sudah nggak sendirian lagi di lantai dua," kata gue ke Catherine.
"Iya deh, tapi Sabtu ya, biar barengan sama Bella. Nggak mau gue kalau sendirian," kata Catherine.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


