Bab 1: Malam Terakhir Sebelum Keberangkatan
1682Please respect copyright.PENANA5Zry3AqzKE
Malam itu rumah mewah mereka di pinggiran kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu kamar tidur utama hanya menyala redup dari lampu meja di samping ranjang king size yang empuk. Arin, wanita berusia dua puluh tujuh tahun dengan tubuh langsing setinggi seratus enam puluh enam sentimeter, berdiri di depan cermin besar sambil menyisir rambut panjang hitamnya yang tergerai sampai pinggang. Kulitnya putih mulus, payudaranya yang besar dan kencang berukuran F cup terlihat menonjol di balik gaun tidur tipis berwarna merah maroon yang hampir tembus pandang. Bokongnya yang bulat besar dan padat bergoyang pelan setiap kali ia menggerakkan pinggul. Mata coklatnya yang memikat memandang bayangan dirinya sendiri dengan sedikit senyum nakal. Hidung mancungnya dan bibir merah alami membuat wajahnya terlihat cantik sekaligus menggoda. Puting pinknya yang kecil tapi sensitif sudah mulai mengeras hanya karena dinginnya pendingin ruangan.
1682Please respect copyright.PENANArbur9r01r8
Reza, suaminya yang berusia dua puluh sembilan tahun, baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dengan otot yang tidak terlalu besar tapi terasa kuat karena rutinitas olahraga pagi. Rambut hitam lurusnya masih basah, senyum menawannya muncul saat ia melihat Arin dari belakang. Ia mendekat pelan, memeluk pinggang istrinya dari belakang, dan mencium tengkuknya yang harum. “Kamu cantik sekali malam ini, Sayang,” bisiknya lembut di telinga Arin. Suaranya rendah dan penuh kasih sayang, seperti biasa. Reza adalah pria yang baik, kaya raya dari bisnis properti yang ia bangun sendiri, pekerja keras, dan selalu romantis terhadap istrinya.
1682Please respect copyright.PENANAKOW0SpdZz3
Arin tertawa kecil, suaranya lucu dan menggoda. “Kamu juga tampan, Mas. Besok kita berangkat bulan sperma ke Jepang. Aku sudah tidak sabar.” Ia memutar tubuhnya, memeluk leher Reza, dan mencium bibir suaminya dengan lembut dulu. Ciuman itu perlahan berubah dalam. Lidah mereka saling menari, rasa manis dari pasta gigi yang baru saja dipakai bercampur dengan napas hangat mereka. Tangan Reza turun ke bokong bulat Arin, meremas pelan dengan penuh nafsu. Arin mendesah pelan di dalam ciuman itu, tubuhnya sudah mulai panas.
1682Please respect copyright.PENANAIP0TPIUJn4
Mereka berpindah ke ranjang tanpa melepaskan pelukan. Arin mendorong Reza hingga berbaring telentang, lalu naik ke atas tubuh suaminya dengan gerakan lincah. Gaun tidurnya ia buka sendiri, melemparnya ke lantai. Tubuh telanjangnya yang indah terpapar sempurna di bawah cahaya lampu redup. Payudaranya yang besar bergoyang lembut, puting pinknya sudah mengeras seperti dua butir puting matang yang siap dipetik. Reza memandangnya dengan mata penuh kekaguman dan hasrat. “Kamu selalu membuatku gila, Rin,” katanya sambil tangannya naik ke payudara Arin, meremas keduanya dengan lembut tapi penuh kekuatan.
1682Please respect copyright.PENANA5is21jYCuI
Arin tersenyum nakal, kepribadiannya yang lucu dan suka didominasi mulai bercampur dengan sisi dalam yang belum pernah ia tunjukkan sepenuhnya pada Reza. Ia menggesekkan vaginanya yang sudah basah ke kontol Reza yang mulai mengeras di balik celana boxer tipis. “Mas… aku sudah tidak enakan dari tadi. Hari ini kamu sibuk packing, aku kangen sekali,” katanya dengan suara manja sambil menggoyang pinggulnya pelan. Ia menarik boxer Reza ke bawah, melepaskan kontol suaminya yang sudah tegak sempurna, panjang lima belas sentimeter dengan kepala yang mengkilap. Arin menggenggamnya sebentar, merasakan kehangatan dan denyutannya di telapak tangan.
