Bab 3: Malam Pertama di Onsen dan Rahasia yang Terekam
1860Please respect copyright.PENANApQeOQ1IbIO
Pagi menyapa villa tradisional dengan cahaya lembut yang menyusup melalui shoji paper doors. Arin terbangun dengan tubuh yang masih terasa lelah dan sensitif. Kulit putihnya yang halus sedikit memerah di bagian payudara dan bokong, bekas sentuhan kasar dari malam sebelumnya. vaginanya terasa agak nyeri tapi juga hangat, penuh ingatan akan sensasi penuh yang belum pernah ia rasakan. Ia melirik Reza yang masih tidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan wajahnya damai. Rasa bersalah langsung menyergap dada Arin. “Apa yang aku lakukan semalam… itu bukan aku,” gumamnya dalam hati sambil menggigit bibir. Tapi di balik rasa bersalah itu, ada getar aneh – kenikmatan yang intens, dominasi yang membuat tubuhnya bereaksi dengan cara yang bahkan Reza belum pernah bangkitkan.
1860Please respect copyright.PENANArZR5dG1ofC
Arin bangun pelan, mandi cepat dengan air hangat untuk menghilangkan aroma asing yang masih menempel samar di kulitnya. Ia memilih gaun santai berwarna pastel yang menonjolkan tubuh langsingnya, payudaranya yang F cup terlihat lembut di balik kain tipis, bokong bulatnya bergoyang pelan saat berjalan. Reza akhirnya terbangun saat Arin membawa nampan sarapan ke ranjang. “Selamat pagi, Mas. Gimana kaki kamu?” tanya Arin dengan suara lucu dan penuh perhatian, menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum manis.
1860Please respect copyright.PENANASWi9NpqsIm
Reza tersenyum lemah, mencoba bangun tapi meringis saat kakinya disentuh. “Masih sakit, Rin. Tapi obat semalam membuatku tidur nyenyak sekali. Kamu tidur nyenyak juga?” Ia menarik Arin mendekat, mencium pipinya dengan lembut. Bau tubuh Arin yang segar membuat Reza merasa tenang. Arin mengangguk, “Iya, Mas. Aku berendam sebentar di onsen semalam karena tidak bisa tidur. Airnya enak sekali, membantu rileks.” Ia berbohong dengan mulus, hatinya berdegup kencang. Mereka sarapan bersama – nasi, ikan panggang, miso soup, dan teh hijau hangat. Rasa gurih dan umami makanan Jepang terasa nikmat di lidah, tapi Arin hampir tidak merasakannya karena pikirannya melayang ke malam sebelumnya.
1860Please respect copyright.PENANA8ibQh5ElqC
Saat mereka sedang menikmati sarapan, pintu villa diketuk pelan. Seorang pria muda masuk dengan senyum menawan. Tubuhnya atletis, tinggi seratus tujuh puluh satu sentimeter, rambut hitam ikal yang sedikit acak-acakan, kulit sawo matang yang sehat, dan wajah tampan yang langsung membuat orang nyaman. “Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Saya Kenji, pemilik villa ini sekaligus tour guide untuk tamu spesial seperti kalian,” katanya dengan suara ramah dan sopan, mata hitamnya melirik Arin sekilas dengan kilatan yang hanya Arin pahami.
1860Please respect copyright.PENANAEZt3Hh4PNS
Reza langsung mengulurkan tangan, “Terima kasih sudah datang, Kenji-san. Kaki saya cedera kemarin, jadi saya tidak bisa jalan-jalan. Maaf merepotkan.” Kenji mengangguk mengerti, “Tidak masalah. Saya sudah dengar dari staf. Obat yang diberikan dokter biasanya membuat pasien tidur nyenyak. Kalau Nyonya Arin ingin jalan-jalan melihat pemandangan sekitar, saya bisa temani. Villa ini dekat dengan sungai kecil yang jernih dan hutan kecil yang indah.”
1860Please respect copyright.PENANAPSWVkppDC2
Arin merasa jantungnya hampir copot. Wajahnya memerah samar, ingatan malam di onsen kembali membanjiri – jari Kenji yang ahli, kontol besarnya yang menyentuh titik paling dalam, tamparan di bokongnya yang masih terasa panas. “Tidak usah, Mas. Aku bisa nemenin kamu di sini saja,” katanya cepat, suaranya sedikit gemetar. Reza menggeleng, wajahnya penuh rasa bersalah. “Rin, kamu jangan dikurung di villa karena kesalahan aku. Bulan sperma ini untuk kamu juga. Pergilah dengan Kenji-san, nikmati Jepang. Aku di sini istirahat saja, nanti sore kita makan malam bersama.”
1860Please respect copyright.PENANAd5aNr3BfUj
Arin ingin menolak lebih keras, tapi Reza memaksa dengan lembut, “Please, Sayang. Aku tidak mau kamu bosan. Pergi saja, foto-foto banyak buat aku.” Akhirnya Arin menurut, meski hatinya bergejolak. Kenji tersenyum tenang, “Saya akan jaga Nyonya Arin dengan baik. Kita berangkat siang nanti setelah istirahat.”