1682Please respect copyright.PENANA94YfxySfDq
Tanpa menunggu lama, Arin mengangkat bokongnya yang bulat besar, lalu perlahan menurunkan diri hingga kontol Reza masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya yang sudah licin oleh cairan orgasme alami. “Ahh… Sayang… enak banget kontol kamu… penuh banget di vagina aku,” desah Arin panjang sambil kepalanya mendongak. Sensasi penuh itu membuat seluruh tubuhnya gemetar. Ia mulai menggerakkan bokongnya naik turun dengan ritme lambat dulu, merasakan setiap inci kontol itu menggesek dinding vaginanya yang sensitif. Bau harum tubuh mereka bercampur, keringat tipis mulai muncul di kulit putih Arin.
1682Please respect copyright.PENANAzu6VAOaA0F
Reza mengerang pelan, tangannya meremas payudara Arin lebih kuat, jempolnya memutar-mutar puting pink yang mengeras itu seperti memainkan dua butir puting. “Kamu basah sekali malam ini, Sayang. vagina kamu menggigit kontol aku,” katanya sambil pinggulnya naik sedikit menyambut gerakan Arin. Arin semakin cepat menggoyang bokongnya, suara plok-plok pelan dari pertemuan tubuh mereka terdengar menggoda di kamar yang sunyi. Setiap kali bokong bulatnya turun, kontol Reza menyentuh titik paling dalam di vagina Arin, membuat kristoris yang kecil dan sensitif bergesekan dengan pangkal kontol itu.
1682Please respect copyright.PENANApACF9VdjQR
“Ahh… Mas… kristorisaku… ahh… enak sekali…” Arin mendesah semakin keras. Matanya setengah terpejam, mulutnya sedikit terbuka. Ia merasakan gelombang kenikmatan mulai naik dari perut bawahnya. Reza tahu istrinya sudah dekat, jadi ia memencet kristorisArin dengan jempolnya sambil meremas payudara yang lain. Gerakan itu membuat Arin menjerit kecil, tubuhnya mengejang hebat. cairan orgasme orgasme pertama menyembur hangat membasahi paha Reza dan ranjang. “Aku… orgasme… Sayang… ahh!” jerit Arin sambil bokongnya bergetar hebat di atas tubuh suaminya. Rasanya seperti listrik menyambar seluruh sarafnya, pandangannya berkunang-kunang, dan napasnya tersengal.
1682Please respect copyright.PENANAIIRBtsUrAe
Reza tidak memberi Arin waktu untuk bernapas panjang. Ia memeluk pinggang istrinya, membalikkan posisi dengan cepat hingga Arin kini berada di bawah tubuhnya. kontolnya masih tertanam dalam di vagina Arin yang masih berdenyut. “Kamu baru orgasme, tapi aku masih ingin merasakanmu lagi,” bisik Reza romantis sambil mencium bibir Arin dalam-dalam. Ia mulai mengenjot vagina Arin dengan gerakan kuat dan dalam. Setiap dorongan membuat payudara Arin bergoyang-goyang indah, suara plok-plok semakin keras dan basah. Arin memeluk punggung Reza, kuku-kukunya menancap pelan di kulit suaminya.
1682Please respect copyright.PENANAYxnwQmr6kf
“Mas… kamu jahat… aku baru orgasme… ahh… udah langsung entot lagi… kalau gini terus… aku bisa orgasme lagi…” keluh Arin di antara desahan, tapi suaranya penuh kenikmatan. Tubuhnya yang langsing bergoyang mengikuti irama Reza. Bau keringat mereka semakin kuat, bercampur aroma cairan orgasme alami dari vagina Arin yang semakin basah. Reza mempercepat gerakannya, tangannya kembali ke payudara Arin, meremas dan memencet kristoris bergantian. Arin merasakan gelombang kedua datang lebih cepat. vaginanya mengejang kuat di sekitar kontol Reza, cairan orgasme orgasme kedua menyembur lagi, membasahi selangkangan mereka berdua.
1682Please respect copyright.PENANANrdQ1HLytR
Reza tersenyum puas melihat wajah istrinya yang memerah dan penuh kenikmatan. Ia menarik kontolnya keluar perlahan, membuat Arin mendesah kecewa. “Sini, Sayang… kamu bilang tadi mau layani aku dengan cara lain,” katanya lembut. Arin tersenyum lemah, tubuhnya masih bergetar karena dua orgasme berturut-turut. Ia bangun duduk, mendorong Reza berbaring lagi, lalu menjepit kontol Reza yang basah oleh cairan orgasmenya sendiri di antara payudaranya yang besar dan lembut. Payudara F cup itu menekan kontol Reza dengan sempurna, hangat dan empuk.
1682Please respect copyright.PENANA7Byklx7Idr
Arin menunduk, lidahnya menjilat ujung kontol Reza yang sudah mengkilap. Rasa asin-manis bercampur dengan rasa tubuhnya sendiri membuatnya semakin bergairah. “Enak ya, Mas? Payudara aku hangat kan?” tanyanya lucu sambil menggerakkan dada naik turun, menjepit dan mengocok kontol Reza dengan ritme telaten. Reza mengerang nikmat, tangannya menyisir rambut hitam Arin. “Kamu hebat sekali, Rin… ahh… teruskan…”
1682Please respect copyright.PENANA0u96ZrG8l0
Arin semakin bersemangat. Ia menjilat dan mengisap ujung kontol itu sambil terus menggerakkan payudaranya. Suara kecup-kecup lidahnya terdengar erotis. Tak lama, Reza merasakan puncaknya mendekat. “Sayang… aku mau keluar…” desahnya. Arin langsung membuka mulutnya lebar, menelan kontol Reza sampai ke tenggorokan dalam satu gerakan deep. kontol itu berdenyut hebat di dalam mulutnya, lalu menyemburkan sperma hangat langsung ke kerongkongan Arin. Arin menelan semua tanpa meneteskan sedikit pun, matanya memandang Reza penuh kasih sambil terus mengisap pelan.
1682Please respect copyright.PENANAQae0DdMhBl
Tapi Arin tidak melepaskan kontol Reza begitu saja. Ia terus menyedot dan menjilat meski Reza sudah klimaks. “Ahh… Sayang… udah… ngilu banget… ampun…” keluh Reza sambil tertawa kecil dan meremas rambut Arin. Arin melepaskan dengan suara kecup basah, tersenyum nakal. “Rasain tadi kamu juga gitu ke aku, Mas. Aku baru orgasme dua kali, kamu langsung lanjut,” katanya lucu sambil naik ke pelukan Reza.
1682Please respect copyright.PENANAvgBzIRtmtG
Mereka berpelukan erat di ranjang yang sudah berantakan. Keringat mereka bercampur, napas masih tersengal. Reza mencium kening Arin dengan penuh kasih sayang. “Besok kita berangkat ke Jepang, Rin. Aku sudah pesan villa tradisional mewah dengan pemandian air panas pribadi. Kita akan jalan-jalan, makan enak, dan yang paling penting… aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu. Bulan sperma yang sesungguhnya.”
1682Please respect copyright.PENANAlzcTMgF0ma
Arin tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia. Tubuhnya yang masih lemas karena orgasme berulang terasa hangat dalam pelukan suaminya. “Aku senang sekali, Mas. Akhirnya kita bisa liburan ke luar negeri. Aku sudah bayangin kita berendam di air panas sambil lihat bunga sakura… meski sekarang bukan musimnya. Tapi yang penting kita bersama.” Dalam hatinya, Arin merasa sangat dicintai. Reza selalu romantis dan perhatian. Tapi di balik senyumnya yang manis, ada sedikit getar aneh yang ia sendiri belum paham. Sisi dalamnya yang suka didominasi dan perlahan ingin meledak belum pernah ia tunjukkan sepenuhnya. Malam ini saja sudah membuatnya merasa puas tapi masih ada rasa ingin lebih yang menggelitik.
1682Please respect copyright.PENANAxEA3PTHb1A
Reza mengusap punggung Arin pelan, tangannya turun ke bokong bulat yang masih merah bekas remasan tadi. “Tidur ya, Sayang. Besok pagi kita berangkat pagi-pagi. Aku cinta kamu.” Arin mengangguk, mencium dada Reza sekali lagi sebelum memejamkan mata. Kamar kembali sunyi, hanya suara napas mereka yang pelan terdengar. Malam terakhir di rumah ini terasa sempurna, penuh cinta dan kenikmatan yang intens. Besok, petualangan baru di Jepang menanti mereka. Arin tidak tahu bahwa perjalanan itu akan mengubah segalanya selamanya.
1682Please respect copyright.PENANARiC9ZAjRXm