1860Please respect copyright.PENANAAZovGlrkX9
Sepanjang pagi, Arin berusaha bersikap biasa di depan Reza. Ia membantu suaminya minum obat lagi, mengobrol ringan tentang rencana pulang nanti, dan sesekali mencium Reza dengan penuh kasih. Reza yang romantis selalu membalas dengan pelukan hangat dan kata-kata manis. “Aku cinta kamu, Rin. Nikmati hari ini ya,” katanya sebelum Arin berangkat. Arin tersenyum, tapi di dalam hatinya ada badai – rasa bersalah yang menusuk karena ia sudah mengkhianati suaminya, bercampur dengan rasa penasaran yang semakin kuat terhadap Kenji.
1860Please respect copyright.PENANABDxZk5r42O
Siang harinya, Arin berjalan bersama Kenji menyusuri jalur setapak menuju sungai kecil di dekat villa. Udara segar, suara air mengalir jernih terdengar dari kejauhan, aroma daun basah dan bunga liar memenuhi hidung. Kenji berjalan di sampingnya, tubuh atletisnya terlihat enak dipandang dengan kaos ketat dan celana pendek. “Kamu diam sekali hari ini,” kata Kenji pelan saat mereka tiba di tepi sungai yang tenang, airnya bening hingga terlihat batu-batu di dasar. Mereka duduk di atas batu besar yang datar, dikelilingi pepohonan hijau yang rindang.
1860Please respect copyright.PENANAmlT5hSXJL1
Arin menunduk, tangannya gemetar. “Semalam… itu kesalahan. Aku istri orang. Tolong lupakan.” Kenji tersenyum tipis, mengeluarkan ponselnya. Ia memutar sebuah video dengan volume rendah. Layar menunjukkan Arin telanjang di onsen, tubuhnya yang basah bergoyang hebat saat Kenji menyetubuhinya, desahan “Ahh… lebih dalam…” yang keluar dari mulutnya, wajahnya yang memerah penuh kenikmatan binal, tamparan “Plak!” di bokong bulatnya, dan akhirnya creampie serta deepthroat yang ia lakukan dengan sukarela. Suara air beriak, desahan basah, dan erangan Kenji terekam jelas.
1860Please respect copyright.PENANA0FsnRt0SpL
Arin terpaku, wajahnya memucat, matanya melebar ketakutan. “Hapus… tolong hapus video itu! Kalau Reza tahu…” Suaranya pecah. Kenji mendekat, tangannya menyentuh paha Arin dengan lembut tapi penuh ancaman. “Video ini akan aman selama kamu patuh padaku selama lima hari kita di sini. Kamu akan jadi budak seks aku. Siang hari pura-pura jalan-jalan, malam hari datang ke aku saat suami kamu tidur pulas karena obat. Kalau tidak… video ini akan sampai ke suami kamu dan mungkin disebar.”
1860Please respect copyright.PENANACpRI7mtFC5
Air mata Arin mengalir pelan. Ia merasa terjebak, marah pada dirinya sendiri, tapi juga ada getar aneh di perut bawahnya saat melihat wajah binalnya sendiri di video. Kepribadiannya yang suka didominasi mulai terbangun lebih kuat. “Kamu jahat…” bisiknya. Kenji tertawa pelan, “Mungkin. Tapi kamu menikmatinya semalam, kan? Wajahmu bilang lain.”
1860Please respect copyright.PENANAs5jPCyNSIq
Tanpa menunggu jawaban, Kenji menarik Arin ke pelukannya. Ciuman pertamanya kasar, lidahnya menyerbu mulut Arin. Arin berusaha menolak sebentar, tapi tubuhnya sudah lemas. Tangan Kenji meremas payudara Arin di atas baju, memencet puting pinknya hingga mengeras. “Kita mulai sekarang. Sesi siang hari pertama,” bisik Kenji di telinga Arin sambil menggigit cuping telinganya. Bau tubuh Kenji yang maskulin membuat Arin pusing.
1860Please respect copyright.PENANAczSaBcc6s5
Kenji membuka baju Arin satu per satu, melemparnya ke rumput. Tubuh telanjang Arin terpapar udara siang yang sejuk, payudaranya bergoyang, bokong bulatnya menyentuh batu dingin. Kenji melepas celananya, kontolnya yang sembilan belas sentimeter sudah tegak sempurna, tebal dan berdenyut. Ia menyuruh Arin berlutut di depannya di tepi sungai. “Mulai dengan mulutmu.” Arin ragu, tapi ancaman video membuatnya patuh. Ia membuka mulut, mengulum ujung kontol Kenji. Rasa asin-manis memenuhi lidahnya, ia menjilat dengan lidahnya yang hangat, lalu perlahan menelan lebih dalam hingga deepthroat. Suara gluk-gluk basah terdengar saat Kenji memegang kepala Arin dan mendorong pelan.
1860Please respect copyright.PENANA4ZLEkO8Wym
“Ahh… bagus… lidahmu lincah,” erang Kenji. Arin merasakan kontol itu menyentuh tenggorokannya, air matanya keluar karena tersedak, tapi ia terus mengisap. Setelah beberapa menit, Kenji menarik Arin bangun, membalik tubuhnya, dan menyuruhnya menungging di atas batu. Bokong bulat besar Arin terangkat tinggi, vaginanya yang sudah basah terpapar. Kenji menampar bokong itu keras “Plak! Plak!” dua kali, meninggalkan bekas merah di kulit putih. Arin menjerit kecil, sensasi panas dan nyeri bercampur kenikmatan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1860Please respect copyright.PENANAm0hStwLCuO


